Find Me Daddy

Find Me Daddy
Tuntasnya Syarat rujuk usulan Aaron.



Sore hari, sembari menunggu suaminya pulang. Zeva bercanda dengan putrinya di ruang tengah, di temani oleh Ayla dan juga Bi Sri yang memang belum kembali ke bandung.


"Oh ya, Ay. Rencana mau kuliah atau mau langsung nikah nih?"


Ayla yang tadinya sibuk memainkan ponselnya seketika menatap Zeva dengan heran.


"Ya kuliah lah kak," ujar Ayla.


"Mau kuliah disini? kamu sama bibi sekalian tinggal disini aja, nemenin aku sama Marsha." Saran Zeva.


Ayla menatap ibunya yang sedang melihat berita di televisi, merasa di tatap. Bi Sri pun menyaut.


"Ibuk terserah sama kamu, tapi ibuk maunya kembali ke bandung. Ibuk lebih enak di sana, karena memang rumah Ibuk disana," ujar Bi Sri.


"Yah, masa aku disini sih? kalau gitu, aku ngekos aja deh kak." Ujar Ayla yang merasa tak enak harus tinggal dengan kakaknya serta suami dari kakaknya itu.


"Ngapain ngekost, disini aja. Masih banyak kamar," ujar Zeva.


"Ya gak baik nak, Ayla bukan siapa-siapa suamimu. Nanti malah timbul fitnah, lebih baik dia ngekos aja kalau mau kuliah disini." Sahut Bi Sri membenarkan perkataan putrinya.


Zeva akhirnya menyetujui demi kenyamanan bersama.


"DADDY PULANG!"


Netra Marsha langsung bersinar cerah, dia segera berlari menuju pintu utama sembari merentangkan tangannya.


"DADDY! DADDY!" Pekik Marsha.


Aaron membawa putrinya ke gendongannya, dia menc1umi pipi sang putri dengan gemas.


"Tambah gendut ini, pipi nya tambah bulat." Seru Aaron.


Marsha yang tadinya tertawa lebar seketika berubah masam, dia meminta untuk di turunkan yang mana membuat Aaron heran.


"Nda cadak dili dacal! Malcha nda dentut! cuma banak lemak aja tau nda! dentut-dentut, lingan kali ngomongna. Dacal!" Sindir Marsha sembari berjalan menjauhi Aaron yang menatapnya dengan wajah melongo.


"Marsha kenapa mas?" Tanya Zeva yang datang menyambut suaminya pulang.


"Enggak tau, cuman bilang dia gendut aja." Heran Aaron.


Zeva menepuk kecil bahu suaminya. "Ya pantes! perempuan itu gak suka di bilang gendut, marah lah dia," ujar Zeva.


Aaron menggaruk belakang lehernya, mana tahu dia soal perempuan. Dia hanya berkata yang sejujurnya, bahkan dia senang berat badan putrinya naik. Tandanya, dia sukses menjadi ayah yang baik.


Malam harinya, Marsha masih ngambek dengan daddy nya itu. Dia meminta tidur di temani oleh Ayla, bukan Aaron.


"Ayo kakak, kita tidul." Ajak Marsha setelah selesai makan malam.


"Loh, kan biasanya Marsha tidur sama daddy" ujar Ayla heran.


"Nda mau, mau kakak aja. Nanti dia ledek lagi Malcha dendut, cakit kali lacana." Ketus Marsha.


Aaron dan Zeva hanya melongo melihat kepergian putrinya dan juga Ayla menuju kamar.


"YES!!" Pekik Aaron.


Zeva menoleh pada suaminya, raut wajah Aaron terlihat sangat bahagia. Zeva menjadi bingung.


"Kamu sehat mas?" Tanya Zeva ragu.


"Sehat! Sehat banget! Ayo sayang! kita ngadon!" Sentak Aaron.


"HAH?!"


Aaron mengangkat Zeva ala karung beras, membuat wanita itu memekik kesal meminta di turunkan. Aaron tak masuk ke kamarnya, melainkan ke kama tamu di lantai bawah.


BRUGH!!


Aaron membanting Zeva ke kasur, hingga membuat istrinya memekik kesakitan serta menatapnya tajam.


"kayak gotong karung aja kamu mas!!" Kesal Zeva.


Aaron tak memperdulikan omelan istrinya, dia sibuk mengunci pintu dan menyalakan AC.


"Ini bukan kamar kita," ujar Zeva setelah menyadari ruangan itu.


"Memang bukan, aku gak mau lagi di ganggu sama Marsha." Seru Aaron


Zeva tak habis pikir, mengapa suaminya begitu bersemangat. Padahal sebelumnya, Aaron tampak begitu menakutkan.


Hingga malam itu, terjadi lah momen yang Aaron tunggu-tunggu. Kembali merajut cinta dengan sang istri.


(Jangan di bayangkan😂)


.


.


.


Sebulan kemudian ....


"Ayo pergi! ayo pergi! cetles kali Malcha lacana loh ini hiks ...,"


"Iya! iya, ayo kita pergi!" Seru Zeva saat Marsha akan menangis.


Marsha dan Zeva segera bersiap pergi, setelah semuanya siap. Mereka pergi dengan menggunakan taksi.


Zeva berniat membawa Marsha ke Playground, karena dia pikir. Di sana banyak permainan yang bisa Marsha mainkan.


"Kita mau kemana?" Tanya Marsha sembari menatap jalan.


"Mau ke mall, katanya Marsha mau jalan-jalan." Ujar Zeva sembari mengusap rambut putrinya.


"Bunda puna uang nda?" Tanya MArsha.


"Ya punya, makanya kita jalan." Jawab Zeva dengan santai.


Marsha duduk dengan manis kembali, dia menatap Zeva dengan mata yang mengedip lucu.


"Bunda tayang," ujar Marsha.


"Hm." Sahut Zeva yang sedang melihat ponselnya.


"Boleh nda, nanti beli mainan cekalian. Catu aja, nda papa." Rayu Marsha.


Ketikan Zeva ponselnya pun terhenti, dia menatap putrinya yang tengah menunggu jawabannya.


"Ehmm ... gak boleh! kemarin Marsha baru di bawakan mainan oleh kakek dan nenek, bahkan bungkusnya masih belum di buka. Minggu kemarin Aa Raihan bawa mainan untuk Marsha, dan MArsha gak buka juga. Lusa kemarin juga daddy membelikan boneka baru untuk Marsha, tapi Marsha taruh bonekanya gitu aja. Marsha sudah banyak mainan, gak baik nimbun mainan banyak-banyak sayang." Tegur Zeva.


Senyuman Marsha luntur, dia mengerucutkan bibirnya sebal. Niat hati ingin ke toko mainan, bahkan hanya sekedar cuci mata dia pun tak masalah. Walau ujungnya merengek beli.


Sesampainya di mall, Zeva menggandeng Marsha turun dari taksi. Marsha terdiam sebentar, menatap bangunan besar itu.


"Becal kali, nanti pulang minta daddy belikan lah." Gumam Marsha.


"Ayo." Ajak Zeva menarik pelan tangan putrinya.


Zeva tak sengaja berpapasan dengan seorang pria setengah baya yang sibuk menelpon, bahkan bahunya tak sengaja di tabrak oleh pria itu.


"Awss." Ringis Zeva.


Zeva menoleh ke belakang, melihat pria setengah baya itu yang sepertinya ingin menyebrang dengan buru-buru.


"Bunda! ayo masuk!!" Rengek Marsha.


"Iya sayang." Sahut Zeva tanpa menatap putrinya yang tengah merengek itu.


Saat Zeva akan fokus kembali ke depan, dia tak sengaja melihat mobil yang berjalan mengarah pada pria setengah baya itu.


"PAK!! AWAS PAK!!" teriak Zeva.


Zeva melepas kan tangannya dari putrinya, dia bergegas menarik pria setengah baya yang akan menyebrang itu hingga.


BRUGH!!


"Aww!!" Sebelum jatuh, pinggang Zeva menabrak troli milik orang lain yang memang terparkir di pinggir jalan.


Tampaknya, pria yang Zeva tolong menatap kaget ke arah mobil yang menabrak mobil yang sedang terparkir.


Mendengar ada suara keras, orang-orang pun menyerbu mobil itu. Mereka memukul mobil itu agar sang supir keluar.


"KELUAR!! WOY! KELUAR LO!!" Teriak mereka.


Tatapan pria setengah baya itu, mengarah pada Zeva yang memegangi pinggang sambil menahan sakit.


"Bunda hiks!! bunda!!"


"Marsha." Lirih Zeva.


Mendengar tangisan putri nya, Zeva berusaha untuk bangun. Dia mendekat pada Marsha yang berdiri ketakutan di tengah kerumunan orang-orang yang sibuk menonton kejadian


"Bunda disini." Lirih Zeva.


Baru saja Zeva akan menghampiri Marsha, tubuhnya pun terjatuh. Pandangannya menggelap, hingga akhirnya dia jatuh pingsan karena tak kuat menahan sakit di perut dan pinggangnya.


BRUGH!!


"BUNDAA!!" Marsha yang mendapati Zeva jatuh pingsan segera membelah kerumunan. Dia sekuat tenaga mendekati bundanya yang tergeletak itu.


Pria setengah baya itu beranjak setengah menghampiri Zeva yang tergeletak tak sadarkan diri, dia duduk di samping Zeva sembari mengecek keadaannya.


"Bunda hiks ... bunda!! HUAAA!! HIKS .... BUNDA!!" Isak Marsha menggoyangkan lengan bundanya.


"Dik sabar yah, saya telpon ambulan dulu." Ujar pria itu dengan panik. Apalagi tangisan Marsha yang sangat melengking membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


____


double up yah