Find Me Daddy

Find Me Daddy
Tidak ada ikatan lagi?(S2)



Tangan Marsha terangkat dan menyentuh perutnya, dia mencoba untuk tidak mempercayai apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Enggak, dia masih ada sini. Aku masih bisa merasakan pergerakannya." Lirih Narsha.


"Sayang ...." Perkataan Aaron terhenti saat tatapan putrinya beralih menatapnya.


"Daddy, aku masih merasakannya. Dia masih ada, dia tidak papa. Janinku tidak papa, dia kuat. Aku percaya itu," ujar Marsha dengan suara bergetar.


Aaron tak sanggup melihat putrinya hancur seperti ini, dia benar-benar merasa ikut hancur secara bersamaan.


"Marsha, dia sudah tidak ada." Marsha beralih menatap Nathan dengan tatapan tajam.


"Kamu sudah berjanji bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan bayi kita, kau sudah berjanji kan!!" Sentak Marsha.


Zeva mendekati putrinya, dengan sabar dia mengelus bahu Marsha. Dia tahu bagaimana perasaan Marsha, dia pernah ada di posisi putrinya.


Hati Zeva juga turut hancur melihat kondisi putrinya. Namun, jika dia turut bersedih, siapa yang akan menguatkan putrinya? bahkan suaminya tak mampu melihat kondisi Marsha saat ini.


Nathan berusaha menggenggam tangan Marsha, tapi Marsha berusaha melepaskannya. Air mata terus berjatuhan, begitu pun dengan Nathan.


"Gue mohon, jangan seperti ini. Dia sudah pergi," ujar Nathan.


"Enggak, dia belum pergi. Dia masih ada di perutku, aku bisa merasakannya!"


Nathan menjambak kasar rambutnya, dia menatap MArsha dengan tatapan tajam


"MARSHA! MENGERTILAH! BUKAN HANYA LO YANG HANCUR! GUE PUN SAMA HANCURNYA! KITA SAMA-SAMA KEHILANGAN DIA!"


Aaron dan Zeva menatap tak percaya pada Nathan yang membentak putri mereka di kala kondisi seperti ini.


"Kenapa kamu membentak putriku hah! ini semua terjadi karena ulah kakakmu! putriku kehilangan anaknya karena dirimu!" Sentak Aaron dengan tatapan kilat amarah.


Nathan baru menyadari dengan apa yang dirinya katakan, dia menatap istrinya yang kini menatap kosong kerahnya.


"Mar ... marsha."


"Yah ... wanita itu ... wanita itu adalah kakakmu. Dia telah melenyapkan janin di kandunganku, dia yang membuat calon bayiku tiada." Lirih Marsga.


"Daddy akan mengusut kasus ini, dia kan mendapatkan balasannya." Tegas Aaron.


Sedangkan di luar ruangan, Claudia panik saat melihat polisi yang datang menghampirinya.


"Saudara Claudia, anda di tahan."


"A-apa?!" Claudia kaget, belum saja mengelak. Kedua polisi itu sudah memborgol tangannya.


"Pak! kenapa putri saya di tangkap seperti ini!" Sentak Kenan tak terima.


"Tuan Aaron telah melaporkan tindak kejahatan yang putri anda lakukan. Selebihnya, Mari kita bicarakan di kantor polisi!


Kenan dan Sofia tak menyangka jika Aaron berbuat sejauh ini.


"Mami! papi! aku tidka mau masuk penjara hiks! aku tidak mau!!" Seru Claudia.


"Papi akan menghubungi pengacara papi, kamu sabar yah." Sahut Kenan dan bergegas menelpon pengacaranya.


Claudia di bawa pergi oleh kedua polisi itu, sedangkan Mario. Dia mematung di tempat, mengapa semuanya menjadi seperti ini?


"Mario! kamu susul istri kamu ke kantor polisi! seharusnya kamu yang di tangkap! karena semua ini gara-gara kamu!" Sentak Kenan, menatap tajam ke arah menantunya itu.


.


.


.


Malam hari.


Selama beberapa jam ke depan, kondisi Marsha masih sama. Dia terdiam dengan tatapan kosong, bahkan Zeva dan Aaron berusaha untuk mengajaknya berbicara. Namun, Marsha tak menanggapinya.


Nathan pun hanya bisa diam, sesekali dia mengajak Marsha mengobrol atau sekedar minum. Walau tidak mendapat respon dari istrinya itu.


"Apa lo enggak lelah diam terus?" Tanya Nathan.


Marsha masih diam, air matanya sesekali turun membasahi pipinya. Tatapannya terlihat kosong, membuat Nathan kerasa khawatir pada istrinya.


"Sudah malam, apa lo gak istirahat? lo belum lapar? mau makan atau ..."


"Aku ingin steak." Lirih Marsha.


"Oke, gue belikan? tunggu yah." Seru Nathan sembari mengelus rambut Marsha.


Nathan bergegas keluar, saat menutup pintu. Marsha, menatap kepergian Nathan dengan tatapan sulit di artikan.


DI luar, Nathan baru menyadari orang tuanya dan kakaknya sudah tidak ada di sana.


Bergegas, Nathan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu, dia menelpon sang papi.


"Halo pi, kalian dimana?" Tanya Nathan sembari berjalan menuju parkiran.


"Gimana keadaan Marsha?" Bukannya menjawab, Kenan malah balik bertanya.


"Marsha sempat tidak mau bicara, dia sangat sedih. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Tapi, untunglah. Dia baru saja berbicara ingin makan steak." Jawab Nathan dengan senyuman mengembang.


"Syukurlah, semoga dia cepat pulih."


Nathan menghentikan langkahnya, dirinya lupa jika tak membawa motor. "Astaga, aku


sampai lupa jika motorku masih tertinggal di restoran." Gerutu Nathan.


Nathan pun berbalik menuju jalan besar, telponnya masih tersambung pada Kenan.


"Halo Nathan," ujar Kenan.


"Ya pi." Sambit Nathan.


"Nathan, ada yang ingin papi sampaikan. Saat ini, papi dan mami sedang berada di kantor polisi."


"Di kantor polisi? kalian ngapain di sana?!" Pekik Nathan.


"Mertua mu melaporkan Claudia atas tindak kekerasan. Kami sekarang berada disini, untuk menemaninya. Tolong katakan pada mertuamu, Claudia sedang hamil. Setidaknya, tangguhkan dulu hukumannya. Kasihan kakakmu Nathan,"


ENtah mengapa, Nathan tidak merasa kasihan. Dia justru merasa langkah yang ayah mertuanya ambil sangatlah tepat.


"Kalau itu urusannya, aku tidak berhak ikut campur pi. Karena menyangkut nyawa istriku, aku tidak bisa membantu kak Clau." Nathan memasuki sebuah taksi yang dia berhentikan.


Terdengar helaan nafas dari Kenan, sepertinya pria itu tak setuju dengan perkataan putranya.


"Nath, kamu tau sendiri kan. Kakakmu sudah tidak memiliki orang tua, dan sekarang dia sedang hamil. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan kandungannya? Apa kamu tidak kasihan dengannya?" Tanya Kenan, mencoba membujuk putranya.


"Apa papi tidak kasihan pada istri dan anakku? anakku itu cucu papi juga, kenapa papi seakan membela kak Clau?" KEsal Nathan.


"Bukan papi membela kakakmu, saat ini kakakmu tengah pingsan! dokter mengatakan jika kandungannya lemah karena stres yang berlebih. Apa kamu mau ada janin lainnya yang ikut menyusul calon anakmu hah?! kamu mau membalas dengan melenyapkan janin Claudia, persis seperti yang di lakukannya pada istrimu?"


Nathan terdiam, hatinya mulai goyah. Dirinya kembali mengingat masa-masa kenangannya bersama Claudia. Namun, hatinya berusaha meyakinkannya kalau dia membenci Claudia. Sebab, wanita itu menjadi penyebab istrinya keguguran.


"Pi, kita bicarakan nanti. Aku sudah sampai di restoran," ujar Nathan.


"Nathan, tunggu! Marsha memintamu untuk membeli steak? dan kau membelinya di restoran yang sama seperti tadi siang?" Tanya Kenan, seperti menyadari sesuatu.


"Ya." Nathan menjawab sembari keluar dari taksi.


Dia berjalan santai menuju restoran, untuk membeli makanan yang Marsha inginkan.


"Cepat kembali ke rumah sakit!" Pekik Kenan.


"Apa?"


"CEPAT KEMBALI! ITU HANYA SIASAT MARSHA AGAR BISA PERGI DARIMU! JIKA KAMU MASIH INGIN BERSAMANYA, KEMBALI SEKARANG JUGA!!"


Degh!!


Jantung Nathan terasa keluar dari tempatnya, pikirannya pun mendadak kosong.


"Aku ingin Steak."


"Nathan, aku ingin makan steak."


Perkataan yang sama, di dua waktu yang berbeda. Seketika, Nathan tersadar arti kata Marsha.


Sementara di posisi Marsha, wanita itu tengah menatap jendela luar mobil dengan mata beningnya yang berkaca-kaca.


"Kembalilah, dan ingat apa yang telah terjadi. Kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan membiarkan terjadi apapun pada ku dan calon anak kita. Tapi kau mengingkarinya. Ikatan kita masih berlanjut, karena janin itu. Janin itu sudah tidak ada lagi, dan sekarang ... tidak ada lagi ikatan di antara kita."


____


Maaf telat yah, kerjaan baru beres😭