Find Me Daddy

Find Me Daddy
Kehebohan Javier VS tikus(S2)



Azka menatap langit malam di taman, dia melihat bintang-bintang yang bertebaran.


"Woy! bengong aja,"


Ariel mengagetkan Azka, membuat sang kembaran menatapnya kesal.


"Galau amat, napa? bosen jomblo yah?" Ledek Ariel.


Azka hanya diam, dia tetap menikmati langit. Sampai beberapa menit Kedepan, Barulah Azka buka siara.


"Menurut lo, gue sayang sama Marsha sebagai abang atau pria yang saya pada wanitanya?" Tanya Azka.


"Maksud nya ... lo suka sama Marsha? lo cinta sama dia?!" Pekik Ariel.


Azka menghela nafas pelan, "Wajar gak sih, kalau gue suka sama Marsha?"


Ariel menghela nafas pelan, dia menaikkan satu kakinya dan memeluknya.


"Enggak,"


Perkataan Ariel, membuat Azka menoleh menatapnya dengan kening mengerut.


"Kita kan udah pernah janji sama diri kita sendiri, kita gak boleh suka apalagi cinta sama Marsha. Marsha itu sudah seperti adik sendiri bagi kita. Kalau lo merasa lo suka sama Marsha, sebagai pria pada wanitanya. Lo keliru. Karena di hati lo, masih ada nama Azura."


Ariel menatap Azka yang tak lagi menatapnya, dia menepuk bahu kembarannya itu.


"Azura ... gue gak yakin dia masih ingat tentang janjinya." Ujar Azka sembari tertawa gamang.


"Gue yakin, Azura pasti kembali. Rasa marah lo ke Nathan tadi, adalah rasa marah seorang abang. Lo kecewa, lo marah, karena merasa ... Nathan merusak masa depan adik lo. Itu adalah suatu hal yang wajar." Jelas Ariel, membuat Azka tak lagi membuka suara.


.


.


Cahaya matahari membuat tidur MArsha terusik, perlahan dia membuka matanya.


"Sudah bangun?"


Marsha tersentak kaget, dia bergegas duduk menghiraukan rasa pusing menyerang kepalanya.


"Azka." Lirih Marsha.


Azka datang dengan membawa sarapan, dia duduk di tepi ranjang dan menatap Marsha dengan tatapan lembut. Tak seperti malam tadi.


"Maaf soal semalam." Lirih Azka, dengan penuh penyesalan.


Marsha mengangguk, "Kamu gak sengaja," ujar Marsha sembari tersenyum.


"Aku bawakan sarapan, makanlah." Azka menyodorkan nampan itu di pangkuan Marsha.


Marsha menatap makanan yang Azka berikan, nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaannya. Yang pastinya, di buat oleh Azka.


Dengan lahap, Marsha mulai menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya. Sesuap, dua suap. Marsha asik memakan nasi gorengnya.


"Marsha, abang boleh tanya sesuatu?" Tanya Azka.


"Hm?" MArsha menatap Azka sembari mengunyah nasi gorengnya.


"Em ... apa bocah ingusan itu, memperlakukanmu dengan baik?"


Marsha menelan nasi gorengnya, kening mengerut bingung. Lantaran tak mengerti dengan bocah yang di maksud Azka.


"Siapa? Javier?"


"Ck, suamimu." Rasanya sangat kesal menyebut Nathan sebagai suami Marsha, tapi dia lupa nama suami sepupunya itu.


"Oohh Nathan, yah. .. dia sangat baik dan memperlakukanku dengan lembut. Seharusnya, abang tak memukulnya. Dia pria yang baik, bahkan dia mau bertanggung jawab. Padahal, ini kesalahanku karena aku yang memaksanya. Bahkan, saat aku ingin menggugurkannya. Nathan mencegahnya,"


Mendengar cerita antusias dari Marsha, membuat Azka merasa sedikit lega. Setidaknya, Marsha di perlakukan dengan baik. Itu sudah cukup untuknya.


"Dia sangat perduli pada bayinya," ujar Nathan


"Ya, dia sangat sayang pada janin ini,"


"Padamu? apakah dia mengkhawatirkanmu juga?"


Sontak, Marsha menghentikan kunyahannya. Dia menatap Azka dengan pandangan yang sulit di baca.


"Nathan juga selalu peduli padaku, bukan hanya bayinya saja," ujar Marsha dengan tersenyum gamang.


"Marsha, bagaimana jika Nathan hanya menginginkan bayinya saja? dia tak bilang sayang padamu bukan?"


Marsha terdiam, dia mengingat tentang kebaikan Nathan padanya. Memang, kebanyakan perkataan Nathan adalah bayinya, bayinya, dan bayinya. Namun, Nathan juga kerap kali mengkhawatirkan dirinya.


"Bang, kalau di tanya sayang atau tidak ... aku tidak bisa memastikan itu. Tapi yang bisa aku pastikan, Nathan memiliki rasa tanggung jawab sebagai seorang pria. Walau umurnya lebih muda dariku, tapi pikirannya lebih dewasa. Mungkin, ini yang di namakan jodoh. Tidak memandang umur." Jelas Marsha.


Azka bukan ingin menghasut Marsha. Dia hanya ingin tahu, bagaimana pandangan adiknya itu tentang Nathan.


"Jika Marsha tetap berpikiran positif seperti ini, itu artinya ... Nathan memang baik padanya. Semoga saja, bocah itu tak menyakitinya." Batin Azka.


"Apa kakek dan nenek sudah tahu?" Tanya Marsha dengan ragu.


Azka menggeleng, "Om memintaku untuk merahasiakannya sementara, sampai suamimu lulus ujian kelulusan."


Marsha mengangguk pelan, keputusan itu berdasarkan keinginan sang daddy.


"Daddy mu akan mengatakannya di saat yang tepat, dan untuk jujur masalah ini pada keluarga tidaklah mudah. Apalagi, suamimu masih anak SMA. Om takut kamu jadi pembicaraan orang, lebih baik sekalian mengumumkan ketika resepsi berlangsung. Dengan alasan, pernikahan kalian di adakan secara tertutup dan baru menyempatkan membuat resepsi." Terang Azka.


Marsha mengangguk dengan senyum mengembang, sebulan tidak lama. Perutnya juga hanya bertambah sedikit buncit. Tidak jadi masalah.


Azka tersenyum tipis, "Bohong jika abang berkata iya, jujur saja ... abang masih ragu dengannya. Abang merasa, dia mempertahankan pernikahan ini. Dengan maksud dan tujuan tertentu. Selain bayi itu,"


Bukan Marsha tak ingin mempercayai Azka, awalnya pun dia berpikir seperti itu. Namun, perlakuan lembut Nathan. Membuat pikiran negatif tentang Nathan, hilang begitu saja.


.


.


.


"BUNDAAA!! UUDAAA!!"


Terlihat, Javier tengah duduk di closet. Dia baru saja buang air kecil, dan tengah menunggu sang bunda membersihkannya.


"BUNDAAAAA!!!"


"Mana cih bunda, ampe keling ail na." Kesal Javier.


Karena lelah menunggu Zeva, Javier mengambil selang. Dia membersihkan mandiri dirinya, walaupun bajunya harus ikutan basah.


"Nanti malah kalna bajuna bacah, bialin aja. Dali tadi panggil bunda ... bunda ... ampe keling ail klocetna. Nda dateng dateng, capek kali viel." Gerutu Javier.


Javier memakai celananya kembali, saat akan berlalu pergi. Dia tak sengaja melihat hewan sebesar anak kucing di pojok kamar mandi.


"Hiii tikus." Javier langsung merinding, dia bergegas keluar kamar mandi dan menutup pintunya.


"Meong."


Mata Javier berbinar saat melihat kucing British blue milik sang kakak. Bergegas dia menggendongnya dan memasukkannya ke kamar mandi.


"Ayo, tangkap tikucna!" Seru Javier.


kucing itu tampak mencari-cari, Javier pun membantunya untuk menemukan tikus itu.


"Noh!" Javier mendorong kucing itu menggunakan kakinya setelah melihat tikus yang ada di pojok kamar mandi.


"MEONG!"


Bukannya menangkap, kucing itu malah berlari ketakutan. Saat akan keluar, ternyata pintu sudah ditutup tadi oleh Javier.


"TANGKAP!" Teriak Javier.


BRUGH!!


"EKHEE!! EKHEE!!" Javier panik saat melihat kucing dan tikus itu terlihat panik.


Saat Javier akan keluar, pintu susah di buka. Javier pun beralih menaiki kloset. Beruntung, kloset itu memang di peruntukan untuk balita.


Sehingga mudah baginya untuk naik.


"Hus! hus! tangkap! janan lali!"


Kucing itu malah mendorong tikus tersebut kearah kloset. Membuat Javier histeris.


"TANGKAP! B0DO KALI KAU JADI KUCING! HIKS ... TANGKAP B0DO!"


"BUNDAA!!! HIKS ... HIKS ... BUNDAAA!!!"


"Ekheee!!" Javier kembali panik saat tikus tersebut berusaha menaiki kloset.


"Hus! janan kecini! janan dekat-dekat! takut kali Viel." Pekik JAvier.


Javier mencari kucing milik kakaknya, netranya menangkap kucing yang berusaha membuka pintu dengan cara mencakarnya.


"Nda ada gunana kau jadi kucing! cemplul dacall! Tau gini, pake halimau Viel, pake kucing nda guna. hiks ... mana lagi cemua olang. Campe celak cualaku nda ada yang datang." Gerutu Javier.


Tatapan Javier beralih pada tikus yang malah terdiam di bawah kloset.


"Kau juga! hitam kali badanmu, nda pelnah mandi yah! jolok kali! mana mamakmu, culuh dia mandikan!" Omel Javier dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Bicana nyacal ke lumah Viel, panggil mamakmu!! Culuh jemput!" Pekik Vier dengan kesal.


"Mana lagi mamak na, nyacal ke lumah olang nda di cali." Gerutunya.


"Kecal kali lacana."


Cklek!


"Eh, Vier. Udah buang air nya?"


Melihat kedatangan Zeva, membuat tangis Javier pecah.


"Kemana ciihh!! tadi panggil-panggil. Bunda cudaahh!! bunda cudahh!! nda datang-datang! ampe keling ailna, untung nda belaaakk Viel. Bica keling belakna."


Zeva terkekeh, dia akan mendekati Javier. Namun, melihat ada tikus di bawah kloset membuat Zeva urung dan berlari keluar.


"BUNDAA!! NAPA TINDAL LAGI HIKS ... VIELNA KETINDALAAANN!!"


"BUNDA PANGGIL DADDY DULU, TIKUSNYA GEDE BANGET! DIEM SITU!"


"Hiks ... malang kali nacibku." Isak Javier.


___


Ayo kasih like dan komennya, mana tadi yang minta Javier muncul 🤭🤭