
Nathan kembali ke kamar, saat membuka pintu. Dia melihat istrinya yang ketiduran sembari menyusui Aizha. Sepertinya Nayara sudah kembali ke dalam box nya, tersisa Aizha saja yang masih menyedot asinya.
Perlahan, Natah kembali menutup pintu. Dia melangkah mendekati Marsha yang tertidur miring dengan Aizha di hadapannya.
Melihat Aizha yang sudah tertidur, yapi mulutnya masih menyedot membuat Nathan ragu ingin mengangkatnya. Jadilah Nathan menunggu Aizha melepaskan sendiri sedotannya dan barulah ia pindahkan putrinya kembali ke dalam box nya.
"Capek banget yah." Lirih Nathan, menatap wajah lelah sang istri.
"Maaf yah, aku gak peka. Aku juga bingung, aku juga capek bekerja. Aku pengennya sewa baby sitter biar bantu kamu, tapi aku lupa memberi kamu pengertian." Lirih Nathan, mengamati wajah damai Marsha.
Selang beberapa menit, Aizha melepas nutrisinya. Bergegas, Nathan memindahkan putrinya ke dalam box nya.
"Bobo yang nyenyak para princess papa." Nathan mencium kening ketiga bayinya yang tertidur dengan lelap.
Setelahnya, Nathan kembali pada Marsha. Dia memasukkan aset istrinya dengan perlahan agar Marsha tak bangun.
"Untung aja, inget masih puasa." Gumam Nathan.
Nathan ikut merebahkan tubuhnya di belakang Marsha, dia menarik selimut dan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Tidur yang nyenyak sayang, besok aku libur bekerja. Biar aku yang menjaga si kembar seharian," ujar Nathan dan menyusul istrinya ke alam mimpi.
.
.
.
Pagi jari, Marsha terbangun. Dia mendudukkan dirinya dna menatap sekeliling kamarnya. Gorden sudah terbuka, cahaya matahari sudah masuk dengan terik.
"Astaga! aku kesiangan!" Pekik Marsha.
Marsha bergegas turun dari tempat tidur, dia mendekati box ketiga bayinya dengan perasaan cemas.
"Loh, kemana mereka?!" Marsha panik saat tidak mendapati triple berada di dalam box mereka.
Tanpa pikir panjang, Marsha segera keluar kamar. Raut wajahnya terkejut dan panik, dia bahkan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Eh eh, pelan-pelan Marsha!" Tegur Sofia melihat menantunya yang menuruni tangga dengan cepat.
"Anak-anak ku mana mi? Dia gak ada di kamarnya, anakku hilang." Tanya Marsha dengan suara bergetar.
Sofia mengerutkan keningnya, dia pikir cucunya masih tidur seperti biasanya. "Loh, di kamar enggak ada?" Bingung Sofia.
"Iya! Jangan-jangan anakku di culik mi, gi-gimana ini."
"Hussh!! gimana cara nyuliknya? Jangan panik dulu, sudah. Kamu tenang, duduk dulu. Biar mami panggilkan ayah mertuamu dulu. Dia sedang ada di taman samping."
Marsha mengangguk, dia mencoba mengatur nafasnya. Bergegas, sofia menuju taman samping, dimana suaminya berada.
"Uhh cucu kakek, seneng yah kena matahari? Iya, uhh sampe mangap terus dari tadi. Haus hem? Tunggu mama nya bangun dulu yah,"
Melihat ketiga cucunya yang sedang berjemur di taman membuat Sofia memekik keras.
"OALAAAHH!! INI TO PENCURINYA." Pekik Sofia.
Nathan dan Kenan terkejut mendnar suara Sofia, bahkan ketiga bayinya sampai terlonjak kaget.
"Mami! suaranya!" Tegur Kenan.
Marsha yang mendengar suara Sofia bergegas menghampiri asal suara. Saat dia melihat ketiga bayi kembarnya yang berada di stroller membuat Marsha bergegas mendekatinya.
"Ya ampun! kamu yang jemur mereka!!" Pekik Marsha sembari menatap tajam pada Nathan.
"Iya, emang kenapa? Kan, matahari pagi bagus buat bayi." Jawab Nathan dnegan polosnya.
"Sudah berapa lama kamu jemur?" Tanya Marsha sembari membawa Nayara ke gendongannya.
"Berapa yah, setengah jaman lebih kayaknya. Kan makin lama makin bagus Sweety. Biar bayi kita sehat." Jawab Nathan membuat Sofia dan Marsha melotot ke arah nya.
"SEHAT MANANYAAA?! YANG ADA GOSONG MEREKA! KAN LIAT! MUKA MEREKA UDAH PADA MERAH!!" Sentak Marsha dengan luapan emosinya.
Nathan menatap sang ayah dengan tatapan melongo, "Tadi papi bilang ...,"
"Mana ada! papi suruh kamu jemur bayi, bukan baju! gitu aja masa gak ngerti! Udah lah, papi mau siapa siap ke kantor dulu!"
"Eh, tapikan ini hari minggu." Gumam Sofia dengan bingung melihat kepergian suaminya.
Kenan buru-buru pergi dari sana, dia takut kena semprot oleh istrinya. Sementara Nathan, dia menatap takut-takut ke arah Marsha.
"Maaf Sweety." CIcitnya.
.
.
.
"Pagi-pagi beli ketoplak, celah kali cuacana hatiku hali ini ...."
Javier menuruni tangga dengan hati-hati, setelah itu dia berjalan cepat menuju pintu utama.
"Tuan! mau kemana?!" Tegur bodyguard saat melihat anak bos nya keluar dari rumah.
"Mau kelual, ada panggilan. Emangna citu nda dengal?" Seru Javier sembari menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kedua bodyguard yang berjaga.
"Hah? panggilan apa? Emang, kamu dengar ada panggilan?" Ujar seorang bodyguard pada teman di sampingnya.
"Enggak, dari tadi gak denger apa-apa kok." Sahut yang lain.
Obrolan mereka berdua, membuat Javier menatap mereka dengan kesal. Kedua bahunya melemas, bagaimana dia menjelaskannya?
"Makana, kupingna di pake. Janan jadi pajangan aja, nih dengel."
"TANG! TANG!!"
"KETOPLAAAAAAAQ KETOPLAAAAQE" Seru Javier sembari mencengkokkan suaranya.
Kedua bodyguard itu mengangguk paham, ternyata panggilan yang Javier maksud adalah tukang ketoprak.
"Dah lah, kebulu habis ketoplakna nanti!" Javier buru-buru berlari ke arah gerbang, dia membukanya dengan mandiri dan keluar begitu saja.
Memang ada gerobak tukang ketoprak, tapi pembeli nya sangat ramai. Para ibu-ibu mengantri untuk membeli nya. Javier pun mendekat, dia bingung bagaimana cara memesannya.
"Bang! ketopraknya lima yah! pedes semua!" Seru salah seorang ibu-ibu.
"Siap bu!" Seru si tukang.
Javier mencoba menyempil, tetapi seperti nya ibu-ibu adalah ras terkuat. Tidak akan mau mengalah. Javier bahkan tidak bisa menyelipkan badan mungilnya agar bisa masuk.
"Nda ngalah kali nih olang, dah tua duga." Kesal Javier.
"MICII!!! MICI!! VIEL JUGA MAU BELI!! KACIH JALAN NAPAAAA!!" Seru Javier.
Suara cempreng Javier membuat mereka menatap bocah itu. Akhirnya, dengan susah payah Javier menerobos masuk. Senyumnya mengembang ketika ia berada di dekat sang penjual.
"Abang, ketoplakna catu. Nda ...,"
"Aduh, maaf dek. Ketopraknya habis di borong."
"APA?!"
KREK!
Javier merasa hatinya patah, dia melihat ketoprak yang tengah di siapkan oleh sang abang sangatlah menggiurkan.
"Cetengah polci aja deh." Seru Javier mencoba bernegosiasi.
"Enggak bisa, bener-bener sudah habis dek." Jawab si tukang.
Javier akhirnya mengalah, dia keluar dari kerumunan dan kembali pulang. Wajahnya terlihat kesu, dan ketika sampai di rumah. Dia justru melihat abangnya tengah duduk di ruang tengah sembari menikmati sarapannya.
"Abang makan apa?" Tanya Javier sembari mendekati sang abang dengan sedikit berlari. Dia menc1um aroma yang tak asing, yang berasal dari piring sang abang.
"Ketoprak, tumben kamu gak beli?" Bingung Varo, dia pikir adiknya beli setelah mendengar suara tukang ketoprak yang lewat.
"Tadi Viel lagi mandi, jadi habis di bolong. Viel lapel tau,"
"Ooh, yasudah. Makan nasi goreng aja sana, bunda masak tuh." Titah Varo, yang mana membuat Javier kesal melihatnya.
"NDA PEKA KALI ABANG INI LOH! BUKANNA DI BELIKAN CEKALIAN!! CAKIT KALI HATI NA VIEL LACANA. NDA BELKAH KETOPLAKNA ABANG!" Pekik Javier dengan kesal.
"Mana ada! Kamu makan punya abang lah yang gak berkah, udah sana. Makanya! kalau di suruh mandi tuh mandi! jangan tidur aja kerjaannya!" Omel Varo, lalu menyuapkan ketoprak ke dalam mulutnya dengan lahap.
Javier menganga, air L1urnya bahkan hampir menetes ketika melihat ketoprak itu.
"Mau?" Varo mengarahkan sesendok ketoprak pada Javier, tanpa berlama-lama Javier membuka mulut. Namun, sayangnya, Varo malah membelokkan sendok itu dan memasukkan suapan tersebut ke dalam mulutnya
"Eits ... beli sendiri dong!"
"NDA COPAN YAH CITU! VIEL LAPOLIN DADDY POKOKNA!! DADDY!! HIKS ... DADDY!! ABANGNA NAKAL!!" Javier berlari kencang menuju kamar sang daddy, meninggalkan Varo yang tertawa keras sembari melirik bungkus yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Padahal aku beli dua bungkus, biarlah. Biar kapok tuh anak." Kekeh Varo karena berhasil mengerjai adiknya.
___
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAHNYA🥳🥳🥳😍😍😍
Terima kasih, semoga sehat selalu😊