Find Me Daddy

Find Me Daddy
Suami idaman



Selepas Rangga pulang, Nathan kembali masuk. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sikap heboh Rangga.


"Siapa yang datang than?"


Nathan mengalihkan pandangannya, terlihat sang istri berjalan menghampirinya. Marsha memakai bathrobe yang sama dengannya, sepertinya wanita itu buru-buru keluar kamar.


Nathan tak menjawab, dia justru duduk di sofa dan meminta Marsha mendekat ke arahnya. Marsha hanya menurut, dia berjalan menghampiri Nathan. Namun, tanpa dia sangka. Nathan justru menarik tangannya hingga membuat Marsha terpekik.


Grep!!


"Than!" Pekik Marsha saat dirinya jatuh di pangkuan Nathan.


"Kenapa masih pake handuk? Apa kamu ingin aku ...,"


Bugh!


"Otaknya coba! Pikirannya ke sana terus, aku bangun dan gak liat kamu. Aku pikir kamu keluar, eh ternyata lagi ada tamu." ujar Marsha dengan kesal menepuk bahu suaminya.


Nathan terkekeh, dia memeluk erat pinggang istrinya dengan meletakkan kepalanya di bahu sang istri. Dia menghirup dalam aroma tubuh Marsha yang terasa memabukkan baginya.


"Nathan, aku mau jujur. Aku ... pasang KB implan," ujar Marsha membuat Nathan seketika menjauhkan wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Nathan dengan raut wajah bingung.


"Seminggu sebelum aku kesini, mami yang suruh. Aku juga setuju, karena ... aku belum siap hamil lagi." Lirih Marsha.


Nathan terdiam, tatapannya datar. Marsha mengira, jika Nathan marah padanya. Terlihat, raut wajah pria itu yang tidak bersahabat.


"Nathan, kamu marah? Maaf, aku belum siap hamil lagi. Si kembar masih kecil, aku takut gak bisa mengurus semuanya. Nanti kalau mereka udah besaran sedikit, aku akan lepas KB nya. Jangan marah yah," ujar Marsha sembari mengelus rahang tegas suaminya.


Nathan menatap lekat mata sang istri, dia meraih tangan Marsha yang mengelus rahangnya dan meng3cupnya singkat.


"Siapa bilang aku marah hm?" Tanya Nathan dengan menempelkan tangan Marsha dengan pipinya. Merasakan tangan dingin istrinya menyentuh kulit pipinya.


"Tadi kamu diam, aku pikir kamu marah karena aku gak ada izin sama kamu untuk pasang KB." Lirih Marsha.


Terdengar, helaan nafas Nathan. Dia meraih dagu Marsha agar menatapnya dengan lekat. Istrinya masih sama, sellau cantik di matanya. Selama dia berada disini, dia tidak menemukan wanita secantik istrinya. Hal itu, membuat Nathan sulit berpaling dari istrinya.


"Look at me, baby."


Deggh!!


Marsha ingin meronta saat ini juga, tatapan Nathan dan suara berat suaminya itu membuat Marsha rasanya ingin terbang tinggi.


"Aku gak marah, ini tubuh kamu. Hak kamu, jika kamu tidak ingin hamil lagi juga tidak masalah, aku dukung apapun yang menjadi keputusanmu. Lagian, kita sudah ada tiga princess. Untuk apalagi? Penerus? Mereka akan menjadi penerusku, jangan khawatir. Mereka kelak akan tumbuh sehebat papa nya," ujar Nathan.


"Kamu kenapa sih, bisa jadi suami idaman banget."


Senyum Nathan mengembang, rasanya gemas sekali dengan istrinya ini. Dia hanya menjadi suami idaman bagi istrinya, apa itu salah?


"Kamu maunya aku jadi suami yang gimana hm?" Tanya Nathan.


"Mimpi apa yang aku, bisa dapet suami berondong. Ganteng, Kaya, penerus tunggal pula. Impian banyak wanita, pasti banyak yang ingin ada di posisi aku," ujar MArsha dengan suara lirih.


"Tapi kamu pemenangnya sayang."


"Nathan! Berhenti buat aku baper!!" Pekik Marsha sembari menutup wajahnya.


Nathan tertawa, istrinya sangat menggemaskan. Dia merindukan momen dimana istrinya tersipu malu seperti ini.


"Sayang, masih kangen." Bisik Nathan tepat di telinga sang istri.


Marsha menarik tangannya yang menutupi wajahnya, dia menatap Marsha dengan mata membulat. "Nathan! Kamu tuh yah! AKu capek lah, aku mau mandi. Awas!" Saat Marsha berusaha beranjak dari pangkuan Nathan. Pria itu justru menariknya lebih dekat.


"Nathan." Lirih Marsha saat hidung Nathan sudah mengendus lehernya.


Tangan Nathan meraih tali bathrobe milik Marsha, lalu dia menariknya perlahan. Saat tali itu hampir terlepas, tiba-tiba Nathan menghentikan kegiatannya lantaran putri mereka menangis keras.


"HIKS HUAAAA!!!"


"Aizha!" Pekik Marsha dan bergegas berdiri membenahi handuknya. Tanpa berlama-lama, MArsha bergegas masuk ke dalam kamar dimana anak-anak mereka berada.


Sedangkan Nathan, raut wajahnya terlihat pasrah. "Mau manja sama emaknya, susah amat dah. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit minta susu. Gimana kalau punya anak lagi, habis sudah gak ada waktu ama bini." Gerutu Nathan.


.


.


.


Pagi harinya, Nathan mengajak Marsha dan ketiga anaknya untuk keluar berjalan-jalan. Karena di sana Nathan tak memiliki mobik, akhirnya Nathan memilih menyewa sebuah mobil sebelum dia membelinya.


"Kita mau kemana?" Tanya Marsha ketiak dirinya sudah masuk ke dalam mobil. Ketiga anaknya sudah memakai Car Seat di kursi belakang. Ketiga anteng karena masing-masing sudah memegang biskuit bayi yang sebelumnya Marsha berikan agar ketiganya tak rewel.


"Ke showroom mobil." Jawab Nathan dengan santai.


"Ngapain?!" Pekik Marsha.


"Gak mungkin aku ajak kalian jalan-jalan disini pake motor ku, anak kita tiga. Mau taruh dimana? Di ban? Kan gak mungkin," ujar Nathan.


"Loh, aku disini cuman seminggu aja loh! Habis itu, aku dan anak-anak pulang," ujar Marsha dengan terkejut.


"Kamu tetap disini, gak ada pulang. Kalau kakek suruh kamu pulang, aku juga ikut pulang. Enak aja, pokoknya kamu disini sampe aku libur semester!"


Marsha langsung menutup mulutnya rapat-rapat, dia tak lagi membantah Nathan. Sifat suaminya itu, apapun yang pria itu inginkan harus di penuhi. Termasuk, keberadaannya dan ketiga anaknya disini. Jika tidak, banyak hak yang nantinya akan Nathan lakukan.


"Oh yah, ku dengar adikmu si Javier. Dia hampir jual adiknya?" Tanya Nathan.


Marsha terkekeh, "Iya, dia jual si kembar sama tukang ketoprak buat di tuker sama ketoprak yang udah dia makan. Dan parah nya lagi, tukang ketopraknya mau. Hahaha!!"


.


.


Sedangkan orang yang di bicarakan, tengah sibuk memakai kaos kakinya. Seminggu sudah dia resmi menjadi seorang murid. Dia sudah memakai seragam dan juga sepatunya.


"Pagi ku celah ku matahali belcinal ku macukkan jajan ku dalam tas! Eh, ketoplakna mana yah?"


Javier berlari keluar rumah, karena tak hati-hati tak sengaja dirinya menginjak sebuah tangan milik seorang bayi yang sedang merangkak.


"EKHEE EKHEE!! HUAAA!!"


"Javier!! adiknya di apain lagi!!" Pekik Zeva yang sedang berada di kamar Varo. Dia tengah membantu putranya itu untuk menyiapkan keperluan ke kampusnya.


"Nda cengaja bunda, lagian ngapa lah melangkak di lantai. Lain kali melangkakna di tembok, bial nda ke injek. Udah kecil, cengeng, di jual aja cuman dapet ketoplak tiga polci."


"VIEEERR!! MAU DADDY SUNAT KAMU YAH!!" Omel Aaron sembari menggendong bayinya yang lagi-lagi menangis akibat ulah putra ajaibnya itu.


"Daddy kan janjina cunat pas Viel umul tujuh, bukan cekalang!" ujar Javier tak terima.


"Jangan sampai kamu umur tujuh, besok daddy bawa kamu buat sunat."


"KOK DITU?! HIKS ... BUNDAAA!!! LIAT DADDY!! HIKS HUAAA!! NDA MAU CUNAT! NDA MAU! HILANG NANTI BULUNGNA! NDA ADA BULUNG LAGI NANTI VIEL!!"


....


Authornya mau tamatin, eh pada gak mau😭😭 haruskah ada S3? Atau gimana ini😭😭