
"Marsha, panggil bundanya yah. Kita makan malam." Pinta Laras pada cucunya.
Marsha menurut, dia pun beranjak untuk memanggil sang ibunda. Sementara yang lain, bersiap akan makan malam.
Cklek!
"Bunda!! di culuh makan!!" Seru Marsha memasuki kamar orang tuanya.
Namun, keadaan kamar kosong. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi
"Oh, lagi belak," ujar Marsha.
Saat Marsha akan berbalik, ponsel Zeva berdering. Anak itu mengurungkan niatnya dan beranjak mendekati ponsel Zeva yang berada di atas kasur.
"Capa yang tepon?" Gumam Marsha.
Marsha menggeser tombol hijau, dia memang mengerti cara menggunakan ponsel.
"Hai sayang,"
Marsha mengerutkan keningnya, ini bukan suara daddynya. Kenapa orang itu memanggil sayang? bukankah, biasanya daddy nya yang mengatakan nya?
"Aku merindukanmu," ujar nya lagi.
"Lindu mbahmu! enteng kali ngomongna! citu capa? napa tepon-tepon telus? kayak lentenil aja!"
Hening, seperti sang penelpon bingung dengan siapa yang menjawab.
"Kamu ... putri Zeva?"
"Iya,"
"Oohh, kenalkan. Nama ok, Rio. Om pacar ibu kamu,"
Ternyata RIo sudah lancang berani menelpon Zeva, tak sulit baginya untuk mencari nomor Zeva. Engah dari mana Rio mendapatkan nya, yang jelas kini pria itu kembali melangkah lebih jauh.
"Pacal? pacal dali celokan? Nda ada bunda Malcha pacal, apa itu pacal. Es pacal yang ada," ujar Marsha mengoceh panjang lebar.
Sepertinya Rio terkena mental, cukup lama pria itu terdiam.
"Calah cambung kali, yang namana bunda Malcha itu banak. Nda laku yah makana tepon bunda Malcha, ih buluk lupa lupana."
"KAU!! GAK SOPAN YAH! SAYA CALON AYAH TIRI KAMU TAU!!"
Marsha menjauhkan ponselnya, suara Rio terdengar sangat keras di ponsel itu.
"HEEE!! KOK CITU NGEGAC CIH!! MAU ADU CUALA CAMA MALCHA HUH?!" Marsha pun melirihkan suaranya, "Nda copan kali ngomongna ini olang, dacal. Papa tili, papa tili. CAPII NOH ANAK TILI KAU!"
Marsha mengibas rambutnya, kesabarannya setipis tisu. Di umurnya yang hampir ke empat tahun, kosa kata yang Marsha dapat sangat lah banyak dan lancar. Bahkan, Zeva sampai heran. Putrinya di umur delapan bulan saja bisa mengucapkan banyak kata dengan jelas.
Aaron berdiri di ambang pintu, netranya menatap heran putrinya yang sedang marah-marah tak jelas.
Dia memutuskan untuk mendekati putrinya. Saat melihat kehadirannya, Aaron segera bertanya tanpa suara.
"Siapa?" Bisik Aaron.
"Calon papah tili." Jawab Marsha.
Seketika mata Aaron terbelalak lebar, dia segera merebut ponsel itu dari Marsha dan mendekatkan pada telinganya.
"BR3NGS3K! KENAPA KAMU HUBUNGI ISTRI SAYA HAH?! BOSAN HIDUP KAMU HAH?!" Sentak Aaron.
Mulut Marsha membulat, di lihatnya daddy nya itu tengah memarahi orang yang baru saja melakukan panggilan dengannya.
"Oh, Aaron. Hai, calon anak tiriku sangat manis." Ujar Rio tanpa salah.
"Diam kamu Rio! aku bisa membawa kasus ini ke jalur hukum! kamu telah menganggu ketenangan rumah tanggaku!" Marah Aaron.
"Owh yah, laporkan saja. Aku akan bilang pada mereka, jika aku adalah pacar istrimu. Apa kamu tidak akan malu, istri dari Aaron pernah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Hm ... menarik sekali bukan?"
Aaron mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, rahangnya mengetat. Wajahnya memerah, menampilkan dirinya yang sangat emosi.
"Apa maumu sebenarnya?" Tanya Aaron.
"Cukup simple, aku hanya ingin wanitaku. Wanita yang telah kamu rebut." Ujar Rio.
"Rebut? siapa yang merebutnya?! jutsru kamu yang merebut istriku!" Sentak Aaron.
Mendengar ada keributan, Zeva keluar dari kamar mandi. Dia terkejut melihat suaminya yang sudah marah-marah, bergegas dia mendekati Marsha dan mengajaknya berjauh.
"KAKU YANG MEREBUTNYA! DIA MILIKKU! SHE IS MINE!!"
BRAK!!
"BR3NGS3K!"
Aaron kembali merusakkan ponsel Zeva untuk kedua kalinya, emosinya kini sudah berada di ubun-ubun. Bahkan, nafasnya terdengar sangat cepat.
"Mas." Panggil Zeva.
Seketika, tatapan Aaron beralih pada istrinya. Dia beranjak untuk mendekati Zeva.
"Rio?" Tanya Zeva dengan raut wajah bingung.
"Tadi mantan kamu itu telpon, kamu kembali ada kontakan sama dia?" Selidik Aaron.
Zeva menggeleng, bahkan kontak ponselnya hanya ada kontak suaminya dan Ayla saja.
"Enggak mas, aku gak tau sama sekali kalau Rio telpon," ujar Zeva dengan jujur.
Aaron menatap lekat mata istrinya, tak ada tatapan kebohongan. Istrinya benar-benar jujur.
"Kalau sampai aku tahu kamu kembali kontakan lagi dengan dia, gak ada lagi kesempatan! ingat Zeva! kita kembali karena putri kita! dan sekarang kamu hamil, setidaknya pikirkan bayi yang ada di dalam kandungan mu sebelum melakukan hal yang melewati batas!" Tekan Aaron.
Entah karena kehamilannya, atau karena perkataan Aaron yang sangat tajam. Zeva akhirnya emosi.
"Kamu liat gak aku kontakan sama dia?!" Sentak Zeva.
"Apa aku ada namain kontak dia?! coba tanya anak kamu, apa ada nama di kontak itu!"
Zeva mendorong pelan putrinya, Marsha berada di tengah orang tuanya. Nafasnya terdengar memburu, menatap Aaron dengan tatapan tajam.
Aaron baru menyadari bahwa putrinya masih ada di sana, dia pun berdecak kesal.
"Ck. Astaga." Gumam Aaron sembari menepuk keningnya.
"Marsha turun gih, ikut makan malam sama yang lain." Aaron merubah intonasinya, sembari tangannya mengelus rambut Marsha.
Marsha sedari tadi yang ingin meluapkan rasa tak terima nya pun segera berteriak.
"JANAN MALAH-MALAHIN BUNDA!! JANAN MALAHIN BUNDA MALCHA! BL3NCEK!"
Zeva dan Aaron saling pandang dengan tatapan terkejut, dari mana Marsha tahu bahasa kasar itu?
"Marsha, siapa yang ngajarin ngomong kasar nak?" Tanya Zeva sembari menarik lembut tangan putrinya.
Marsha masih menatap tajam Aaron yang melotot ke arahnya.
"Marsha." Panggil Zeva sekali lagi dengan suara selembut mungkin.
Marsha berbalik, dia menjulurkan tangan pada Zeva dengan mata memerah menahan tangis.
"Daddy tadi yang malah ke om yang di tepon." Suara Marsha bergetar, sepertinya sebentar lagi anak itu akan menangis.
Mendengar perkataan putri nya, seketika Zeva menatap tajam ke arah Aaron.
"Mas mau aku balik ke bandung apa gimana?" Ancam Zeva.
"Kamu ancam aku?!" Sewot Aaron tak terima.
"Kalau kamu begini terus, lebih baik aku pulang ke bandung. Emangnya gak capek ngadepin sifat egois kamu itu hah?!"
Disini pertahan Zeva runtuh sudah, putrinya menangis dan Aaron yang menyebabkannya.
"Kenapa kamu gak mau cari tahu lebih dulu? kenapa harus marah dan membentak? memangnya, dengan membentak dan marah. Masalah bisa selesai? Filter tuh bahasa kamu mas, Marsha cepat sekali menangkap kosa kata baru! Jangan kamu rusak bahasa anakku!"
Setelah mengatakan itu, Zeva keluar dari kamar. Meninggalkan Aaron yang frustasi di buatnya.
"Maaf." Lirih Aaron.
Zeva membawa Marsha ke kamar si kembar. Tangisan Marsha yang nyaring membuat mertua dan iparnya datang menghampirinya.
"Ada apa Zeva? kenapa Marsha menangis?" Tanya Laras mendekati keduanya yang duduk di ranjang si kembar.
Zeva tak menjawab, dia sibuk menenangkan Marsha yang menangis terisak. Sedari dulu, Marsha tak bisa melihat ibunya di bentak ataupun menangis. Anak itu pasti akan mengamuk dan turut ikut merasakan sakit.
Melihat Zeva yang seperti itu, Jacob merasa dejavu. Dia bergegas ke kamar adiknya.
"Aar." Panggil Jacob pada adiknya yang duduk di tepi ranjang.
"Dia kembali bang, dia kembali dengan maksud dan tujuan yang sama seperti dulu." Lirih Aaron.
Jacob mengerti maksud adiknya, dia turut duduk di sebelah Aaron dan menelik pelan pundaknya.
"Aar, mantan sahabat mu itu sengaja membuat rumah tangga kalian kembali goyah. Percaya sama abang, dengan kamu dan Zeva bertengkar. Dia sudah maju satu langkah. Setelah ini, dia pasti akan kembali mejadi orang yang sama seperti dulu. Pebinor dengan dalih pendengar yang baik."
"Aku harus bagaimana bang?" Lirih Aaron yang merasa sudah buntu.
"Kita gak bisa membuatnya masuk penjara, tapi kita bisa membuat alasan dirinya masuk penjara."
Aaron mengangkat wajahnya, dia menatap ke arah mata Jacob yang sangat tajam.
"Kamu pasti mengerti maksud abang."
"Temui putrimu, dia seperti nya sangat marah padamu. Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Ketika kamu menyakiti ibunya, dia akan turut merasakannya. Putrimu hanya omongannya saja yang pedas, tapi hatinya sangat lah lembut." Lanjut Jacob.
Setelah memberi pengertian, Jacob pun keluar dari kamar adiknya. Aaron terdiam, dia memikirkan perkataan Jacob.
"Aku tidak akan membiarkan Rio kembali merusak pernikahanku. Tidak akan pernah." Tekan Aaron dengan sorot mata tajam.
****