
Di sore hari, Aaron kembali ke rumah. Raut wajahnya terlihat sangat bersemangat, karena kali ini dia pasti akan di sambut oleh istri dan putrinya seperti impiannya.
Namun ....
"SAYANG! AKU PU ... lang."
Aaron terdiam, rumahnya terlihat sangat kosong. Alih-alih mencari keberadaan istri dan putrinya, Aaron mendengar gelak tawa dari taman belakang rumahnya.
"LEMPAL LAGI KAKEK!! HAHAHAH!!"
Aaron mengerutkan keningnya, dia berjalan menuju asal suara. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya dirinya saat melihat orang tuanya berada di sana dan bermain bersama Marsha.
"Mamah ngapain kesini?" Sentak Aaron dan segera mendekati istrinya untuk melindunginya.
"Aaron, mamah hanya berkunjung saja. Apa salah?" Ujar Laras dnegan tatapan sedih.
Aaron menatap Zeva, raut wajah istrinya tidak ketakutan sama sekali.
"Katakan, apa yang sudah mamah lakukan padamu?" Tanya Aaron.
Zeva menggeleng, memang ibu mertuanya hanya berkunjung untuk melihat menantu serta cucunya.
"Mas, mamah kesini cuman minta maaf dan ingin bermain dengan cucunya. Jangan emosi dulu," ujar Zeva berusaha menenangkan Aaron.
Aaron menatap ibunya dengan tatapan penuh selidik, dia masih belum percaya dengan apa yang istrinya jelaskan.
"Aaron." Haikal datang pada Aaron sembari menggendong Marsha.
"Kamu gak perlu khawatir, mamah kamu kesini hanya untuk minta maaf dengan istrimu. Jangan khawatir," ujar Haikal.
Aaron menatap lekat ke arah ibunya, Laras yang di tatap seperti itu hanya dian menatap balik putranya.
"Aaron, mamah minta maaf. Jika kedatangan mamah membuatmu marah, mamah akan pulang." Ujar Laras dengan suara bergetar.
Aaron mencoba mengatur emosinya, dia tidak ingin meledak-ledak lagi. Jadi dirinya lebih memilih untuk menenangkan dirinya dulu.
"Aku ke kamar." Pamit Aaron.
"Mas." Panggil Zeva dengan sendu.
Aaron tak menghiraukan panggilan istrinya, dia tetap berjalan menuju kamarnya. Mengingat perlakuan Laras pada istrinya, Aaron menjadi emosi.
"Mah, maafkan mas Aaron. Dia sedang proses pengendalian emosi," ujar Zeva menatap sedih ibu mertuanya.
"Kamu tahu tentang Aaron?" Tanya Laras.
Zeva mengangguk, Aaron sudah menceritakan tentang dirinya. Dan bagaimana jika dirinya emosi, untuk itu Zeva memaklumi aoa yang suaminya perbuat. Karena saat itu, suaminya memang tidak baik-baik saja.
Flashback on.
Aaron dan Zeva sudah merebahkan diri mereka di kasur, keduanya bersiap untuk tidur. Posis Zeva membelakangi Aaron dan berada di dekapannya, dengan kepala yang berada di lengan suaminya.
"Zeva, ada sesuatu yang mau aku bicarakan." Ujar Aaron setelah lama terdiam.
Zeva yang akan tidur kembali membuka katanya.
"Apa?" Tanya Zeva.
"Maaf kalau jika selama ini aku tidak bisa mengontrol emosiku, semenjak perpisahan kita saat itu. Amarah yang selama ini ku pendam, meledak-ledak begitu saja. Bahkan tak segan aku menyakiti seseorang, lalu ... bang Jacob mengajakku pada temannya yang seorang dokter psikolog. Dia menyatakan jika aku mengalami Anger Issue."
Zeva terdiam, dia masih belum bereaksi.
"Aku minta tolong sama kamu, di saat aku marah. Jangan dekati aku, aku takut kamu terluka. Tolong, jauhi putri Kita. Jangan sampai dia melihatku marah."
Zeva merasa r3masan Aaron di lengannya bertambah kuat, dia pun memutuskan untuk balik menghadap ke arah suaminya. Netranya menatap lekat Aaron yang kini menatapnya dengan mata memerah menahan tangis.
Tangan Zeva terangkat, menyentuh wajah suaminya dan mengelusnya pelan.
"Maafkan aku, jika kebodohanku membuat kamu mengalami kesulitan mas." Lirih Zeva.
Aaron menggeleng, dia meraih tangan Zeva yang berada di pipinya dan meng3cupnya.
"Dengan kamu kembali bersama dengan kado terindah untuk pernikahan kita, itu sudah cukup bagiku." Ujar Aaron, lalu menc1um lama kening istrinya. Menyalurkan betapa bahagianya ia memiliki istrinya itu.
Flashback Off.
"Dia terlalu kecewa dengan wanita, sampai-sampai dia tidak mau menikah lagi," ujar Jacob.
"Tapi syukurlah, kalian kembali memutuskan untuk melanjutkan pernikahan kalian." Lanjutnya.
Zeva mengangguk membenarkan, ibu dan istri sama-sama mengkhianati kehidupannya. Pasti Aaron sangat terpukul, dan melampiaskan amarahnya itu pada siapapun tanpa merasa kasihan.
Selang setengah jam, Aaron kembali dengan wajah yang segar. Sepertinya dia baru saja mandi, baju kantornya sudah berganti menjadi baju rumahan
"Mah." Panggil Aaron pada LAras yang masih duduk di taman.
"Aaron." Lirih Laras.
Melihat senyuman putranya, Laras yakin jika Aaron sudah kembali. Dia memeluk putranya, dan Aaron pun membalasnya.
"Maafin mamah yah Aar, mamah sudah menyakitimu terlalu dalam. Maafkan mamah," ujar Laras dengan menangis tersedu-sedu.
Aaron membalas pelukan Laras dengan erat, jika dulu keluarganya masih utuh. Sang papah masih ada disini, Aaron akan begitu bahagia.
Aaron dan Laras melepaskan pelukan mereka, terdengar ada ramai-ramai di ruang utama. Mereka memutuskan untuk menghampiri asal suara.
"Siapa itu Aaron?" Tanya Laras ketika melihat wanita paruh baya dan juga Ayla.
Tatapan Bu Sri jatuh pada Aaron, dengan langkah pelan dia mendekati Aaron. Tatapannya berkaca-kaca, melihat kembali mantan majikannya.
"Nak Aaron."
"Bi, apa kabar." Sahut Aaron dan memeluk singkat wanita paruh baya itu.
"Bibi senang akhirnya kamu dan Zeva memutuskan untuk rujuk, bibi bahagia sekali. Bibi juga, turut prihatin dengan kondisi Marsha. Bibi sedih dengarnya, pas tau kalau Marsha amnesia. Tapi bersyukur, hikmahnya kalian bisa rujuk." Terang Bi Sri.
Aaron mengangguk membenarkan, amnesia Marsha membawa dampak yang besar bagi rumah tangganya.
"Mom! mom!" Panggil Raihan sembari menarik tangan Laras.
"Apa sih!" Greget Laras.
"Raihan mau nikah, boleh yah?"
Sontak semuanya tertawa melihat bujukan Raihan pada Laras.
"Nikah sama siapa? tembok?!" Sindir Laras, mengingat putranya masih sendiri.
"sama Ayla lah! masa tembok!" Pekik Raihan yang mana membuat semua orang heboh kecuali Ayla yang tertunduk malu.
"Boleh ya mommy, nanti keburu Ayla di ambil orang. Cepet mom, mumpung ada ibuk nya! lamarin sekalian!!" Rengek Raihan.
Laras melepaskan tangan Raihan dari tangannya.
"Kamu minta nikah kayak minta jajan aja sih!"
"HAHAHAHA!!"
semua orang tertawa kembali saat melihat Raihan yang malah duduk berjongkok sembari memegangi kaki sang ibu.
"MALCHAAA!! BABANG DANTENG DATAAANGG!!"
Mendengar suara yang Marsha hafal, dirinya segera melompat ke arah sang daddy. Beruntung Aaron sigap menangkap putrinya dan menggendongnya.
"Ariel, Azka! kalian sama siapa kesini?" Tanya Haikal menghampiri kedua cucunya.
"Cama abang gleb."
"APA?!"
***
7 Hari kemudian.
Aaron tengah bermain bola di taman belakang dengan putrinya, tak lama Zeva datang dengan membawa minuman.
"Mas, ini kopinya. Marsha! susunya sayang!"
Aaron dan Marsha bergegas menghampiri Zeva yang menaruhnya di sebuah meja.
Saat Aaron akan mengambil kopinya, dia melihat ada makanan yang terlihat sangat pedas. Seketika dia menatap sang istri.
"Kamu kan lagi datang bulan, gak baik makan yang pedes-pedes." Tegur Aaron.
Dengan santai, Zeva mengambil mangkok seblak itu dan beralih duduk untuk memakannya.
"Aku kan sudah selesai mas, dari kemarin," ujar Zeva.
"DARI KEMARIN?!!" pekik Aaron.
"UHUK? UHUK!!" Marsha yang tadinya sedang meminum susu, sontak langsung tersedak lantaran terkejut dengan suara teriakan Aaron.
Zeva membantu putrinya yang tersedak itu, berbeda dengan Aaron yang malah berpikir keras.
Aaron meletakkan cangkir yang dia pegang, kemudian dia segera membawa istrinya ke gendongan menyamping hingga membuat Zeva memekik.
"MAS! TURUNIN!!" Pekik Zeva dengan kesal.
"MARSHA! DADDY SAMA BUNDA BUAT ADEK DULU! JANGAN GANGGU YAH!" Seru Aaron.
"MAS!!" Kesal Zeva.
Sementara Marsha, dia mengerjapkan matanya dengan lucu, "Bikin adek? Buat Malcha?" Gumam Marsha masih berusaha berpikir keras.
Sedangkan di dalam kamar, Aaron sudah meletakkan istrinya di atas kasur. Dia bersiap akan menyerang sang istri, akan tetapi ...
BRAK!
BRAK!
"HIKS HUAAA!! NDA MAU ADEK! NDA MAU!! JANAN BUAT ADEK!! DADDYY!!! NDA CUKA! NDA CUKA!!"
Marsha memukul pintu, berusaha untuk mendobraknya. Seketika Aaron pun menjadi lemas.
"Gagal lagi." Lirih Aaron menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sang istri.
"Minggir mas! kamu sih, tengah hari bolong aneh-aneh aja!" Omel Zeva pada Aaron yang tengah pasrah dengan keadaan.
****
Seharusnya up jam sebelas malam tadi, lupa di klik lanjut. Malah taruh di draft😭😭😭 pantesan pada nagih yang satunya mana😭😭