Find Me Daddy

Find Me Daddy
Javier sakit



"Marsha! Marsha!"


Brakk!!


Marsha menutup pintu kamar dengan keras, membuat wajah Nathan hampir saja menabrak pintu. Pria itu menghela nafas pelan, sepulang dari membeli mobil raut wajah istrinya itu berubah kesal.


"Sayang ...."


"SANAAA!! JEMPUT MERICA MERICA ITU! GAK USAH BUJUK AKU!"


Nathan menghela nafas pelan, dia berbalik. Ketiga putrinya masih berada di dalam stroller. Ketiganya tertawa melihat Nathan yang tengah frustasi saat ini.


"Kalian seneng papa nya di hukum begini yah?!" Seru Nathan.


"Ehee!! Hoayaaa!!"


Ketiga bayi iyu semakin tertawa kencang, bahkan sambil menendang-nendang kakinya. Nathan tersenyum tipis, keceriaan putrinya membuat hatinya sedikit lega.


Malam hari tiba, tapi kekesalan Marsha tak kunjung mereda. Dia hanya keluar untuk mengambil bayinya, dan kembali masuk tanpa menyapa Nathan.


Cklek!


Nathan memasuki kamarnya, di lihatnya istrinya itu tengah membereskan barang-barangnya kembali ke koper. Seketika, mata Nathan terbelalak. Dia bergegas menghampiri istrinya itu.


"Kamu mau ngapain beresin koper?!" Pekik Nathan.


"Besok pagi aku mau pulang," ujar MArsha.


"Enggak!! pokoknya kamu gak boleh pulang! Kamu harus tinggal disini sama aku!!" Sentak Nathan sembari menarik koper yang sudah Marsha bereskan.


Nathan mengeluarkan barang-barang dari dalam koper, dia membuat isi koper itu kosong. Marsha yang melihatnya seketika mendelik kesal.


"Biar kamu gak jadi pergi!" Seru Nathan.


Marsha menghela nafas pelan, "Aku bisa pergi tanpa koper itu besok." Ujar Marsha sembari berbalik.


Saat Marsha akan merebahkan dirinya di kasur, tiba-tiba dirinya di kejutkan oleh sebuah lengan kekar yang memeluk perutnya. Nathan, dia memeluk erat tubuh istrinya. Menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Jangan pergi hiks ... jangan. Aku kesepian disini hiks ...,"


MArsha terhentak sejenak saat merasakan lehernya basah, apakah suami kecilnya itu sedang menangis? Sungguh, Marsha merasa ini hal yang mengejutkan.


"Nathan, lepasin gak!!" Pekik MArsha.


Nathan justru beralih ke depannya, dia duduk di tepi kasur sembari memeluk erat perut Marsha. Posisi itu, membuat Marsha bisa melihat wajah suaminya yang basah karena air mata.


"Beneran nangis." Batin MArsha.


"Jangan pulang, aku kesepian di apart hiks ... please."


Melihat Nathan yang menangis seperti itu, membuat Marsha tak tega. Akhirnya dia tersenyum tipis, sembari menyisir rambut suaminya dengan jari jemari lentiknya. Hidung pria itu sudah memerah, dan sedikit berair.


"Ih, malu. Masa udah jadi bapak nangis," ujar Marsha meledek Nathan.


Nathan mengentikan tangisannya, dia menoleh sejenak pada ketiga bayinya yang tengah tengkurap sembari menatapnya dengan tatapan bingung.


"Biarin hiks ...." Nathan kembali menangis.


"Pokoknya, kamu gak boleh pulang! Kamu harus tetep disini!" Kekeuh Nathan.


"Kakek suruh aku pulang, dia kangen sama si kembar katanya." Terang Marsha.


"Cuman si kembar aja kan? Mereka tinggal sama kakek aja Sweety, biar kamu disini."


Bugh!


"Sembarangan!" Seru Marsha sembari menepuk bahu suaminya.


"Ya kamu harus disini, aku mau ngomong sama kakek!" Nathan melepaskan pelukannya dari perut Marsha. Dia meraih ponselnya, lalu menghubungi kakeknya.


"Halo, ka ....,"


"ANAK N4KAL! KEMBALIKAN CICIT KAKEK! URUS DIRIMU SENDIRI, JANGAN MEREPOTKAN ISTRIMU!!"


Nathan menjauhkan ponselnya, dia menatap Marsha dengan tatapan memelas.


"Aku gak ikut-ikutan." Balas Marsha.


.


.


.


Hari ini, demam Javier juga tak kunjung turun. Zeva semakin panik, dia ingin sekali menjaga Javier. Namun, dia masih memberi asi anaknya. Khawatir dia sakit dan membuat kedua anak kembarnya ikut sakit. Zeva dilema, dia hanya bisa menatap putranya itu dari kejauhan.


Selama dua hari juga Aaron tak berangkat ke kantornya, lantaran Javier yang tidak mau dia tinggal. Selalu ingin di gendong, membuat tubuh Aaron pegal. Sangat terlihat pada lingkaran bawah matanya yang menghitam. Akibat kurang tidur Karena menjaga putranya sepanjang malam.


"Dad." Varo masuk ke kamar Javier, lalu mendekati Aaron yang masih menggendong anaknya itu.


"Tadi om Jacob nelpon, katanya suruh bawa ke rumah sakit buat tes darah. Beberapa kali juga muntah kan? Om Jacob takutnya Vier kena gejala tipes," ujar Varo membaut Aaron sedikit panik.


"Yasudah, kamu siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!" Titah Aaron.


Varo pun keluar untuk menyiapkan mobil, sementara Aaron. dia mulai mencari jaket di lemari dan memasangkannya pada tubuh sang putra.


"Aaa, nda cuka! nda cuka!" Rengek Javier karena merasa tidurnya terganggu.


"Sebentar sebentar," ujar Aaron.


Javier kembali tertidur, Aaron pun bergegas membawa putranya keluar kamar. Sebelum pergi, dia menyempatkan untuk menemui istrinya yang sedang menemani si kembar bermain.


"Sayang, aku bawa Javier ke rumah sakit yah." Izin Aaron.


"Javier tambah parah ya mas?" Tanya Zeva dan bergegas mendekati putranya.


"Mau di cek darahnya, takut gejala tipes. Sempat muntah juga kan dia, demamnya juga tinggi banget. Jadi, Bang Jacob minta buat Javier datang ke rumah sakit." Terang Aaron.


Zeva menatap sendu putranya, putranya yang biasa ceria kini terkulai lemas tak berdaya. Ingin rasanya Zeva ikut membawa Javier ke rumah sakit. Namun, dia juga harus memikirkan anak kembarnya.


"Nanti mama kesini buat gantian jagain si kembar, jadi kamu bisa nyusul ke rumah sakit," ujar Aaron.


Zeva mengangguk, dia hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan membawa putra mereka yang sakit. Zeva menunduk kala merasa ada yang memegang kakinya. Ternyata anak kembarnya turut memperhatikan sang daddy yang membawa kakak mereka.


"Adek sedih yah? Nanti kalau abang sembuh, kita liat abang yah." Ujar Zeva sembari berjongkok untuk menatap kedua anak kembarnya.


Sesampainya di rumah sakit, Jacob sudah menunggu. Dia membawa Javier ke dokter anak. Saat Aaron akan menempatkan putranya di brankar, anak itu terkejut dan menangis.


"JANGAN TALUH! JANGAN TALUH! CAKIT KALI PALA VIEL!"


Seketika Jacob memegang tangan Javier, dia hany mencengkramnya pelan saja. Tapi, Javier malah berteriak kesakitan.


"Janan di cengklam! cakit kali loh!" Pekik Javier menatap tajam Jacob.


Akhirnya, Javier bisa di periksa walau sambil berada di gendongan Aaron. Saat di ambil darahnya, bocah itu sedikit berontak. Namun, Aaron dengan cepat menenangkannya.


"Janan cuntik-cuntik, becal kali jalumna! Kayak tucuk kulit gajah aja!" Kesal Javier.


"Iya sudah, sekarang Vier makan yah. Sarapan." Pinta Aaron.


Javier melirik ke arah nampan makanan yang ada di nakas, seketika dia menatap Aaron dengan tatapan sayunya.


"Nda ada ketoplak? Viel nda mau bubul, mauna ketoplak," ujar Javier.


"Lagi sakit, yang di minta tetep aja ketoprak." Sindir Varo yang tengah duduk di sofa ruang itu.


Javier mengangkat kepalanya yang tadi bersandar pada bahu sang daddy, matanya melotot kearah Varo yang tengah meledeknya.


"Memangnya kenapa? Viel makan ketoplak nda buat abang jadi kele ci?"


"Hais, Varo. Jangan berdebat dengannya sekarang, lebih baik kamu turuti saja. Yang penting Javier mau makan pagi ini." Pinta Aaron.


Varo bergegas bangkit, berniat ingin membeli ketoprak untuk adiknya itu. Namun, saat melewati Javier. Dia sempatkan untuk meledek anak itu.


"Manja, dasar!"


"HIIII!! CIAPA YANG MANJA HAH?! CEMBALANGAN NGOMONGNA!! KALAU VIEL NDA CAKIT, TA GIGIT HIDUNG NA!"


___