Find Me Daddy

Find Me Daddy
Salah sasaran(S2)



Kreeett!!


Nathan tengah membuka pintu kamar Marsha dengan perlahan, dia melangkahkan kakinya untuk masuk dan tak lupa menutup pintu kembali.


"Sayang, kamu tidur?" Lirih Nathan, menatap gundukan selimut di atas kasur.


Dengan langkah pelan, Nathan mendekati ranjang. Senyumnya terbit, perlahan dia membuka selimut dan turut masuk ke dalamnya.


"Sayang, aku merindukanmu." Bisik Nathan, tangannya menggapai pinggang sang empu yang tidur membelakanginya.


Dia mencari tempat ternyaman, dengan menduselkan hidungnya di belakang leher orang tersebut.


"Kenapa bau tubuhmu berubah? jadi maskulin begini." Gumam Nathan, kembali mengendus leher itu.


Sedangkan yang di peluk Nathan, seketika dia membuka matanya. Matanya melotot sempurna, raut wajahnya nerah padam.


Tangan Nathan bergerak menuju perut, dengan nakal dia memasukkan tangannya ke dalam baju si pemilik.


Saat tangannya mengelus perut sang empu, dia merasakan banyak gelombang di sana.


"Perut kamu kok jadi kotak-kotak? Keras lagi, masuk angin?" Celetuk Nathan.


Tangan Nathan makin ke atas, hingga membuat seseorang yang dia pikir istrinya tambah melotot saat tangan itu menggapai d4danya.


"Eh, kok kempes. Ini juga, kok ke ...."


Sang empu tak tahan lagi, dia segera membuka selimut dan memukul bantal tepat di wajah Nathan.


"SET4N LOH YAH!!!"


BUGHH!!


"AAAAA!!! VARO!!! LO NGAPAIN DISINI!!!"


Nathan menatap terkejut ke arah Varo, wajah adik iparnya itu menatapnya dengan kesal.


"Seharusnya gue yang tanya! lo ngapain disini! Tangan lo ....,"


Varo menyilangkan tangannya di depan dada, netranya menatap tajam Nathan yang menatap tangannya.


"Lo ng3lec3hin gue!! gak ada adab lo!!" Pekik Varo.


"E-eh ternyata lo, pantes kempes."


"KAMBING LOH YAH!!" Pekik Varo berusaha untuk memukul kepala Nathan, tetapi pria itu malah menghindar.


Cklek!


"Astaga, kalian ngapain berduaan di kamarku?!"


Marsha datang karena mendengar suara ribut dari kamarnya, dia tadi membuat puding di dapur. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghampiri asal suara.


"Nathan?!" Marsha terkejut karena mendapati Nathan yang berada di kamarnya.


"Oohh gini kelakuan lo di belakang keluarga gue yah! lo serong nyelinap masuk hah?!"


Sontak wajah Marsha pun pucat, dia bergegas menutup pintu dan mendekati adiknya yang tengah beranjak dari kasur dengan wajah kesal itu.


"Varo, Varo ... jangan bilang daddy yah."


"Aku akan bilang pada daddy!" Pekik Varo.


"Varo ... ck!"


Vari menghiraukan permintaan sang kakak, dia bergegas menuju pintu. Sementara Marsha, dia menatap tajam Nathan yang menatapnya dengan polosnya.


"Kamu lagian ngapain kesini siihh!!" Kesal Marsha.


"Jangan salahin aku, salahin adik bontot kamu yang salah kasih informasi!" Gerutu Nathan.


Cklek!


Langkah Varo terhenti saat melihat Azka yang berdiri di depan pintu kamar Marsha.


"Varo? kamu disini?" Bingung Azka.


Varo bergegas mendorong Azka dan menutup pintu, jika Azka. Lebih baik dia tak bilang bahwa ada Nathan di kamar kakaknya, karena akan semakin heboh nantinya.


"Ehm iya, tadi kak Marsha mengeluh perutnya sakit. Jadi aku bawakan ...."


"Marsha sakit?!" Pekik Azka.


Azka menggeser Varo, berniat akan mengecek sendiri keadaan Marsha. Namun, Varo malah menghalanginya.


"E-ehhh jangan!!" Pekik Varo.


"Apaan sih! minggir gak!!" Azka menarik kerah baju Varo dan menariknya menjauh.


Cklek!


Azka menutup telinganya dan juga matanya, entah mengapa dia sangat yakin jika sebentar lagi akan ada baku hantam.


"Marsha? katanya kamu sakit?"


Varo membuka matanya, dia bergegas memasuki kamar Marsha. Netranya terbelalak saat melihat tak ada Nathan di sana.


"Kemana dia?" Gumam Varo.


"Sedikit bang, hanya gak enak badan." Mata Marsha sesekali melirik sebelahnya.


Varo yang paham jika Nathan tengah bersembunyi dengan tidur terlentang di samping Marsha. Dengan tubuh yang tertutup selimut, Varo pun tersenyum jail.


"Iya bang! Tadi kak Marsha telat makan, jadinya sakit perut!" Seru Varo dan duduk di tepi ranjang, sebrang Marsha.


"Kamu telat makan?" Tanya Azka, dia duduk di samping Marsha dan mengelus kepala sang adik.


Marsha mengangguk, wajahnya terlihat resah. Azka pikir, adiknya tengah menahan sakit.


BUGH!


Varo merebahkan tubuhnya dengan spontan, hingga kepalanya membentur keras bawah perut Nathan.


"HUFTPPP!!!" Nathan kesakitan, hingga menahan nafasnya.


"Varo." Batin Nathan dengan kesal.


Sementara Varo, dia tersenyum puas. Dia berhasil mengerjai Nathan.


"Rasain!!" Bisik Varo.


"Sebentar, abang ambilkan obat kamu yah." Akhirnya, Azka pun beranjak pergi untuk mengambil obat buat Marsha.


Nathan bergegas duduk, dia meraup udara sebanyak-banyaknya. Pengap sekali rasanya berada di bawah selimut, pikirnya.


"LO!!! KALAU SENJATA GUE CEDERA GIMANA HAH!! SET4N EMANG LO YAH!!" Nathan meraih kepala Varo, dia menjitak kepala adik iparnya itu membuat Varo memekik kesal.


"Nathan! Varo! aduuhh, kalian ...."


"NATHAAANN!!!"


Sontak, raut wajah Marsha berubah menjadi pucat pasi. Saat melihat Azka dan Ariel yang berada di ambang pintu dengan tatapan tajam.


"Ba-bang."


.


.


"BANG!!!" Marsha memekik saat Azka menarik kerah kemeja Nathan dan membawanya keluar.


Azka berjalan dengan cepat, hingga membuat Nathan kesulitan untuk mengimbangi jalannya.


"Bang! jangan bang!!"


BYURRR!!


Azka menyeburkan Nathan ke kolam renang, membuat pemuda itu tercebur dan belum kembali ke permukaan.


"NATHAAANN!" Pekik Marsha.


Azka hanya diam, memandangi Nathan yang belum juga naik ke permukaan. Kolam renang itu sangatlah dalam, membuat Marsha khawatir dengan Nathan.


"Kok abang jahat banget sih!!" Pekik Marsha dengan kesal.


Selama beberapa detik menunggu, Nathan belum juga muncul. Akhirnya, Marsha memutuskan untuk menceburkan dirinya.


"MARSHA!!" pekik Ariel dan Azka.


Marsha berenang, dan saat di dalam air. Dia melihat Nathan yang berada di dasar kolam dan memejamkan matanya. Tubuhnya melemas, membuat Marsha panik.


"Nathan." Batin MArsha, dia bergegas berenang menuju Nathan.


Tangannya menangkup wajah Nathan, dia berusaha membuat Nathan bangun dengan menepuk pipinya.


"Ku mohon, bangunlah!!" Batin Marsha, dia ingin sekali berteriak. Hanya saja, dia tidak bisa.


Marsha akan membawa Nathan naik ke permukaan, namun ....


Greepp!!


Sebuah tangan menarik tangannya, hingga mata Marsha bertemu dengan sang pelaku.


"Nathan." Batin Marsha, melihat Nathan membuka matanya dan memandang nya.


Perlahan, tangan NAthan menarik tengkuk Marsha hingga kedua kening mereka bersentuhan.


Nathan mengambil kesempatan dalam kesempitan, dia menempelkan bibirnya dan Marsha.


Keduanya menyalurkan nafas dari mulut mereka, tanpa perduli orang yang menunggu di atas menatap mereka dengan wajah cemas.


"Bang! kak Marsha belum naik! susul sana!!" Pekik Varo pada Ariel.


"Dih, lo kan tau gue gak bisa berenang!" Kesal Ariel.


"Azka! lo aja sana! susul cepat! kalau mereka kenapa-napa, gimana!!" Pekik Ariel pada sang kembaran.


Berbeda dengan keduanya, Azka tahu apa yang terjadi walau bayangan di dalam kolam samar-sama dia lihat.


"Nathan, dia bisa berenang. Dia tidak mungkin membiarkan Marsha kehabisan nafas."


____


Di tunggu yah, habis ini masih ada lagi😉