Find Me Daddy

Find Me Daddy
Raden, putra Rio Evandra



Kini, semuanya ada di ruang tamu. Tatapan mereka terfokus pada mentari, Sedangkan bocah yang di bawa oleh mentari. Sedang anteng memakan puding yang di suguhkan.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Aaron dengan tegas.


Mentari menatap tak enak pada semua orang yang ada di sana, dia sebenarnya ragu ingin berkata.


"Kedatangan kamu, membuat istriku salah paham!" Kesal Aaron.


"Mas!" Tegur Zeva.


Aaron menatap tak percaya pada istrinya, kenapa dia di tegur? kalau dia ramah dengan Mentari, pasti Zeva akan mengamuk lagi.


"Ada keperluan apa yah mbak dayang ke rumah mertua saya?" Tanya Adinda dengan ketus.


Mentari memasang senyum ragu, "Maaf, saya ingin berbicara dengan Aaron." Ujar Mentari.


"Yasudah, bicara saja mbak. Biar kami ini gak penasaran." Sahut Adinda.


Mentari meneguk ludahnya kasar, dia menatap Aaron dengan perasaan tak enak.


"Aaron, kamu tahu siapa aku kan?" Tanya Mentari.


Zeva langsung menatap suaminya, meminta penjelasan. Begitu pun dengan yang lain.


"Ya, dulu kamu adalah kekasih Rio. Kenapa kamu datang kesini?" Sahut Aaron dengan santai.


Zeva melotot tak percaya, dia menatap wanita yang menjadi kekasih Rio itu.


"Anak ini, adalah anak saya dengan Rio. Kami ... kami melakukan satu kesalahan fatal yang menyebabkan putra saya lahir ke dunia. Saya sudah meminta pertanggung jawaban dari Rio, tetapi pria itu tidak mau." Lirih Mentari.


"Saya membesarkan putra saya seorang diri di negri orang, barulah sekarang saya kembali ke tanah air setelah mendapat kabar tentang Rio." Lanjutnya.


Lalu, tatapannya Mentari jatuh pada Zeva. "Zeva, saya sudah tahu kalau Rio Pasti akan melakukan hal senekat itu untuk mencapai tujuannya. Dia memang kekasih saya, tapi cintanya. Utuh untukmu. Bibirnya selalu berbohong dengan mengatakan jika dia tidak mencintaimu dan hanya ingin menyakiti Aaron. Namun, setiap kami berduaan. Nama kamu tidak pernah absen dari pembicaraan kami."


Zeva menjadi paham siapa Mentari, dia pikir. Rio tak memiliki kekasih, ternyata dirinya salah.


"Terus, apa tujuan kamu datang ke rumah saya?" Tanya Haikal mewakili semuanya.


"Saya ingin meminta pada Aaron, bisakah kamu mencabut tuntutanmu pada Rio?"


Mendengar hal itu, sontak Aaron tak terima.Aku Dia berdiri dan menatap tajam ke arah mentari.


"Tidak bisa! Dia hampir mencelakai istri dan calon bayiku. Aku tidak akan mencabut tuntutannya sampai kapanpun!" Sentak Aaron.


Mentari tertunduk, Zeva merasa iba. Dia ingin pindah duduk di samping Mentari. Namun, Aaron malah memcegahnya.


"Saya di vonis oleh dokter mengidap leukimia,"


Hati Zeva terenyuh, tak terasa air matanya mengalir. Menatap sedih mentari yang sedang mengelus kepala putranya.


"Saya ingin kamu membebaskan Rio, agar Raden ada yang menjaga. Keluarga saya sudah mengusir saya semenjak tahu kalau saya telah hamil di luar nikah. Perbuatan saya salah, tapi Raden tidak. Dia lahir secara suci, bukan haram. Hanya dia keluarga yang saya punya, saya ingin menitipkan dia pada ayahnya hiks ...,"


Tatapan Zeva beralih pada bocah tampan itu, dia jadi ikut sedih. Anak itu masih sangat kecil, bahkan senyumnya sangat polos. Apakah harus sesedih ini hidupnya?


"Mas." Bujuk Zeva.


"Enggak! Leukimia bisa di obati! aku akan merekomendasikan pengobatan terbaik, bahkan aku sendiri yang akan membayar dokternya. Tapi, jangan membujukku untuk melepaskannya!" Sentak Aaron.


Tanpa menunggu balasan, Aaron bergegas pergi. Dia tak peduli jika Mentari memohon padanya.


Zeva beralih duduk di samping Mentari, dia memberi Mentari pelukan. Mereka perempuan, dan harus saling menguatkan. Terlepas, dari kesalahan yang Mentari lakukan.


Mentari menarik rambutnya, ternyata dia memakai sebuah wig. Kepalanya botak, Zeva benar-benar terkejut melihatnya.


"Saya sudah banyak melakukan kemo, tapi tak ada hasil." Lirihnya.


Memang Zeva akui, tubuh Mentari sangat lah kurus. Bahkan, tulang pipinya sangatlah tirus.


"Saya tahu Rio jahat, tapi dia sebenarnya baik. Dia adalah pria yang penuh perhatian, hanya saja dia salah dalam mencintai. Zeva, kamu bisa melihat ketulusan Rio kan? dia hanya salah jalan, hanya dia yang bisa ku percaya untuk menitipkan putraku."


Zeva mengangguk mengerti, semua yang Mentari lakukan adalah untuk putranya.


"Maaf mengganggu waktu kalian, aku ingin pergi menjenguk Rio." Pamit Mentari.


"Biar aku dan suamiku temani, kita akan rundingkan hal ini dengan Reno." Zeva menawarkan diri untuk mengantar.


"Zeva!" Tegur Adinda.


Zeva berbalik menatap Adinda dengan tatapan sendu. "Membantu, tidak ada yang salah kak. AKu hanya ingin mempertemukan anak Mentari dengan ayahnya. Apa itu salah?"


Adinda berdecak sebal, dia masih kesal dengan Mentari yang seenaknya mendatangi rumah mereka.


Aaron kembali, melihat istrinya dan Mentari yang beranjak dari duduk. Dia pun bertanya, "Mau kemana?"


Karena tahu istrinya keras kepala, akhirnya Aaron menurut. Dia yang menyetir mobil menuju tempat dimana Rio di tahan.


.


.


.


Di dalam sel, Rio merenungi kesalahan nya. Dia menjadi pendiam, bahkan dirinya tak banyak bergerak.


Seorang polisi membuka sel tahanan RIo, "Apa yang ingin menemui mu." Ujar polisi tersebut.


Rio mengangguk, dia pikir itu adalah pengacaranya. Namun, sesampainya di ruang pertemuan, Rio tertegun setelah kembali melihat Mentari yang menghilang selama tiga tahun lamanya.


"Mentari." Gumam Rio.


Mentari membisikkan sesuatu pada pytranya, terlihat Raden tersenyum sembari menatap Rio.


"Papa!" Pekik Raden.


Raden berlari dan memeluk kaki Rio, tubuh Rio mendadak membeku. Mentari datang menghampirinya, dan menatap lekat ke arah Raden.


"Mentari, ini ...,"


"Iya, dia anakmu." Jawab Menteri dengan suara bergetar.


Air mata Rio menetes, tangan kekarnya mengusap pipi lembut anaknya.


Zeva menatap keduanya haru, ternyata memang benar. Raden anaknya, kenapa Zeva tak memperhatikan wajah Raden yang sangat mirip dengan Rio.


"Mirip yah mas." Bisik Zeva.


"Ck, tadi siapa yang sampe pingsan dan ngiranya aku punya anak ama yang lain hah?" Sindir Aaron yang langsung mendapat tepukan pelan di bahunya.


"Hehe, maaf." CIcit Zeva.


Rio berjongkok dan memeluk putranya, dia menatap Mentari yang sama-sama terharu.


"Terima kasih, kau menjaganya dengan baik." Lirih Rio.


Mentari mengangguk, sedetik kemudian ... ada hal yang mengejutkan. Dimana Rio merentangkan tangan kanannya pada Mentari, meminta nya untuk bergabung.


Tangisan Menteri pecah, dia memeluk ayah serta anak itu dengan erat. Tak sadar, Zeva memeluk suaminya dengan erat.


"Manis sekali." Cicit Zeva.


Aaron pun ikut tersenyum. Tetapi, sedetik kemudian senyumnya luntur. Dia menatap lantai yang basah, dan air itu berasal dari istrinya.


"Sayang, kamu ngompol?" Tanya Aaron dengan bingung.


"Hah?!" Zeva bergegas melepaskan tangannya dari pelukan Aaron, dia melihat bawah kakinya nya yang masih mengucurkan air.


"Masa aku ngompol sih," ujar Zeva dengan bingung.


Mentari dan Rio, teralihkan pada sepasang suami istri itu. Pelukan mereka terlepas dan bergegas menghampiri Aaron dan Zeva.


"Ada apa?" Tanya Mentari.


"Aku ngompol mbak," ujar Zeva dengan malu.


Mentari menunduk, seketika matanya melebar.


"CEPAT! BAWA KE RUMAH SAKIT! AAR!! BAWA ISTRIMU KE RUMAH SAKIT!!" Pekik Mentari.


"Hah?" Keduanya masih mode linglung dengan situasi.


"Hais, istrimu mau melahirkan b0doh!" Pekik Rio yang kini menggendong Raden.


Barulah Aaron mengerti, wajahnya berubah panik. Ini merupakan kejadian pertama kalinya bagi dirinya. , Sedangkan, Zeva. Mencoba mengatur nafasnya.


"Mas, kayak ada yang mau keluar." Lirih Zeva memegang erat lengan suaminya.


"HAH?! Ya jangan lahiran disini dong sayang, masa anakku lahiran di penjara." Pekik Aaron.


"Tapi ada yang mau keluar mas." Cicit Zeva berusaha mengeluarkan sesuatu.


Aaron penasaran, dia mencoba mengecek dari balik dress Zeva. DIa berjongkok dan masuk ke dalam dress yang istrinya kenakan.


"YAAANG!! KEPALANYA UDAH KELIATAN INI!"


"APA?!"