Find Me Daddy

Find Me Daddy
Tolong, bebaskan ayah Raden



"Mama hiks ... mama." Raden menggoyang-goyangkan pundak sang ibu, air matanya terus saja mengalir di pipi bulatnya.


Raden berdiri, dia berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsel ibunya. Lalu, dia menuju pintu apartemen yang terbuka sedikit.


Raden keluar dari apartemen, dia mencari seseorang untuk membantu ibunya. Dia tak bisa menggunakan ponsel, tapi dia sering melihat ibunya memegang benda itu.


Hingga Raden keluar dari apartemen, dia menatap Jalan Raya. Bibirnya sedari tadi mengumumkan kata sang mamah.


"Tolong mama Laden, hiks .. mama Laden." Isak anak itu.


Raden berjalan menuju tengah jalan, membuat beberapa pengendara menghindar. Namun, tidak dengan satu mobil.


"Mama, tolong mama Laden hiks ... mama."


TIN!! TIN!!


BRAK!


Raden tertabrak sebuah mobil berwarna hitam, tubuh mungil itu tertabrak cukup keras. Kepalanya mengeluarkan darah, dan ponselnya sudah terbanting jauh.


"Astaga!!" Pemilik mobil langsung keluar, dia bergegas menghampiri Raden.


"Masih hidup gak ya." Gumam pria itu dengan takut.


Dia masih merasakan nafas Raden, berarti anak itu masih bernafas. Seketika, pria itu bernafas lega.


"Mana ibunya yah." Gumam pria itu, sembari mencari sosok ibu dari anak yang ia tabrak.


"Pak, ini ponsel yang anak itu bawa. Barang kali ada kontak orang terdekatnya disini." Ujar salah seorang yang turut mengamankan lalu lintas.


Pria itu mengambil ponsel Mentari, dia membuka nomor kontak dan mencari orang yang bisa dia hubungi.


"Zeva. Mungkin temannya, coba telpon deh." Gumam pria itu, saat melhat panggilan terakhir adalah nama Zeva.


Menang Zeva dan mentari sempat bertukar nomor.telpon agar kedepannya mereka bisa saling bicara.


Sementara di posisi Zeva, wanita itu baru saja memandikan bayinya. Sejak kemarin, dia sudah pulang dari rumah sakit.


"Marsha, adeknya jangan di unyel-unyel sayang. Nanti bangun." Tegur Zeva yang sedang merapihkan peralatan sehabis mandi Varo.


"Pipina lubel bunda, Malcha lagi kempecin bial nda lubel." Cetus Marsha.


Zeva menahan napasnya, memiliki anak lagi di usia putrinya yang masih empat tahun. Membuatnya harus banyak menyetok kesabaran.


DERTT!!


DERTT!!


Ponsel Zeva berbunyi, dia pun mengangkatnya.


"Halo, selamat siang. apakah anda kenal dengan pemilik ponsel ini?" Tanya Pria itu.


Kening Zeva mengerut, "Ya, saya mengenalnya. Dia teman saya, ada apa yah? kok ponsel teman saya ada pada anda?" Tanya Zeva.


Zeva berjalan menuju ranjang, dia mendudukkan dirinya di sana sembari menunggu jawaban dari sang penelepon.


"Apakah anda keluarga dari pemilik ponsel?" Tanya orang itu.


"Bukan, saya temannya pak. Teman saya mana yah?" Perasaan Zeva sudah tak enak.


"Maaf bu, saya tak sengaja menabrak seorang anak kecil. Dia memegang ponsel ini, jadi saya menghubungi anda. Karena nomor kontak anda yang ada di panggilan terakhir." Ujarnya dengan panik.


Zeva menutup mulutnya. "Anak kecil? ciri-cirinya gimana pak?"


"Anaknya sekitaran umur 2-3 tahun, anak laki-laki. Rambutnya coklat, dan ...,"


Deghh!!


"Raden."


Zeva hafal betul ciri-ciri anak itu, Raden memiliki warna rambut kecoklatan. Dengan perasaan panik, Zeva bergegas keluar mencari suaminya.


"Tolong bawa anak itu ke rumah sakit pak. Bilang sam orang di sana, datangi unit apartemen nomor 5 di lantai satu. Ibu anak itu tinggal di sana," ujar Zeva dengan panik.


"Baik bu,"


Tuutt!!


Zeva meremas ponselnya dengan perasaan cemas.


"Astaga Mentari, kamu dimana?" Gumam Zeva.


***


Zeva sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Varo dan Marsha di titipkan pada Laras. Kebetulan, Haikal sedang ada di rumah. Jadi, bisa membantu sang istri menjaganya.


"Kamu tenang yah sayang, jangan panik. Kamu baru aja habis melahirkan, kok ngeyel minta ikut." Tegur Aaron.


"Kamu mau nenangin apa buat aku kesel sih mas!" Sahut Zeva membuat Aaron melipat bibirnya.


"Duh, orangnya kok lama ngabarinnya yah." BAtin Zeva.


DERTT!! DERTT!!


Akhirnya, orang yang di tunggu menelpon jiga. Tanpa pikir lanjang, Zeva bergegas menelponnya.


"Bu, saya sudah di rumah sakit Harapan. Tolong cepat datang kesini, ternyata ibu dari anak ini di temukan tak sadarkan diri di unit apartemennya. Kemungkinan, putranya keluar untuk mencari bantuan."


Degh!!


Zeva menatap suaminya, netranya berkaca-kaca. Aaron yang melihat istrinya seperti itu, sudah mengerti jika pasti Zeva mendapat kabar buruk.


Aaron bergegas menggenggam tangan kanan Zeva, memberi kekuatan. Istrinya mudah sekali turut sedih dengan kesulitan orang.


"Pa-pak, tolong katakan pada dokter. Lakukan yang terbaik untuk keduanya, kami akan segera ke sana."


Tuutt!


"Mas." Lirih Zeva dengan suara bergetar.


"Syutt, jangan menangis. Mereka pasti baik-baik saja," ujar Aaron.


"Aku gak bisa bayangin, anak sekecil itu harus menghadapi situasi sulit seperti ini. Aku gak bisa bayangin, gimana kalau Marsha berada di posisi Raden hiks ...,"


Aaron mengusap punggung tangan istrinya, dan mengecupnya pelan. "Kita hampir sampai,"


Sesampainya di rumah sakit, Zeva bergegas bertanya pada resepsionis.


"Pasien anak kecil dan ibunya, atas nama Raden dan Mentari. Di ruangan mana sus?"


Suster langsung mengecek data pasien, setelah dapat. Suster langsung memberitahukan pada Zeva dimana ruangan keduanya.


"Terima kasih." Zeva bergegas menuju ruangan yang suster maksud. Ternyata, di sana sudah ada kedua polisi dan seorang pria seumuran suaminya.


"Bu Zeva?"


Zeva mengangguk cepat, dia menatap pintu ruangan yang masih tertutup.


"Maaf, ini ponsel korban. Saya tak sengaja menabrak anak itu karena tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Saya sudah membayar biaya rumah sakitnya." Pria itu memberikan ponsel milik Mentari pada Zeva.


"Selamat siang, apakah anda teman dari ibu Mentari?" Tanya salah seorang polisi.


Zeva mengangguk, polisi itu mengajak Zeva ke ruangan lain. Yang ternyata ruang rawat Mentari.


"Teman anda ada di dalam, tadi dokter sudah memeriksanya." Sahut polisi itu.


"Terima kasih pak." Ujar Zeva dengan tulus.


Aaron merangkul pinggang istrinya, mereka berdua masuk ke kamar rawat Mentari. Terlihat, wanita itu sudah sadarkan diri. Namun, kondisinya masihlah lemah.


Masker oksigen telah terpasang apik di mulut serta hidungnya. Mesin EKG berbunyi, mendeteksi detak jantungnya.


"Mentari." Lirih Zeva.


Zeva menggenggam tangan Mentari, keduanya pun saling tatap.


"Raden." Lirih Mentari.


"Raden masih di tangani oleh dokter, dia pasti baik-baik saja." Jawab Zeva.


Mentari menangkup tangan Zeva, netranya menatap Zeva dengan tatapan lekat.


"Aku sudah tidak kuat." Lirih MEntari, nafasnya terdengar sulit.


"Syuutt, kau kuat. Kau pasti kuat," ujar Zeva.


Mentari menggeleng, "Tidak bisakah Rio di bebaskan? aku tidak bisa menitipkan Raden pada keluargaku, mereka pasti akan menyiksanya." Lirih Mentari, dengan nafas tersenggal.


Zeva beralih menatap suaminya, sedangkan Aaron hanya diam tanpa membuka suara.


"Tolong, Raden tak memiliki siapapun kecuali aku dan papa nya. Aku sudah lelah, aku ingin pulang."


Air mata Zeva menetes, dia lalu menghapusnya dengan cepat.


"Kamu kuat! jangan bicara begitu, Raden masih butuh sosok ibunya. Dia masih kecil, bertahanlah sekali lagi." Yakin Zeva.


Mentari menarik nafas panjang, tiba-tiba dia kesulitan bernafas.


"Mentari, Mentari. Kau kenapa?" Panik Zeva.


"MENTARII!!" Lekik Zeva saat melihat mata mentari yang tertutup. Lalu, tangannya melemah dan tak lagi menggenggamnya.


____


TRIPLE UP🥳🥳🥳


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA🥰🥰