Find Me Daddy

Find Me Daddy
Kembali bertemu



Marsha keluar dari dokter kandungan dengan senyum mengembang, perasaannya terasa sangat lega. Sofia yang berjalan di samping menantunya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Untung aja gak jadi mi, Marsha udah takut kalau hamil lagi." Ujarnya.


"Ya, syukurlah. Si kembar masih kecil, nanti kalau mereka sudah umur dua atau tiga tahun. Baru deh, kamu program lagi." Sahut Sofia.


"Nanti deh mi, Marsha pikir-pikir dulu. Nathan masih mau dapet anak laki-laki, mungkin nantinya kami bicarakan lagi," ujar Marsha.


"Kalau itu mami setuju, gimana pun juga kalian harus memiliki anak laki-laki. Biar bisa jaga saudara perempuannya." Seru Sofia.


Marsha tersenyum tipis, dia membenarkan perkataan mertuanya. Dia juga menginginkan anak laki-laki, Nathan pun juga sama.


"Yasudah, ayo kita ke mobil. Kasihan papi jaga si kembar sendirian." Ajak Sofia sembari merangkul lengan menantunya.


Marsha bersyukur, setidaknya dia dapat mertua yang baik dan perhatian. Tak pernah menyalahkan atas kesalahan yang ia buat, selalu menenangkannya di kala hatinya merasa bimbang. Selepas kesalahan yang Claudia perbuat, Marsha sudah menerima semua masa lalunya.


Dia juga berharap, semoga keluarganya bahagia selalu. Selalu harmonis dan saling menyayangi.


.


.


.


5 bulan kemudian.


Malam hari.


Terlihat, seorang wanita cantik tengah memasangkan topi pada balita cantik yang tengah menghisap jempolnya.


"Aizhaaa ... jangan di isep jempolnya sayang, kotor!" Pekiknya.


Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Marsha, kini dia tengah repot mengurus ketiga anak kembarnya yang akan dia ajak ke suatu tempat.


"Ekhee!!" Pekik Aizha tak suka ketika sang ibu menghalangi kesenangannya.


Marsha beralih mengambil paciefier dan memasukkannya ke dalam mulut putrinya. Dia lebih memilih menggunakan pacifier dari pada putrinya terus memasukkan tangan ke dalam mulut.


DERTT!!


DERTT!


Marsha bergegas mengambil ponselnya, terlihat nama My Husband di sana. Membuat senyum Marsha mengembang.


"Dia pasti akan memarahiku karena papi telah mengabarkannya jika aku tidak jadi berkunjung ke sana." Gumam Marsha.


Yah, selama lima bulan. Marsha tidak menjenguk Nathan, keduanya hanya saling bertukar kabar dengan video call. Nathan sudah sering kali memaksa Marsha untuk menyusulnya. Namun, lagi-lagi terhalang karena ketiga putri mereka yang belum bisa di ajak bepergian jauh.


Jadilah Nathan harus menunggu sampai ketiga putrinya kuat. Walau keadaan hati pria itu tengah tidak baik-baik saja. Hari ini, tepat si kembar berusia delapan bulan. Nathan berulang tahun ke dua puluh tahun. Niatnya, hari ini Marsha ingin mengerjai suaminya itu dengan memberikan dia hadiah berupa kedatangannya dan ketiga anak mereka.


"Marsha, sudah siap?" Sofia memasuki kamar sang menantu, untuk melihat persiapan yang Marsha lakukan.


"Sudah mi," ujar Marsha.


"Ayo, opa Andre sudah menyiapkan pesawat untuk kalian. Dia tidak mau kamu repot di pesawat umum, maka dari itu dia meminta mu untuk naik pesawat miliknya," ujar Sofia.


Marsha mengangguk, opa Nathan satu itu sangat memanjakan dia dan si kembar. Anak yang paling dekat dengan Andre adalah Nadia, anak itu paling manja dengan opa buyutnya. Sedangkan Nayara, dia paling dekat dengan Kenan.


Aizha, bayi kecil itu bisa dekat dengan semuanya. Bahkan, dia sangat pintar mengambil hati banyak pria dengan mata bulatnya yang berkedip lucu.


"Yasudah, ayo. Mami bantu bawa Aizha dan Nadia, kamu bawa Nayara saja. Kasihan dia tidur," ujar Sofia sembari mengambil Aizha dari ranjang.


Esok harinya


Di lain negara, tampak seorang pria dengan pakaian kasualnya tengah menggurutu sembari memegangi ponselnya. Posisinya, dia tengah duduk di motornya dan sambil menunggu balasan dari seseorang.


"Ck, kenapa malah jadi gak aktif sih!! Kemana dia!" Kesal nya.


Bugh!


"Woy! Ngapain lo?!"


Nathan tersentak kaget, dia beralih menatap pria yang menepuk bahunya. Di belakang pria itu, sudah ada beberapa temannya yang lain.


"Rangga, ngagetin aja lo!" Kesal Nathan.


"Hehe sorry, noh si Vica nyariin lo." Sery Rangga.


Tatapan Nathan beralih ke sosok wanita cantik dengan rambut sebahu. Dia bernama Vica, sama seperti Nathan. Berasal dari negara yang sama.


"Kenapa Ca?" Tanya Nathan.


"Oh eng-enggak, kita kan ada kerja kelompok bareng. Gimana kalau ngerjainnya di apartemen lo aja? sekalian kita ngerayain ulang tahun lo, gimana?" Usul Vica.


Kening Nathan mengerut, dia berpikir sejenak tentang usulan Vica. Belum juga dia menjawab, Rangga sudah menepuk keras bahunya.


"BENER JUGA! DI APART LO AJA!!" Pekik Rangga.


"Tapi,"


"Syutt!! Gak butuh penolakan! Udah yuk guys! Kita berangkat ke apartemen Nathan sekarang juga!" Seru Rangga membuat Nathan seketika melototkan matanya.


"E-eh?!"


Semua teman-temannya sudah menaiki kendaraan mereka, membuat Nathan pun tak sanggup mencegahnya. Wajah pria itu tertekuk sebal, dia tidak suka cara Rangga yang terkesan memaksanya.


"Gimana nih, gue lagi sibuk nyariin bini gue kemana. Malah nambah beban kerjaan aja!" Gerutunya sembari memakai helm.


Di mobil Vica, tampak wanita itu tengah tersenyum dengan pipi yang bersemu merah. Kedua sahabatnya yang duduk di kursi penumpang melihat gelagat aneh Vica.


"Cie Vica, seneng banget kayaknya lo ke apart si Nathan," ujar teman yang duduk di sebelahnya.


Vica menatap temannya itu sekilas, "Menurut lo, kalau gue tembak Nathan sambil kasih dia kado. Dia mau gak yah nerima gue, Eva?"


Eva, sahabat Vica itu mengerutkan keningnya. "Lo yakin? Nathan kayaknya gak gampang di deketin deh, Nabila! iya kan?" ujar Eva meminta pendapat Nabila yang duduk di belakang.


"Iya, Nathan kayak anti banget sama yang namanya pacaran. Orang ke kita aja di anggap temen doang kok." Sahut Nabila.


"Tapi gak ada salahnya gue coba kan? Bisa aja, Nathan jodoh gue." Seru Vica.


"Ya juga sih, tapi lo harus persiapan hati lo kalau semisal Nathan nolak karena mungkin dia sudah punya pacar."


Vica terdiam, selama ini dia tidak pernah tahu apakah Nathan sudah memiliki pacar atau belum. Yang ia tahu, Nathan adalah pria single. Sebab, pria itu tak pernah menggandeng seorang wanita ataupun mendekatinya.


Nathan sudah sampai di gedung apartemen nya, sepanjang jalan menuju unitnya dia masih berusaha menghubungi Marsha. Namun, sambungan istrinya berada di liar jangkauan.


"Woy! Nelponin siapa? Noh, si Vica sudah sampai!" Seru Rangga.


Nathan menoleh ke arah Vica sekilas, sembari menghentikan langkahnya di depan unitnya. "Gue bukan nunggu dia." Jawab Nathan dengan santai dan beralih memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Vica yang tadinya sudah merasa senang, tiba-tiba jawaban Nathan membuat dirinya harus menelan kekecewaan.


"Yee, gue kira lo nyariin dia. Sorry Vica." Seru Rangga.


Nathan memasukkan sandi apartemen nya, para temannya yang lain menunggu pria itu membuka pintu.


Cklek!


"Ayo, masuk." Ajak Nathan.


Saat Nathan akan berjalan masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang anak bayi tengah merangkak ke arahnya.


"Ihhh, Nathan! Lo pelihara tuyul apa gimana!!" Pekik Rangga saat melihat seorang bayi mendekat ke arah mereka.


Nathan masih tertegun, otaknya mendadak nge blank. Kala melihat seorang bocah yang mirip sekali dengan putrinya. Perlahan, Nathan berjongkok. Lalu, meraih bocah yang merangkak ke arahnya.


"Hoayaaa!!!"


"Eh, bisa bunyi juga tuyulnya." Pekik Rangga.


Nathan melihat gelang di tangan bayi itu, lalu meraih gelang tersebut. Tertulis nama Aizha padanya.


"Aizha, ada disini. Itu artinya ...."


"SAYANG!!" Pekik Nathan, dengan perasaan yang tak karuan. Tanpa pikir panjang, Nathan bergegas berlari ke kamarnya sambil membawa Aizha. Meninggalkan ketiga temannya yang melongo melihat kepergiannya.


"Sayang? Lo dengar gak si tadi? Sayang ke siapa yah?" Tanya Vica pada Rangga.


"Gue gak tau, mungkin ke yang punya tuyulnya bukan." Sahut Rangga dengan raut wajah yang pias.