Find Me Daddy

Find Me Daddy
Lebih pilih dia dari bayimu?



"Dok, bagaimana keadaan teman saya?" Tanya Zeva pada seorang dokter setelah mengecek keadaan Mentari.


Dokter itu terdiam, tatapannya menjadi sendu. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Penyakit Leukimia yang di derita oleh pasien semakin menggerogoti tubuhnya. Saat ini pasien dalam kondisi tidak sadarkan diri, lebih tepatnya ... pasien mengalami koma."


Air mata Zeva kembali terjatuh, dirinya ikut prihatin dengan keadaan Mentari.


"Ko-koma? dok, dia masih memiliki anak kecil. Anaknya masih butuh dengan sentuhan ibunya, tolong ... selamatkan temanku. Buat dia sadar kembali." Zeva bahkan sampai memegangi tangan dokter wanita itu dengan derai air mata. Dirinya lun tak sanggup jika ada di posisi Mentari.


"Maaf nyonya, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasien."


Aaron menarik istrinya, dia memeluk erat istrinya yang sudah menangis itu.


"Terima kasih dok." Ujar Aaron pada dokter itu.


"Sama-sama tuan, kalau gitu saya permisi dulu." Pamit Dokter tersebut.


Selepas kepergian dokter, Zeva masih saja menangis. Diri nya merasa kasihan dengan Mentari. Tahu kalau istrinya sedang sensitif, Aaron tak banyak berkata.


"Aku mau bertemu Raden," ujar Zeva setelah dirinya tenang.


Aaron mengangguk, dia membantu istrinya mengusap air matanya. Lalu, mengajaknya pergi ke kamar rawat Raden.


Sesampainya di kamar Rawat Raden, Zeva langsung menemui anak itu. Sementara Aaron sedang berbicara pada penabrak dan dua orang polisi yang menunggu di luar.


Zeva duduk di tepi brankar, dia mengelus pipi Raden dengan lembut. Dirinya tak bisa membayangkan, jika anak sekecil Raden akan mengalami kesulitan seperti ini.


"Anak hebat, yang kuat yah sayang." Lirih Zeva.


Saat asik menunggu Raden sadar, Zeva mendapat telpon. Ternyata Laras lah yang menelponnya, tanpa menunggu lama lagi. Zeva pun mengangkat telpon dari mertuanya.


"Halo mah,"


"Zeva, kamu masih lama? Varo dari tadi nangis terus, di kasih susu gak mau. Di gendong juga masih nangis, di tidurin juga gak mau." Panik LAras.


Zeva memang mendengar suara bayinya, sebagai seorang ibu. Dia pun turut khawatir dengan putranya.


"Nangisnya udah lama mah?" Tanya Zeva.


"Udah, mukanya sampe merah ini. Baby sitter si kembar juga gak bisa nenanginnya, kamu sama Aaron pulang yah."


"Iya, mah. Zeva akan pulang."


Tuutt!


Zeva menatap ponselnya dengan tatapan kosong, dia bingung. Raden tak memiliki siapapun untuk di temani, sedangkan putranya membutuhkan dirinya.


"Ada apa?"


Aaron yang baru saja memasuki kamar rawat Raden di buat bingung karena istrinya seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Mamah tadi telpon, katanya Varo dari tadi nangis terus. Gak mau berhenti, di kasih susu juga masih nangis. Di tiduri gak mau, mukanya udah merah," ujar Zeva dengan lirih.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? ayo pulang!" Aaron berbalik kembali ke arah pintu, dan saat dia akan menekan handle pintu. Rupanya, istrinya masih diam menatap Raden.


"Ayo!" Ajak Aaron, mendengar tentang putranya. Aaron menjadi khawatir, bayinya baru saja lahir tiga hari yang lalu.


Zeva terdiam, membuat Aaron kesal setengah m4ti.


"Kamu nungguin apa sih!" Kesal Aaron.


"Kasihan Raden, dia gak ada yang jaga," ujar Zeva dengan bimbang.


"Kamu lebih kasihan sama anak mantan selingkuhanmu di banding anakmu sendiri hah? begitu?" Sentak Aaron.


Zeva tersadar, dia menatap wajah suaminya yang kecewa terhadapnya.


"Disini sudah ada dokter, tapi bayiku butuh ibunya. Terserah kalau kamu masih mau menjaga anak mantanmu itu, aku mau pulang!"


"Mas! bukan maksudku seperti itu!!" Zeva berjalan cepat mengejar suaminya yang sudah keluar lebih dulu.


Aaron tak peduli panggilan dari istrinya, dia sangat kesal dengan respon lambat istrinya setelah mendengar putra mereka menangis tak ada henti.


Saat berhasil memasuki mobil, istrinya pun turut masuk. Aaron hanya diam tanpa bicara, sedangkan Zeva. Wanita itu menatap sendu pada suaminya.


"Mas, maafkan aku. Aku hanya kasihan saja, kamu tahu kan. Kalau Mentari koma, anak itu tak memiliki siapapun. Ayah nya ada di penjara, dan ...,"


"Kamu gak kasihan sama anak kamu HAH?! ANAK KITA BARU BERUMUR TIGA HARI! KALAU ADA APA-APA GIMANA!!"


Degh!!


Zeva meremas sabuk pengaman yang ia kenakan, dia sedang merasa tertampar dengan ucapan suaminya.


"Aku gak masalah kamu bersimpati drngan Mentari dan anaknya.Tapi, aku harap kamu tidak melupakan posisi kamu sebagai seorang ibu dari seorang bayi!"


"Maaf." Lirih Zeva.


Aaron hanya diam, rahangnya terlihat mengetat. Dirinya tengah menahan emosinya yang akan meledak-ledak, ingin secepatnya dirinya sampai ke rumah.


Mobil Aaron terparkir di halaman kediaman Smith, Aaron bergegas keluar tak peduli dengan istrinya yang ikut berjalan cepat di belakangnya.


Baru saja memasuki pintu utama, tangisan Varo sudah terdengar. Aaron, buru-buru menghampiri asal suara yang ternuata berasal dari ruang tengah.


"OEEKK!! OEEKK!!"


"Tuh!! Daddy pulang!! daddy pulang!!" Terlihat Adinda sedang menggedong Varo, wanita itu mendekatkan Varo pada Aaron.


Aaron menyambut putranya, dia menatap wajah putranya yang terlihat sangat merah.


"Syutt, daddy disini sayang. Daddy disini,"


Aaron menimang putranya, sembari mengucapkan kata penenang. Tak lama, tangisan Varo mereda saat melihat wajah sang daddy.


"Mamah capek gendong Varo, jadi tadi ganti-gantian sama yang lain." Sahut Karas yang datang menghampiri putranya.


Zeva datang menghampiri mereka dengan perasaan tak enak, di lihatnya putranya sudah tenang walau masih sesenggukan.


"Maaf mah, jadi merepotkan," ujar Zeva sembari menatap mertua dan kakak iparnya.


Mendengar suara sang ibu, Varo kembali menangis kencang. Aaron kembali mengayunkan putranya, tapi tak mempan seperti tadi.


"Aaron, kasihkan sama ibunya. Dia dengar suara Zeva, makanya nangis itu!" Tegur Laras.


Aaron langsung memberikan Varo pada Zeva tanpa menatap sang istri. Setelah memberikan putranya, Aaron pun beranjak pergi dari sana.


"Kenapa dia?" Tanya Adinda sembari menunjuk Aaron dengan gerakan dagunya.


"Biasa kak, ngambek." Canda Zeva.


"Ooh, udah punya anak dua masih aja ngambek. Yaudah, kakak ke kamar si kembar dulu yah."


Zeva mengangguk, dia beralih duduk di sofa. Putranya masih merengek, bibirnya mencari sesuatu.


"Kamu ke kamar aja gih, kayaknya dia mau nyusu langsung ke kamu." Pinta Laras.


"Iya mah, kalau gitu Zeva ke kamar dulu."


Zeva merebahkan diri di kasur setelah membaringkan Varo di sampingnya. Lalu, dia membuka nutrisi untuk putranya sembari tidur menyamping.


Varo dengan lahap menyedot nutrisinya, bahkan sampai memguarkan decapan.


"Haus yah nak, iya ... uhh maafin bunda yah." Celoteh Zeva sembari mengusap kening putranya.


"Iya bunda, haus ... Varo haus ... gak mau minum dari botol. Maunya dari bunda, iya nak."


Begini lah ketika menjadi seorang ibu, akan berbicara sendiri seakan bayi mereka yang berbicara.


Cklek!


Terlihat, Aaron baru saja keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju lemari dan mengganti kaosnya.


Zeva mengamati apa yang suaminya laku, tetapi hanya sebentar. Lalu, dia kembali menatap putranya.


"Ck, apakah dia tidak bisa menutupnya." Batin Aaron melihat nutrisi putranya yang membuat dirinya meneguk ludahnya kasar.


Aaron pura-pura tak melihat, dia mengambil laptopnya dan berjalan menuju sofa.


Decapan putranya terdengar, membuat Aaron yang sedang bekerja menjadi tak fokus.


"Ck, bisakah kamu menutup d4damu?"


Zeva terdiam, dia menatap suaminya dengan tatapan bingung.


"Varo lagi minum, kalau di tutup bagaimana dia meminum asiku?" Bingung Zeva.


Aaron menahan nafasnya dan menghembuskannya kasar. Lalu, dia memutuskan untuk mengambil laptopnya dan beranjak keluar kamar.


Zeva menatap kepergian suaminya dengan pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Sensi banget sih." Batin Zeva.


Sementara di depan kamar, Aaron menghembuskan nafas pelan.


"Sengaja banget kayaknya! gak tau apa, suaminya harus puasa lama. Malah mancing seenaknya." Gerutu Aaron dan berlalu pergi.


_____


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.


MAU TRIPLE UP GAK NIH🥱🥱