Find Me Daddy

Find Me Daddy
Tekad Nathan(S2)



Zeva terdiam, dia mengatur nafasnya Dan mecoba berfikir jernih.


"Mas, mas." Zeva menarik Aaron sedikit menjauh.


"Percuma menyesalinya sekarang, lebih baik kita bicarakan hal ini dengan orang tuanya. Kedepannya mau seperti apa, kita putuskan nanti. Kasihan Marsha,"


Aaron bergegas pergi, dia tak sanggup melihat dua cintanya menangis. Sementara Nathan, dia berada di situasi sulit.


"Siapa namamu?" Tanya Zeva.


"Nathaniel Oliver tante," ujar Nathan.


"Malam ini, panggil orang tuamu kesini. Kita akan cari solusinya," ujar Zeva dengan lembut.


Nathan tak percaya jika Zeva masih berkata lembut dengannya.


"Tante tidak memarahiku?" Tanya Nathan.


Zeva tersenyum, "Kamu adalah suaminya, kamu berhak atasnya. Hanya saja, kalian terlalu gegabah membuat keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya."


"Maaf tante," ujar Nathan dengan perasaan bersalah.


"Hm, lebih baik kamu pulang dan jujurlah ke orang tuamu. Pasti mereka belum mengetahuinya juga kan?" Nathan mengangguk membenarkan perkataan Zeva.


"Pulanglah, kami menunggu kedatangan kalian malam ini."


Nathan mengangguk, dia lalu menatap Marsha yang masih tertunduk.


"Aku titip Marsha, jangan biarkan dia menggugurkan bayi itu. Aku ayahnya, jika Marsha tak menerimanya. AKu yang akan menerimanya, tolong ... jangan sakiti bayi tak berdosa itu. Dia hadir karena hubungan yang sah, walaupun bukan dengan cinta," ujar Nathan dengan sendu sembari menangkupkan tangannya di depan Zeva.


"Baik, tante akan menjaga Marsha."


Nathan mengangguk, tak lupa dia mengucapkan terima kasih dan berlalu pulang.


Zeva terdiam menatap kepergian Nathan, menurutnya. Nathan adalah pria yang baik, bahkan dengan rela mau kembali untuk mempertahankan bayi itu.


"Bun ..." Lirih Marsha.


Zeva memeluk putrinya dengan erat, seketika tumpahlah tangisan Marsha.


"Jadi keras perutmu karena kamu hamil hm, kenapa kamu tidak beritahu bunda tentang masalah yang menimpamu?"


"Marsha gak mau bunda kepikiran, kasihan bunda." Isak Marsha.


"Bunda lebih sedih ketika kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari bunda nak." Lirih Zeva.


Zeva melepaskan pelukan mereka, dia menghapus air mata putrinya.


"Jangan menangis lagi, sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan apapun, masalah ini ... kita akan cari jalan keluarnya sama-sama." Linta Zeva.


Marsha mengangguk, Zeva lalu mengantarkan putrinya ke kamarnya. Sementara Varo, dia masih mematung di pintu taman.


"Kak Marsha." Lirih Varo.


.


.


.


Malam hari, Marsha sudah bersiap dengan baju dress nya. Zeva memintanya untuk berpakaian rapih, apalagi ingin menemui tamu.


Cklek!


"Sayang, ayo. Nathan dan keluarganya sudah sampai." Ajak Zeva.


Marsha mengangguk, jujur saja dia sangat lah gugup saat ini. Bagaimana reaksi orang tua Nathan nanti setelah bertemu dengannya.


Zeva merangkul putrinya memasuki ruang tamu, terlihat kedua orang tua Nathan dan Nathan yang berada di sana.


Melihat kedatangan Marsha, Nathan bergegas berdiri.


"Nathan." Lirih Marsha, dia begitu syok saat melihat wajah Nathan yang penuh dengan luka lebam. Padahal, siang tadi pemuda itu masih baik-baik saja.


"Duduk sayang." Ajak Zeva.


Sofia menatap Zeva dengan kening mengerut, wajah Zeva menurutnya sangat familiar.


"Kami adalah orang tuan Nathan, secara langsung datang kesini ingin meminta maaf atas apa yang terjadi." Ujar Kenan pada Zeva.


Zeva mengangguk, "Kita tunggu suami saya dulu," ujar Zeva.


"Kalian orang tua Nathan?"


Syara berat Aaron membuat semuanya berdiri, menatap pria yang bertubuh tegap itu.


Melihat Aaron, netra Sofia melebar. Begitu pun dengan Aaron, setelah melihat Sofia ada di sana. Bertahun-tahun mereka tidak bertemu, wajah keduanya masihlah sama. Hanya ada perubahan sedikit karena umur.


"Aaron?"


"Sofia?!"


Mendengar nama Sofia dari mulut suaminya, membuat Zeva syok bukan main. Dia menatap wanita yang dulunya hampir menjadi istri suaminya.


"Mami kenal sama ayah Marsha?" Tanya Nathan dengan bingung.


Raut wajah Sofia berubah datar, dia menatap tak suka pada Aaron.


Aaron tak memusingkan hal itu, dia berjabat tangan dengan Kenan. Kedua tatapan mereka bertemu sangat tajam, sepertinya dari namanya Kenan kenal siapa dirinya.


"Saya sudah mendengar cerita dari putra saya, saya juga sudah memberikannya hukuman. Seperti yang kamu lihat, banyaknya lebam pada putra saya," ujar Kenan.


"Saya sebagai orang tua Nathan, begitu kecewa dengan apa yang terjadi. Tapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Dari pihak anda, mau seperti apa? apakah pernikahan harus bertahan, ataukah berpisah?"


"Pi!" Sentak Nathan tak terima.


Aaron tersenyum sinis, dia menatap tajam Kenan. Tangannya dia lipat di depan dada dengan angkuh.


"Kalau saya mau mereka berpisah? bagaimana?"


"Mas!" Tegur Zeva.


"Bagus, saya juga tidak ingin berbesan dengan anda!" Seru Sofia.


Nathan menatap tak percaya pada ibunya, dia bahkan hampir berdiri jika sang papi tak mencegahnya.


"Memangnya, saya mau berbesanan dengan anda?" Seru Aaron tak terima.


"Oke! Sepertinya kita tidak di terima dengan baik disini, ayo mas ... Nathan! kita pulang!" Sofia berdiri dan mengajak mereka pulang.


"MI!" Sentak Nathan.


Nathan berdiri, dia bergegas mendekati Marsha dan merangkul pinggangnya. Dia menatap tegas pada orang tuanya.


"Aku memutuskan, untuk tidak menceraikan Marsha!"


"Kamu tidak mendengar apa yang orang tuanya katakan? dia berkata tidak ingin berbesanan dengan kami!" Sentak Sofia.


"Aku dengar, tapi mereka tidak berkata tidak menginginkan ku menjadi menantunya bukan?"


Sofia dan Kenan merasa kaget dengan apa yang putranya mereka katakan. Keduanya menatap Aaron yang dengan santai berdiri menatap mereka berdua.


"Jika putra anda ingin berpisah, maka berpisahlah. Saya masih mampu membiayai anak dan cucu saya," ujar Aaron.


"Enggak om! saya masih mau mempertahankan pernikahan ini! saya ingin Marsha yang menjadi istri saya!" Tegas Nathan.


"Aaron! putraku masih pelajar SMA, dia belum pantas menjadi seorang suami! apalagi ayah!" Seru Sofia. Membongkar fakta tentang putranya, dia ingin lihat. Bagaimana reaksi Aaron saat tahu putranya masih berumur delapan belas tahun.


Netra Aaron terbelalak, dia menatap Marsha meminta jawaban. Bagaimana dia bisa lupa, jika Marsha sudah lahir saat Sofia menikah.


"Nathan ... Nathan masih delapan belas tahun dad." Cicit Marsha.


"APA? HEI! KAU! BAGAIMANA .... CK!!"


Sofia menatap Aaron dengan senyuman sinis, sementara Zeva. Dia bingung dengan kondisi yang tak sesuai rencana.


"Putramu menipuku!" Sentak Aaron.


"Om tak bertanya! aku tak menipumu!" Seru Nathan tak terima.


Marsha gerah dengan keadaan, dia melepaskan tangan Nathan dari pinggangnya dan manu mendekat pada orang tua Nathan.


"Om, tante ... saya tidak tahu ada masalah apa kalian dengan daddy saya. Saya dan Nathan, tak ada sangkut pautnya dengan masalah kalian. Saya yang salah, karena memaksanya melakukan hal itu tanpa pikir panjang."


"Keputusan, saya serahkan pada kalian. Jika memang, kalian meminta saya dan Nathan berpisah. Kami akan berpisah."


"Marsha!!" Nathan menatap tajam MArsha dengan mata yang memerah menahan amarah.


"Jadi, om dan tante ... bagaimana keputusan kalian?"