Find Me Daddy

Find Me Daddy
Pilihan yang tepat



"Aaron!"


Haikal membantu Aaron berdiri, kemeja putih yang Aaron kenakan terdapat noda darah.


"Kamu tertembak?" Tanya Haikal menatap ke arah peluru yang menembus di d4da sang anak.


Aaron melepas kemejanya, ternyata dia memakai jaket anti peluru. Haikal yang melihatnya pun bernafas lega.


"Hanya darah tipuan saja," ujar Aaron dengan santai.


"Haah, syukurlah."


"JANGAN GILA KAMU RIO!!"


Sontak keduanya menatap ke arah lantai dua, dimana Zeva berteriak keras menyebut nama Rio.


"Zeva." Pekik keduanya.


Aaron dan Haikal berlari, tak peduli apapun lagi. Keduanya sampai ke depan kamar Zeva di sekap.


"Ti-tidak ....,"


BRUAK!!


Aaron menendang pintu itu, netranya menatap tajam ke arah Rio yang memegang sebuah kotak.


"Ma-mas." Lirih Zeva.


Melihat Aaron yang berdiri di hadapannya, Rio tentu saha terkejut. Dia pikir, Aaron akan kehabisan darah. Namun, dirinya malah kembali melihat Aaron yang berada di hadapannya.


"Ba-bagaimana bisa." Lirih Rio.


BUGH!


Aaron memukul wajah Rio, sehingga kotak yang Rio pegang dapat di rebut oleh Haikal. Haikal buru-buru turun untuk menonaktifkan bom tersebut.


Sementara Aaron, dia menghajar habis Rio. Matanya memerah, emosinya meledak-ledak. Dia tak peduli jika Rio tiada, melihat istrinya memakai gaun pernikahan sudah membuat Aaron marah.


"Kurang 4jar! ZEVA ISTRIKU! DIA ISTRIKU! BERANI SEKALI KAMU INGIN MENIKAHINYA HAH!!"


BUGH!!


BUGH!!


Zeva menatap putrinya, dia meminta Marsha untuk berdiri di pojok ruangan agar anak itu aman.


"Mas! sudah mas! dia bisa tiada!!" Pekik Zeva sembari menarik tangan suaminya.


"Lepaskan!! aku ingin dia tiada!" Sentak Aaron, menepis tangan Zeva.


"KALAU DIA TIADA DAN KAU DI PENJARA, BAGAIMANA DENGAN NASIB ANAK KITA HAH!!" Teriak Zeva dengan raut wajah penuh dengan emosi.


Tangan Aaron mengambang di udara, netranya masih menatap tajam wajah Rio yang penuh luka lebam.


Aaron bangkit dari tubuh Rio, dadanya terlihat kembang kempis menahan emosi.


"Asal kau tahu, tiada hari tanpa aku merindukan istriku! aku sengaja tidak menelponnya karena takut aku lebih memilih pulang dan tidak akan kembali melanjutkan pekerjaan ku! Aku berusaha untuk membanting tulang, bekerja keras karena ingin memberikan kehidupan yang layak untuk istriku!"


"Dan seenaknya kamu masuk ke dalam rumah tangga kami dengan dalih sebagai obat? heh?"


Aaron berkacak pinggang, netranya tak sedetik pun lepas dari Rio.


"Aku tidak seperti mu! yang kaya sejak lahir! aku harus berjuang dari bawah demi bisa mencapai di titik yang sekarang. Apa kamu pikir, aku tak peduli pada istriku?;"


Lalu, Aaron menarik Zeva ke sampingnya. "Kamu mencintainya kan? KATAKAN! Bilang padanya kau mencintainya, jika dia membalas cintamu. Maka, dengan hati yang lapang aku akan melepaskan dia untukmu."


Zeva menatap wajah suaminya yang tengah tersulut api kemarahan, dia benar-benar tak percaya jika suaminya akan mengatakan itu.


"Mas." Lirih Zeva.


Kali ini, barulah tatapan Aaron beralih menatap istrinya. "Cepat katakan, apakah kau mencintainya? jika iya, akan ku relakan kamu bersamanya. Jangan pedulikan soal anak, hak asuh akan jatuh di tanganmu. Jika itu yang kanu khawatirkan."


Ujar Aaron dengan suara yang pelan.


Zeva menganga tak percaya, bagaimana bisa suaminya menyerah terhadap keluarga kecilnya? menyerahkan istri dan putrinya pada orang lain.


Rio sudah beranjak, dengan tertatih dia mendekati Zeva.


"Zeva, aku sudah mencintamu lebih dulu jauh sebelum Aaron. Hiduplah bersama ku, akan ku beri kebahagiaan untukmu sepanjang harinya. Tak ada luka maupun jerit tangis, yang ada canda tawa dan rasa bahagia. Ayo, kita bangun kehidupan kita. Tak masalah dengan anakmu, aku akan menganggap mereka sebagai anakku juga." Rio menatap penuh harap pada Zeva.


"Coba kamu ingat, berapa kali Aaron membuatmu tersenyum? berapa banyak air matamu jatuh karena nya? Sudah cukup Zeva, kau pantas bahagia. KAu ingat bukan, aku yang selaku ada untukmu. Aku yang selalu ada di sampingmu ketika Aaron terus-menerus menyakitimu." Rio berusaha menyakinkan Zeva, tangan nya terulur. Berharap Zeva kembali menggenggam tangannya.


"Kamu benar-benar ingin menyerahkan pada orang lain mas? Apa kamu sudah lelah berjuang untuk rumah tangga kita? atau kah, kamu sudah bosan memiliki istri sepertiku." Batin Zeva dengan sedih.


Lalu, tatapan Zeva beralih menatap Rio dan berlanjut ke tangan pria itu. Sedangkan Aaron, dia sempat melirik apa yang istrinya itu tengah lakukan.


"Rio, kamu sering kali membantuku. Memberikan perhatian yang membuatku nyaman, dan sayang. Terima kasih untuk cintamu padaku."


Senyuman RIo mengembang, dia dengan yakin jika Zeva akan menerima ukuran tangannya.


"Tapi maaf, aku tetap memilih bertahan dengan suamiku."


Degh!!


Jantung RIo berdenyut nyeri, tangannya langsung melemas.


Sementara Aaron, dia tersenyum tipis. Dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. Tak akan dia biarkan lagi istrinya lepas kembali dari genggamannya.


"Jika kamu sudah memilihku, maka kamu tidak akan ku lepas." Batin Aaron dengan bahagia.


"Kau menyakitiku Zeva." Lirih RIo dengan kepala tertunduk.


"Maaf, aku sudah kembali berjanji pada suamiku. Aku akan menemaninya, baik secara suka maupun duka. Mas Aaron sangat mencintaiku, dia adalah sosok yang penuh perhatian. Hanya saja, dengan versi berbeda." Ujar Zeva menatap suaminya dengan penuh cinta.


Lalu, Tatapan Zeva beralih pada Rio. "Rio, kamu berhak bahagia. Namun, bukan denganku." Lirih Zeva membuat hati Rio kembali hancur.


RIo memundurkan langkahnya, air matanya pun luruh. Lalu, dia tersenyum hambar.


"Jadi begitu yah ... aku sudah kalah." Lirih Rio.


Polisi masuk dan menangkap RIo, pria itu sama sekali tak melawan. Bahkan, hanya pasrah ketika polisi memborgolnya.


Sebelum polisi membawanya, Rio lebih dulu menatap Zeva. Tiba-tiba, dia menghentikan langkahnya dan meminta polisi untuk memberikan dirinya waktu.


"Zeva, bisakah kamu mengabulkan permintaan terakhir ku?" Tanya RIo.


"Apa?" Sahut Zeva.


Rio meminta polisi untuk membuka borgol salah satu tangannya, lalu dia mengambil sebuah kotak dari dalam saku jas putihnya.


"Terima lah, aku memang membelikannya untukmu," ujar RIo.


Zeva menatap suaminya sekilas, meminta izin terlebih dulu.


"Jika kamu tidak bisa menerima perasaanku, maka terima lah cincin ini. Aku mohon, setidaknya rasa sakit ini bisa sedikit terobati." Pinta Rio dengan nada memelas.


Aaron mengangguk, Zeva pun berani mengambil kotak itu dan membukanya.


"Seperti yang ku janjikan dulu, aku akan memberikanmu sesuatu yang berharga. Barang itu, sangat berharga untukku. Karena, cincin itu di buat khusus oleh ayahku untuk ibuku."


Air mata Zeva kembali turun, dadanya terasa sesak. Begitu besar cinta Rio hingga pria itu terobsesi padanya.


"Rio, ini peninggalan orang tuamu. Rasanya tidak pantas." Lirih Zeva.


Rio menggeleng, "Seharusnya suamimu yang mendapatkan cincin itu, karena aku lah yang melelangnya." Ujar RIo memaksa senyumnya.


Aaron menjadi paham, cincin itu sebenarnya dirinya lah yang mendapatkannya. Namun, Rio muncul di saat yang tidak tepat.


"Ayo, jalan!" Titah polisi pada Rio.


Rio pun di bawa oleh polisi, oria itu tampak pasrah dan tak melawan.


Aaron memeluk istrinya, begitu pun dengan Zeva yang memeluk balik suaminya. Berkali-kali Aaron meng3cup kening istrinya, menyalurkan rasa bahagianya.


"Kamu gak papa hm? babynya gak papa?" Tanya Aaron sedikit menjauhkan wajahnya untuk menatap istrinya.


"Aku dan baby gak papa." Jawab Zeva.


Aaron berniat yang menc1um bibir istrinya, tetapi suara yang familiar mengejutkan dirinya.


"Bunda ... dah bica gelak belum?"


"EH?"


____


Hari ini Triple up, dua nya menyusul yah. InsyaAllah siangan, mau langsung tiga tapi capek parah. Pasti tau lah yah kalau idul adha pada ngapain😪 nyate teros ampe blenek.