
Dua minggu kemudian.
Tak terasa jika malam ini adalah malam terakhir Nathan berada bersama istrinya sebelum besok ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya. Sepasang suami istri itu tengah berpelukan di atas ranjang, sembari memikirkan sesuatu.
"Setiap bulan pokoknya kamu harus ke sana jenguk aku." Pinta Nathan, sembari menatap wajah cantik istrinya.
Marsha tersenyum, "Iya, nanti kalau si kembar sudah umur 6 bulan yah. Kalau sekarang, usianya masih sangat kecil untuk di ajak bepergian jauh." Jawabnya.
Nathan mengangguk lesu, baginya baru berusia tiga bulan, tubuh ketiga putrinya itu juga tampak gemuk dan menggemaskan membuat Nathan tak bisa jauh dari mereka.
"Kamu ikut aku ke Amerika aja yuk, kita tinggal di sana. Jadi, setiap hari aku bisa melihat kamu dan anak-anak." Usul Nathan.
"Jangan deh, nanti yang ada kamu gak fokus kuliah. Malah sibuk ngurus aku sama anak-anak." Jawaban Marsha membuat wajah Nathan semakin tertekuk sebal.
"Kamu sih gak mau pake baby sitter, kalau pake jasa mereka kan anak-anak mereka yang urus. Tinggal kamu yang ngurus aku," ujar Nathan dengan kesal.
MArsha hanya bisa terkekeh pelan, melihat kekesalan suaminya. "Ya kalau pun ada baby sitter, aku gak punya siapapun di sana. Sulit beradaptasi di negara orang Nathan, teman-temanku dan keluargaku semua ada disini. Bahkan keluargaku yang ada di luar negri, juga kembali kesini karena gak betah tinggal di negara orang."
"Ya ya, terserah kamu. Aku pasti kalah." Kesal Nathan.
Marsha mengecup rahang Nathan, membuat pria itu menatap lekat mata istrinya. "Nanti kalau aku lagi kangen kamu gimana?"
"Ya, telpon. Apa susahnya? Kita juga bisa video call kan?" Sahut Marsha.
"Kalau aku kangen soal ... hak aku. Gimana?"
Marsha terdiam, dia menatap lekat sang suami. "Nathan, fokus aja sama kuliah! kenapa mikir begituan?! Awas aja kalau sampe jajan di luar!" Ancam Marsha.
"Y-ya gak gitu maksudnyaaa!!! Aku juga tau yang halal buatku tuh kamu!!" Gemas Nathan.
"Nah itu tau!"
Nathan mendekatkan wajahnya pada leher sang istri, membuat Marsha seketika menjauhkan wajahnya.
"Kamu ngapain sih?! Udah lah, tidur! Udah malam ini, besok kamu harus berangkat pagi." Ketus Marsha.
"Bekal buat aku mana? kan nanti puasa lama di sana."
Marsha melongo, memangnya ada bekal seperti itu? Atau, hanya Nathan yang mengada-ngada?
"Nathan." Lirih Marsha ketika tangan Nathan beralih menuju kancing piyamanya.
"Gak ada penolakan sayang." Bisik Nathan tepat di telinga Marsha membuat Marsha seketika terbuai dengan perlakuan lembut sang suami.
.
.
.
Pagi hari, Marsha keluar dari kamarnya. Pakaiannya sudah rapi. Namun, sebuah handuk masih melilit rambutnya yang basah, karena dia baru saja mandi. Marsha berjalan menuju dapur, untuk membuatkan kopi untuk suaminya.
"Eh Marsha, Nathan sudah bangun?" Sapa Sofia ketika melihat menantunya datang menghampirinya.
"Sudah mi, lagi mandi." Sahut Marsha.
Marsha mengambil cangkir dan menuangkan bubuk kopi. Sementara Sofia, dia menatap menantunya itu dengan tatapan lekat.
"Marsha, mami boleh tanya?"
MArsha mengalihkan pandangannya, dia menatap mertuanya yang sedang mengaduk susu hangat tanpa melihat ke arahnya.
"Tanya saja mi." Jawab MArsha dan kembali melakukan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Maaf kalau ini sedikit sensitif, tapi mami khawatir sesuatu. Apa ... setelah selesai nifasmu, kamu dan Nathan sudah kembali berhubungan?" Lali ini, Sofia menatap menantunya yang tertunduk malu.
Sebagai jawaban, Marsha mengangguk pelan. Membuat Sofia tersenyum melihat tingkah menantunya itu.
DEGH!!
Seketika, Marsha mengangkat wajahnya. Dia menatap kosong ke depan, tubuhnya bergetar hingga sendok yang ia pegang jatuh begitu saja.
Melihat gelagat menantunya, Sofia jadi memahami sesuatu. Seketika, dia menghela nafas pelan.
"Mi, maafin Marsha. Marsha lupa, marsha lupa kalau harus KB. Bagaimana ini mi?" Seru Marsha yang tiba-tiba panik.
Sofia bergegas menenangkan menantunya, dia mengusap kedua bahu Marsha yang bergetar panik. "Marsha belum siap punya anak lagi, si kembar masih kecil. Nathan juga jauh, Marsha gak boleh hamil dulu." Paniknya.
"Iya, kamu tenang dulu. Siang nanti kita periksa yah, mudah-mudahan kamu belum hamil. Sebelum kamu tahu hasilnya, jangan bicarakan apapun kada Nathan. Bisa-bisa dia menunda keberangkatannya, kakeknya pasti akan marah."
Marsha mengangguk pahan, dia tak mood lagi membuatkan kopi untuk Nathan. Pikirannya hanya tertuju, bagaimana jika dirinya hamil?
"Sudah, biar mami lanjutkan membuat kopi untuk suamimu. Lebih baik, kamu kembali ke kamar. Nanti kopinya mami bawakan ke kamar kalian. Ingat, jangan bahas tentang hal ini pada Nathan."
Akhirnya, Marsha kembali ke kamarnya. Sofia pun menghela nafas pelan, menantunya bisa saja hamil. Sebab dirinya tahu, keadaan rahim menantunya sangatlah subur.
Nathan sedang memakai kaos kakinya, dia mengalihkan pandangannya ketika istrinya masuk ke dalam kamar.
"Mana kopinya Sweety?" Tanya Nathan.
"Ada sama mami." Sahut Marsha dengan lesu.
Tingkah istri nya membuat Nathan heran, pasalnya sebelum masuk kamar mandi Marsha terlihat biasa saja. Tapi, setelah kembali membuat kopi terlihat Marsha yang sedang bersedih.
"Kenapa dia." Batin Nathan.
.
.
.
Sedangkan di kediaman Smith, Aaron tengah heboh. Dia baru mengetahui jika menantunya akan pergi ke amerika untuk menyelesaikan pendidikannya. Sementara putrinya, akan di tinggal begitu saja.
"Mas, dengerin dulu!"
"ENGGAK BISA GITU DONG! SEENGGAKNYA NATHAN PERGI SETELAH ANAK-ANAK MEREKA BERUSIA TIGA TAHUN! KALAU BEGINI, KASIHAN PUTRIKU!!" Aaron sibuk memakai jasnya, sementara Zeva sibuk menahan suaminya agar tak membuat keributan di rumah besannya nanti.
"Mas!"
"Enggak sayang, aku tidak bisa melihat putriku sedih. Waktu kuliah bisa empat tahun lamanya, aku tidak mau putriku mengurus anak-anaknya sendiri! Pria itu telah membuat putriku hamil, setelahnya pun anak di tinggal begitu saja? Oh tidak bisa, aku ingin keadilan untuk putriku!" Kekeuh Aaron.
Zeva pusing, seharusnya dia bilang tentang hal ini pada suaminya setelah Nathan pergi. Kalau begini, Aaron bisa ribut dengan menantunya.
"Mas! Nathan adalah penerus Alvarendra, dia harus melanjutkan pendidikannya agar bisa menjadi penerus yang terbaik. Menantu kita bukan orang biasa! dia seorang penerus!" Sentak Zeva.
"Iya! Aku menyesal telah menikah kan putriku dengan seorang penerus. Lebih baik aku menikahi putriku dengan pria yang mapan, seperti tukang ketoprak tempo hari. Dia tampan dan mapan, putriku tidak akan di tinggal-tinggal." Sahut Aaron.
Zeva menganga, bisa-bisanya suaminya malah membahas hak itu sekarang. Saat Zeva akan menjawab, suara cempreng milik Javier terdengar hingga membuat keduanya menepuk keningnya.
"BUNDAAAA!!! CUUUDAAHH!! BELAKNA KELING INI LOH LAMA NUNGGUNAAA!!"
"Astaga, anak itu. Sudah besar masih di cebokin." Kesal Aaron.
"Emangnya kamu enggak!" Ketus Zeva dan beranjak masuk ke kamar mandi.
"Eh?"
____
MAaf yah ini buat up semalem malah jadi kesiangan.