
Mobil yang Marsha tumpangi memasuki kediaman Smith, hingga mobil terhenti di teras pintu utama.
Bergegas, Aaron turun. Dia mengeluarkan kursi roda dan membantu sang putri untuk duduk di kursi roda tersebut.
Tak lama, sebuah cahaya motor menyorot mereka. Ternyata, Varo datang menyusul bersama Javier. Yang memang sebelumnya Aaron meminta Varo untuk menyusulnya. Sebab, anak bungsunya pasti tak bisa jauh dari sang ibu.
Varo menurunkan Javier, terlihat bocah gembul itu berlari menghampiri sang bunda dengan tatapan kesal.
"Bunda! abang ...."
"Kenapa abang?" Tanya Zeva, sembari meyambut putranya ke dalam gendongannya.
"Maca cucu Viel nda di bawa! bilangna balang nda pellu! itu haltana Viel! halta yang belhalga! tapi cama abang, nda boleh di bawa hiks ...."
Zeva langsung menatap Varo, anak keduanya itu dengan santainya memberikan satu susu kotak pada Javier.
"Katanya mau susu, nih abang kasih." Ujar Varo dengan iseng.
Javier menatap susu kotak itu, lalu menatap Varo dengan tatapan kesal. Matanya berkaca-kaca, bersiap akan menangis.
"MANA CUKUP CATU! PELIT KALI LOH! CITU KALAU MOTOLNA NDA DI KACIH BENCIN NDA BICA JALAN CIH! CAMA KAYAK VIEL! NDA GUNA JADI ABANG!" Pekik Javier dengan kesal.
"Hust, kok teriak gitu ngomongnya sama abang." Tegur Zeva.
Javier mengambil paksa susu kotak dari tangan abangnya, padahal awalnya dia menolak lantaran hanya satu. Namun, satu pun tetap di ambil juga.
"Dih, katanya gak cukup. Kok di ambil?" Dengus Varo.
"Celewet kali loh mulutna! kaya nenek Lampe!" Kesal Javier.
Mendengar ada kebisingan, keluarga Smith pun keluar. Laras yang melihat cucu bungsunya pun langsung heboh seketika.
"Vieerr!! kesayangan nenek!!"
Mendengar suara neneknya, Javier tersenyum cerah. Dia merentangkan tangannya pada Laras, dan Laras pun menyambutnya dengan baik.
Azka dan Ariel turut keluar, tatapan mereka langsung terjatuh pada Marsha yang berada di kursi roda dalam kondisi wajah yang pucat.
"Marsha." Keduanya langsung bergegas mendekat, mereka menatap Marsha dengan khawatir.
"Kamu kenapa? kamu sakit?" Tanya Azka dengan panik.
Laras yang tadinya sibuk dengan Javier, seketika menatap Marsha. Raut wajah cerianya berubah menjadi tatapan khawatir.
"Aaron, cucu mamah kenapa? kenapa bisa pakai kursi roda?" Sahut Laras.
"Mah, biarkan Marsha istirahat dulu. Nanti biar Aaron yang ceritakan. Mungkin, beberapa hari ke depan. Kami akan tinggal disini untuk sementara, sampai Marsha pulih kembali," ujar Aaron.
"Enggak papa, sampai setahun dua tahun pun gak papa. Ayo, bawa masuk. Hati-hati dorongnya." Sambut Haikal.
Aaron membawa putrinya ke kamarnya yang memang masih menjadi hak Marsha di kediaman SMith.
Perlahan, tubuh Marsha di pindahkan ke kasurnya. Tatapan Marsha kosong, sedari tadi tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya selama berada di kediaman Smith.
"Boleh abang periksa?" Tanya Jacob, pada Aaron.
Aaron mengangguk, dia juga khawatir dengan kondisi putrinya. Apalagi, mArsha meminta pulang paksa dari rumah sakit sebelum kondisi nya pulih.
Jacob mulai memeriksa keadaan Marsha, dia jiga mengecek tensi darah Marsha yang sangat rendah.
"Apa ini Aar? MArsha kenapa? kenapa tensi darahnya rendah sekali, dan .... Aku harus berbicara padamu!"
Jacob merasa ada yang tidak beres dengan Marsha, dia bergegas menarik Aaron keluar untuk meminta penjelasan.
Sehingga, semua keluarga termasuk Azka dan Ariel ikut kumpul di ruang keluarga. Semua pasang mata, menatap Aaron dnegan tajam.
Saat Aaron ingin menjelaskan, sebuah telepon masuk dan membuatnya mengurungkan niatnya.
"Nanti Aaron cerita, ada hal penting yang Aaron harus tangani." Pamit Aaron.
.
Di kamar, Zeva masih menemani putrinya. Dia mengelus rambut putrinya, berharap setelah ini putrinya tenang dan tertidur.
Sementara Javier, dia berada di sebelah Marsha. Dot sudah menempel pada bibirnya, siapa lagi yang memberikannya jika bukan sang nenek. Cucu bungsu kesayangan, memang beda.
"Bun." Lirih Marsha.
"Hm?" Zeva menatap putrinya, mata putrinya kembali mengeluarkan air mata.
"Apa aku tidak pantas menjadi ibu?" Tanya Marsha.
Senyuman Zeva sangat meneduhkan, membuat Marsha sedikit merasa tenang ketika melihat senyuman ibunya.
"Kamu sudah pantas menjadi seorang ibu, tapi mungkin bukan sekarang. APa kamu tahu? dulu, bunda harus menunggu memiliki kamu selama hampir dua tahun."
Tangan Zeva masih setia mengelus kepala putrinya, dan sesekali mengusap air matanya.
"Sebenarnya, kamu memiliki seorang kakak."
Marsha menatap sang bunda dari bawah, dia bisa melihat tatapan kesedihan dari mata sendu itu.
"Tapi sayangnya, bunda harus merelakannya. Karena dia tumbuh di luar rahim. Gak sampai situ saja, bunda membuat satu kesalahan yang membuat daddymu pergi meninggalkan bunda."
Air mata Zeva tak sengaja turun, bergegas dia menghapusnya. Mengingat masa lalu yang menurutnya sangat lah pahit, tak bisa membuat dirinya menahan kesedihannya.
"Marsha, tanyakanlah berkali-kali pada hatimu. Siapa yang kamu cintai. Sebab hati, ada kalanya berbohong untuk menutupi rasa cinta yang sebenarnya. Jangan sampai menyesal,"
.
.
.
Nathan menghentikan motornya di halaman kediaman Alexander, dia bergegas turun dan ingin memasuki pintu utama. Namun, kedua bodyguard yang berjaga malah menghalangi dirinya.
"Tunggu! mas mau kemana dan ingin bertemu siapa?" Tanya salah seorang bodyguard.
"Saya ingin bertemu Marsha," ujar Nathan dengan nafas memburu.
"Nona muda tidak ada di rumah, baru saja tuan muda Varo membawa tuan kecil pergi. Mereka membawa barang-barang. Sepertinya mereka pergi ke kediaman Smith, anda bisa mencari mereka di sana."
Nathan mengerutkan keningnya, dia belum pernah ke kediaman Smith. DIa tidak tahu dimana alamat kediaman SMith, sepertinya dia harus meminta alamat itu pada kakeknya.
Nathan mengeluarkan ponselnya, lalu dia bergegas menelpon sang kakek.
"Halo, baru inget punya opa hah!"
"Maaf opa, bisakah kamu memberitahuku dimana kediaman Smith? aku harus ke sana sekarang." Pinta Nathan, sembari menaiki motornya.
"Ngapain? ada urusan apa kamu sama mereka? gak usah cari penyakit! pulang, dan tidurlah!" Tegas sang opa.
Nathan memutar bola katanya malas, "Opa Andre, yang paling ganteng kesayangan oma Rena. Nathan ada urusan di sana, tolong kasih tahu yah." Bujuk Nathan, dengan kata-kata manisnya.
"Hahaha cucu terbaik! baiklah, akan opa kasih tahu. Kediaman Smith berada di jalan Anggrek nomor 1-5 pokonya dari ujung ke ujung. Itu kediaman Smith semua."
Nathan mengangguk, dia mematikan ponselnya secara sepihak. Hingga membuat Andre yang berada di sana memekik kesal.
"Tunggu aku Marsha, aku akan membawamu pulang." Gumam Nathan.
Singkatnya, Nathan sampai di kediaman Smith. Dia bergegas turun dari motornya, dan ternyata ... di saat itu, Aaron sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Aaron dengan kesal. Baru saja dia dapat telpon dari bodyguard nya, jika Nathan menyusulnya ke kediaman Smith.
"Om, aku ingin bertemu Marsha." Pinta Nathan.
"Saya tidak mengizinkanmu bertemu dengan Marsha, kecuali hanya untuk menceraikan dia!" Tegas Aaron.
Rahang Nathan mengeras, netranya menatap tajam Aaron. "Tidak akan pernah! aku tidak mau menceraikan Marsha!" Bentaknya.
"Egois." Geram Aaron.
"Kalau begitu, biarkanlah kakakmu berada di penjara." TAntang Aaron, dengan tatapan menghunus tajam.
Kening Nathan mengerut, tatapan mertuanya menyiratkan rencana yang akan membuat dirinya bimbang setelahnya.
"Kakakmu akan di penjara sampai enam bulan sampai satu tahun ke depan, bahkan dia bisa melahirkan di balik jeruji besi. Namun, om bisa mencabut laporannya dengan syarat ..."
"Kamu mau menceraikan Marsha detik ini juga."
Seketika, mata Nathan melotot terkejut karena tawaran dari sang mertua yang begitu membuatnya bimbang.
"Tinggal pilih, antara istri dan kakakmu. mana kah yang lebih kamu cintai,"
____
Lunas yah, besok lagi. Authornya mengantuk 🥱