Find Me Daddy

Find Me Daddy
Gara-gara kambing



Nathan tengah menjemur putranya, sementara Marsha memompa asinya di kamar. Sedari tadi, papa muda itu menatap putranya dengan kening mengerut.


"Kenapa kamu gak mirip papa? Malah mirip siapa kamu? Papa bukan, mama bukan." Gumam Nathan.


"Apa ketuker kali di rumah sakit yah." Batin NAthan.


Lalu, Nathan menatapnya lagi dengan teliti. "Ah, gak mungkin. Orang kamu ganteng kok, pasti bayi papa." Celetuk Nathan.


Saat asik menatap putranya, tiba-tiba kedua putrinya memanggilnya.


"Papa!" Pekik keduanya.


"Eh, princess papa ... sini sayang." Panggil Nathan.


Keduanya mendekati Nathan yang duduk di kursi taman sembari memangku Naufan. Keduanya menatap adiknya yang baru beberapa hari lahir itu.


"Adek Na danteng ya papa," ujar Nayara.


"Iya lah, mirip papa kan," ujar Nathan membanggakan diri.


Nayara menatap adiknya, lalu menatap sang papa. Sontak, dia memundurkan langkahnya sembari memainkan jarinya.


"Nda milip." Cicit Nayara.


"Eh?!" Nathan membulatkan matanya, dia beralih melihat Nadira yang juga tengah memperhatikan Naufan.


"Mirip kan Dira? Masa Yara bilang gak mirip?!" Seru Nathan.


Nadira juga turun menjauh, ekor matanya menatap Naufan yang sedang menggerakkan tangannya.


"Itu dedek Nau macih imut, kalau papa ...,"


"Amit-amit gitu maksudmu?" Sahut Nathan dengan wajah kesal.


Nadira menggeleng, "Bukan Dila yang bilang loh, papa cendili." Cicit nya.


Nathan menghela nafas pelan, memang dirinya sendiri yang berkata seperti itu. Mungkin saja maksud putrinya beda.


"Eh, tar dulu." Nathan baru menyadari sesuatu, dia menatap kedua putrinya secara bergantian.


"Satu ... dua ... perasaan anak papa kembar tiga, satunya lagi kemana?!" Pekik Nathan.


Nayara dan Nadira saling tatap, keduanya menggeleng. Sedati mereka bangun, Aizha sudah tidak ada di kamarnya.


"Nda tau, kelual kali." Jawab Nayara.


"Keluar?! Keluar kemana?" Nathan panik, putrinya tak dia biasakan untuk keluar rumah tanpa pengawasan.


Nathan buru-buru berdiri, dia berniat akan mencari putrinya. Namun, baru juga sampai di ruang tengah. Dirinya mendengar suara yang aneh menurutnya.


"MBEEEEKK!! MBEEEKK!!"


"CEPATLAH KAU JALAN! KU BEBASKAN KAU DALI KANDANG! BELGUNA LAH CEDIKIT!"


Nathan bergegas mendekati asal suara saat mendengar suara putrinya. Nayara dan Nadira pun turut mengikuti sang papa dari belakang.


Langkah Nathan berhenti di teras, rahangnya terjatuh saat melihat putrinya mengeluarkan seekor kambing kecil dari dalam mobil miliknya.


"Nathan!! Anakmu itu lohh!!" Pekik Sofia dengan kondisi yang berantakan.


"Mam! Ini apa-apaan sih! Kok pulang bawa kambing nih anak!!" Pekik Nathan.


"Mami gak tahu, urus putrimu. Ngeyelnya sama kayak bapaknya, mami nyerah dah!" Seru Sofia sembari mengangkat tangannya.


Nathan masih kebingungan, apalagi melihat putrinya yang dengan santainya menarik anak kambing itu masuk rumah.


"Tadi, mami pikir mau beli ayam warna warni dia. Eh taunya, yang dia beli kambing. Mami sudah larang, dia malah teriak kayak orang kesurupan. Ya mami belikan lah," ujar Sofia dengan raut wajah lelah.


Nathan buru-buru masuk, dia menyimpan dulu putranya di kamarnya. MArsha yang melihat gelagat aneh suaminya pun menjadi penasaran, dia berniat mengikuti suaminya. Namun, bayinya malah memuntahkan kembali asinya.


.


"Mau ngapain kamu hah?!" Pekik Nayara dan Nadira, menjaga kamar mereka.


"Mau macuk lah, mau tidul cama temen balu Izha." Seru Aizha sembari mengelus kepala kambingnya.


"ENAK AJA! TIDUL DI LUAL CANA! OGAH KALI KAMI TIDUL CAMA KAMBING!" Seru Nadira.


Raut wajah Aizha terlihat kesal, "Ini kan juga kamal Izha. Dia tidulna juga di kasul Izha, bukan kasul kalian. Kenapa kalian yang malah?!" Pekik Aizha.


Aizha tak mengindahkannya, dia justru memaksa masuk. Nayara dan Nadira berusaha untuk menghalanginya.


"BIALKAN AKU MACUUUKKK!!!" Pekik Aizha.


"KAU KU IZINKAN!! TAPI TIDAK PACALMUUU!!" Seru Nayara.


"TALIK KAMBINGNA YALAAAA!!"


"JANGAAAANN!! INI TEMEN IZHAAA!!"


Ketiganya ribut, membuat kambing kecil itu ketakutan. Hingga, ketiganya berhenti ribut saat kambing itu mengeluarkan sesuatu yang membuat keduanya terbengong.


"NAH! NAH! NAH! KELUAL KAN MUTIALANAAA!!" Pekik Nayara sembari berkacak pinggang.


Aizha menatap kotoran kambingnya yang baru saja keluar, lalu tatapannya menatap Nayara dan Aizha dengan kesal.


"Kalian cih! Jadi kebelet kan! Memangna kalian nda puna juga! Cuman beda bentukna aja juga!" Kesal Aizha.


"Tapi kan kami bukan kam ...,"


"AIZHA!!"


ketiganya menoleh, menatap Nathan yang berjalan cepat ke arah mereka. Tiba-tiba, sang papa menarik begitu saja kambing dari pelukan putrinya.


"PAPA!!" Pekik Aizha.


Nathan membawa lari kambing itu keluar, sedangkan Nayara dan Nadira menahan tubuh Aizha yang hendak mengejar sang papa.


"LEPASKAN!! LEPASKAN IZHAAAA!! KAMBING IZHAAAA!!!" Teriak Aizha dengan mata berkaca-kaca.


Tak berselang lama, Nathan kembali sembari membuka bajunya yang terkena aroma kambing. Dia sangat tak suka, apalagi jika membiarkan Aizha membawanya masuk.


"Papa!! mana kambing Izha?" Pekik Aizha saat melihat Nathan kembali tanpa membawa kambingnya.


"Di jual." Jawab Nathan dengan kesal.


"EKHEEEE!! KAMBING IZHA! KAMBING IZHAAA!!"


Nayara dan Nadira sontak menjauh ketika kembaran mereka tergeletak di lantai seperti gangsing. Rait wajah mereka terlihat pias, bingung harus bagaimana.


"Papa." Cicit Nayara.


"Biarkan saja," ujar Nathan. Dia paham, putrinya sedang tantrum. Jika di turuti, anak itu akan menganggap bila nangis sang papa akan mengabulkan keinginannya.


Nathan masuk ke kamarnya untuk mandi, sementara Marsha sudah kembali ke dalam kamar.


"Aizha kenapa? Tadi aku mau sempet nyamperin, tapi Naufan malah muntah." Tanya Marsha pada suaminya yang sedang mengganti pakaiannya.


"Dia beli kambing, enggak tau gimana caranya, mami belikan dia. Kamu tau sendiri, aku paling gak suka kambing. Makan dagingnya aja aku gak mau." Kesal Nathan.


Mulut Marsha membulat, dia baru tahu kalau Nathan tak suka kambing. Dia pikir, hanya tidak suka makannya. Namun, pria itu juga tak suka melihat kambing.


"AKu mandi dulu sebentar." Pamit Nathan.


Tapi, sebelum dirinya masuk kamar mandi. Sejenak, dia menoleh pada istrinya.


"Aizha lagi tantrum, jangan kamu bujuk. Biarkan dia sampai selesai nangis." Titah Nathan.


Marsha mengangguk, dia menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Lalu, dirinya menaruh baby naufan ke box nya. Dia ingin menghampiri putrinya yang di bilang sedang tantrum itu. Dia berjalan dengan pelan-pelan, karena di areanya masih terasa sakit. walau tak seperti hari pertama.


"HUAAAA!!! KAMBING IZHAAA!! KAMBING IZHAAA!!"


Marsha menggelengkan kepalanya saat melihat Aizha sudah seperti gangsing karena muter-muter di kantai dengan posisi tengkurap.


"Aizha." Pamggil Marsha dengan lembut.


"MAMA! HIKS ... kambing Izhaaa!!"


Aizha beranjak, dia mendekati Marsha dan memeluknya. Sebagai seorang ibu, Marsha hanya bisa mengelus bahu putrinya untuk memberikannya pengertian.


"Izha, dengarkan mama. Kambing bukan untuk jadi hewan peliharaan. Kalau Izha mau merawat hewan, bisa rawat kucing yah. Kalau izha mau, nanti sore mama suruh Om Varo antarkan Aizha beli. Mau?" Marsha memberikan pilihan lain untuk putrinya, karema dia mengerti sang putri ingin memiliki peliharaan.


Mendengar hal itu, Aizha menarik diri dari pelukan Marsha. Tangisannya berhenti, dia menghapus air matanya.


"Nda lah, nanti jadi babu na kucing. Kucingna cucah gelak, kalau kambing bica lompat baleng."


"Eh?!"