
Aaron baru saja keluar dari kamar mandi, sedari tadi ponselnya berdering. Sehingga, dia buru-buru menuntaskan mandinya.
"Siapa sih yang telpon?" Gumam Aaron.
Aaron menuju ranjang, dia tak mendapati pakaian gantinya. Bahkan, dirinya tak melihat keberadaan istrinya. Aaron pikir istrinya sedang berada di kamar Adinda.
Aaron menghubungi kembali orang yang baru saja menelponnya.
"Halo,"
"Halo selamat siang,"
"Siang." Jawab Aaron dengan santai sembari mengusap kepalanya yang basah dengan handuk.
"Kami telah menculik putri anda."
Kegiatan tangan Aaron terhenti, keningnya mengerut. "Marsha? coba tanyain, namanya Marsha bukan?"
Tunggu menunggu, bukannya menjawab Aaron malah mendengar suara putrinya.
"DADDY! DADDY!!" Teriak Marsha.
"Marsha." Gumam Aaron.
Aaron bergegas keluar kamar, dia mencari Marsha di kamar si kembar. Namun, hanya ada Azka yang tengah tertidur.
"Kenapa Aar, kok panik gitu?" Tanya Adinda yang sepertinya baru saja keluar dari kamarnya.
"Ariel mana?" Tanya Aaron.
Adinda bingung atas pertanyaan Aaron, "Ya main sama Marsha, kenapa emang?"
"Pengasuhnya pada kemana sih! kok bisa mereka berdua di biarin keluar!!" Kesal Aaron.
Aaron menepuk keningnya, si penelpon belum menutup telponnya.
"Halo, apakah anda menculik putri saya bersama satu anak laki-laki lainnya?" Tanya Aaron.
"DI CULIK?!" Pekik Adinda.
Aaron menjauh, dia ingin bertanya lebih jelasnya apa maksud dari si penculik.
Mendengar pekikan Adinda, Zeva pun datang menghampirinya. Kakak iparnya masih terlihat sangat syok.
"Ada apa kak?" Tanya Zeva.
"Ariel sama Marsha di culik," ujar Adinda dengan lirih.
"Apa?!" Zeva sungguh syok, dia bergegas menghampiri suaminya yang beranjak ke kamar mereka untuk berganti pakaian.
"Mas! gimana?"
Aaron sibuk berganti pakaian, wajahnya terlihat sangat tegang. "Dia matikan sambungan telponnya, aku harus lapor polisi." Ujar Aaron dengan panik.
Sementara di posisi Ariel dan Marsha, kedua bocah itu tengah asik menikmati batagor yang tadi dirinya beli. Mereka berdua di culik di sebuah rumah kosong yang lama tak berpenghuni.
"Mana jajan na, tadi udah teliak panggil daddy." Tagih Marsha.
Penculik itu berdecak sebal, dia memberikan Marsha gorengan sebanyak lima biji. Membuat ana itu mendelik menatapnya.
"Apa ini? catu dua tiga, empat lima, Lima biji doang? mana cukup! mau buat Malcha kulus hah?! nyulik kok nda modal!" Pekik Marsha dengan kesal.
"Ck, lo kok nyusahin sih! Nah!" Penculik itu kembali memberikan jajanan yang lain. Membuat Marsha kini tersenyum lebar.
"Nah gitu dong! mickin kali cuman kacih golengan." Ketus Marsha.
Marsha dan Aril memakan jajan itu tanpa mengingat jika mereka tengah di culik.
"Lumayanlah, dua-duanya anak orang kaya. Kita bisa minta uang tebusan," ujar penculik satu.
"Benar, nanti suruh mereka buat video aja. Ancam, pake senjata ini. Biar gak minta jajan terus, bisa bangkrut kita." Balas temannya.
Setelah makan, Marsha dan Ariel bersandar di tembok yang penuh dengan coretan. Keduanya sudah mengantuk, karena perut mereka yang sudah kenyang.
"HEI! HEI! JANGAN PADA TIDUR!" Sentak penculik satu.
"Apa cih! ganggu aja keljana!" Kesal Marsha.
"Jangan banyak bicara, cepat duduk yang benar!" Penculik kedua menodongkan senjata pada keduanya.
Melihat senjata, sontak keduanya menurut. Mereka di hadapkan dengan kamera.
"Udah bisa baca belum lo cil." Tanya penculik satu.
"Udah lah! citu nda bica baca yah? pantecan, maca depan na culam." Sindir Marsha.
"Yeee anak ayam! udah nih, baca yang bener!" Penculik satu menyodorkan sebuah kertas pada Marsha.
Ariel pun turut melihat isi kertas itu, keduanya pun membacanya.
"Ini nolna ada belapa lil?" Tanya Marsha.
"Ini itu catu milial, nol na ada cembilan." Jawab Ariel.
"Hei! liat ke kamera! dan baca isi kertasnya, cepat!" Sentak penculik kedua menodongkan pistol pada Marsha.
Kamera aktif ke arah mereka, keduanya membaca kertas itu sembari menatap kamera.
"Caya Aliel." Lanjut Ariel.
"Kita di cini mau bilang, kalau mau kita pulang. Di culuh tebuc ... te-buc?" Marsha mengerutkan keningnya, lalu dia menatap nyalang pada penculik kedua yang sedang memegang pistol.
"EMANGNA KITA BALANG APA! TEBUC ... TEBUC ... MACA DEPAN KALIAN LAH YANG HALUC DI TEBUC! CINTING KALI LOH!" Pekik Marsha.
Kedua penculik itu terdiam dengan tatapan bingung, "Lo anak kecil jadi-jadian yah?" Tanya penculik satu.
"SYUTT SUDAH! CEPAT LAKUKAN ATAU ...,"
Krek!
Marsha meneguk ludahnya kasar, dia kembali memegang kertas itu dan membaca naskah tersebut.
"Halo caya Malcha dan ini Aliel, kita lagi di culik. Kalau mau kita ... kita ...." Marsha menghentikan ucapannya, dia menatap kesal ke arah pistol yang menyentuh kepalanya membuat dirinya gugup.
Marsha memukul pistol itu dengan tatapan kesal.
PLAK!
"Bica di gecel dulu nda pictolna? JADI GLOGI MALCHA NA!" Pekik Marsha dengan emosi.
Akhirnya penculik kedua, menjauhkan pistolnya. Sehingga Marsha bisa kembali membaca teks itu.
"Kalau mau kita bebac, halus tebuc kita catu milial ... catu milial? BANAK KALI MINTANA?! KAU PIKIL DADDY MALCHA BANK NEGALA?!"
"NDA! gak ucah bebacin, bial dicini aja."
"HEH! BERANI KAU YA!"
Marsha menatap kesal ke arah kedua penculik itu, dengan santainya dia melempar kertas itu dan tak ingin melanjutkan lagi.
"Dah lah, Malcha mau tidul. JANAN GANGGU! AWAC AJA!"
Dengan enaknya, Marsha tidur dengan beralaskan karpet. Sedangkan Ariel, dia sangat syok dengan apa yang terjadi.
"Gimana?" Tanya penculik satu.
"Gimana lagi? biarkan saja dulu, video tadi kita kirimkan saja. Kita minta tebusan satu M buat dua anak," ujar penculik dua.
Akhirnya, mereka membiarkan Marsha tidur. Sementara Ariel, dia mengintip ke arah dua penculik tadi yang sibuk berbincang.
"Malcha. Malcha." Bisik Ariel.
Marsha mengintip, dia menatap Ariel lalu menganggukkan kepalanya. Marsha berdiri dan sedikit merendahkan tangannya di depan tubuhnya dengan kepala yang tertunduk.
"AARGGHH!! RAWWRRR!!! AAAA!!"
Ariel berlari ke arah dua penculik yang terkejut dengan teriakan Marsha.
"OM! TOLONGIN!! MALCHA KECULUPAN!!"
"APA?!"
"Ini lumah kocong, banyak cetanna." Jawab Ariel membuat kedua nya bergidik ngeri
____
Tiga jam sudah Aaron menunggu kabar terbaru dari penculik tersebut. Namun, belum ada tanda-tanda mereka akan mengembalikan Marsha dan Ariel.
"Gimana ini mas, Marsha pasti ketakutan."Isak Zeva.
Adinda pun sudah menangis di pelukan suaminya, mereka tak bisa berbuat apapun. Plat mobil si penculik juga sudah di lacak, dna ternyata nomor plat itu adalah palsu.
Sedangkan kedua pengasuh itu tengah menundukkan kepalanya, karena baru saja Jacob memarahi mereka. Bukan salah pengasuh tersebut, keduanya pintar mengelabui pengasuh itu.
"Mas! kamu cari kek! apa kek! kalau Marsha di apa-apain gimana?!" Isak Zeva.
"Ya aku juga udah telpon polisi yang, kamu tenang dulu." Bujuk Aaron.
Aaron akan menelpon seseorang, tetapi dirinya urung karena seorang bodyguard berlari ke arah mereka.
"TUAN! NYONYA! NON MARSHA SAMA DEN ARIEL PULANG!"
Tak banyak bicara, mereka semua langsung keluar. Terlihat, Marsha dan Ariel tengah melambaikan tangan pada si pemilik mobil.
"Dadah om, nanti culik lagi yah. Bial ...,"
"ENGGAK! enggak mau gue di bawa setan!" Pekik penculik pertama.
BRUM!!
mobil itu langsung berjalan pergi, setelah menyadari jika keluarga kedua bocah itu menghampiri mereka.
"Napa lah meleka, nda pelnah nonton cetan lupana. Belum aja Malcha ngeleog, udah di pulangin. Gagal kita Lil." Wajah Ariel masih pucat pasi.
"Tapi tadi Malcha kayak keculupan benelan, Alilna takut." Ujar Ariel sembari memegangi dadanya.
Marsha menatap sinis ke arah Ariel. "Makcudna citu, CAYA CETAN BENELAN GITU?! ACEM KALI!"
____
Up gasik nih, hanya masalah ringan yang ada komedinya yah. Mau ada tambahan lagi atau langsung Marsha besar aja?