
Dua bulan kemudian.
Nathan tengah memakai tuxedonya, dia tengah berkaca sembari membenarkan dasi kupu-kupu yang ia pakai. Wajahnya terlihat sangat tampan, auranya lebih kelihatan ketika dia memakai tuxedo hitam itu.
"Nathan, sudah?" Marsha memasuki kamarnya, perutnya yang semakin besar membuatnya kesulitan berjalan.
Nathan menoleh, dia meringis kala melihat istrinya itu. Padahal, jika di bandingkan dengan kehamilan si kembar. Seharusnya Nathan tidak harus kaget lagi.
"Kamu duduk aja Sweety, ngeri ngeliat perut kamu." Tegur Nathan.
Marsha tersenyum tipis, dia sudah memakai dress berwarna putih. Dengan rambutnya yang ia sanggul dengan teknik modern. Di tambah, hiasan jepit kupu-kupu yang menghiasi rambutnya.
"Gak usah lebay lah, si kembar udah pada siap. Ayo jalan sekarang, nanti keburu acaranya selesai." Ajak Marsha.
"Akhirnya, setelah sekian lama Azka menikah juga. Lumayan lama dia nunggu si Azura, sabar banget dia. Gak sat set, kayak aku dulu yah Sweety." Celetuk Nathan.
"Kita mah nikah paksa than, bukan sat set." Sahut Marsha. Membuat senyuman Nathan mengembang.
Di saat Marsha lagi sibuk memilih tas yang akan ia kenakan, sebuah tangan melingkar di perut buncitnya. Lalu, tangan itu mengusap perutnya dengan sayang.
"Baby, cepat brojol dong. Kok betah banget di perut mama, jagoan?"
Yah, Marsha tengah mengandung bayi laki-laki. Mereka sangat senang, karena sebentar lagi Marsha memiliki jagoan tambahan untuk menjaganya.
"Baby nya masih betah papa," ujar Marsha.
"Ayo cepat keluar yah, kasihan mama nya. Capek tahu bawa kamu kemana-mana," ujar Nathan.
Marsha tersenyum, setelah dapat tas yang ia mau. Dia pun menarik diri dari pelukan Nathan.
"Ayo, kita pergi. Nanti keburu mulai acaranya." Ajak MArsha.
Nathan tersenyum, menatap istrinya yang tengah berbalik. Namun, senyumannya memudar kala melihat sebuah bercak di belakang dress yang istrinya kenakan.
"Sweety." Panghil Nathan dengan suara berat.
"Ya?" Sahut Marsha, kembali berbalik menatap suaminya itu.
"Dress kamu ada motif merahnya atau bagaimana?" Tanya Nathan.
"Motif merah?" Beo Marsha.
Marsha menarik belakang dressnya, matanya membulat saat melihat bercak darah di sana.
"Nathan." Panggil Marsha dengan suara bergetar.
Menangkap ekspresi kaget istrinya, Nathan mengambil alih. Dia menyingkap dress yang istrinya kenakan. Dan mengecek sendiri pada dalaman sang istri.
"Ini darahnya banyak Sweety!" Seru Nathan.
"Hiks ... gimana, ini than. Jangan-jangan, dedek kenapa-napa di dalam." Isak Marsha.
"Syutt, tenang yah. Sekarang kita ke rumah sakit." Ajak Nathan.
"Terus, pernikahan bang Azka gimana?" Tanya Marsha membuat Nathan menatapnya dengan kesal.
"Di saat genting gini kamu masih mikirin acara Azka? Sayang, ayolah. Lupakan itu, dan ayo kita ke rumah sakit!"
Nathan mengambil perlengkapan lahiran yang sudah di siapkan jauh-jauh hari. Lalu, dia menuntun istrinya berjalan keluar kamar. Beruntung, setelah marsha hamil tua. Nathan memindahkan kamar mereka ke bawah.
"Papa! Ayo belangkat!" Seru Aizha yang sudah heboh dengan dandanannya. Begitu pun, dengan Nayara dan Nadia. Keduanya sudah memakai dress dengan warna berbeda agar mudah di bedakan.
"Papa mau bawa mama ke rumah sakit, kalian ke acaranya sama pak supir yah." Suruh Nathan.
Ketiganya melihat ke arah sang mama, tampak raut wajah Marsha panik. Begitu pun dengan Nathan.
"Aku mau ikut!" Seru Nadira dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga!" Seru Nayara.
"Ih, kok pada ikut. Gak jadi dayangna penganten na dong?" Pekik Aizha.
Nayara dan Nadira, sontak menatap sinis adik mereka itu. Melihat tatapan keduanya, Aizha meneguk kasar ludahnya.
"Hais, yasudah. Kalian ikut dengan mobil lain!" Titah Nathan.
Nathan membantu istrinya masuk ke dalam mobil, saat duduk. Marsha merasakan sakit di perutnya, tetapi dia berusaha untuk mengatur nafas. Entah mengapa, rasa sakit akan melahirkan ini lebih-lebih dari saat kehamilan si kembar.
"Kenapa? Sakit perutnya yah?" Tanya Nathan yang sudah duduk di sebelahnya.
Dengan meringis, Marsha pun mengangguk pelan. Nathan membantu mengusap pinggang belakang istrinya, berharap sakit itu mereda.
"Tolong ke rumah sakit terdekat aja yah."Pinta Nathan pada sang supir.
"Siap tuan."
Mobil pun berjalan, mobil Nathan berada di tengah-tengah. Sementara di depan, sudah ada bodyguard yang mengawal agar jalan segera di buka. Sementara di mobil belakang, sudah ada ketiga kembar.
"Nathan, makin mules." Ringis Marsha.
"Aduh, pak! Tolong lebih cepat lagi!" Seru Nathan.
"Baik tuan!"
Mobil Bentley putih itu melaju dengan kecepatan lumayan cepat, sang supir juga ikutan panik karena mendengar jeritan sakit sang majikan.
Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Nathan menghela nafas pelan, dia pikir perjuangan untuk sampai di rumah sakit sudah selesai. Tinggal, istrinya di tangani oleh dokter. Namun, pemikirannya ternyata salah. Marsha justru memegang kerah kemejanya sembari meringis.
"Nathan, kayak ada yang mau kekuar."
"APA?!" Nathan bergera memeriksa keadaan istrinya, teyapi dia baru memyadari satu hal. dress Marsha sudah basah dengan air ketuban yang sudah pecah entah dari kapan.
nathan semakin panik tak karuan, dia segera turun memanggil perawat ketika mobil sampai di jalur gawat darurat.
"SUSTEERRR!! TOLONG!! BAYI SAYA MAU KELUAR!! TOLONG!!" Teriak Nathan.
Dua orang suster dan beberapa dokter langsung mendekat pada mobil Nathan. Mereka melihat, kondisi Marsha yang sudah lemas.
"Dokter, sudah ada yang mau keluar," ujar Marsha.
Seorang dokter perempuan, memakai sarung tangan karetnya. Dia sedikit menutup pintu mobil agar tak terlihat oleh yang lain. Lalu, dia mengecek jalan lahir sang bayi.
"Maaf yah, saya cek dulu." Ujarnya.
Marsha yang sedang kesakitan, hanya pasrah dengan apa yang dokter itu lakukan.
"I-ini kepalanya sudah muncul. TOLONG AMBILKAN KAIN!!" Sentak Dokter itu.
Rait wajah Nathan berubah pucat, apakah istrinya harus melahirkan di mobil? Yang benar saja.
"Dok, bisa di bawa masuk dulu gak? Gak elit banget lahiran di mobil," ujar Nathan dengan ragu.
"Pak, ini kepalanya udah keluar. Ruang persalinan ada di lantai tiga. Jika sampai ke sana, akan memakan waktu. Keburu anak bapak lahir." Tegur sang dokter.
Terlihat Marsha sudah mengejan, dokter itu terus memberi intruksi pada Marsha ketika kapan harusnya dia akan mengejan. Tak lama, terdengar suara nangis yang amat kencang, hingga membuat Nathan mematung.
"OEEEKK!! OEEEKK!!"
Dokter itu menyelimuti bayi yang baru saja lahir, sedangkan dokter lainnya membantu untuk memotong tali pusarnya.
"Bayinya sudah lahir?" Tanya Nathan dengan suara bergetar.
"Selamat tuan, anaknya laki-laki." Seru sang dokter, sambil memperlihatkan bayi Nathan yang masih menangis.
Nathan mematung sejenak, prosesnya sangat cepat. Dia mengingat-ingat, mengapa bayinya cepat sekali keluar. Setelah mengingatnya, bibir Nathan bergetar.
"Astaga boy, papa memang ingin kamu cepat brojol. Tapi bukan sekarang jugaaaa!!" Rengek Nathan.
Dokter yang mendengarnya pun terkekeh, lalu dia menyerahkan bayi Nathan pada seorang suster. Sementara dirinya kembali memeriksa keadaan Marsha.
"Kita langsung bawa ke kamar rawat aja ya pak untuk di bersihkan. Harus di jait juga, soalnya terjadi robekan jalan lahir."
"Apa dok? Ro-robekan? Di-di jait?! Jalan lahirnya!" Pekik Nathan. Sungguh, Nathan lemas saat ini. Bahkan, dia seperti tak dapat menopang tubuhnya.
____