
Hari ini, Zeva berada di mini market. Susu putrinya sudah habis. Sekalian, dirinya membeli stok susu hamilnya. Zeva memutuskan untuk beli sendiri. Lagian, mini market ini dekat dari rumahnya. Jadi tidak masalah.
"Bunda, bunda. Malcha mau ini, boleh?" Tanya Marsha memegang sebuah keripik kentang yang mengandung banyak micin.
"Jangan, nanti daddy marah." Ujar Zeva dan kembali memilih susu putrinya.
Marsha merengut, dia masih karah sama daddy nya itu. Tapi, marahnya sang daddy adalah ketakutannya saat di rumah.
"Malcha mau ini!" Kekeuh Marsha.
Zeva menahan napasnya, dan menghembuskannya kasar. "Taruh lagi gak! atau bunda ...,"
SREK!!
Zeva menatap terkejut ke arah bungkus keripik kentang yang Marsha sobek tanpa wajah bersalah.
"Marsha ...." Cicit Zeva.
Zeva menatap mbak-mbak karyawan minimarket yang sedang menata rak susu menatap keduanya dengan tatapan datar.
"Hehe, maaf mbak. Ini saya beli kok." Zeva merebut bungkus keripik dari tangan putrinya dan memasukkannya ke dalam troli belanjaannya.
Zeva menatap tajam putrinya yang menatapnya dengan tatapan polosnya.
Setelah Zeva mendapatkan susu Marsha dan susu hamilnya, dia bergegas menuju kasir. Karena tak hati-hati, Zeva tak sengaja menabrak seseorang berjaket hitam.
"Eh, maaf-maaf." Seru Zeva.
Orang berjaket hitam itu mengangguk cepat dan segera pergi. Zeva yang melihatnya pun jadi bingung.
"Ayo antli bunda!" Seru Marsha menarik bagian depan troli.
Zeva mengantri, hingga kini gilirannya untuk mentotal belanjaannya.
"Maaf bu, ini mungkin kartu milik ibu."
"Ha?"
Kasir itu menyerahkan kertas kaku, seperti kartu ucapannya namun berbetuk polos.
"Oh iya, terima kasih," ujar Seva walaupun sebenarnya dirinya tak merasa memiliki kertas itu.
Tak ambil pusing, Zeva memasukkan kertas itu ke dalam dompetnya. Selepas belanja, Zeva mengajak Marsha kembali ke rumah.
Sementara orang yang berjaket hitam tadi, menghampiri seseorang berkaca mata hitam yang berada di dalam mobil sedan putih.
"Bagaimana?" Tanya orang di dalam mobil itu.
"Beres bos." Ujar pria itu.
Pria yang ada di dalam mobik itu, menyerahkan amplop tebal yang berisikan uang.
"Tutup mulut dan jangan pernah muncul lagi di kota ini." Pinta nya.
"Beres bos!"
Setelah orang suruhan itu pergi, pria yang di dalam mobil pun menatap ke arah Zeva yang masih berada di dalam mini market itu.
"Sebentar lagi, kita bertemu sayang." Ujarnya.
Yah, pria itu adalah Rio. Karena tak bisa menghubungi Zeva, dia menyuruh orang untuk memberikan Zeva pesan.
"Bukan aku yang merebutnya, tapi Aaron. Aaron lah yang merebut Zeva dariku." Cengkraman tangan Rio di setir mobilnya pun semakin keras.
"Aaron, sepertinya gue telah jatuh cinta."
"Oh ya? sama siapa?" sahut Aaron yang sedang membaca buku materinya.
"Anya, anak fakultas sebelah. Dia cantik, dan baik gue suka. Pokoknya lo gak boleh rebut!"
"Ck, mana tega gue rebut crush sahabat sendiri. Tenang aja, gue gak sejahat itu."
Jika kembali mengingatnya, Rio merindukan masa persahabatannya. Matanya memerah, menahan air di pelupuk matanya.
"Pada kenyataannya, lo jahat Aar. Gue mencoba menerima pernikahan lo dan wanita yang gue cintai, tapi ketika lo mengabaikan Zeva demi kerjaan lo itu. Gue gak terima, Zeva lo sakiti."
"Jika saja lo gak nikahin Anya gue, kita pasti masih jadi sahabat. Anya bahagia sama gue, gue akan memberikan cinta terbaik yang gue punya untuknya. Lo yang memulai semua ini, Aaron."
.
.
.
Zeva sampai di rumahnya, dia bergegas ke dapur untuk menaruh belanjaannya.
"Baru pulang Zev." Sapa Laras yang sedang membuat kopi untuk Haikal yang memang tidak pergi ke kantor.
"Iya mah, lumayan antri." Jawab Zeva di sertai dengan senyum.
Zeva membuka lemari atas, dia memasukkan stok susu Marsha dan susu hamil dirinya.
"Marsha kapan empat tahun nya Zev?" Tanya Laras di sela mengaduknya.
"Sebulan lagi mah," ujar Zeva.
"Heum, sebentar lagi yah. Kalau Marsha sudah umur empat tahun, masukin aja ke sekolah si kembar. Mamah liat, Marsha punya kepintaran yang bagus, dia bisa meniru hanya dengan sekali lihat dan dengar. Sayang kalau gak di asah kecerdasannya." Usul Laras.
Zeva menyetujui hal itu, tapi balik lagi dengan putrinya. Dia pasti lebih dulu bertanya pada Marsha, khawatir putrinya tidak mau dan merasa tertekan.
"Nanti Zeva obrolin sama mas Aaron yah mah," ujar Zeva.
"Enggak kok mah, kami sudah baikan." Ujar Zeva, walaupun dirinya masih mendiami Aaron dari semalam
Setelah selesai menata, Zeva akhirnya bisa istirahat. Pinggangnya sudah pegal karena lama mengantri.
"Eh, kertas tadi isinya apa yah." Batin Zeva.
Zeva mengambil kertas itu dari dompetnya, lalu dia pun segera membukanya.
Temui aku seorang diri di malam besok, di kafe XX. Setelah itu, aku berjanji tidak akan kembali meneror kamu dengan foto-foto itu. Jika tidak, jangan salahkan aku kalau foto kita sampai di tangan mertuamu dan media.
Jangan beritahu siapapun, aku janji. Pertemuan kita hanya obrolan ringan saja.
Kekasih tersayangmu, Rio
DEGH!!
"Zeva, ada apa? kenapa wajahmu jadi pucat begitu?"
Zeva gelagapan, dia menyembunyikan kertas itu di genggaman tangannya.
"Enggak mah, cuman capek aja. Mungkin terlalu banyak berdiri," ujar Zeva dan mencoba mengontrol kegugupannya.
"Kamu sih, mamah bilang biar di antar Raihan aja gak mau." Omel Laras.
"Tapi, kandungan kamu baik-baik aja kan?" Tanya Laras.
"Baik kok mah, baik banget. Kalau gitu, Zeva ke kamar dulu yah."
Melihat menantunya yang buru-buru pergi, Laras pun menjadi terheran-heran.
"Ada apa sama anak itu." Gumam Laras.
"MOMMY!"
Laras memegangi dadanya, jantungnya hampir saja copot ketika Raihan datang dan mengejutkan dirinya.
"Ngagetin mommy aja sih kamu!! hii!!!" Kesal Laras.
"Hehe, maaf mommy." Ringis Raihan.
"Wih, kopi tuh. Buat Raihan aja yah mom, kebetulan haus nih." Pinta Raihan.
Tangan Raihan akan mendekati cangkir itu, tetapi keburu Laras memukul tangannya.
"Ini buat bapakmu!" Kesal Laras.
"Dih, pelit banget ama anak sendiri." Ambek Raihan.
Laras memutar bola mata malas, dia segera mengantarkan kopi itu kepada suaminya yang berada di kamar mereka.
"Enak kali ada bini yah, laper di masakin. Haus di bikinin, capek di kasih jatah. HAHAHAAH!! Nikmatnya hidup, gak sabar mau halalin ayang," ujar Reyhan dan tertawa keras.
Reyhan akan mendekati pintu kulkas, baru saja akan membukanya. Tiba-tiba Marsha melempar sesuatu ke arah kakinya.
"Eh-eh apa nih!!" Pekik Reyhan melihat bola hijau menggelinding ke arahnya.
Bola itu mengeluarkan asap, seketika Reyhan terbatuk-batuk ketika asap itu menyerangnya. Setelah asap itu sedikit hilang, dia melihat ketiga bocah sedang menertawakannya.
"HAHAHA!! TEMONG MUKANA HAHAH!!"
"BUTO IJO HAHAHA!!"
"Apa sih." Heran Raihan.
Raihan menatap bingung ke arah ketiganya.
"Ada apa ini?" Adinda datang daru arah taman samping.
"Eh, mukamu kenapa Rai? kok jadi ijo begitu,"
Baru saja memasuki dapur, Adinda sudah di hadapkan oleh hasil kejailan ketiga bocah itu.
"Masa kak?!" Pekik Raihan.
"Iya, cemong gitu."
Buru-buru Raihan ke kamarnya untuk mengambil kaca. Sedangkan, ketiga bocil itu tertawa lebar.
"Celuna, beli dimana petacan acap tadi?" Tanya Marsha.
"Di cekolah, yang jual banak. Becok, aku belikan lagi," ujar si kembar. "
Adinda hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku keduanya yang sangat menguras emosi.
"Lain kali, jangan gitu la ...,"
"MARSHAA!! ARIEL!! AZKAAAA!!!" Belum Adinda melanjutkan omongannya, mereka bertiga sudah terkejut lebih dulu.
"KABUULL!!" Teriak ketiganya sebelum Raihan sampai menyusul mereka.
***
.
.
.
Lunas yah, double up🤗🤗 jangan lupa dukungannya. Bentar lagi puncak konflik🤩