
BUGH!
Aaron memukul keras wajah Rio, tatapannya menatap marah ke arah lawannya itu. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Ngomong sekali lagi! Akan saya patahkan rahangmu!" Sentak Aaron.
Saat Aaron akan kembali memukul Rio hingga pria itu terjatuh, Fajar segera mencegah Aaron ketika akan kembali memukul nya. Dia takut Aaron malah membuat Rio sekarat.
"Sudah tuan! ini tempat umum, banyak yang menonton!" Peringat Fajar.
Aaron bergegas membenarkan jasnya, netranya menatap tajam Rio yang beranjak dari jatuhnya.
"Istri lo itu cinta sama gue, dia balikan sama lo itu karena anak kalian. Bukan karena cinta,"
Lagi-lagi RIo memancing emosi Aaron, padahal Aaron akan masuk ke mobilnya. Dia jadi mengurungkan niatnya dan balik memukul Aaron.
BUGH!!
"BR3S3K! KUR4NG 4JAR!" Marah Aaron.
Fajar bingung, dia menarik paksa Aaron yang akan kembali memukuli Rio.
"Sudah tuan! sebaiknya kita kembali saja, ngelayanin orang stres gak akan selesai."
FAjar menarik bos nya itu, tak peduli jika Aaron akan marah padanya. Aaron berhasil memasuki mobil, lalu Fajar pun akan menyusul.
"Eh mas, ngerti etika dan adab gak? Masa bisanya merebut bini orang, malu sama umur." Sindir Fajar sebelum dirinya memasuki mobil.
BRUMM!!
Mobil itu melesat pergi, Rio kembali berdiri tegak. Tangannya, mengusap darah yang ada di sudut bibirnya.
DERT!!
DERTT!
Ponselnya berdering, Rio segera mengambilnya dari saku celananya. Kemudian, mengangkatnya.
"Ya, sudah dapat nomornya?"
"Bagus! segera kirimkan padaku!"
Hanya obrolan singkat, setelahnya RIo mematikan sambungan telpon itu. Netranya menatap lurus ke depan, dan menyeringai dalam.
"Sungguh, aku terkejut mengetahui jika kalian memiliki seorang anak. Tapi, hal itu tak akan menghalangi ku untuk kembali mendapatkan Zeva."
Sejak Rio mengetahui Zeva kembali rujuk dengan Aaron, dia langsung mencari informasi tentang Zeva.
"Aku tidak akan berhenti, sampai aku kembali bersama Zeva." Ujar RIo dengan suara lirih.
***
Marsha serta si kembar sedang bermain sore, mereka sudah di peringati untuk tidak bermain keluar rumah. Namun, ketiganya malah mengindahkan peringatan ibu mereka.
"Bawa duit nda?" Tanya Marsha ketika ketiganya berhasil mengelabui penjaga gerbang.
"Nda," ujar Ariel membuat Marsha menghentikan langkahnya.
"Mau jajan nda ada uang, kele banget cih!" Omel Marsha.
"Kamu gak bilang kalau kita mau jajan," ujar Ariel dengan polos.
Wajah Marsha terpampang datar, lalu netranya menatap Azka yang juga tengah menatapnya.
"Bawa uang?" Tanya Marsha.
Azka menggeleng, hal itu membuat Marsha frustasi. Dia memegang kedua ujung rambut nya dan menariknya pelan.
"Kelual itu bawa uang," ujar Marsha dengan kesal.
"Tapi, aku bawa ini." Ariel menunjukkan kartu hitam.
Srett!!
Marsha mengambil karti itu, dia menatap kartu itu dengan kening mengerut.
"Ini kaltu doang, maca beli jajan pake ini. Mana laku?! yang benel aja dong Aliiill!! Ihh!! Kecel kali lacana!" Greget Marsha.
"Gak bisa yah?" Tanya Ariel dengan polosnya.
"Ya nda bica, pakena tuh uang. Dali keltas, kalau ini. Dali kaltu." Sahut Marsha.
"Terus gimana dong?" Tanya Ariel.
Marsha mengetuk-ngetuk keningnya dengan kartu hitam itu, dia sedang memikirkan cara yang akan dia ambil.
"Cudahlah, balik lagi aja. Nda ada ide Malcha na," ujar Marsha dengan pasrah.
"Terus, kartunya?"
"Buanglah! apalagi?! nda bica pake jajan!"
Marsha benar-benar membuang kartu itu ke selokan, Seketika Azka dan Ariel menatap Marsha tak terima.
"Malcha! kok di buang!!" Pekik Azka.
"Nda ada gunana, ngapain di peltahanin? Jadi campah di lumah." Sahut Marsha.
"Itu punya daddy aku! aku ambil dari luang kelja!" Sewot Ariel.
Wajah Marsha berubah terkejut, matanya terbelalak lebar. "Bicanaaa!! Aliil nyuliii?!" Pekik Marsha.
"Aku nda nyuli, cuman ambil nda bilang aja," ujar Ariel membela diri.
Sedangkan Azka, dia hanya menatap interaksi keduanya dengan tatapan datar sekaligus kesal.
Marsha memutar bola matanya malas, dia melipat tangannya di atas dada sembari menatap raut wajah Ariel yang membuatnya kesal.
"Itu nyuli namana! calah cendili napa nyuli. Nda baik tau," ujar Marsha dan berlalu pergi.
"MARSHA! TANGGUNG JAWAB!" Seru Ariel dengan kesal.
"Cuman kaltu doang juga." Gerutu Marsha.
Andaikan Marsha tahu, jika kartu itu bisa membeli jajan beserta pabriknya. Dia tak pernah melihat kartu hitam itu, Zeva bahkan jarang memberinya uang jajan.
Sesampainya di rumah, Marsha dan si kembar sudah di tunggu oleh Zeva dan Adinda. Keduanya menatap tajam ke arah ketiganya.
"Dali lual." Cicit Ariel.
"Azka?" Tatapan Adinda beralih pada Azka.
Azka menghela nafas pelan, dia berjalan menuju tembok dan menjewer telinganya.
"Iya, acka calah. Maaf mommy." Ujar Azka yang sudah mengerti dirinya akan di hukum.
Lalu, tatapan Adinda beralih menatap Ariel. Mengerti tatapan sang mommy, Ariel pun turut menyusul kembarannya.
Marsha melihat si kembar dengan tatapan bingung. Karena anak itu jarang sekali di hukum oleh Zeva.
"Marsha, dari mana?" Tanya Zeva pada putrinya.
"Tanya telus, tadi kan Malcha cama meleka!" Kesal Marsha.
"Kalau gitu, sana! berdiri sama mereka." Titah Zeva.
"Dih! kok ditu cih!!" Pekik Marsha tak terima.
"Mau bunda aduin daddy?" Ancam Zeva.
MArsha merengut kesal, akhirnya dia berjalan menghampiri si kembar dan turut menghadap tembok.
"Eh, kenapa semuanya pada hadap tembok begitu?"
Jacob baru saja pulang dari rumah sakit, dirinya langsung di suguhkan oleh para ibu yang sedang mendidik anaknya.
"Mereka keluar gak bilang," ujar Adinda.
"Ooh, seharusnya sekalian kunciin kamar mandi." Sahut Jacob.
Si kembar langsung melirik sinis ke arah Jacob. Bukannya di tolong, malah di buat kesal.
"Kenapa pulang cepat bang?" Tanya Adinda dengan lembut, beda dengan tadi.
"Kartu hitam abang ketinggalan, abang butuh buat pajak mobil," ujar Jacob.
Mendengar perkataan Jacob, seketika Azka dan Ariel melotot ke arah Marsha. Merasa di perhatian, Marsha menatap keduanya secara bergantian.
"Kan! kan! kamu cih, pake acala buang!" Omel Ariel.
"Kamu juga napain nyuli? calahmu juga," ujar Marsha tak terima.
"Salah kalian beldua, catuna nyuli nda inget doca. Catuna malah buang ceenak jidat!" Kesal Azka.
Jacob, Adinda. serta Zeva mendengar bisikan mereka. Jacob pun melangkah mendekat dan sedikit menundukkan tubuhnya.
"Siapa yang ambil kartu hitam daddy?" Bisik Jacob di telinga Ariel. Mereka bertiga masih sibuk saling menyalahkan tanpa menyadari kehadiran Jacob di dekat mereka.
"Alil, lah tadi kan ...," Ariel baru menyadari kehadiran JAcob yang berdiri di sampingnya. Seketika Ariel meneguk kasar ludahnya. "Daddy." Cicit Ariel.
Jacob kembali menegakkan tubuhnya, dia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya.
"Jadi sekarang, mana kartu daddy?" Ujar Jacob sembari menyodorkan tangan kanannya.
Ariel dan Azka menoleh pada Marsha, yang di tatap malah menatap tajam ke arah mereka.
"Tenapa pada liat cini cih!! janan liat cini!! Mau di colok matana hah?!" Bisik Marsha dengan kesal.
Azka serta ariel mengangkat tangannya, keduanya menunjuk Marsha yang sedang menunduk sembari meremas tangannya.
"Di buangna itu kaltu cama Malcha ke celokan."
"APA?!"
Adinda rasanya ingin pingsan, begitu pun dengan Zeva. Mereka begitu syok dengan pengakuan keduanya.
"KALIAN?!"
"Ada apa ini?"
Semuanya menoleh pada Aaron, melihat daddynya seketika Marsha memekik senang.
"Daddy!!" Pekik Marsha.
Jacob bergegas menghampiri adiknya itu, dia menadahkan tangannya di hadapan Aaron.
Perlakuan Jacob padanya tentu membuat tanda tanya besar bagi Aaron.
"Apa?" Tanya Aaron dengan kening mengerut.
"Mana kartu hitam kamu?! sini!" Titah JAcob.
"Buat apa?" Bingung Aaron.
"Ck! banyak tanya! tinggal kasih aja, susah banget!" Jacob mengambil paksa dompet Aaron yang berada di kantong celananya, dan Aaron kalah cepat dengan kakaknya.
"Ih apaan sih bang! balikin gak!"
Aaron berusaha kembali mendapatkan dompetnya. Tetapi, Jacob terus saja menghindar. Hingga akhirnya, Jacob berhasil mengambil kartu hitam milik Aaron dan kembali menyerahkan dompet itu pada sang pemilik.
"Kok di ambil?! balikin gak bang! biaya hidup Aaron dari sana!! Belum bayar pajak juga!" Sentak Aaron tak terima melihat kartu hitamnya di ambil oleh jacob.
"Anak kamu udah buang kartu hitam abang ke got, sebagai gantinya kartumu abang sita!" Seru Jacob dan beranjak pergi.
Aaron menatap kaget ke arah putrinya yang tertunduk, tangan nya saling meremat satu sama lain.
"Bang! Marsha nya aja yang di sita!! jangan kartu hitam ku! AKU JUGA JADWAL BAYAR!!"
"DADDY!!!" Seru Marsha tak terima.
Marsha benar-benar terkejut dengan respon daddynya, apakah daddy itu lebih mempertahankan kartunya dari pada membantu anaknya.
"Maaf Marsha, Daddy harus pilih kartu itu. Gak ada kartu itu, kamu gak bisa minum susu ...,"
"Daddy ... tega kali, cakit kali lacana. Nda ada halgana diliku, di banding kaltu." Marsha benar-benar tak menyangka jika daddynya lebih memilih kartu miliknya.
.
.
.
Author kasih ke lucu an Marsha dan si kembar, biar pada gak tambah kesel😂