
Brak!!
Marsha yang tengah menyusui Nayara, tersentak kaget saat pintu kamar di buka keras. Tanpa melihat siapa yang membukanya, Marsha melepas sedotan putrinya dan menutup asetnya.
"Nathan!" Pekik Marsha saat melihat siapa masuk.
Nathan dengan buru-buru menutup pintu kamar, dia bergegas menaruh Aizha di ranjang dan mendekati istrinya yang duduk di tepi ranjang.
"Sayang! Kamu datang kok gak bilang sihh!! Kata papi kalian gak jadi dateng, jahat banget sih!!" Rengek Nathan sembari memeluk istrinya itu.
Marsha terkekeh pelan saat suaminya yang dengan manja memeluknya dnegan erat. Marsha pun memeluk suaminya, dia juga merindukan suami kecilnya itu.
Nathan melepaskan pelukannya, dia meraih wajah Marsha dan menc1um bibirnya. Kedua tatapan mereka menatap dalam, rindu yang mereka simpan kini terbayar sudah.
"AKu merindukanmu." Lirih Nathan setelah menempelkan kening mereka.
"Aku juga." Balas Marsha.
Saat asik menikmati waktu berdua, rengekan seorang bocah membuat keduanya tersadar.
"Ekhee!! Hoayaa!!" Pekik Nayara yang merasa waktunya telah di ganggu oleh sang papa.
Nathan menjauhkan dirinya dari sang istri, dia langsung menunduk dan menatap bayi menggemaskan yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Eh, anak papa sudah bisa protes sekarang hm? Biasanya yang suka ences di layar ponsel sekarang disini yah." Nathan ingin meraih Nayara, tetapi bayi mungil itu kalah mengelak dan menarik baju sang mama.
"Dia belum selesai minum susunya," ujar Marsha dan kembali menyusui Nayara.
Sedangkan Aizha, dia sibuk memainkan topi Nadia. Saudara kembarnya itu masih tertidur pulas, berbeda dengan Aizha yang sangat aktif.
Tok!
Tok!
"Woy, Nathan! Ngapain lo di dalam hah?!"
Nathan tersentak kaget, dia melupakan jika ada teman-temannya disini. "Teman-temanku ada disini Sweety! Sebentar, aku usir mereka dulu."
"E-eh?!" Kaget Marsha.
Nathan akan beranjak menuju pintu, tetapi suara rengekan Aizha membuatnya kembali.
"Aish, anak papa dasar!" Pekik Nathan sembari mengambil Aizha.
Nathan kembali menuju pintu dan membukanya, di lihatnya para temani temannya menunggu nya dengan raut wajah yang bingung.
"Eh sorry nih yah, gue gak bisa nugas dulu. Kalian pulang aja deh yah." Usir Nathan.
"Eh? Yang bener lo! Emang siapa sih yang dateng, kakak lo? Mana, kita mau ketemu. Kali kakak lo cantik, bisa sekalian ...,"
"Mau gue gampar muka lo hah?!" Pekik Nathan dengan kesal.
Rangga mengerucutkan bibirnya, "Ah elah, galak amat. Yaudah lah, yok guys kita balik. Besok kita kesini la ...,"
"Gak ada besok! Nanti kapan-kapan aja!" Pekik Nathan.
Vica mematung, saat melihat Aizha yang menatapnya dengan mata bulatnya. Bayi itu begitu menggemaskan di matanya, apalagi bayi tersebut tengah di gendong oleh orang yang ia suka.
"Nathan keren banget yah, udah cocok jadi bapak. Gayanya itu loh, kayak pengen ajak nikah." Bisik Vica pada Eva
"Jangan halu dulu Ca, nanti malah ada pawangnya nyesek lo." Sahut Nabila
"Yaudah deh, kita pulang dulu Than." PAmit Vica.
Nathan menatap wanita itu dan mengangguk di sertai senyum tipis lantaran hari ini hatinya begitu bahagia. Setelah para temannya pergi, Nathan kembali ke kamar. Istrinya masih menyusui anak-anaknya, tapi kali ini Nadia yang menyusu. Sedangkan Nayara sudah tertidur.
"Sudah pulang?" Tanya Marsha.
"Sudah." Jawab Nathan sembari merebahkan dirinya di samping Marsha.
Nathan meletakkan Aizha di perutnya, bocah gembul itu memainkan kerah baju sang papa sembari air l1urnya yang turut menetes.
"Eih, si ileran." Ledek Nathan pada Aizha.
Aizha menatap sang papa sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya.
"Dia ngeces begitu gara-gara kamu." Sahut MArsha tak terima putrinya di katakan seperti itu.
"Loh, kok aku?!" Pekik Nathan.
"Ya iya lah, aku minta seblak kamu belikan ketoprak. Aku minta batagor, kamu belikan cilok. Gimana anakmu gak ngeces semua," ujar Marsha.
Nathan membulatkan matanya, bisa-bisanya Marsha mengingat semua kesalahan yang pernah ia buat semasa wanita itu tengah hamil.
Aizha mengusap wajahnya dengan tangan gempalnya, tak lama dia merengek hingga membuat Nathan beralih menatapnya.
"Kenapa Zha, ngantuk? Tidur sama papa sini." Nathan kembali berdiri, dia menimang Aizha yang sepertinya sudah sangat mengantuk.
Marsha menatap lekat suaminya itu, Nathan sangat cekatan. Suaminya tampan, kaya dan pengertian. Sangat jarang sekali di temukan pria seperti nya.
"Taruh di kasur aja sayang," ujar Marsha.
Nathan yabg tadinya ingin memindahkan Aizha seketika terhenti, matanya menatap MArsha dengan lekat. Kata sayang yang Marsha ucapkan, membuat senyum Nathan tertahan.
"Apa tadi?" Tanya Nathan dengan raut wajah berbinar.
" Sayang?" Ucap MArsha sekali lagi.
Nathan ingin melompat rasanya, jarang sekali istrinya memanggil sayang padanya. Bergegas, dia menaruh Aizha di samping Nayara. Lalu, dia beralih mendekati Marsha untuk mengambil Nadia yang sudah kembali tertidur.
"Nathan, mau ngapain sih?!" Pekik Marsha saat Nathan memasangkan pembatas pada ketiga putrinya ahar tidak terjatuh.
"AKu mau kelonan lah! 5 bulan gak kelonan, kangen tau gak sih!"
"Eh?!" Pekik Marsha saat Nathan menggendongnya.
"Nathan." Bisik Marsha dengan tekanan.
"Masih ada kamar satu lagi, tenang aja. Mereka gak akan bangun." Ujar Nathan dengan siara beratnya membuat jantung Marsha berdetak dengan cepat.
.
.
.
Malam hari.
Nathan terbangun karena mendengar suara bell apart nya, dia bergegas duduk dan menatap istrinya yang masih tertidur pulas.
Bibir Nathan mengulas senyum saat dirinya kembali mengingat kegiatan mereka sebelumnya. Dengan telaten, dia menarik selimut untuk menutup bahu polos sang istri.
Nathan bergegas masuk ke kamar mandi untuk memakai bathrobe nya. Setelah itu, dia pergi keluar untuk melohat siapa yang bertamu.
Cklek!
"SUPRISE!"
Nathan terkejut dengan kedatangan Vuca dan juga Rangga dengan membawa kue, dia membeku sejenak. Sama halnya dengan Vica dan Rangga, keduanya langsung terdiam saat mendapati penampilan Nathan saat ini.
"Na-nathan, lo habis ngapain?" Pekik Ranggam
"Habis bangun tidur, kenapa emang?" Jawab Nathan dengan polos.
Vica menatap beberapa tanda merah di leher Nathan, matanya berkaca-kaca. Dia yang tadinya memegang kue, seketika kue tersebut jatuh dari tangannya.
"Vica ...." Lirih Rangga.
Vica menghapus air matanya, dia lalu berjongkok untuk mengambil kembali kue yang sudah rusak itu. Nathan yang melihat Vica kesusahan, pun bergegas menolongnya.
"Jangan sentuh gue!" Sentak Vica.
"Lo kenapa sih? Gue cuman mau bantu aja." Bingung Nathan.
"Menjauh br3ngsek!!" Lekik Vica sembari mendorong kasar Nathan.
Nathan tertegun, dia heran dengan kelakuan Vica yang menurutnya aneh. Dia pun kembali beranjak saat Rangga yang mengambil alih membantu Vica.
"Nathan, lo keterlaluan tau gak!" Pekik Rangga sembari menatap kearah pada Nathan.
"Gue? Emang gue salah apa?" Bingung Nathan.
Vica bergegas pergi tanpa menghhiraukan tatapan Nathan dan juga Rangga.
"Vica itu suka sama lo! Dia pikir, lo tuh pria baik-baik. Tapi gini ternyata keluakuan lo! Bener-bener di luar nalar!" Marah Rangga.
Nathan semakin tak mengerti, dia terkejut dengan perasaan Vica padanya. Jujur saja, Nathan berpikir semua temannya tak ada yang menyimpan perasaan padanya. Karena selama ini, Nathan tidak mengkhususkan salah satu di antara mereka.
"Kelakuan gue yang gimana sih? Gue gak paham." Bingung Nathan.
Rangga berdecak sebal, dia mengeluarkan ponselnya dan memotret hal yang menurutnya sangat memalukan.
"Lihat! Lo habis nyewa kupu-kupu malam hah?" Sewot Rangga sembari menyerahkan hasil fotonya.
Seketika, Nathan menjadi paham. Dia menatap Rangga dengan bola matanya yang membulat.
"Ngaco lo! Gue ada bini, ngapain gue lakuin sama wanita malam! Gue juga ngerti hal yang di larang!"
"APA?! BINI?! LO PUNYA BINI?! SEJAK KAPAAANN?! A-atau jangan-jangan ... TUYUL KEMAREN ITU ANAK LO?!"
"Iya." Jawab Nathan dengan polosnya membuat Rangga terbengong.
___
Bentar lagi find me mau tamat nih🤧🤧