
"HACHU!"
Semua mata memandang ke arah Marsha dan Nathan yang melilitkan selimut di tubuh mereka.
Keduanya tengah duduk di ranjang Marsha, sedangkan semua anggota keluarga. Tengah berdiri memandang keduanya dengan tatapan datar.
"Kalau kayak gini, mending resepsinya di batalkan saja."
Perkataan Aaron membuat Nathan melototkan matanya tak terima.
"Gak bisa gitu dong om! Saya kesini juga gak macam-macam, cuman ingin bertemu Marsha!" Pekik Nathan tak terima.
"BOHONG DADD! DIA ... DIA UDAH PEGANG-PEGANG VARO!" Pekik Varo.
Nathan membulatkan matanya, jangan sampai Varo membocorkan hal yang memalukan yang dirinya lakukan.
"Pegang?" Aaron mengerutkan keningnya.
"Iya! Dia pegang-pegang ...,"
BRUGH!!
Nathan menendang nakas, membuat semuanya kembali menatap Nathan.
"Tadi ada semut, ganggu." Balas Nathan.
Tok! Tok!
Saat Aaron ingin bertanya, seorang bodyguard datang menghampiri mereka.
"Nyonya Zeva, maaf. Ada yang nyari,"
Zeva mengerutkan keningnya, dia pun bergegas beranjak dan menghampiri orang tersebut.
Sementara Aaron, dia tetap berada di sana dengan memberikan ceramahnya pada Nathan.
Zeva menghampiri orang yang berdiri di ambang pintu, ketika tahu dia siapa. Zeva bergegas menoleh ke belakang.
"Paket yah mas?" Bisik Zeva, agar tidak di dengar oleh yang lain.
Orang itu mengangguk, dia menyerahkan sebuah paket lumayan besar pada Zeva.
"Cod bu," ujarnya.
"Aduh, mana lagi gak pegang duit lagi. Kalau minta sama mas Aaron, nanti dia tanya aku beli apa." Batin Zeva.
"Bu, jadi gimana?"
Zeva tersadar, tiba-tiba ide tercetus di pikirannya.
"Pak sebentar yah, saya ambil duit dulu." Ujar Zeva.
Zeva bergegas kembali ke kamar Marsha, dia berjalan mendekati Aaron dan menepuk bahu suaminya itu.
"Apa?" Tanya Aaron.
"Mas, kamu belum bayar iuran yah? di tanyain tuh sama pak RT!"
"Ha? masa sih? perasaan aku udah bayar kok." Bingung Aaron, dengan polosnya dia percaya.
"Ya aku enggak tau, kamu lupa kali!"
"Berapa sih?" Tanya nya.
"Delapan ratus ribu mas,"
"Mahal amat! itu iuaran atau traktir makan!" Pekik Aaron.
"Ya mana aku tahu, kamu nunggak kali!" Balas Zeva.
Aaron menatap Nathan, dia belum puas memarahi Nathan. Masalah nya belum selesai, dia takut saat dirinya pergi Nathan malah mencuri kesempatan lagi.
"Bisa suruh tunggu dulu gak?" Tawar Aaron, pada istrinya.
"Biar aku aja yang bayar, mana sini duitnya. Kamu fokus ke Nathan sama Marsha dulu." Saran Zeva.
"Oo gitu, yaudah nih." Aaron membuka dompetnya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Zeva.
Dengan senang hati, Zeva menerimanya. Dia bergegas kembali ke depan untuk membayar paketnya.
Saat Aaron telah memasukkan dompetnya, Haikal yang sedari tadi ingin berbicara pun membuka suara.
"Kamu bayar iuran apa Aar?" Bingungnya.
"Iuran perumahan dad, biasanya setiap bulan dua ratus," ujar Aaron dengan santai.
"Loh, tapi kan kamu ada di rumah daddy. Kok bisa pak rt rumahmu sampai sini?"
"EH?!"
Aaron baru sadar, jika dirinya di kerjai oleh sang istri. Semuanya menahan tawa, saat melihat wajah terkejut Aaron.
"Hahahaha, hilang sudah delapan ratus ribu. Lumayan itu, bisa bayar setengah gaji ob." Celetuk Jacob.
Aaron menatap kesal pada Jacob, dia beranjak dan bergegas menghampiri istrinya. Sudah tahu kan Javier turunan siapa?
"CEPET LARINYA!! KEBURU HILANG TUH DUIITT!!" Pekik Jacob.
"Oh iya dad, besok Raihan datang dari inggris. Dia sudah memesan tiket pesawat,"
Seketika, raut wajah Laras berbinar terang. Akhirnya, setelah sekian lama pitra bungsunya tinggal di luar negri. Dia akan kembali bersama keluarga kecilnya.
"Bagus itu, bawa istri dan anaknya kan?!" Seru Laras.
"Ya bawah lah mom, tau sendiri Ayla gak bisa di tinggal Raihan."
"Hah, semoga saja. Nathan! kamu jangan pulang dulu, istirahat disini aja. Biar nenek yang bicara pada mertuamu."
Perkataan Laras, membuat senyum Nathan merekah.
"Astaga, nenek baik sekali. Besok, Nathan kirimkan tas keliaran terbaru untukmu."
"Oh, manis sekali. Kau akan menjadi cucu menantu kesayangan nenek." Pekik LAras.
Azka dan Ariel yang mendengarnya pun menjadi jengah. bisa-bisanya Nathan tahu kesukaan nenek mereka.
.
.
Esoknya, Nathan dan Marsha sama-sama sarapan di meja makan bersama dengan keluarga Smith lainnya.
"Oh ya, Nathan. Kamu sudah selesai kan ujiannya? kapan kelulusannya?" Tanya Laras membuka keheningan.
"Minggu depan, opa yang mengatur semuanya. Kamis kelulusannya, sabtu acara pernikahanku dengan Marsha." Terang Nathan.
"Oh, bagus itu! Gercep kamu than!" Seru Haikal.
"Kalau bisa sekarang, maunya sih sekarang keke." Seru Nathan sembari menyengir lebar.
"Itu mah, maunya kamu!" Pekik Haikal.
Sedangkan Aaron, wajahnya sumringah. Entah mengapa, suasana hatinya hari ini sedang baik. sehingga, sedati tadi dia tak sensi pada Nathan.
"Kenapa wajahmu ceria begitu? kayak gak ada beban hidup aja." Celetuk Jacob, memandang aneh adiknya itu.
"Abang kayak gak tahu aja sih!" Seru Aaron.
Aaron menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya, sedari tadi senyumnya tak pernah pudar.
Berbeda dengan Aaron, wajah Zeva terlihat lesu. Dia sangat mengantuk pagi ini, sehabis ini dirinya berencana untuk tidur.
"Kenapa wajahmu kelihatan lelah Zeva? kamu sakit? atau ...,"
"Atau apa?" Zeva menyahuti perkataan Adinda.
"Lagi, hamil lagi?!" Tebak Adinda.
"Hais, jangan bercanda Kak! Yang ini aja susah banget di aturnya, apalagi nambah lagi." pekik Zeva, sembari menunjuk Javier yang sedang fokus menikmati sarapannya.
Sedangkan Aaron, dia tak menanggapinya sebab istrinya sudah memakai KB. Mereka memang tak lagi berencana membuat adik untuk Javier.
Zeva kembali makan, sesekali dia menatap Javier. Putranya itu ingin makan sendiri, Zeva pun membiarkannya. Walau Javier masih belum bisa makan dengan baik.
"Bunda, nanti ciang ketoplak yah," ujar JAvier.
"Ketoprak terus! Jadi anak abang ketoprak aja sana kamu!" Pekik Varo dengan kesal.
Netra Javier terbelalak lebar, dia menatap tajam Varo yang meledeknya itu.
"CEMBALANGAN KALAU NOMONG YAH! MAU TA COLOK MULUTNA PAKE COBEK NA ABANG KETOPLAK HAH!!"
Semuanya terkekeh, menatap gemas ke arah Javier yang tengah kesal pada abangnya itu.
"Daddy! jual aja abangna, ganti yang balu!" Kesal Javier.
"He! yang ada, daddy itu buang kamu! beban rumah kamu mah!"
"CITU YANG BEBAN LUMAH! CAMPAH LUMAH! ENAK AJA VIEL YANG BEBAN!!" Pekik Javier dengan wajah merah padam.
"Hais, sudah! sudah, kalau Javier ketemu sama Akash mesti rame lagi ini. Satunya seneng ketoprak, satunya seneng kerak telor."
Sementara itu, di bandara Seorang pria tengah menggandeng seorang wanita cantik. Keduanya tampak memakai kaca mata hitam.
Koper mereka, di bawa oleh para bodyguard yang menyusul mereka di belakang.
"Kamu sudah mengabari kak Zeva beb?" Tanya wanita itu.
"Tentu sudah, keluarga tengah gempar karena Marsha. Aku terkejut ketika tahu mereka akan menikahkan Marsha dengan putra keluarga Alvarendra."
"Ponakanku, pintar sekali mencari suami. Alvarendra, tentu saja maharnya tidak kecil." Cetus wanita itu.
"Kau benar love, bang Aaron sangatlah matre. Minimal, mahar yang dia terima sekitar dua milyar. Aku Tak yakin dia hanya meminta mahar di bawanya."
Keduanya asik berceloteh, hingga tak menyadari sosok kecil yang menatap mereka dengan tatapan kesal.
"NDA CADAL PUNA ANAK YAH!! DACAL! OLANG TUA JAMAN CEKALANG! MAUNA BELDUA DOANG, TAPI DI TINDAL.TELUS!!" Pekik nya.
"Akash, diamlah! cepat berjalan! sudah abang bilang, jangan terlalu banyak makan! perutmu sudah berat, rasakan sendiri akibatnya! sulit berjalan kan!" Seru sosok remaja yang bergegas menggandeng adiknya.
"CEMBALANGAN! MAU DI CENTIL LAMBUNGNA HAH?!"
"Lece kali loh, haaahh ... minta kakek beli kelak telol nanti." Lirih nya.