
"Zeva pernah keguguran?" Tanya Aaron dengan ekspresi terkejut.
Rio berdecih, dia meletakkan ujung pistolnya pada d4da Aaron.
"Pertanyaan lo, menjadi jawaban. Betapa gak becusnya lo menjadi suami. Dimana lo saat dia butuh dukungan? gue, gue yang ada di saat dia butuh! bukan lo!"
Rio menatap tajam tepat netra Aaron, dirinya kembali teringat akan kejadian beberapa tahun silam.
"Zeva, ada apa?"
Rio menghampiri Zeva yang menangis di kursi taman. Melihat kedatangan Rio, Zeva menjadi terkejut.
"Rio!" Pekik Zeva dan segera menghapus air matanya.
Rio tersenyum, dia duduk di sebelah Zeva dan menatapnya lekat.
"Ada apa? kenapa kamu menangis?"
"Apa suamiku ada menghubungimu?" Bukannya menjawab, Zeva malah balik bertanya.
"Oh ada, baru saja pagi ini dia menghubungiku." Balas Rio.
Raut wajah Zeva berubah, dia menjadi bertambah sedih. Rio peka dengan hak itu.
"Aku sedang hamil,"
Tatapan Rio berubah, dia menatap nanar pada Zeva. Kedua sudut bibirnya terangkat, memaksa senyum yang sakit.
"O-oh bagus dong. Selamat yah," ujar Rio.
"Tapi aku harus melakukan kuretase, karena janinnya berada di luar rahim."
Netra rio terbelalak lebar, tak menyangka jika Zeva akan mengalaminya.
"Dia berusaha menghubungi li sebelum melakukan operasi itu, tapi lo selalu sibuk. Gue dengan setia menunggunya, bahkan sampai dia sembuh. Gue yang menemaninya, dan menunggunya hingga sembuh. Gue yang membangkitkan kembali senyum cerianya. Bukan lo! "
"Lo hanya datang memberi dia rasa sakit, tapi gue datang menyembuhkan luka yang lo buat. Seharusnya dia balik sama gue, bukan lo! kenapa kalian harus kembali bersama hah?!"
"Gue selalu bertanya pada diri gue, apa yang kurang dari diri gue? kenapa semua wanita yang gue suka. Balik menyukai lo? Namun, dari semua wanita yang gue suka. Hanya Zeva yang bisa menggetarkan hati gue." Lirih Rio.
Air mata Aaron luruh, dia kembali ingat dimana dia selalu menolak panggilan dari Zeva karena kesibukannya di luar kota.
"Aku pikir, Zeva akan mengerti kesibukanku." Batin Aaron.
"Dan sekarang, mumpung lo ada di depan gue. Sebaiknya, gue bisa menghabisi lo. Setelah lo tiada, Zeva akan bisa menikah dengan gue."
Rio mengangkat pistolnya, dia mengarahkan pistol itu tepat di dad4 Aaron. Keduanya saling menatap, dengan sorot mata yang berbeda.
Dulunya mereka sahabat, berbagi kisah. Saling melindungi, tapi ... kini, semua hanya tersisa kebencian.
DOR!!
.
.
.
Marsha keluar dari dalam pesawat, dia melakukannya dengan hati-hati. Di tengah pertikaian, Marsha berlari ke arah jendela.
BRUGH!!
Marsha terjatuh di atas tubuh seseorang, netranya terbelalak lebar saat melihat irang yang sudah mati itu.
"Ihh, napain cih tidul di cini! tidul tuh di kamal, bikin cucah aja!" Gerutu Marsha.
Marsha berusaha bangun, dirinya kembali beranjak dan berlari menuju jendela. Dia terpaksa harus memasukkan tubuh kecilnya ke semak-semak.
"Cakit kali, kulit mulus Malcha jadi telgoles." Gerutu anak itu.
Marsha sampai di hadapan jendela yang terbuka, tembok bawah jendela itu setinggi perut Marsha. Dia harus berusaha untuk menaiki jendela itu.
"Lempal dulu, balu Malcha naik. Nda cia-cia Malcha nonton ikan telbang. Maling di toko cendili hahaha!" Marsha melempar tasnya lebih dulu ke dalam.
Lalu, tangannya meraih pembatas jendela, dan kaki kanannya berusaha untuk menggapainya.
"Hah! balu cape cini. Lelah kali lacana, pulang beli es walung lah bial cegel." Celoteh Marsha.
Brugh!
Marsha berhasil mendarat, dia mengambil kembali tasnya dan memakainya di depan.
Netranya menatap ke sekitar rumah, sangat ramai dengan orang yang berkelahi dan saling menembak.
"Tadi halusna bawa pictol na Alil, bial bica ikutan." ucapnya.
Marsha menatap ke atas, di depan kamar ada dua orang bodyguard yang menjaga kamar itu.
Entah karena inisiatif, Marsha berlari menaiki tangga. Tidak ada orang yang melihatnya, anak itu terlihat sangat lincah.
"Tiga puluh huh ... huh ...banak kali tangga, cucah na jadi olang kaya." Lelahnya menaiki tangga.
"Bakal dulu, telus ... lempal deh!"
Marsha melempar tiga bola asap, membuat perhatian kedua bodyguard tertuju pada asap tersebut.
"UHUK! UHUK!"
Marsha memakai maskernya, dia kembali mencari benda yang mungkin bisa dia gunakan.
Dirinya mengambil beberapa kelereng. Lalu, netranya menatap kunci yang ada di pinggang pria itu.
"Kuncina." Lirih Marsha.
Marsha menatap dua orang itu yang berusaha untuk menyingkirkan asap dari mata mereka.
Dengan perlahan, Marsha mengambil kunci itu tanpa orang itu tahu. Lalu, dia melemparkan kelereng tersebut.
BUGH!
"ADUH!" Pekik keduanya ketika mereka terjatuh akibat kelereng yang Marsha tebar.
Marsha menahan tawa, dia bergegas membuka pintu itu dengan kunci. Beruntunglah, pintu itu bisa terbuka.
Cklek!
"Bunda!" Bisik MArsha pada Zeva yang duduk di ranjang sembari membelakanginya.
Merasa ada yang memanggil dirinya, zeva berbalik. Netranya terbelalak lebar saat melihat putrinya yang datang menghampirinya.
"Marsha!" Pekik Zeva laku menghampiri putrinya dengan cepat.
"Bunda!!" Seru Marsha.
Zeva berjongkok dan memeluk putrinya, Marsha pun memeluk balik dirinya. Anak ibu itu berpelukan erat, melepaskan rindu yang terpendam.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan? kenapa wajahmu banyak goresan? kamu habis dari kana? kenapa bisa ada disini? apakah daddy yang membawamu?" Tanya Zeva dengan beruntun.
Marsha menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Suutt, tanya nanti caja. Ayo kelual. Kebulu paman jaga na cadal." Bisik Marsha.
Zeva menghapus air matanya, dia segera berdiri dan menggenggam tangan putrinya. Mereka berniat akan segera keluar, tetapi Rio berdiri tepat di ambang pintu dengan cipratan darah di wajahnya.
"Ri-Rio. ..." Zeva benar-benar takut, dia menggenggam erat tangan putrinya sembari melangkah kundur.
"Wah-wah, anak manis. Kamu datang kepada calon ayah tirimu hmm ... mendekatlah, aku ingin memelukmu." Seru RIo sembari merentangkan tangannya yang bercak darah.
Marsha bersembunyi di belakang Zeva, dja takut melihat Rio yang begitu menyeramkan.
"Jangan sakiti putriku Rio." Lirih Zeva dengan suara bergetar.
Rio berjalan santai mendekati Zeva yang semakin memundurkan tubuhnya. Pria itu membersihkan pistol miliknya yang terdapat bercak darah.
"Kamu tahu darah siapa ini?" Tanya Rio. Zeva membalasnya dengan gelengan kepala, sembari berusaha menyembunyikan putrinya di belakang tubuhnya.
"Ini, adalah darah suamimu. Aaron, dia sudah tiada hahaha. dan kamu sekarang, seorang ... janda ...."
Tubuh Zeva melemas, rasanya tulang-tulang kakinya tak dapat menaham bobot tubuhnya. Air katanya kembali mengalir deras.
"ENGGAK!! ENGGAK MUNGKIN!! ENGGAK MUNGKIN!!" Sentak Zeva.
Satu sudut bibir Rio terangkat, membentuk sebuah seringaian.
"Sekarang, kita bisa menikahkan?" Tanya Rio. Namun bedanya, kali ini. Rio tersenyum lembut padanya.
"Seperti apa yang kita impikan, aku akan selalu ada untukmu. Membahagiakanmu, dan membuatmu terus tersenyum sepanjang harinya. Aku juga akan mencintai anak-anakmu, dan kamu. ....,"
"ENGGAK! SAMPAI KAPAN PUN, AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU! AKU LEBIH MEMILIH MENJADI JANDA SEUMUR HIDUPKU DARI PADA HARUS MENIKAH DENGANMU!!" Teriak Zeva.
Raut wajah Rio berubah menadi menyeramkan, sudah tidak ada lagi senyuman lembut di bibirnya. Hanya ada kebencian dan kekecewaan.
"Kamu tidak akan menikah dengan ku?" Tanya Rio yang di balas anggukan cepat oleh Zeva.
Rio menatap Zeva dengan tatapan dingin, lalu dia menutup pintu dan mengambil sebuah kotak dari bawah tempat tidur.
"Baiklah, jika dalam kehidupan ini kamu tidak menikah denganku. Maka, ku harap. Di kehidupan selanjutnya, kamu akan menjadi istriku." Lirih Rio dengan tatapan berkaca-kaca.
Zeva menatap lekat kotak itu, sadar bahwa kotak itu adalah bom. Zeva menatap Roo dengan tatapan tak percaya.
"Ri-Rio, ki-kita bisa bicarakan baik-baik. Ja-jangan seperti ini, ka-kamu akan menyakiti diri kamu sendiri."
"Bukan hanya aku, tapi kita. Setelah ini, kita akan kembali di kehidupan selanjutnya."
"Ti-tidak ...,"
BRUAK!!
____
Besok author izin libur sehari yahđź¤, lusanya baru up. InsyaAllah up nya pagi, jam 00.01 oke🤗