Find Me Daddy

Find Me Daddy
Keadaan Ervin



Ervin sampai ke apartemennya, dia langsung merebahkan dirinya di ranjang empuk tersebut. Setelah dia mengurus biaya perbaikan mobil taksi itu, dia langsung pulang ke apartemennya.


Sejenak, Ervin memandang ke arah langit-langit kamarnya. Matanya yang tajam kini berubah menyendu. Tak sadar, terdapat air mata yang mengalir di ujung matanya.


"Kamu masih mau mempertahankan dia?! Dia anak yang tidak berguna! Entahlah, kenapa orang tuamu ingin dia menjadi pewaris! Padahal masih ada Glen yang akan menjadi penerus. Kenapa harus anak menyusahkan itu sih!"


"Aku juga tidak tau! Daddy yang ingin dia menjadi pewaris! Mau tidak mau, kita harus mematuhinya! Kita akan pikirkan ulang setelah acara pemakaman daddy. Setelah itu, kita akan paksa anak itu untuk menandatangani surat pengalihan ahli waris."


Ervin memejamkan matanya, tenggorokannya terasa tercekat. Ingatannya tentang kejadian yang menyakitkan membuat Ervin di rudung kesedihan. Sejenak, Ervin beranjak duduk. Dia memandang pantulan dirinya di cermin lemari pakaian.


Perlahan, Ervin bangkit dari ranjang. Dia menatap pantulan dirinya dengan tatapan datar. Sedetik kemudian, Ervin melayangkan pukulan lada cermin tersebut hingga cermin tersebut pecah.


PRANG!!


"Kenapa kalian justru malah mencari ku hah?! Kuasai lah harta milik mendiang kakekku! Aku tidak akan pernah perduli lagi! AKu ingin hidup damai. Biarkan aku hidup, dengan nama baruku ...."


"Ervin." Ujar Ervin sembari menatap tajam ke arah cermin yang kini sudah hancur itu.


.


.


.


Pagi sekali, Aizha ingin menemui Ervin di apartemennya. Dia bangun pagi-pagi sekali, dan memasakkan nasi goreng yang akan di bawakan untuk Ervin. Semua maid yang betugas di dapur melongo saat melihat Aizha masak. Bukan hanya itu, keadaan dapur kini kacau karena gadis itu.


"Sudah siap!" Seru Aizha.


Saat Aizha ingin berbalik, matanya membulat sempurna saat melihat Nadira yang ingin mengambil nasi goreng yang sudah ia siapkan untuk Ervin.


"EEEHH!! MAU NGAPAIN?!" PEkik Aizha sembari mengambil kembali kotak nasi goreng miliknya.


"Mau buat bekel kampus. Kamu bikin lagi yah, aku udah telat ini! Dosennya ngeselin, dia bisa marah kalau aku telat!" Seru Nadira dengan nada memohon.


"Enak aja! Minta sama bibi sana, ini nasi goreng untuk orang spesial. Mending ganti dosen pembimbing deh, atau suruh opa ganti dosen," ujar Aizha dengan enteng.


"Masalahnyaa!! dia donatur tetap di kampus! Mana mau opa ngusir dia!" Greget Nadira.


Aizha mengerutkan keningnya, dia tengah berpikir keras saat ini.


"Kalau gitu ... di jedotin aja ke tembok. Biar amnesia, terus lupa deh sama tugas kakak. Pintar kan aku." Seru Aizha dengan sombong.


Nadira memejamkan matanya, tampaknya buka solusi yang baik saat dirinya berbicara pada Aizha.


"Sudahlah! Bicara denganmu yang ada aku tambah stres." Kesal Nadira dan berbalik pergi


"Eh, di kasih solusi yang baik juga." Gumam Aizha.


Aizha berjalan menuju ke kamarnya, kebetulan dirinya melewati kamar Naufan. Dia mengintip kamar adiknya itu. Terlihat Naufan sedang mencari sesuatu di rak buku. Terdengar, suara seorang perempuan di ponsel milik Naufan yang ada di ranjang.


Bukan Aizha namanya kalau tidak kepo, dia pun memasuki kamar adiknya itu. Sekilas, Naufan melirik kakaknya. Karena dia merasa tak penting, Naufan pun kembali mencari bukunya.


"Oohh lagi telponan sama siapa tuh?" Tanya Aizha sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Biasalah." Jawab Naufan.


Aizha mengambil ponsel Naufan. Tanpa melihat nama si penelpon, Aizha menyapa orang yang menelpon adiknya itu.


"Halo Keisya, apa kabar?! Gimana sekolahnya, lancar?" Seru Aizha yang mama membuat Naufan melototkan matanya.


"Kakak!!" Pekik Naufan yang mama. membuat Aizha juga turut terkejut. Kedua kakak beradik itu saling melotot kaget satu sama lain.


"Keisya kan?" Tanya Aizha dengan nada berbisik.


"Keisya? Kak Izha, aku Lula."


Aizha tambah melebarkan matanya, sedangkan raut wajah Naufan sudah pucat pasi.


"NAUFAN! KEISYA SIAPAAA?!!" Teriak perempuan bernama Lula dari sebrang sana.


"NAUFAN! KEISYA SIAPA!!" Sentak Lula kembali.


"Keisya itu ... adik sepupuku iya." Alasan Naufan sembari memasang raut wajah meringis.


"Oh gitu." Balas Lula yang mana membuat Naufan menghela nafas lega.


.


.


Sedangkan Aizha, dia mengambil tasnya di kamar dan berniat ingin langsung ke apartemen Ervin. Namun, saat di ambang pintu utama. Dirinya justru terkejut dengan kedatangan pria muda dengan pakaian kasualnya.


"Eh maaf, siapa yah? Tukang sampah? Kan sekarang belum waktunya dateng," ujar Aizha yang mama membuat pria muda itu mengerutkan keningnya.


"Kak Aizha lupa sama aku? Aku Mars." Jawabnya yang tak lain adalah Mars.


"Mars? Ngapain kamu ke si ...."


"Ayo Mars, nanti keburu telat."


Aizha melongo saat melihat Nayara yang sudah berdandan rapi, dia tak percaya jika Mars datang untuk mengajak Nayara jalan.


"Kalian ... kalian enggak ....,"


"Gak usah ngaco kamu jah! Kita mau ke rumah Opa Aaron, bahas tentang bisnis. Udah izin papa juga." Sahut Nayara dengan cepat.


Aizha membulatkan mulutnya, matanya menyipit saat Mars menatap ke arah Nayara dengan tersenyum tampan.


"Mars, kamu suka Yara yah?!" Tanya Aizha yang mana membuat Nayara melototkan matanya.


"Aizhaaa!!" Kesal Nayara.


"Iya." Jawab Marsha yang mama membuat dua gadis kembar itu melototkan matanya.


Senyum Aizha mengembang, "Minta sama Papa langsung gih, takut di carikan suami nanti sama papa." Bisik Aizha dan segera bergegas pergi. Meninggalkan Nayara yang kini tengah menutupi wajahnya, lantaran malu.


"Bener-bener yah!" Kesal Nayara.


"Kalau beneran gak papa kok, aku minta kamu sama om." Ujar Mars yang mana membuat Nayara hampir pingsan di tempat.


.


.


.


Aizha memencet bell apartemen Ervin, tetapi tak kunjung di buka juga. Karena Aizha hafal password apartemen milik Javier, jadilah dia bisa memasuki unit milik om nya itu yang kini di tempati oleh Ervin.


"Ervin ... Ervin ... aku datang!" Seru Aizha.


Ruangan itu tampak sepi seperti tak berpenghuni. Aizha pun menjadi bingung, padahal saat ini sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.


"Kemana dia? Apa masih tidur? Kebo sekali." Gumam Aizha.


Aizha menaruh paper bag yang berisikan makanan di atas meja makan, lalu dia memutuskan untuk mencari Ervin ke kamar tidur. Perlahan, Aizha membuka pintunya, dia sedikit mengintip untuk melihat keadaan di dalam.


Gelap, Aizha tak dalat melihat apapun. Bahkan, gordennya pun belum di buka. Gadis itu pun memutuskan untuk membuka pintu kamar dengan lebar.


"Astagaa!! Kenapa jadi kayak kepal pecah ginii!!" Pekik Aizha saat mendapati banyaknya sampah kaleng soda dan juga makanan ringan disana. Matanya juga menangkap serpihan kaca yang berasal dari pecahan cermin yang kemarin di pukul oleh Ervin.


"Apa ini." Lirih Aizha, dirinya terkejut saat melihat cermin yang sidah hancur itu.


tatapan Aizha beralih menatap Ervin yang sedang tidur tengkurap tanpa atasan. Pria itu hanya mengenakan celananya saja, hingga menampilkan punggung kekarnya. Tampak, di punggung tangan Ervin terdapat noda darah yang sudah kering.


"Apa dia, yang memukul cermin ini? Tapi, kenapa?"