Find Me Daddy

Find Me Daddy
Aku hanya menghamili putrimu saja(S2)



Nathan memasuki kediaman Alexander, baru saja masuk. Dia sudah di sambut oleh Aaron yang menatapnya dengan dingin.


"Om, aku bisa jelaskan." Ujar Nathan dengan penuh kekhawatiran.


"Pulang!" Hanya satu kata yang Aaron keluarkan, tapi sudah membuat Nathan begitu khawatir.


"Om, aku akan jelaskan semuanya. Wanita itu ...,"


"Apa kamu tidak dengar apa yang baru saja ku bilang? Pulang!"


Nathan menggeleng tegas, dia tak ingin pulang sebelum bertemu dengan Marsha.


"Aku tidak akan pulang, sebelum bertemu dengan Marsha!" Tegas Nathan.


"Kau!! BODYGUARD!"


Ketiga bodyguard Aaron datang menghadap, Aaron menunjuk kearah Nathan yang masih berdiri di hadapannya tanpa takut sedikit pun.


"Usir dia keluar!" Titah Aaron.


"Baik tuan!" Seru ketiganya.


"Om! biar aku jelaskan dulu pada Marsha!! Semuanya Tidak seperti yang kalian pikirkan!!" Seru Nathan ketika dirinya di paksa keluar.


"Penjelasan apalagi?! Penjelasan tentang wanita lain yang kamu hamili hah?! Entah putriku wanita ke berapa yang sudah di hamili olehmu!"


"AKU HANYA MENGHAMILI PUTRIMU SAJA!!" teriak Nathan dari luar.


Aaron memijat pelipisnya, dia meminta pembantu untuk menutup pintu utama.


"Jangan biarkan dia masuk." Titah Aaron.


Setelah itu, Aaron bergegas naik ke kamar putrinya. Dia melihat putrinya terduduk di ranjang dengan tatapan kosong.


"Marsha, daddy sudah mengusirnya. Tdiak akan daddy biarkan lagi, dia menemuimu," ujar Aaron dengan sendu.


Marsha hanya diam, dia masih syok dengan pertemuannya dengan Nathan dan wanita yang dia tak kenal.


"Sayang." Aaron duduk di tepi ranjang, dia membawa Marsha ke pelukannya.


Seketika tumpah lah tangisan Marsha, semenjak hamil Dirinya sangat sensitif. Di mulai dari Nathan yang tak membalas pesan nya bahkan telponnya. Dan tadi, dia melihat Nathan mengantar wanita lain mengecek kandungan.


"Syutt, don' cry baby. Daddy disini, hm,"


"Jahat sekali dia hiks ... aku telpon-telpon dia. Aku pikir dia sibuk belajar, tahu nya dia sibuk antar ceweknya ke dokter kandungan hiks ... hiks ... kirain Marsha yang pertama. Taunya Marsha salah satunya hiks ...,"


Entahlah, Aaron bingung mengekspresikan dirinya. Dia ingin tertawa melihat Nathan yang frustasi dan putrinya yang menangis.


"Kan! udah gue bilang! dia itu pria gak bener, malah mau di lanjut. Bodoh sih lo jadi cewek." Celetuk Varo yang dengan entengnya masuk ke kama sang kakak.


"Diam kamu! udah tahu kakaknya lagi sedih, malah tambah di buat kesal!" Imel Marsha.


JDERRR!!


Ketiganya tersentak kaget saat mendengar bunyi petir yang menggelegar. Bergegas Marsha beranjak menuju jendela kamarnya, dia melihat langit yang mulai gelap.


"Mau hujan." Gumam Marsha.


"Marsha." Zeva datang memanggil putrinya, wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Apa gak sebaiknya, kamu menemui Nathan? biarkan dia menjelaskannya dulu," ujar Zeva dengan khawatir.


Marsha cuek, dia malah kembali ke ranjang dan merebahkan dirinya. "Bodo amat lah bun, aku kesel sama dia." Kesal Marsha, dan berlanjut memejamkan matanya.


"Sha ...,"


Bunyi hujan yang deras membuat Marsha kembali membuka matanya. Entah mengapa, dia merasa khawatir dengan Nathan.


"Nathan belum pulang bun?" Tanya Marsha.


"Belum, dia nunggu di luar pagar. Noh, daddy mu yang usir." Cetus Zeva.


Marsha beranjak duduk, dia merasa kasihan dengan Nathan yang di usir oleh sang daddy.


"Apa gak keterlaluan dad?" Tanya Marsha pada sang daddy.


"Enggak lah! dia tega nyakitin kamu, masa gak tega ngusir dia dari sini? ini rumah daddy, jadi terserah Daddy dong!" Seru Aaron.


Marsha bangkit, dia mendekati ke arah jendela dan membukanya. Kamarnya bisa melihat langsung ke arah pagar rumahnya.


"Nathan." Gumam Marsha, saat melihat Nathan masih berdiri di sana dengan hujan yang turun dengan derasnya.


"Dia masih nunggu kamu Sha, kasihan," ujar Zeva mendekati sang putri.


"Ck, kamu tuh yang! jangan gampang kasihan sama orang, kenapa sih!" Kesal Aaron ketika mendengar perkataan istrinya.


"Bukan gitu mas, ini hujan deras loh! Kalau Mbak Sofia tahu, dia bisa marah. AKu gak tega sama Nathan," ujar Zeva dengan kesal.


"Udahlah, kamu tuh! gak inget apa, dia sudah nyakitin anak kita? masih bela anak orang?!" Kesal Aaron.


Sedangkan di sana, Nathan berusaha menghubungi Marsha. Dia merasa bersalah saat melihat banyaknya pesan Marsha yang terkirim padanya. Marsha memintanya untuk mengantarnya mengecek kandungan, tetapi dia tak menggubrisnya.


"Maaf, gue kesel liat lo sama Mario. Kenapa lo harus kenal dia sih." Lirih Nathan.


Selang dua jam, Nathan masih berdiri di sana. Marsha tak kunjung keluar menemuinya. Namun, Nathan tak menyerah gitu saja. Bahkan, sampai hujan reda. Dia tetap berdiri di situ.


"Sha, kamu gak kasian sama dia? temuin dulu gih, udah dua jam loh," ujar Zeva berusaha membujuk putrinya.


Marsha juga kasihan, tapi dia masih merasa kesal. Tak lama, seorang bodyguard datang ke kamarnya.


"Non! itu, den Nathan pingsan!" Pekik Bodyguard itu.


"APA?!"


Marsha bergegas keluar menghampiri Nathan, dia tak peduli lagi dengan kemarahannya.


"Nathan!" Pekik MArsha saat melihat NAthan yang terkapar di depan pagar.


Marsha bersimpuh, dia menarik kepala Nathan ke pangkuannya. Bibir pria itu membiru, membuat Marsha menangis saat melihatnya.


"Nathan! Nathan!" Marsha menepuk pipi pemuda itu, wajahnya terlihat panik. Apalagi, melihat wajah Nathan yang sudah pucat membiru.


Aaron dam Varo pun bergegas menghampiri setelah tahu jika pemuda itu pingsan.


"Lah, pingsan dia? payah, gitu doang pingsan," ujar Varo meremehkan.


"Diem kamu! mending kamu bantu kakak bawa dia masuk." Kesal Marsha.


Dengan berat hati, Varo membantu Marsha membawa Nathan masuk. Bodyguard lain pun turut membantu, karena tubuh Nathan yang lumayan berat.


Nathan di bawa masuk ke kamar Marsha, dia masih belum sadarkan diri.


"Nih, ganti baju suamimu nak." Pinta Zeva, membuat Marsha melototkan matanya.


"APA?!"


"Memangnya kenapa? cepat ganti! kasihan dia," ujar Zeva.


Zeva memberikan salinan baju milik Vano. Lalu beranjak keluar. tak lupa dia menutup pintunya.


"Harus di ganti?" Gumam MArsha.


Dengan terpaksa, MArsha mengganti baju Nathan. Walaupun dirinya harus menutup mata, lantaran tak ingin melihat tubuh Nathan. Entah mengapa, dia masih malu untuk melihat tubuh suaminya sendiri.


"Akhirnya selesai juga." Lega Marsha.


"Eunghh!!" Marsha terkesiap saat melihat Nathan yang sadar.


Bergegas, Marsha duduk di tepian ranjang, dia mengusap rambut suaminya yang belum kering.


"Nathan, Nathan!" Panggil Marsha sembari menepuk pipi Nathan.


Nathan mengerjapkan matanya, dia menatap melihat wajah cantik istrinya yang mengkhawatirkan dirinya.


"Marsha, jangan marah padaku. Wanita itu kakakku, aku hanya mengantarnya. Karena suaminya tidak bisa mengantarnya periksa. Maafkan aku." Lirih Nathan dengan tatapan sayu.


Mendengar penjelasan suaminya, Marsha menjadi merasa bersalah. Dia mengusap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Di saat seperti ini, Nathan menggunakan bahasa aku kamu padanya.


"Jangan marah padaku, aku tidak bisa melihatmu marah. Hatiku sakit, kau tahu?" Lirih Nathan.


Nathan memeluk pinggang istrinya, dia kembali memejamkan matanya


"Nathan, Nathan!" Mengira suaminya kembali tak sadarkan diri, membuat Marsha kalang kabut.


Cklek!


"Marsha! segera bersiap! kita bawa Nathan ke rumah sakit! bunda baru saja menelpon mertuamu, mereka bilang jika Nathan alergi dingin! dia tidak bisa terkena hujan!"


"Apa?! bun ...,"


"Enggak, aku gak mau. aku mau disini, sama kamu. jangan suruh aku pergi. Aku mau disini, Aku mau disini. Aku bisa tiada jika kamu mengusirku." Lirih Nathan, dia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Marsha. Bahkan, semakin menenggelamkan wajahnya pada perut sang istri.


sedangkan Marsha dan Zeva, keduanya terkejut dengan celotehan Nathan.


"Ngelindur yah?" Gumam Marsha.


____


Maaf yah, kemaleman. Ada acara tadi, jadi up nya telat😅