Find Me Daddy

Find Me Daddy
Hadiah di balik kesedihan sesaat(S2)



Lima bulan kemudian.


Pernikahan Nathan dan Marsha berlangsung dengan baik selama ini, keduanya tampak harmonis. Namun, sampai saat ini Marsha belum kunjung hamil kembali.


"Aku hamil!" Seru Claudia menunjukkan testpack nya pada seluruh anggota keluarga Alvarendra termasuk Nathan dan Marsha.


Raut wajah Sofia berubah ceria, dia bergegas memeluk putrinya itu. "Selamat yah sayang, akhirnya kamu hamil." Seru Sofia.


Kenan tersenyum tipis, begitu pun dengan Nathan. Keduanya mengucapkan selamat pada Claudia dan juga Mario.


Namun, tidak dengan Marsha. Wanita itu justru sedih atas kabar yang Claudia berikan, dia hanya bisa memegang perutnya yang tampak rata.


"Sweety, kenapa?" Nathan justru heran dengan perubahan ekspresi sang istri.


Dengan senyum terpaksa, Marsha pun menatap Claudia.


"Selamat yah kak, sudah berapa bulan?" Tanyanya.


"Makasih yah. Kata dokter sih, sudah jalan tiga bulan. Semoga kamu cepet nyusul yah, biar anakku ada temen mainnya." Seru Claudia.


Marsha tersenyum getir, walau tak urung dia juga mengangguk pelan. Nathan yang peka, dia bergegas merangkul pinggang istrinya.


"Haah, kalian gak seru! Kayak aku dong, masih menikmati masa pacaran. Ya enggak sweety?"


"Kalau udah ada anak, mana bisa pacaran begini." Lanjutnya.


Marsha tersenyum haru, suaminya selalu bisa mencairkan suasana hatinya. Walau umur Nathan jauh di bawahnya, Marsha selalu merasa menjadi kesayangannya.


Nathan bahkan menunda kuliah nya, dia bekerja di perusahaan sang ayah. Bukan menjadi direktur, melainkan menjadi karyawan biasa. Semua itu, atas keputusan Nathan sendiri.


Nathan dan Marsha setiap seminggu sekali mereka akan menginap di rumah orang tua mereka. Kadang di rumah orang tua Nathan, kadang di rumah orang tua Marsha.


"Sayang, aku lelah. Aku ingin ke kamar." Bisik Marsha.


Nathan memahami kondisi hati istrinya yang sedang tidak baik-baik saja. Dia pun menatap Sofia yang asik melihat foto USG milik Claudia.


"Mam, aku antar Marsha ke kamar. Kasihan, seperti nya dia tidak enak badan." Pamit Nathan.


"Oh, Marsha sakit nak? mau mami buatkan susu jahe? Sebentar yah." Panik Sofia.


Dengan sopan, Marsha menolaknya. "Enggak usah Mi, Marsha mau istirahat aja." Pamit Marsha.


Nathan pun membawa Marsha ke kamarnya yang kini sudah menjadi kamar mereka. Saat Marsha duduk di tepi ranjang, dan Nathan berlutut sambil memegang kedua tangan Marsha.


"Kamu sedih atas berita kehamilan kak Clau?" Tanya Nathan dengan hati-hati.


Marsha menggeleng, "Enggak, aku senang kak Clau hamil. Tapi, aku sedih. Kenapa sampai sekarang aku belum hamil lagi. Maaf yah." Lirih Marsha.


Nathan menghela nafas pelan, dia menciumi tangan Marsha. "Aku menikah dengan kamu bukan hanya untuk memiliki keturunan. Walaupun nantinya semisal kamu gak mau hamil, aku gak masalah. Karena aku menikah dengan kamu, itu karena aku cinta sama kamu. Aku mau menghabiskan sisa umurku bersama kamu, bukan yang lain."


Marsha terharu, bahkan dia sampai tak bisa menahan air matanya yang luruh begitu saja. Melihat istrinya yang menangis, Nathan bergegas menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Syutt, kok nangis? Belakangan ini kenapa kamu cengeng banget sih hm." Dengan gemas, Nathan mencubit pipi istrinya.


"Ish! aku gak cengeng!" Kesal Marsha.


"Iya-iya, cuman lagi sering mellow aja."


Nathan beranjak, dia duduk di samping istrinya. Tak bosan dia memandangi Marsha setiap harinya.


"Nathan, kenapa kamu baik sama aku?" Tanya Narsha.


"Hais, pertanyaan bodoh macam apa itu sayang? Aku baik pada kamu, karena aku mencintai kamu."


Nathan melihat ada yang aneh dari istrinya, Marsha selalu merasa tak pantas untuknya. Berkali-kali Nathan membantah, jika Marsha adalah wanita yang pantas bersanding dengannya.


"Sini, dengerin aku." Nathan meraih bahu Marsha, sehingga kepala Marsha bersandar pada d4da tegapnya.


"Aku yang beruntung bisa memiliki kamu. Dari Sekian banyak pria yang daddy kamu tolak lamarannya, hanya aku yang dia terima. Kamu kan tau bagaimana perjuangan aku untuk mendapatkan kamu kan? jangan merasa diri kamu gak pantas, kalau gak pantas. Aku gak mungkin memperjuangkan kamu sampai seperti ini."


Marsha mendongak, dia mencubit gemas dagu Nathan yang kini sudah di tumbuhi bulu halus.


Nathan menangkap tangan Marsha, dan mengecupnya dari punggung tangan sampai telapak tangan.


"Aku mau liat kamu ada brew0knya, kaya hot daddy gitu." Pinta Marsha.


"Ya aku penasaran aja, keren kayaknya kalau kamu ada brew0knya." Seru Marsha.


"Iya deh, nanti di panjangin. Senang?" Marsha mengangguk sembari tersenyum, dia kembali memeluk Nathan dengan erat.


"Besok kita ke dokter kandungan yah, aku mau periksa kesuburan untuk program kehamilan." Pinta Marsha.


"Ngapain? kamu subur sweety. Mungkin belum rezekinya aja, babynya mau kita pacaran dulu." Sahut Nathan.


Marsha merengut kesal, dia melepas paksa pelukannya dan menatap tajam suaminya.


"Oke! Iya! besok kita ke dokter!" Pasrah Nathan, membuat senyuman Marsha mengembang.


Nathan hanya pasrah, dia akan menuruti semua keinginan istrinya. Demi membuat suasana hati istrinya bahagia.


.


.


.


Sesuai janji, Nathan membawa Marsha ke dokter kandungan. Bukan hanya Marsha, Nathan juga akan memeriksa kondisinya. Karena mereka akan melakukan program hamil.


Cklek!


Marsha dan Nathan memasuki ruang dokter kandungan setelah beberapa waktu menunggu.


"Ada keluhan apa bu?" Tanya dokter wanita itu.


"Begini dok, saya dan suami mau program kehamilan."


"Oh begitu? Kita USG rahimnya yah bu,"


Marsha mengangguk, dia beranjak dan merebahkan dirinya di sebuah brankar. Dia pun mengangkat bajunya, lalu dokter mengoleskan Gell di perutnya.


Nathan setia di samping istrinya, dia menggenggam tangan Marsha sembari melihat kearah monitor.


"Tadi kesini rencana memang mau program hamil?" Tanya ulang sang dokter.


"Iya dok. Kami sudah menikah enam bulan, tapi belum ada tanda-tanda saya hamil. Kepengen cepet-cepet isi lagi dok," ujar Marsha.


"Apa sebelumnya sudah pernah hamil?"


"Sudah, tapi keguguran." Jawab Marsha.


Dokter menganggukkan kepalanya, dia mulai menggerakkan alat di atas perut Marsha.


"Wah bu, ini mah gak usah program lagi." Seru sang dokter dengan senyum mengembang.


"Hah? maksudnya gimana dok? saya gak boleh program hamil? tapi kenapa?!" Pekik Marsha.


Nathan juga turut bingung, kenapa Marsha tidak boleh program hamil?


"Coba lihat disini bu, pak. Sudah ada kantung janinnya, dan ini nih. Titik satu ... waw! dua ... ealah! ada satu lagi. .. Tiga titik ini calon anaknya."


"HAH?!" Pekik Marsha dan Nathan.


"Maksudnya?" Mereka sama-sama bingung atas penuturan dokter.


"Maksudnya. selamat yah bu. Anda hamil! Janinnya ada tiga, kembar!"


"APA?!"


"APA?!"


____


LUNAS YAH🤗🤗🤗


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA😍


Yang belum follow, silahkan follow yah jangan sampai ketinggalan karya baru author🤗🤗🤗