
"Nathan! apaan sih kamu!" Pekik Marsha yang kesal, dia kembali menarik tangannya yang berada dalam genggaman Nathan.
Nathan menghela nafas pelan, sulit sekali membujuk Marsha. Dia sengaja mengiyakan keinginan Aaron, agar dirinya bisa berbicara dengan Marsha. Tapi, Sepertinya Marsha sulit untuk di ajak bicara.
"Bukan cuman lo doang yang sedih, gue juga sama. Gue juga kehilangan dia, semuanya di luar rencana gue." Lirih Nathan.
Marsha bisa melihat jelas tatapan kesedihan Nathan, dia merasakan perasaan sedih pemuda itu.
"Lalu, untuk apa kita rujuk? kita melanjutkan pernikahan ini, karena janin itu." Lirih Marsha.
Nathan menatap Marsha, dia sedikit menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan, jika apa yang Marsha katakan tidaklah benar.
"Enggak, gue serius sayang sama lo. Tolong, kasih gue satu kesempatan untuk bahagiain lo."
"Nathan, mengertilah. Kita ...."
DERTT!!
DERTT!
DERTT!
Ponsel Nathan berdering, dia menatap Marsha sekilas sebelum mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya.
"Papi." Gumam Nathan.
Bergegas Nathan mengangkatnya dengan tangan kanannya, sementara kanan kirinya. Masih memegangi tangan Marsha yang berada di pangkuan wanita itu.
"Halo pi." Sapa Nathan.
"Halo, Nathan. Kakakmu. ..."
Kening Nathan mengerut, dia beralih menatap Marsha yang sama juga bingungnya dengan dirinya.
"Kak Clau kenapa?" Tanya Nathan.
"Dia keguguran! kamu sekarang ada dimana hah?!"
Seketika tubuh Nathan kembali lemas, dia jatuh terduduk. Marsha yang memang mendengar suara Kenan pun sama terkejutnya.
"Keguguran." Lirih Nathan.
Ponsel Nathan terjatuh, air matanya kembali luruh. Dia marah pada Claudia, tapi dia tidak mempunyai harapan Claudia akan mengalami nasib yang sama dengan istrinya.
"Pulanglah." Titah Marsha.
Nathan bergegas mengambil kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Sebelum itu, ceraikan aku sekarang." Pinta Marsha, dengan tatapan datar.
Nathan menggeleng, dia beranjak dari duduknya. Tangannya meraih kepala Marsha, lalu menc1um keningnya cukup lama.
Marsha tentu terkejut dengan tindakan Nathan, mendadak tubuhnya tak bisa di gerakan.
Nathan menempelkan keningnya dengan Marsha, keduanya sama-sama memejamkan matanya. Deru nafas mereka, masing-masing bisa merasakan terpaan hangatnya.
"Ingat ini, aku tidak akan menceraikanmu Marsha. Aku benar-benar menyayangimu, dan sepertinya ... aku telah jatuh cinta padamu."
Degh!!
Jantung Narsha berdegup kencang, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah dia juga sudah mencintai Nathan? dengan waktu sesingkat ini?
Nathan menarik dirinya terlebih dahulu, hingga membuat Marsha membuka matanya.
"Gu .. eh aku pergi dulu." Pamit Nathan. Merubah kosa kata lo-gue, menjadi aku-kamu. Dia ingin merubah gaya bahasanya pada Marsha, agar Marsha menjadi yakin jika dirinya benar-benar sayang pada wanita itu.
Baru juga melangkah, Marsha memegang pergelangan tangan Nathan.
"Aku akan meminta daddy untuk mencabut tuntutannya pada kakakmu."
Langkah Nathan seketika tentu, dia menatap tak percaya Marsha yang berada di sampingnya.
"Tidak ada kehilangan yang paling berat, selain kehilangan anaknya. Aku kehilangan anakku karenanya, dan kini dia juga sama. Kakakmu tidak jahat, dia marah padaku karena kesalahpahaman. Sekali pun dia penjahat, bukankah ... Penjahat juga masih memiliki hati? Aku pernah merasakan sakit yang dia rasakan."
Tangan Nathan terkepal kuat, dia tersentuh dengan sikap istrinya itu. Dia Pikir, Marsha sangat kekanak-kanakan. Namun, pikirannya salah.
"Kenapa kamu begitu baik? dia sudah membuat anak kita tiada." Lirih Nathan.
Marsha memutar kursi rodanya menjadi menghadap Nathan, dia menatap Nathan dengan tersenyum tipis di wajah cantiknya.
"Aku tidak baik Nathan, aku juga bisa jahat. Tapi aku masih punya hati, aku takkan sampai hati memasukkannya ke dalam penjara di titik terendahnya saat ini."
.
.
.
Nathan berjalan di lorong rumah sakit, langkahnya terhenti saat sampai di pintu rawat Claudia yang sudah di tunggu oleh dua orang polisi.
"Saya adik dari Claudia Alvarendra."
Dua polisi itu membiarkan Nathan masuk. Mereka berjaga, Karena status Claudia adalah tahanan.
Saat Nathan masuk, terlihat Claudia menangis histeris. Mario berusaha untuk menenangkan istrinya itu dengan cara memeluknya.
Melihat Nathan yang berada di sana, kedua orang tua Nathan segera mendekat. Namun, Nathan malah melangkah mendekati Claudia dengan tatapan datar.
"Nathan! Nathan hiks ... janinku ... janinku sudah tiada hiks ... calon anakku sudah tiada hiks ...." Pekik Claudia saat melihat Nathan.
"Bagaimana rasanya?"
Perkataan Natha membuat semua orang menatap kaget ke arahnya. Pemuda itu, tampak menatap Claudia dengan mata memerah.
"Nathan." Lirih Claudia.
"Sakit kan? Lain kali, bertindak itu pakai otak." Sentak Nathan sembari mengisyaratkan telunjuknya ke pelipisnya.
"Nathan! kenapa kamu berbicara seperti itu pada kakakmu! dia sedang berduka!" Pekik Sofia.
Nathan menatap Sofia dengan tatapan tajam, bagaimana bisa sang ibu membela Claudia padahal apa yang di alami oleh Claudia. sama hal nya yang kini sedang di alami oleh dirinya.
"Memang kalian pikir, aku dan Marsha sedang bersuka hah?! kami juga kehilangan anak kami, dan itu karena putri kalian!"
"Sedikit pun, dia tidak meminta maaf pada ku, istriku dan mertuaku! dia merasa paling benar, karena dia hanya meluapkan kesedihannya atas cinta suaminya yang salah."
Lalu, tatapan Nathan beralih menatap Mario. Matanya menatap tajam Mario, dia sungguh membenci pria yang berstatus menjadi kakak iparnya itu.
"Dan lo, lo jadi suami gak tegas! lo gak becus jadi suami! kalau lo cinta dengan wanita lain, kenapa lo nikahin kakak gue hah?!"
"Hapus rasa lo dengan wanita itu, karena wanita itu sekarang adalah milik gue! Marsha adalah istri gue! Kami menikah dengan sah! walaupun secara negara pernikahan kami belum di akui,"
Mario tertunduk, dia juga merasa sangat bersalah. Kehilangan calon anaknya, membuat Mario terpuruk.
"Nathan, sebaiknya kita bicarakan nanti. Mental kakakmu sedang down, kamu tidak boleh memperburuk keadaannya." Sahut kenan.
"KENAPA!! APA AKU TIDAK BOLEH MARAH PADA PELAKU YANG TELAH MEMBUAT CALON ANAKKU TIADA?! APA AKU HARUS DIAM, DAN KALAH DENGAN KEADAAN?"
Air kata Nathan luruh, perasaan nya sangat lah sakit. Dia mengingat bagaimana bentuk janinnya yang masih terlalu kecil. Detak jantungnya seperti alunan yang indah di telinganya.
"Aku tidak mengerti dengan pemikiran kalian, aku tidak mengerti dengan keegoisan kalian."
"Apa kalian tahu apa yang om Aaron katakan padaku tadi?"
Semua pasang mata menatap Nathan dengan penasaran, apa yang Aaron katakan pada menantunya itu. Mereka berharap, jika Aaron mau membebaskan Claudia.
"Dia akan menarik tuntutannya."
"Benarkah!" Pekik Sofia.
"Dengan syarat, agar aku menceraikan putrinya." Jantung Sofia serasa berhenti berdetak, dia melihat bagaimana rasa sakit yang putranya rasakan saat ini.
"Coba kalian pikir, bagaimana perasaanku? aku baru kehilangan calon anakku, dan kini aku harus menceraikan istriku hiks. .. kenapa kali begitu egois? Papi dan mami, hanya memikirkan Kak Clau. Setelah istriku sadar, kalian dimana? kalian sibuk mengurusi Kak Claudia di penjara."
"Nathan ...,"
Nathan menghapus kasar air matanya, dia kembali menatap Claudia.
"Apa kakak tahu, apa yang akan dia perbuat untukmu?"
"Dia akan meminta daddy nya untuk mencabut tuntutannya padamu. Sebaik itu istriku, kenapa dia harus mendapat suami seperti ku. Anak yang hidup di tengah keluarga yang egois!"
____
SORRYY BANGET😭😭 AKU KEMARIN CUMAN UP SATU 😓
Ada problem pribadi, dan gak sempet buat😓
Setelah ini up lagi yah, di tunggu🤗🤗
Fans Javier, sabar yah. Habis ini Javier pasti muncul😆