
Rio terdiam di dalam sel nya, mendadak perasaannya cemas tak karuan. Jantungnya berdetak lebih kencang, tak seperti biasanya.
Cklek!
krek!
Sel tahanan Rio terbuka, seorang polisi masuk dan datang menghampirinya.
"Saudara Rio, anda bebas."
Netra Rio terbelalak lebar, rak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia beranjak dan mendekat pada polisi itu.
"Serius pak?" Tanya Rio.
Polisi itu tersenyum dan mengangguk, tapi tidak dengan Rio. Rio masih bingung, bagaimana bisa dia bebas. Sementara, hukumannya masih beberapa tahun lagi.
"Ayo, ada yang menjemput anda."
Rio mengangguk kaku, dia segera bersiap dan mengganti baju tahanannya dengan baju biasa. Lalu, dia keluar bersama polisi itu.
"Aaron." Langkah Rio terhenti setelah mengetahui siapa sosok yang menunggunya di kursi tunggu.
Aaron berbalik, dia yang tadi sedang menelpon pun memutuskan untuk memutuskan sambungannya.
"Nanti aku telpon lagi yah," ujar Aaron dan kembali memasukkan ponselnya dalam saku jas nya.
Aaron berdehem, lalu dia berjalan mendekat pada Rio yang masih mematung. Di tepuknya bahu Rio pelan.
"Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?" Tanya Aaron.
"Lo ... yang bebasin gue?" Tanya Rio dengan tatapan tak percaya.
Aaron mengangguk, semuanya sudah dia pikirkan matang-matang selama dua hari ini.
Aaron tak bisa menjaga Raden dan Menteri, karena mereka berdua bukanlah tanggung jawabnya. Aaron takut, Raden akan nyaman pada nya dan berpikir jika dirinya adalah ayahnya.
Aaron tidak ingin membuka masalah lagi dalam kehidupannya, dia hanya ingin hidup tenang dengan istri dan anak-anaknya.
"Kita ke rumah sakit, ada yang perlu aku beritahukan pada kamu."
Rio merasa ada yang tidak beres, ada yang Aaron sembunyikan darinya. Entah apa itu, Rio hanya menurut ketika Aaron mengantarnya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya berjalan santai hingga berhenti di depan sebuah ruang rawat.
"Kita ngapain disini?" Tanya Rio dengan bingung.
Bukannya menjawab, Aaron malah diam sembari tangannya memutar handle pintu
Kreekk!!
Melihat siapa yang terbaring di brankar, membuat hati Rio mencelos. Tak pikir panjang, Rio bergegas menghampiri brankar dan melihat Mentari yang terbaring lemah.
"Me-mentari, kenapa dia seperti ini? Ra-rambutnya, dia seperti orang yang ...,"
"Mentari di vonis koma, dia mengidap Leukimia." Aaron menjawab pertanyaan Rio.
Air mata Rio luruh, tubuhnya mendadak melemas. Dia berpikir, Mentari sangatlah sehat. Bahkan, bisa membesarkan anak mereka tanpanya.
Bagaimana pun, Rio dan Mentari pernah bersama. Walau Rio tak cinta, tetao ada rasa sayang yang menyempil dalam hatinya.
SREEKK!!
Aaron berjalan ke sisi brankar dan menyibak torai, terlihat Raden yang sedang tertidur dengan lelap. Kepalanya masih terdapat perban yang membungkus kepalanya.
"Raden." Gumam Rio.
Rio bergegas mendekati Raden, saat pria itu ingin membangunkannya. Aaron mencegahnya.
"Jangan, dia akan kembali menangis. Sebelum menjemputmu, aku susah payah membuatnya tertidur."
Tangan Rio terangkat, mengelus pelan pipi putranya. Sesak, dia merasa ada sesuatu yang menghimpit d4danya.
Aaron mendudukkan dirinya di tepi brankar Raden, dia menatap haru apa yang RIo lakukan pada putranya itu.
"Dua hari yang lalu, Mentari di temukan pingsan di apartemennya. Raden keluar, di duga putramu keluar untuk mencari pertolongan. Hingga tak sadar, dia berjalan ke tengah jalan raya. Sebuah mobil menabraknya karena tak sempat mengerem. Raden tertabrak dengan benturan di kepalanya. Dokter sudah melakukan rangkaian pemeriksaan, keadaannya tidak mengkhawatirkan." Mendengar penjelasan Aaron, Rio menjadi tambah bersalah pada keduanya.
"Maaf, maaf telah membuat kalian kesulitan." Lirih Rio.
Aaron menepuk pundak RIo, apakah pria itu masih lah sahabatnya? entahlah.
"Keluarga Mentari membenci mereka, aku dan istriku sengaja tak menghubungi keluarganya karena takut mereka akan mengambil Raden. Dan juga, kami memiliki kehidupan sendiri. Jadi, aku memutuskan untuk membebaskanmu agar kamu bisa menjaga dan melindungi mereka."
Rio menatap Aaron dengan netra berkaca-kaca, dia merasa bersalah pada sahabat yang dia khianati itu.
"Maaf, maafkan aku atas semua ulahku." Lirih Rip.
"Yang terpenting sekarang, kamu berubah. Setelah Mentari sadar, ku harap ... kamu mau menikahinya dan melengkapi kasih sayang untuk putramu." Lanjut nya.
Rio terdiam, dia belum tahu bagaimana rencana kedepannya.
"Kenapa kau diam? kamu masih ingin menikahi istriku huh?"
Bukannya marah, Rio justru tersenyum. Melihat senyuman Rio, membuat Aaron berdecak sebal.
"Tentu saja, siapa yang tidak mau menikahi wanita secantik dan sebaik istrimu?"
Netra Aaron membulat, dia ingin memukul Rio dengan apapun yang ada di sana.
"Santai santai ...aku tidak akan lagi berniatnya merebutnya darimu. Aku ingin menikah, tapi dengan wanita yang ku cintai."
"Kamu ini b0doh atau bagaimana? Anak itu hasil dari buah cinta, dan kamu itu sudah mencintai Mentari. Tapi, hatimu tertutup dengan nama Zeva. Keluarkanlah nama istriku dari dalam hatimu, dan cari nama Mentari dalam hatimu itu. Aku yakin, pasti ada rasa cinta di dalamnya. Walau itu sedikit."
RIo terdiam, dia tengah mencerna perkataan yang Aaron katakan. Ada benarnya juga, sebelumnya .Mentari lah kekasihnya yang paling lama bersamanya di banding yang lain.
"Tentang pengobatan Mentari, aku ada kenalan dokter di Singapura. Kau bisa datang membawanya ke sana. Kalau kau tak sanggup membiayai pengobatannya, aku akan bantu." Bukan Aaron merendahkan Rio. hanya saja, setelah Rio di penjara. Perusahaan Rio jatuh ke tangan pemegang saham terbesar di perusahaan. Hanya tersisa rumah keluarga Evandra dan beberapa aset lainnya.
"Tidak perlu, aku masih mampu membiayainya. Aku masih memiliki aset, akan ku gunakan untuk pengobatannya." Tolak Rio.
Aaron mengangguk. "Itu artinya ... kau akan menikahinya kan?"
Rio menghela nafas pelan, kenapa Aaron sangat memaksanya untuk menikah dengan Mentari.
"Haaahh ... iya, kau puas?"
Aaron tersenyum lebar, jika Rio menikah. Tak ada lagi yang menyukai istrinya. Jadi, dia bisa tenang.
Beberapa menit kemudian, Aaron melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul empat sore, berarti dirinya harus pulang.
"Rio, aku akan pulang. Perlengkapan Raden sudah aku siapkan ada di nakas itu, dan juga ada stok makanan. Mungkin, sebentar lagi dia bangun, kalau menangis. Alihkan perhatiannya dengan apapun,"
Rio mengangguk, "Ya, terima kasih. Sampaikan juga terima kasihku pada Zeva,"
Aaron mengangguk, dia pun beranjak pulang. Sebelum sampai rumah, Aaron lebih dulu mampir membelikan stok cemilan putrinya.
.
.
.
"DADDY PULANG!!"
"DADDY PULANG!!"
Langkah Aaron terhenti, keningnya mengerut. Biasanya, saat dia berteriak. Putrinya akan langsung datang menghampirinya dengan cepat. Namun, kini berbeda.
"Kemana Marsha." Gumam Aaron.
Aaron beranjak menuju dapur, saat melewati pintu menuju kolam renang. Tak sengaja ekor matanya mendapati sesuatu.
"Marsha." Gumam Aaron melihat putrinya yang sedang bermain air dengan mencelupkan kakinya di kolam.
"MARSHA!"
BYURR!!
Aaron menaruh asal kantong belanjaannya, dia bergegas menolong putrinya yang sudah jatuh ke dalam kolam.
Tangan Aaron menggapai baju belakang putrinya, terlihat Marsha gelagapan menghirup udara dengan rakus.
"HAA ... HAA. .. JANTUNGAN KALI LACANA! JADI KECEBUL KAN!" Sentak Marsha, memarahi sang daddy. Karena, telah membuatnya kaget hingga terpeleset dan terjatuh ke dalam kolam.
"Maaf sayang, tapi gak papa kan?" Aaron meraih handuk dan membungkus tubuh putrinya.
"Nda papa ... nda papa ... nda liat bajuna Malcha bacah cemua ini. Untungna nda kelual jantungna,"
Aaron menahan tawa melihat kekesalan putrinya, tadi dia hanya reflek ketika melihat Marsha yang main di pinggir kolam tanpa pengawasan.
"Sudah, jangan cemberut. Daddy sudah belikan Marsha cemilan,"
"Halus na begitu! Daddy kan cali uang buat jajan Malcha, kalau nda. Buat apa daddy kelja," Pekik Marsha. membuat Aaron semakin gemas pada putrinya.
"Pengen tuker tambah anak, bisa gak sih." Batin Aaron.
___
JANGAN SKIP LIKE🥳🥳🥳