Find Me Daddy

Find Me Daddy
Akhir yang indah



Nathan sedang menunggu di depan kamar mandi, sedari tadi pria itu tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabaran.


"Sweety, masih lama gak?!" Seru Nathan.


"SABAAARR!! BARU JUGA MASUK!!" Pekik Marsha.


"Cepetan dong!" Seru NAthan.


Selang beberapa menit, Marsha pun keluar. Dia menyerahkan benda berbentuk persegi panjang dan menyerahkannya pada NAthan.


"Nah, aku belum liat hasilnya." Ujar Marsha dengan cuek.


Dengan senyuman lebar, Nathan menerimanya. Setelah mengetahui jika istrinya telat datang bulan, Nathan buru-buru membeli testpack. Kini, testpack itu kembali ada di tangannya. Dia melihat hasil pemeriksaan istrinya yang menunjukkan satu garis.


"Sweety, kok garisnya satu? Seharusnya dua kan?" Tanya Nathan dengan kening mengerut.


Marsha mengangguk, "Iya, kan aku baru aja halangan pas bangun pagi. Jadi, aku gak hamil."


Jawaban Marsha membuat raut wajah Nathan berubah datar. "Terus, kenapa kamu testpack kalau halangan?" Bingungnya.


"Iseng aja." Seru Marsha dengan tersenyum lebar.


Nathan hanya bisa menghela nafas pasrah, dia membuang testpack itu dengan tatapan kecewa. Lalu, pria itu pergi keluar kamar entah kemana. Melihat kekecewaan Nathan, Marsha hanya menahan tawanya.


Hari ini, kebetulan hari weekend. Dimana Si tiga kembar tengah berlibur. Ketiganya sudah mandi, dan tengah berada di halaman belakang.


"Yala, itu apa?" Tanya Aizha, mendekati Nayara yang tengah memakan sebuah mangga.


"Mangga." Jawab Nayara dengan santai.


"Ih, Izha mau." Seru Aizha.


Naura bergegas menyembunyikan piringnya, "Ambil cendili! Kalau aku minta makananmu kau pelit, dacal!" Omel Nayara.


Aizha cemberut, dia bergegas berlari masuk dengan raut wajah kesal. Sementara Nadira, dia duduk di sebelah Nayara sembari memperhatikan kembarannya itu.


"Kau nda nyolong mangga na tetangga kan? Di kulkas nda ada mangga loh." Bisik Nadira.


Nayara mengangkat kedua sudut bibirnya, memperlihatkan gigi atasnya. "Hehe, di ambilin pak catpam tadi." Jawab Nayara.


Nadira mendesis sinis, "Huh, dasar! Nda boleh gitu, sole halus bayal manggana." Nasehat Nadira.


"Iya-iya, nanti Yala bayal." Cicit Nayara.


Tak lama, Aizha kembali. Namun, tidak dengan mangga. Tapi, dia kembali dengan sebungkus jajan di tangannya.


"Kau jajan?!" Pekik Nayara.


"Iy lah." Sahut Aizha dengan senyum mengembang.


Aizha duduk di hadapan keduanya, dia melahap jajanan yang berada di plastik itu. Nayara dan Nadira tahu kalau itu makanan sejenis Cilok tapi lebih besar.


"Apa itu?" Tanya Nayara.


"Calome." Jawab Aizha dengan senyum mengembang.


"Enak itu?" Tanya Nadira dengan kening mengerut.


Aizha menatap Salome miliknya, lalu beralih menatap kembarannya yang penasaran akan jawabannya.


"Sejujulna nda enak cih," ujar Aizha.


"Yah, nda jadi mau beli kalau gitu Yala." Celetuk Nayara.


"Tapi yang jual danteng kali, milip oppa cha eun ... eh Yala?!"


Aizha tak sadar akan kepergian Nayara, kemana kembarannya itu. Lalu, tatapannya beralih pada Nadira yang akan beranjak.


"Mau kemana heh?!" Pekik Aizha.


"MAU LIAT OPPA NAAA!! PAAAA!!! MINTA UAAANGG!!!"


Aizha mengerjapkan matanya, dia menatap Salome nya yang masih belum habis.


.


.


.


Malam ini, Nathan dan Marsha berada di taman belakang sembari melihat bintang. Ketiga putrinya pun turut berada di taman, bermain dengan kunang-kunang yang ada di sana. Sementara Naufan, bayi itu berada di stroller nya sedang meminum susunya.


"Tadi, bang Azka telpon aku." Ujar Marsha tanpa menatap suaminya.


"Ngapain?" Tanya Nathan dengan nada tidak suka.


"Cuman ngabarin, kalau Azura sudah hamil." Seru Marsha dengan senyum mengembang.


"Oh." Sahut Nathan membulatkan mulutnya.


Marsha meletakkan kepalanya di d4da Nathan, sementara pria itu memeluk istrinya dari belakang. Tangannya mengelus kepala Marsha, sesekali memberinya k3cupan.


"Sayang." Panggil Marsha.


"Hm?" Sahut Nathan, matanya masih mengawasi ketiga putrinya yang berlarian tak tentu arah.


"AKu masih gak nyangka, jika aku sudah punya empat anak." Lirih Marsha.


Nathan mengalihkan tatapannya, dia menatap lekat istrinya. Mata Marsha berkaca-kaca, seakan tengah mengingat suatu hal yang sedih.


"Dulu waktu kecil, aku sempat berpisah dengan daddy. Kisah cinta orang tuaku menjadi pelajaran bagiku. Bahwa, sejauh apapun jarak. Jika memang sudah jodohnya, maka akan kembali di pertemukan. Termasuk aku dan kamu,"


"Kita tidak pernah saling mengenal, bertemu pun tidak pernah. Seharusnya aku jadi iparmu, eh malah jadi istrimu." Marsha sedikit terkekeh, dia mengusap air matanya yang berada di sudut matanya.


"Bisa-bisanya aku ngikutin rencana si Aurel, bukankah kita harus berterima kasih padanya?"


Nathan tersenyum, dia memeluk istrinya dan menc1um pipi sang istri. "Benar, kita seharusnya berterima kasih pada Aurel. Apa kabar temanmu itu?" Tanya Nathan.


"Dia ada di jepang, masih mencari jodohnya. Hahaha."


Nathan terkekeh ketika Marsha tertawa, dia selalu merindukan momen kebersamaan dia dan keluarganya.


"Nathan, aku cinta kamu." Bisik Marsha.


Nathan menunduk, "Aku juga sangat-sangat cinta kamu sayang." Jawab Nathan.


Wajah Nathan dan Marsha mendekat, keduanya sama-sama memejamkan matanya. Namun, sebuah rengekan menganggu keduanya.


"Ekheee!!!"


Keduanya sama-sama menoleh ke arah Naufan, mereka tertawa lepas saat melihat botol susu Naufan yang terjatuh hingga membuat bayi itu merengek.


"Nih nih, susunya." Seru Nathan, memberikan botol susu itu pada putranya.


"PAPA!!"


"MAMA!!"


Nathan dan MArsha merentangkan tangan keduanya, menyambut kedatangan ketiga princess mereka. Mereka tertawa lepas, kebahagiaan mereka di saksikan malam saat itu.


Sementara di kediaman Alexander, Zeva tengah berada di balkon kamarnya. Dia mengusap lengannya yang terasa dingin, karena dia hanya memakai piyama lengan pendek.


Grepp!!


Zeva merasakan sebuah selimut menyelimuti tubuhnya, dan juga dia merasakan sebuah tangan kekar memeluk dirinya. Siapa lagi kalau bukan suaminya, Aaron.


"Mas, si kembar sudah tidur?" Tanya Zeva, saat merasakan kepala suaminya itu tersimpan di bahunya.


"Sudah, mereka sudah tidur. Javier juga sudah tidur." Jawab Aaron.


"Varo, belum pulang?" Tanya Zeva.


Zeva merasakan Aaron mengangguk di bahunya. "Sudah, dia langsung masuk kamar. Mungkin lelah setelah seharian bekerja." Terang Aaron.


Zeva menghela nafas pelan, dia menatap bulan yang sangat indah. Begitu pun dengan Aaron, dia menatap bulan yang begitu bersinar terang malam itu.


"Malam ini, adalah malam dimana kita berpisah saat itu. Dimana kamu pergi dengan membawa rasa kecewamu terhadapku."


Perkataan Zeva, membuat Aaron menegakkan tubuhnya. Lalu, dia membalikkan tubuh istrinya, agar menghadapnya.


"Tolong, jangan ingat lagi. Aku menyesal, sungguh. Jika aku tahu kamu hamil, aku lebih memilih untuk bertahan dan mengobati lukaku sendiri. Sampai saat ini, aku merasa bersalah pada putri kita. Walau aku tahu, saat ini dia sudah menemukan pria yang bisa membahagiakannya lebih dariku." Ujar Aaron, matanya menatap lekat mata sang istri dengan berkaca-kaca.


"Kamu gak salah, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang harus di salahkan, kita harus belajar dari hidup. Semuanya akan indah pada masa nya. Ego, tidak akan membuat masalah kita selesai. Kita jadikan sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Ya mas," ujar Zeva sembari mengelus pipi suaminya.


"Varo, nanti juga akan menikah. Begitu pun Javier dan si kembar. Di masa tua, hanya ada aku dan kamu. Kamu teman hidupku di masa tua nanti, kita akan bersama selamanya sampai kita kembali."


Aaron menangkup wajah istrinya, walau wajah Zeva kini sudah terdapat kerutan halus. Namun, tak membuat wanita itu tidak cantik lagi. Bahkan, Aaron selalu melihat istrinya bertambah cantik setiap harinya.


"Tolong, jangan tinggalkan aku. Tetap temani aku disini, hingga kita kembali bersama-sama. Aku tidak tahu, bagaimana jika kamu lebih dulu kembali." Ujar Aaron dengan suara bergetar.


"Jangan bicara seperti itu," ujar Zeva.


"Aku tidak bisa tanpamu sayang." Aaron menarik Zeva dalam pelukannya. Begitu pun Zeva, dia membalas pelukan suaminya dengan erat.


Keduanya saling memejamkan matanya, menikmati pelukan yang mereka dapatkan.


Perjuangan cinta mereka, tidak terasa hingga sampai di titik ini. Air mata dan tawa, sudah mereka lalui di pernikahan ini. Walau terkadang ego mereka tinggi, keduanya masih bisa untuk mempertahankan hubungan yang harmonis.


...-Tamat-...


Terima kasih untuk para pembaca setiaku, yang sudah berkenan mampir dan membaca hingga selesai. Cerita Zeva dan Aaron, cukup sampai disini. Terima kasih untuk semuanya. Semoga kalian sehat selalu, di panjangkan rezekinya, dan di mudahkan segala urusannya.


Jadilah pembaca yang bijak, ambil sisi positifnya dan buang sisi negatifnya🥰


Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain🥰🥰


___


Banyak yang mengajukan cerita Aizha besar, nanti dulu yah. Author belum nemu alurnya bagaimana nanti😭😭😭 Takutnya malah hancur, jadi kita tunda dulu. Semoga di beri kemudahan yah nantinya🥰