Find Me Daddy

Find Me Daddy
Usaha ngadon kita berhasil!



Zeva tak sampai di rawat, karena dokter berkata jika kondisi Zeva tidaklah serius. Hanya butuh istirahat beberapa jam ke depan.


"Aaron." Panggil Andre.


Aaron yang akan masuk menui istrinya pun tertunda, dia menatap Marsha yang masih berada di gendongannya.


"Marsha temuin bunda dulu yah, daddy mau bicara sama mereka." Pinta Aaron.


Marsha menurut, dia turun dari gendongan Aaron dan berjalan masuk ke ruang UGD.


"Jadi dia putri dan istri kamu?" Tanta ANdre dengan tatapan datar.


Aaron pun menatap tajam Andre. "Apa anda yang sudah membuat istri saya celaka? bahkan nyaris membahayakan kandungannya?"


Andre sudah tahu jika dia akan menjadi tersangka utama, maka dari itu dia memanggil Aaron karena ingin meminta maaf.


"Rasanya tidak adil jika kamu memiliki istri sebaik dia dan putri semenggemaskan itu," ujar Andre dengan kesal.


Aaron berdecak sebal, dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Lalu menatap Andre dengan angkuh.


"Kenapa? apakah anda berharap rumah tangga saya berantakan?" Sindir Aaron.


Andre menggeleng, "Saya menjadi kasihan dengan putrimu, mengapa dia harus memiliki ayah Seperti mu. Rasanya Tidak adil," ujar Andre.


"Dari pada anda menyayangkan kebahagiaan saya, lebih baik anda jelaskan. Mengapa istri saya bisa pingsan?" Tekan Aaron.


Rena memegang lengan suaminya, dia khawatir Andre dan Aaron akan bertengkar. Karena kedua pria itu tampaknya masih menyimpan dendam.


"Istri mu telah menolongku, izinkan aku menemuinya untuk mengucapkan terima kasih," ujar Andre.


Aaron mengangguk mengerti, walau tak sepenuhnya Andre ceritakan. Tapi secara garis besar, istrinya telah menyelamatkan nyawa pria setengah baya itu.


"Baiklah, anda boleh menemui istriku. Jangan lama, aku akan membawanya pulang." Ujar Aaron memberikan izin pada Andre.


Andre dan Rena masuk menemui Zeva, di lihatnya wanita itu sudah sadar dan tengah mengajak Marsha mengobrol.


"Sayang, mereka ingin mengucapkan terima kasih padamu," ujar Aaron dengan lembut.


Rena menatap lekat ke arah Zeva, dia memegang tangan Zeva yang berada di atas perutnya.


"Nak, saya pria yang kamu tolong tadi. Terima kasih karena kamu sampai mau mengorbankan dirimu untuk menolong saya," ujar Andre dengan pelan.


Zeva mengangguk, dia pun beranjak duduk. Rena inisiatif langsung membantu Zeva duduk.


"Saya tadi hanya reflek tuan, melihat mobil yang melaju sangat kencang ke arah anda. Oh iya, apakah supir yang mengendarai mobil itu sudah di mintai keterangan?" Tanya Zeva dengan tersenyum lembut di bibir pucatnya.


"Ya, ternyata dia adalah suruhan musuh bisnis saya yang memang sengaja mencelakai saya. Maaf, jika kamu mungkin akan terseret media nantinya," ujar Andre.


Aaron tahu seberapa besar bisnis Andre, bahkan melebihi bisnis yang keluarga Smith punya. Perjodohannya dengan Sofia merupakan kesempatan besar bagi perusahaan Smith. Maka dari itu, Haikal dan Laras mendorongnya untuk menikahi Sofia sebelum mengetahui tentang Zeva.


"Tuan harus hati-hati," ujar Zeva memberi peringatan.


"Nak, kalau gak ada kamu. Mungkin suami saya tidak akan selamat, terima kasih banyak." Ujar Reno dengan tatapan berkaca-kaca.


Zeva mengangguk, "Saya hanya sebagai perantara saja nyonya." Jujur saja, Rena merasa Zeva adalah wanita yang baik. Sangat jauh di luar ekspektasinya.


"Pembayaran adminitrasi sudah saya tanggung, karema kebetulan ini rumah sakit milik keluarga saya," ujar Andre.


Mendengarnya, Aaron memutar bola matanya malas. "Sombong sekali." Batin Aaron.


"Oh ya, dan ini Putri sa. .. loh pi! Sofia mana?" Rena baru menyadari jika putrinya sudah tidak ada di situ.


Andre pun merasa jika putrinya tidak baik-baik saja, dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi putrinya


"Halo pi,"


"Halo sayang, kamu dimana?" Tanya Andre.


"AKu lagi bersama teman lamaku di kafe depan rumah sakit pi," ujar Sofia.


"Teman lama?" Heran Andre, karena setahunya, semasa Sofia sekolah. Putrinya jarang sekali memiliki teman, bahkan hampir tidak karena putrinya merupakan sosok gadis yang sangat pendiam.


Andre buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam jas nya, lalu dia menatap Zeva karena ingin pamit pulang.


"Maafkan kami, kami harus pulang. Kedepannya, kami akan mengunjungimu." Pamit Andre.


"Baiklah, terima kasih sudah menyempatkan waktu menjengukku." Lirih Zeva.


Rena memeluk singkat Zeva, dia mengusap bahu Zeva dengan lembut. Sedangkan Andre, dia sedikit menunduk karena ingin menatap Marsha.


"Marsha, kakek pulang dulu yah." Pamit Andre sembari mengusap pipi gembul Marsha dengan jari telunjuknya.


"Kakek?" Batij Aaron, bahkan matanya sampai melotot tak terima.


"Heum, hati-hati kakek." Balas Marsha.


Andre tersenyum, saat dia ingin menc1um pipi bulat Marsha. Tangan Aaron menjauhkan pipi putrinya itu, tidak rela sang putri di cium oleh pria lain walaupun sudah tua.


"Pipi putriku tidak gratis tuan," ujar Aaron dengan tatapan datar.


Andre menegakkan tubuhnya sembari memutar bola matanya malas, "Terlambat kamu, saya sudah berhasil mencuri k3cupan di pipi putrimu,"


Perkataan Andre sontak membuat Aaron seketika membulatkan matanya, dia tak terima pipi putrinya di nikmati oleh orang lain.


"Kau ...,"


"Ayo mi kita pulang!" Andre bergegas menarik istrinya pergi, meninggalkan Aaron yang menatap kepergian mereka dengan kesal.


"Sudah mas, lagian Marsha nya gak marah." Cegah Zeva ketika suaminya akan menyusul Andre.


Aaron tambah merengut, dia meraih Marsha dalam gendongannya dan mengusap pipi Marsha hingga memerah.


"Ekheee!! nda cuka!! NDA CUKAA!! pipi Malcha cakit lo!! DACAAL!!" MArsha mulai merasakan perih di pipinya, dia tak suka Aron mengusap pipinya dengan tekanan.


"Mas, kasihan Marsha nya loh," ujar Zeva.


Aaron pun menghentikan usapannya, dia menatap pipi Marsha yang memang memerah. Dia jadi merasa bersalah pada putrinya, tapi dia kesal dengan Andre yang menc1um pipi putrinya dengan mudah.


"Marsha, dengarkan daddy. Pipi ini punya daddy dan bunda, orang lain gak boleh pegang. Apalagi c1um, gak boleh! ngerti!"


"Aa Lai? nda boleh duga?" Tanya Marsha.


"ENggak! semuanya selain daddy dan bunda, Gak bo-leh!" Tekan Aaron.


"Sudah lah mas, ayo pulang. Aku mau istirahat di rumah." Ajak Zeva yang sudah merasa jengah dengan sikap kekanakan suaminya.


Aaron baru ingat perkataan dokter tadi, dia kembali menurunkan Marsha dan kemudian mengambil kursi roda yang berada di sudut ruangan.


"Mau apa kamu dengan kursi roda itu nas?" Tanya zeva dengan kening mengerut.


Aaron menulikan pendengarannya, dia malah mengangkat Zeva dan mendudukkannya pada kursi roda.


"Mas, kenapa pakai kursi roda? aku bisa jalan sendiri." Bingung Zeva.


"Kita akan periksa kandungan kamu," ujar Aaron sembari menggendong Marsha kembali, kalau tidak. Dia khawatir putrinya akan hilang.


Zeva masih loading, dia belum sadar dengan perkataan Aaron. Melihat raut wajah bingung istrinya, dia pun bertanya.


"Memangnya dokter belum memberi tahumu?" Aaron pun ikut-ikutan bingung.


"Belum, memangnya aku kenapa?" Tanya Zeva, aoa terjadi sesuatu pada rahimku?" Zeva benar-benar khawatir, dia takut kejadian yang menimpanya tadi berdampak pada rahimnya. Karena dia merasakan benturan yang teramat keras pada pinggangnya.


Aaron mengulas senyum, dia merunduk dan mengambil kecupan dari pipi sang istri.


"Usaha ngadon kita berhasil sayang," perkataan Aaron berhasil membuat jantung Zeva berdebar kencang. Tangannya terangkat mengusap perutnya yang masih datar.


Aaron pun juga meletakkan tangannya di atas tangan sang istri, hingga mereka bisa memberi kehangatan bagi calon anak mereka yang masih


"Aku hamil?"