Find Me Daddy

Find Me Daddy
Malcha geli



Zeva menghampiri suaminya yang sedang bersandar di kepala ranjang, sembari membawa Varo di gendongannya.


"Gimana mas? Rio sudah bertemu sama anaknya?" Tanya Zeva beralih duduk di tepi ranjang, tepat di samping sang suami.


Aaron mengangguk, dia menyimpan ponselnya. Lalu, menatap putranya yang ternyata sedang terjaga.


"Tumben anak daddy gak tidur hm? mau ngobrol sama daddy?"


Varo menanggapi ucapan Aaron dengan membulatkan bibirnya sembari bergerak-gerak di gendongan sang bunda.


"Terus gimana mas?" Tanya zeva penasaran.


"Ya gitu," ujar Aaron dan kembali bermain dengan putranya.


Zeva yang kesal pun mencubit keras tangan Aaron hingga pria itu memekik kesakitan.


"Aww!! sakit!" Pekik Aaron.


Melihat Aaron yang kesakitan, bukannya kasihan justru Varo tertawa hingga menampilkan gusinya.


"Dih, seneng yah daddynya di cubit bunda?" Gemes Aaron.


"Mas! jawab dulu! Terus gimana?" Desak Zeva.


Aaron menegakkan tubuhnya, dia menatap Zeva dengan tatapan kesal.


"Iya, dia sudah menemui Mentari dan putranya. Aku sudah menyarankan bantuan, katanya dia masih memiliki aset. Udah?"


Zeva tersenyum tenang, dia tak lagi memikirkan bagaimana nasib Mentari dan Raden.


"Sudah, sini Varo sama daddy." Aaron mengambil Varo dari Zeva, dan beranjak membawanya keluar kamar.


Marsha dan si kembar sedang bermain di ruang keluarga. Sedari tadi ketiganya fokus memainkan puzzle.


"Bukan di citu, di cini ni!!" Pekik Marsha.


"Iiihh ngeyel kali loh! di ciniii!! belbuca kali mulutku." Gerutu Marsha dengan nafas tersengal.


"Cabal!! pantecan bibilmu maju teluc, celewet kali." Gerutu Ariel.


"Apa?!" Pekik Marsha sembari menyimpan tangannya di pinggang.


"Hei, ada apa ini? kenapa ribut-ribu?"


Aaron datang menghampiri mereka dengan membawa Varo, dia lalu duduk di samping putrinya yang sedang menatap Ariel dengan kesal.


"Sudah, Marsha. Coba kamu pangku adiknya," ujar Aaron.


Marsha mengeritkan keningnya, ketika Aaron memindahkan bayi itu ke pangkuan MArsha. Aaron ingin mengambil foto kedua anaknya dan ia simpan sebagai wallpaper ponselnya.


"Jangan di lepas kepalanya yah, pegang yang benar." Titah Aaron.


Marsha menatap adiknya yang masih di bedong itu, Aaron pun bersiap akan memfotonya.


"Marsha, hadap sini nak." Pinta Aaron.


Marsha mengangkat wajahnya, menatap kamera ponsel sang daddy.


Saat anak itu akan tersenyum, dia merasakan adiknya bergerak. Kepalanya menjadi tertunduk, menatap sang adik yang tengah menguletkan badannya.


"HIIII!!" Marsha mendorong adiknya hingga telungkup di atas karpet. Beruntung karpet itu tebal.


"ASTAGA! VARO!"


Buru-buru Aaron mengambil putranya, wajah Varo memerah bersiap akan menangis.


"Kok adeknya di dorong?" Marsha malah bergidik geli.


"Adekna ngulet ngulet, Malcha geli." Cicit Marsha.


Aaron menghela nafas pelan, Varo adalah adiknya. Padahal bayi itu hanya diam, memang ajaib putrinya.


"Dulu kamu juga begitu kata mommy," ujar Ariel.


"Nda ya!" Lekik Marsha.


"Kamu pas lahil begitu, maca blojol na dah becal. Kebelatan nanti di pelutna, apalagi kamu ngeleok telus." Ketus Ariel.


Azka hanya diam bermain puzzle kembali z tak membuat peduli kejadian di sekitarnya.


Aaron kembali membawa Varo masuk ke dalam kamar, menghampiri istrinya yang sedang bermain ponsel.


"Eh, cepat banget di balikinnya?"


"Tadi aku sempet minta MArsha pangku sebentar. AKu mau foto, biar bisa di pasang buat wallpaper. Eh, adiknya malah di dorong. Dengan santainya, dia ngomong geli pas Varo gerak."


Zeva tersenyum, dia mengambil putranya dari gendongan sang suami. Menatap bibir putranya yang menguap, sepertinya mengantuk.


"Mungkin karena di bedong, terus gerak. Jadinya, Marsha merasa geli. Nanti kalau Varo udah bisa merangkak, jadi kesayangan kakaknya yah." Terang Zeva.


"Pas bayi, apa dia anteng kayak Varo?" Tanya Aaron pertama kalinya dia menanyakan tentang Marsha saat bayi.


"Pagi, siang, malam nangis terus. Pas bayi, dia sering sakit, jadi aku agak takut pas dia gak rewel. Pas dia baru bisa jalan, saat aku meleng sedikit. Dia sudah tidak ada di dekatku, pokoknya .... ada saja ulahnya." Jelas Zeva.


Aaron memeluk pinggang istrinya dengan posisi dia kini, sudah duduk di samping sang istri. Dagunya ia letakkan di bahu Zeva dengan menatap Varo yang sibuk menyusu.


"Pasti saat Marsha lahir, kamu sangat kesulitan. Maaf yah," ujar Aaron dengan nada lirih.


Zeva tersenyum, tangan kirinya mengusap rajang tegas suaminya dengan lembut.


"Justru, lahirnya dia sebagai hadiah untukku. Kamu tahu kan mas, kalau aku sudah tidak memiliki keluarga? Hanya anakku lah saat itu yang menjadi keluargaku."


Aaron mengecup pipi istrinya, "Kamu hebat," ujar Aaron.


Perkataan Aaron membuat Zeva tersenyum. Dia ingat, bagaimana dulu dirinya kesulitan mengasuh Marsha.


"Setelah Marsha lahir, aku sempat terkena baby blues. Setiap Marsha menangis, aku ikut menangis. Aku merasa gak becus jadi seorang ibu, aku lelah. Tapi untungnya, Ayla dan Bi Sri yang membantu ku merawat Marsha. Mereka bergantian menjaga Marsha saat di malam hari, agar aku bisa tidur,"


"Mereka sangat baik, aku sudah membangun rumah Bi Sri agar lebih bagus. Dan juga, aku sudah membangunkannya sebuah warung di rumahnya, agar dia tidak merasa bosan. Ayla juga sudah masuk ke universitas terbaik,"


Zeva tersenyum, dia mengecup singkat pipi suaminya. "Terima kasih," ujar Zeva.


Aaron tak lepas tangan pada orang yang telah membantu istrinya. Bi Sri, maupun Ayla. Di berikan fasilitas terbaik olehnya. Bahkan, setiap bulan. Aaron memberikan uang pada Bi Sri agar Ayla fokus belajar dan tak perlu memikirkan biaya hidup sang ibu.


"Nyusunya lama banget sih." Sindir Aaron pada putranya.


Secara tak sengaja, Varo menatap Aaron dengan menyipitkan matanya. Seakan meledek sang ayah.


"Ngeledek daddy yah kamu hm." Aaron mengecup pipi putranya yang sedang menyusu. Tak sampai situ, Aaron juga mencuri kecupan pada nutrisi sang putra.


"MAS!!" Pekik Zeva tak terima.


"Kan punyaku juga yang." Ujar Aaron dengan polosnya.


.


.


.


Marsha dan Ariel mengendap-ngendap keluar, mereka melihat satpam yang berjaga pagar sedang masuk ke dalam pos penjaga.


"Itu kebuka cedikit, muat kita itu." Bisik Marsha.


"Ayo! bukuan! kebulu abang batagolna pelgi!" Marsha menarik baju Ariel. Keduanya memasuki celah kecil pagar yang sedikit terbuka.


Keduanya berhasil lolos, dan berlari menjauh. Netra keduanya melihat gerobak batagor, mereka pun menghampirinya.


"Abang, beli batagolna. Lima lebu dua, ni uangna," Marsha memberikan uang dua ribuan dua. Agar dia di buatkan dua.


Tukang batagor itu menerimanya dan membuatkan untuk keduanya.


"Nih dek."


Netra Ariel dan Marsha berbinar, mereka mendekatkan apa yang mereka inginkan.


"Ayo pulang Alil." Ajak MArsha.


Saat asik menyantap batagor sambil berjalan, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di samping mereka.


"Dek! dek!"


Marsha dan Ariel berbalik, menatap seorang pria berjaket hitam dan memakai masker.


"Kenapa?" Tanya MArsha.


"Abang temannya ibu kamu, katanya suruh antar kamu ke tempat bermain. Ayok, keburu terlambat." Pria itu memegang tangan Marsha, tetapi Marsha dengan cepat menepisnya.


"Temen ciapa? bunda Malcha nda punya temen." Jawab Marsha dengan santai sembari memakan batagornya.


Teman pria tadi, turun dari mobil dan membawa Ariel masuk. Sontak Aril berteriak.


"LAMA LU!! BURUAN BAWA! KEBURU ADA ORANG!"


"TOLOONGG!! MARSHAA!!"


"Eh, Alil! om, macukin Malcha juga. Kacian Alil cendilian."


Orang yang akan menculik Marsha pun mendadak terdiam dengan raut wajah bingung.


"Kok bengong cih! angkat cepet! nanti Alilna kebulu nanis!" Pekik Marsha.


Orang itu pun menggaruk kepalanya, lalu dia mengangkat Marsha dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Janan nanis, Malcha juga ikut di culik kok. Nanti di tebusna baleng-baleng yah." Ujar Marsha sembari menepuk kepala Ariel.


Kedua penculik itu saling tatap, baru kali ini mereka mendapatkan anak seperti Marsha.


____


Wah siapa yang menang nih? Marsha, atau penculiknya😂