Find Me Daddy

Find Me Daddy
Putri tunggal kesayangan Aaron (S2)



17 tahun kemudian.


Terlihat, seorang bocah memegang sebotol susu. Kaki kecilnya melangkah menuju ranjang, dimana seorang gadis tidur dengan begitu pulasnya.


"Kakak ... kakak." Panggil bocah itu.


Namun, tak ada pergerakan juga dari sang gadis, membuat bocah itu terdiam memikirkan caranya bagaimana sang kakak bangun.


Netranya menatap polos ke arah botol susunya, lalu beralih menatap wajah cantik gadis itu.


BYURR!!


Bocah itu memencet botolnya hingga mengeluarkan susu yang langsung menyemprot pada wajah sang gadis.


"AAA!! HUJAN!" Pekik Gadis itu.


Melihat kakaknya telah bangun, bergegas bocah itu berlari keluar kamar. Menghindar dari amukan sang kakak


Gadis itu tampak mencium air yang baru saja di semprotkan pada wajahnya, bau susu. Dia tahu ulah siapa itu.


"JAVIEEERRR!!!"


Di ruang makan, Zeva tengah menyiapkan makan untuk suami dan anak keduanya. Namun, mereka di buat terkejut dengan teriakan dari kamar putri mereka.


"Kenapa lagi anakmu mas?" Heran Zeva.


"Noh, tanya sama yang ngumpet di bawah dress kamu." Unjuk Aaron dengan santai menggunakan dagunya.


Zeva tertunduk, dia menatap bocah yang berumur 3 tahun sedang bersembunyi di dalam dressnya.


"Javier buat ulah apalagi sayang? hm?"


Javier Xaviero Alexander, putra bungsu dari Zevanya dan Aaron. Setelah Varo berumur 3 tahun, mereka memang merencanakan untuk punya anak kembali. Berharap, ketiganya kembali perempuan. Namun sayang, di umur Varo yang beranjak 13 tahun Zevanya baru di percayai untuk hamil kembali. Dan sayangnya lagi, anak mereka kembali laki-laki. Jadilah Marsha anak perempuan satu-satunya di keluarga itu.


Tentunya, umurnya sudah tidak muda lagi. Sangat beresiko saat hamil di umurnya yang menginjak 42 tahun. Namun, Aaron memberikan dokter terbaik untuk istrinya. Bahkan, dirinya merawat sang istri dengan posesif.


Terlihat, gadis tadi turun dengan raut wajah yang kesal. Netranya menatap tajam adiknya yang bersembunyi di balik sang ibu.


"Marsha, kenapa sih nak? teriak-teriak begitu?" Tanya Zeva dengan lembut.


Ya Marsha, kini bocah cadel itu tumbuh menjadi gadis yang cantik. Di umurnya yang ke 22 tahun, membuat Aaron begitu was-was pada putrinya yang sudah mengenal cinta.


"Bunda liat gak rambut aku basah? ini karena di siram susu sama dia!" Unjuk Marsha sembari melotot ke arah Javier yang mencuri-curi pandang.


Zeva menghela nafas pelan, dia menunduk menatap putranya yang merasa sangat bersalah.


"Javier itu mau bangunin lo kak, makanya! tidur jangan kayak kebo! gadis-gadis kok bangunnya siang!"


"Kau!!" Marsha melotot ke arah pria remaja.


Varo sudah tumbuh menjadi pria yang tampan, Gen Aaron benar-benar mewarisi putranya. Bahkan, keduanya bagai pinang di belah dua. Yang hanya membedakan, hanyalah usia mereka.


"Sudah! sudah! Marsha, sebaiknya kamu mandi. Kita ada pertemuan dengan keluarga calon suamimu sebentar lagi,"


Raut wajah Marsha berubah cerah, dia bergegas ke kamarnya untuk bersiap.


Beberapa bulan yang lalu, Aaron dan keluarga Brighton mencoba untuk menjodohkan kedua anak mereka. Namun, siapa sangka. Jika keduanya menerima perjodohan itu. Bahkan Marsha, sangat menyukainya.


"Hais anak itu." Lirih Aaron.


Aaron dan Zeva sama-sama tersenyum melihat tingkah anak gadis mereka, tapi tidak dengan Varo.


"Daddy,"


Aaron menatap putranya yang telah memanggilnya, tetapi wajah putranya terlihat datar.


"Apakah kakak benar-benar telah mencintai laki-laki itu?" Tanya Varo.


"Eum ... laki-laki siapa maksudmu? calon suami kakakmu?" Tanya Aaron, yang di balas anggukan oleh Varo.


"Ya, dia bilang menyukainya. Setelah menikah nanti, dia akan mencintainya. Benar kan sayang." Sahut Zeva.


Varo mengangguk pelan, dia kembali fokus dengan sarapannya. Namun, Aaron bisa menangkap gelagat aneh dari putranya.


"Sayang, sepertinya Javier mengantuk." Unjuk Aaron pada Javier yang bersandar di kursi, tatapan anak itu sudah sayu.


"Eh, ngantuk dek?" Tanya Zeva.


Javier merentangkan tangannya, Zeva mengambil putranya dan membawanya ke gendongannya.


"Yasudah mas, aku tidurkan dia dulu. Habis, dia bangunnya kepagian tadi." Pamit Zeva.


Javier, putra mereka kali ini sangat senang sekali tidur. Bahkan dia bisa tidur hingga seharian, dan dimana saja. Sering kali Aaron mencari putranya, yang ternyata ketiduran di tempat yang sulit di temui.


"Ada apa denganmu? apa kamu tidak setuju, kakakmu menikah dengan putra Brighton?" Tanya Aaron, seperti mengetahui isi hati sang putra.


"Entah lah Dad, aku tidak merasa sreg dengannya. Iya sih, dia kaya, tampan, dan mapan. Apa kalian percaya jika dia tidak memiliki kekasih? aku rasa tidak, jaman sekarang. Pria tampan dan kaya, pasti sudah memiliki kekasih. Apalagi, umurnya sudah dua puluh lima tahun." Terang Varo.


Aaron menghela nafas pelan, awalnya dia pernah berpikir seperti itu. Namun, dia mengenal keluarga Brighton. Keluarga pengusaha di bidang batu bara.


"Bukankah bagus dia tidak memiliki kekasih? itu artinya, dia ingin menjalin cinta dengan seorang perempuan setelah terikat bukan?"


"Iya sih, tapi ...,"


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Kau tak lihat, kakakmu sangat bahagia? Putra keluarga Brighton itu, adalah pria idamannya." Sela Aaron.


"Kalian sedang membicarakan aku yah?"


Sontak keduanya menutup mulut rapat, saat perbincangan utama mereka datang dengan keadaan yang sudah rapih dan cantik.


"Kita berangkat jam berapa?" Tanya Marsha sembari mengambil roti dan mengoleskan selai padanya.


"Eum, jam sepuluh. Masih ada waktu dua jam, ada apa?"


Marsha menggeleng, "Aku gugup sekali daddy, aku jarang sekali bertemu dengannya. Sekali bertemu, jantungku rasanya berdebar tak karuan," ujar Marsha.


Aaron tersenyum menanggapi putrinya yang sudah beranjak dewasa ini.


"Kau sudah mencintainya?" Tanya Aaron.


Marsha menggeleng, "Tidak tahu," ujar Marsha.


"Simpanlah cintamu untuk suamimu nanti, jangan sekarang. Setelah putra Brighton menjadi suamimu, kau boleh memberikan cintamu untuknya," ujar Aaron.


Marsha mengangguk cepat, dia tak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya lagi. Sementara Varo, dia mengamati dengan lekat sang kakak yang terlihat bahagia.


"AKu harap, begitu kak. aku harap, aku yang salah menilainya." Batin Varo.


.


.


.


Mobil dengan lambang Alexander telah terhenti di depan sebuah resto mewah. Terlihat, Aaron turun dari mobil sembari menggendong putra bungsunya yang masih tertidur.


"Ayo sayang." Ajak Aaron sambil menggandeng istrinya.


Marsha dan Varo mengikuti kedua orang tuanya dari belakang.


"Kak." Bisik Varo.


"Apa?" Sahut Marsha.


"Kau yakin dengan calon suamimu?" Tanya Varo.


"Yakin, dia tampan dan mapan. Pria idamanku, kenapa kau bertanya seperti itu?" Heran Marsha.


Lagi-lagi, Varo hanya diam tanpa memberi kejelasan. Membuat Marsha pun tak lagi memikirkan pertanyaan sang adik.


"Wah, selamat datang Tuan Liam Alexander!" Seru seorang pria paruh baya menjabat tangan Aaron.


"Terima kasih Tuan Brighton." Jawab Aaron.


Zeva memeluk singkat pada Istri Lima Brighton yang bernama Hana Clarissa, keduanya sama-sama terlihat sangat cantik.


"Dia putramu?" Bisik Nyonya Hana menunjuk ke arah Javier.


Zeva mengangguk malu, dia umurnya yang sekarang dirinya masih memiliki anak kecil.


"Sangat menggemaskan." Lanjutnya.


"Terima kasih." Jawab Zeva.


"Halo sayang." Sambut nyonya Brighton pada Marsha, keduanya berpelukan singkat.


Mereka kini duduk di sebuah meja bundar, sembari berbincang ringan. Menunggu satu orang lainnya yang belum datang.


"Maaf, aku datang terlambat."


Suara berat seorang pria membuat Marsha mengalihkan pandangannya dari ponsel. Lalu, beralih menatap pria itu dengan tatapan berbinar dan senyum yang merekah. Namun, senyumnya seketika surut saat melihat pria yang dia tunggu sejak tadi datang bersama seorang wanita di gandeng nya.


"Apa ini." Batin Marsha. Seketika, hanya mencelos melihat kedua tangan yang saling bertautan.