Find Me Daddy

Find Me Daddy
AKU SUAMINYA!(S2)



Marsha beranjak berdiri, dia menatap seorang wanita yang datang melabraknya dan mengatainya dengan sebutan wanita gatal.


"Cewek gatal maksudnya gimana nih mba?" Tanya Marsha dengan tak suka.


Mario sudah panik, dia berusaha memegang bahu wanita itu.


"Clau, dengerin mas dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ujar Mario dengan panik.


Bagaimana tidak? dia tidak berpikir jika istrinya berada di restoran yang sama. Tiba-tiba, Claudia ada disini dan mengamuk seperti ini.


"Apa yang aku pikirkan hah?! enak-enakan kamu disini makan berdua sama nih cewek. Aku lagi hamil anak kamu loh!" Marah Claudia.


"Mba maaf, sepertinya anda salah paham. Pak Mario ini ...,"


"Kamu gak bisa apa cari pria yang single? kenapa harus dengan suami orang? apakah orang tua kamu mengajarkan anaknya untuk jadi pelakor? oh, atau ibu kamu juga pelakor?"


Marsha menatap tajam pada Claudia, rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.


"Jaga bicara mbak yah! jangan memfitnah ibu saya! anda tidak tahu siapa ibu saya! dan satu lagi, saya buka perempuan yang seperti mbak maksudkan!" Sentak MArsha.


"LALU APA HAH?!" Claudia tak sengaja menyenggol tas Marsha, sehingga isi tas Marsha pun tauh berhamburan. Termasuk, foto USG miliknya.


Brugh!!


Netra Claudia membulat sempurna saat melihat foto USG itu. Saat Marsha akan mengambil barang-barangnya, Claudia malah mendorongnya dan mengambil foto USG milik Marsha.


"Apa ini? Kamu hamil?" Tanya Claudia dengan tatapan berkaca-kaca.


"Sini balikin mbak!" Pekik Marsha, berusaha mengambil foto janinnya dari tangan Claudia.


"Waahh hebat! hubungan kalian sudah sangat jauh rupanya! tega kalian yah! pelakor kecil ini, berhasil merebut kamu dari aku mas."


Banyak sekali orang-orang mengambil gambarnya, membuat Marsha menutup wajahnya malu. Dia geram sekali dengan Claudia yang seenaknya menuduhnya tanpa bukti.


"Mbak! saya bukan pelakor! saya tidak punya hubungan apapun dengan suami anda!" Kesal Marsha.


"Lalu, kenapa kalian ada disini? mesti kamu ingin minta pertanggung jawaban suami saya kan!" Sentak Claudia.


Marsha mengambil tasnya, dia memakainya dan menatap tajam ke arah Claudia.


"Memang seganteng apa sih suami mbak? sampai saya rela menjadi selingkuhannya? suami mbak gak ada apa-apanya, bahkan keluarga saya lebih kaya dari suami mbak. Kalau gak percaya, tanya suaminya mbak. Siapa saya sebenarnya." Tantang Marsha.


Mario sudah keringat dingin, tentunya dia tahu siapa Marsha. Aaron akan melakukan apapun demi putrinya, Mario khawatir jika Aaron tahu hal ini. Pria itu akan bermain dengan profesi milik Mario.


"Ini urusan rumah tangga mbak, jadi ... balikin foto milik saya!" Pinta MArsha.


"Emangnya saya percaya?! Setelah, ini pasti kalian akan bertemu lagi! kita sesama wanita, seharusnya kamu paham posisi saya! saya sakit di selingkuhi olehnya, dan kamu ... kamu malah meladeni suami saya!" Seru Claudia yang sudah menangis.


Marsha menghela nafas pelan, dia mengambil paksa foto nya dari tangan Claudia. Namun, tak berhenti sampai situ. Claudia tetap mempertahankan foto milik Marsha.


"Lepas!" Geram Marsha.


"Gak akan! kalian berdua akan saya tuntut!!" Sentak Claudia.


"Itu milik saya! apa hak anda menuntut saya hah!!"


Marsha dan Claudia saling merebut, hingga Claudia melepaskan foto itu dan membuat Marsha spontan langsung terjengkang dan terjatuh.


BRUGH!!


"Awssh!!"


Marsha memegangi perutnya, dia jatuh lumayan kencang karena posisinya dia sedang menarik kuat foto itu.


"MARSHA!!"


Claudia terkejut mendengar suara yang dirinya kenal, dia bergegas menoleh ke belakang. Dan benar saja, Nathan ada di sana.


"Nathan." Lirih Claudia.


Terlihat Nathan berjongkok di samping Marsha, raut wajahnya terlihat panik.


"Perut, perut aku sakit." Ringis Marsha.


"Tahan yah, kita ke rumah sakit." Nathan pun ikutan panik.


"Nathan! Ngapain kamu nolongin dia hah!!" Sentak Claudia menarik tangan Nathan menjauhi Marsha.


"Apaan sih kak! lepasin! aku harus menolong Marsha!" Sentak Nathan, berusaha melepas cengkraman Claudia.


"Dia itu pelakor Nathan! dia sudah merebut suami kakak! Dan sekarang dia hamil anak ...,"


"AKU! AKU YANG SUDAH MENGHAMILINYA!! AKU AYAH DARI BAYI YANG DIA KANDUNG!!" Sentak Nathan dengan tatapan kilat penuh amarah.


"Setelah kamu mendekati suamiku, kamu juga mendekati adikku?! benar-benar wanita mur4han kamu yah!"


"CUKUP KAK! AKU GAK TERIMA KAKAK BERKATA SEPERTI ITU TENTANG DIA!" Marah Nathan.


"Kasih apa kamu ke adikku hah? kenapa dia membelamu!!" Sentak Claudia pada Marsha yang sudah terlanjur emosi.


"KARENA AKU SUAMINYA!!"


Jderr!!


Claudia terdiam, tubuhnya menegang kaku. Dirinya baru ingat nama yang Nathan sebut tadi.


"Marsha."


Saat di rumah, dirinya menanyakan tentang nama wanita bernama Marsha. Tapi Nathan tak menjawab nya. Jadi, inilah jawabannya. Marsha adalah istri dari adiknya.


"Enggak mungkin." Lirih Claudia dengan lemas.


Nathan tak perduli pada kakaknya lagi, dia membawa Marsha ke gendongannya dan bergegas membawanya menuju rumah sakit.


"Nathan, bayi kita." Lirih Marsha, sembari meremas perutnya yang terasa sangat sakit.


"Gue pastikan, tidak akan terjadi apapun dengan bayi kita. Gue mohon, bertahanlah." Lirih Nathan dengan suara bergetar.


Nathan menghentikan sebuah taksi, saat dia akan memasukkan Marsha. Tangannya merasakan sesuatu yang basah menyentuh permukaan kulitnya. Saat dirinya melihat tangannya, betapa terkejutnya dia melihat darah di tangannya.


"Da-darah."


.


.


.


"DOKTER!! TOLONG ISTRI SAYA!!" Teriak Nathan di koridor rumah sakit.


Dokter segera mendekat dan memeriksa keadaan Marsha yang sudah tidak sadarkan diri.


Perawat datang membawa brankar, bergegas Nathan menaruh Marsha di sana.


"Tolong selamatkan istri saya, dia tengah hamil delapan minggu. Tolong selamatkan dua-duanya." Lirih Nathan, sembari menangkupkan tangannya. Baru kali ini, Nathan memohon pada seseorang sampai segitunya. Semuanya demi sang istri dan calon anak nya.


"Kami akan melakukan yang terbaik, dan harap bapak tunggu di luar." Sambut sang dokter.


Saat pintu ruang UGD di tutup, Nathan terduduk di depannya dengan lemas. Matanya menangkap noda darah yang masih mengotori tangannya.


Tangannya bergetar, matanya kini berkaca-kaca. Bersiap akan menangis.


"Gue mohon, bertahanlah. Bertahanlah." Lirih Nathan.


Nathan sudah menghubungi mertua dan orang tuanya, mungkin keduanya sedang dalam perjalananan.


Selang beberapa menit, Sofia dan suaminya datang. Raut wajah mereka tampak sangat lanik.


"Gimana Marsha? kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya Sofia dengan suara bergetar, apalagi melihat noda darah di baju putih putranya.


"Ini salahku, ini semua salahku. Harusnya aku tidak meninggalkannya untuk ke toilet. Hiks ... aku tidak becus menjadi suami." Isak Nathan, dirinya tengah menunjukkan betapa rapuhnya ia saat itu.


Tak lama, datanglah Aaron dan Zeva. Raut wajah keduanya pun sama hal nya. Sama-sama panik dan cemas.


"Kenapa putriku bisa masuk ke rumah sakit hah?! bukankah kalian ingin memeriksa kan kandungannya? kenapa bisa seperti ini?!" Sentak Aaron, dengan tatapan merah. Dia kecewa, mengapa Nathan tak becus menjaga putrinya.


"Maafkan aku dad, seharusnya aku tidak meninggalkannya ke toilet. Saat aku kembali, Marsha sudah terjatuh dia ...,"


Perkataan Nathan terhenti saat melihat sosok yang membuat istrinya terjatuh, dia yakin sekali jika ada hal besar yang di ributkan oleh orang itu.


"Puas kakak buat istriku sekarat hah?! PUAS!!"


Kemarahan Nathan pada orang itu, membuat semuanya menoleh. Menatap dua orang yang baru saja datang, dengan kepala tertunduk.


"Nathan, maaf ...,"


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama istri dan juga anakku, aku akan membenci kakak seumur hidupku!" Unjuk Nathan, dengan sorot mata penuh amarah.


___


Gak boleh yah kakak kaka, harus saling memaafkan. Nathan, jangan di tiru🤭


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA BIAR AUTHOR SEMANGAT UPDATENYA🥳🥳🥳


Triple nih🤩