Find Me Daddy

Find Me Daddy
Bangganya Nathan(S2)



Perjalanan pulang, tak henti-hentinya Nathan tersenyum. Membuat Marsha yang berada di sebelahnya bingung dengan ekspresi sang suami.


"Aku takut ngeliat kamu yang senyum terus loh," ujar Marsha.


Nathan yang tadinya menatap jalanan, seketika menatap sekilas sang istri.


"Aku bahagia tau, ternyata cebongnya udah jadi sejak dua bulan yang lalu." Pekik Nathan.


Ternyata Marsha sudah hamil dua bulan, dirinya tidak merasakan apapun. Mual atau mengidam, bahkan dirinya tidak sadar jika sudah telat dua bulan.


"Cebong ... cebong! emangnya anak aku apaan!" Kesal Marsha.


Mobil pun memasuki pekarangan kediaman Alvarendra, dan di saat berhenti. Nathan buru-buru keluar dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Silahkan turun ratuku." Sambut Nathan.


Marsha hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat suami kecilnya yang begitu antusias memanjakannya.


Dengan posesif, Nathan merangkul linggang istrinya memasuki kediaman Alvarendra.


Saat masuk, keduanya berpapasan dengan Mario dan Claudia yang sepertinya sudah akan kembali ke rumah mereka.


"Loh, sudah periksa nya?" Tanya Claudia.


Marsha mengangguk sembari tersenyum, "Sudah kak," ujar Marsha.


Claudia mendekati Marsha dan mengusap bahunya. "Pasti bentar lagi isi kok," ujar Claudia menyemangati Marsha.


Sedangkan Mario, dia menatap Nathan yang menatapnya dengan sinis.


"Kamu kurang mantul kali buatnya." Ledek Mario.


"Enak aja! buktinya, pas pertama. Sekali tembak langsung jadi tuh!" Pekik Nathan tak terima.


Mendengar ada keributan, Sofia dan suaminya pun datang menghampiri mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut." Seru Sofia.


"Dia yang duluan! bilang Nathan kurang mantul buatnya!" Kesal Nathan.


Sofia menghela nafas pelan, "Kamu juga! jangan ngerokok terus! gimana mau jadi kalau pola hidup kamu aja gak sehat!" Tegur Sofia pada putranya itu.


"Mam! istriku ...,"


"Tuh dengerin! berarti lo yang kurang subur!" Seru Mario.


Wajah Nathan tertekuk sebal, dia merangkul istrinya dan mengelus perut sang istri.


"Kakak hamil berapa bayi?" Tanya Nathan pada Claudia.


"Satu lah! yang bener aja kamu!" Pekik Claudia.


"Heh? satu?" Seru Nathan dengan nada meledek.


Tatapan Nathan beralih menatap perut sang istri, dia mengelus perut istrinya hingga membuat semua orang bingung.


"Bayi kalian cuman satu? ck, mana maeeenn. Aku dong! langsung jadi tiga, hebat kan aku!"


"APA?!" Sofia bergegas mendorong Nathan menjauh dari Marsha, dia langsung memegang perut Marsha dengan tatapan berbinar.


"Kamu hamil sayang?!" Seru Sofia, yang mendapat anggukan langsung dari Marsha.


Nathan mengeluarkan foto USG bayinya, dia memamerkannya pada Mario sembari jarinya menunjukkan angka tiga.


"Satu, cemen ... gue dong! tiga! Tigaa ... bukan maeenn!!"


Wajah Mario tertekuk sebal, dia heran mengapa adik iparnya selalu bisa mengalahkannya.


"Sini fotonya!" Sofia merebut foto yang berada di tangan Nathan.


"Beneran tiga Mi?!" Kenan ikut melihat foto USG itu.


"Iya! waahh!! selamat sayang! bentar lagi, mami bakalan punya cucu kembar! ihh gemasnya!!" Pekik Sofia.


Sofia bergegas mengambil ponselnya, dia mencari nomor kontak yang akan dia hubungi.


"Halo? Zeva! Ya, Marsha sudah hamil. Nathan berhasil membuatnya! Dapat tiga cucu kita!"


Sofia menghubungi Zeva sembari berjalan menjauh dari mereka.


Mereka di buat melongo dengan tingkah Sofia tadi, "Mami lagi bahagia aja kok, hahaha." Tawa hambar dari Kenan.


.


.


.


Mengetahui putrinya yang hamil, Aaron dan Zeva bergegas pergi ke rumah besan mereka. Tentu saja, Javier dan Vano ikut bersama mereka.


Saat Aaron asik menyetir mobil, tiba-tiba putra bungsunya berteriak sangat keras hingga membuatnya mengerem mendadak.


CKIIITT!!


Zeva merasakan sakit di keningnya akibat benturan karena rem dadakan yang suaminya buat.


Setelah berhenti, Javier membuka pintu mobil. Vano yang telat mencegah adiknya itu pun bergegas menyusulnya.


Ternyata Javier berlari ke tukang ketoprak yang berada di bahu jalan.


"Abang! ketoplakna!"


Grepp!!


Vano langsung menggendong adiknya hingga membuat Javier terpekik kesal.


"AAAA!!! VIEL MAU KETOPLAK!! MAU KETOPLAK!! ABAANGG!! KETOPLAKNA CATUUU!!!"


"Enggak bang!"


Abang ketoprak pun bingung di buatnya, dia harus membuatnya atau tidak? Kalau di buatkan, siapa yang bayar?


Vano memasukkan kembali Javier ke mobil, anak itu sudah menangis histeris.


"J4HAT KALI LOH! VIEL CUMA MAU KETOPLAKNA DOANG! BUKAN GINJAL ABANGNA! MACA NDA BOLEH! J4HAT KALIII!! HUAAAA!!! HUAAAA!!! HUAAA!!!"


Zeva dan Aaron menutup telinga mereka, siara Javier sangatlah nyaring hingga membuat telinga mereka merasakan sakit.


"Belikan saja lah mas." Pinta Zeva.


"Enggak! biarin aja nangis, memangnya aku gak tahu kalau tadi pagi dia makan ketoprak bareng sama si Raihan! mana Viernya di cicipin kerak telor juga! doyan lagi! kalau keterusan gimana?! makin gendut nanti dia!"


Javier menghentikan tangisnya, dia meraih botol air dan meminum nya. Vano yang melihatnya pun melongo seketika.


"Pulang daddy." Pinta Javier dengan wajah sayu menahan ngantuk.


"Hah? ya enggak bisa! tadi ngapain minta ikut hah?!" Pekik Varo tak terima.


Seketika, Javier mendelik sebal. "Viel mau ketoplak nda di belikan, Viel mau pulang nda boleh. Telus Viel bolehna apa hah?!"


Zeva menepuk keningnya, lalu dia mengisyaratkan agar sang suami menjalankan mobil.


"Vier, nanti kita beli mainan aja gimana?" Usul Zeva.


"Mainan? mana kenang! Viel mauna Ketoplak! mulah! cepuluh lebu, memang daddy na Viel aja yang pelit kali. Beli ketoplak celaca bepi lestolan." Gerutu Vier.


"Bunda, ganti daddy! Nda celu daddy Aalon. Pelit kali! Katana, olang pelit kubulanna cempit. Olang cabal lejekina banak, daddy celet lejekina."


"KAMU ...." Ingin rasanya Aaron mengunyel wajah anaknya itu sekarang.


Selang beberapa saat, akhirnya sampailah Aaron di kediaman Alvarendra. Mereka sudah di sambut oleh Kenan dan Sofia.


"Akhirnya sampai juga, ayo masuk Zev." Sofia bergegas mengajak Zeva masuk.


Zeva dan Aaron duduk di ruang tengah, di susul oleh Varo dan Javier.


"Eum ... caatna belakci." Batin Javier ketika melihat Sofia.


Javier turun dari kursinya, dia berjalan mendekati Sofia dan menyenggol kakinya.


"Onty." Panggil Javier.


"Eh, si gemoy." Sofia meraih tubuh Javier dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Apa kabar sayangnya aunty, ih makin ganteng yah." Gemas Sofia.


Javier tersenyum malu-malu, membuat Sofia gemas melihatnya. Tapi tidak dengan Zeva, suami dan anak keduanya. Mereka sudah tahu tingkah centil Javier dan apa tujuannya.


"Onty, Viel lapal." Cicit Javier.


"Hah?" Seketika Sofia menatap Zeva, seakan dirinya menuduh Zeva yang tak memberi makan anaknya.


"Bu-bukan mbak! Aku sudah kasih dia makan sebelum berangkat, memang dasarnya lambungnya gentong yah jadi gak kenyang-kenyang!" Pekik Zeva.


Mendengar itu, Javier menjadi kesal.


"VIEL NDA GENTONG YAH!! POLCINA MEMANG BANAK! ITU ANUGLAH TAU NDA! HIKS ... TEGA KALI HIKS ... CAKIT HATINA VIEL."


Aaron memutar bola matanya malas, pintar sekali putranya memanfaatkan keadaan.


"Uhh cup ... cup jangan nangis sayang. Aunty punya salad, makan salad yah." Bujuk Sofia.


Javier menghentikan tangisnya, dia bergegas turun dari pangkuan sofia. Wajahnya kembali kesal.


"Nda jadi deh, buah telus. Bocan kali Viel, nda modal kali. Lumahna gede adana buah,"


Jangan di tanyakan lagi bagaimana ekspresi mereka, sudah pasti melongo melihat tingkah ajaib Javier.


___


Hari ini satu dulu yah kawan, kebetulan authornya lagi kurang fit🤧🤧 Besok baru triple yah🤗