
Sementara di kediaman Smith, keadaan semakin panas. Dari semalam Marsha terus menangis, dan terpaksa Laras menjauhkan Marsha dari Aaron.
Sedangkan Aaron, Jacob dan para tim IT perusahaan mereka tengah berada di ruang komputer. Di mana mereka tengah meretas CCTV dan juga melacak nomor plat mobil.
"Tuan, mobil menuju lapangan luas. Setelah Jalan ini, sudah tidak ada CCTV lagi." Ujar salah satu IT tersebut.
Aaron menghela nafas pelan, dia menatap layar yang dimana memperlihatkan Zeva yang di bawa oleh para pria berpakaian hitam.
"Plat ini palsu, kami gagal melacaknya." Ujar yang lain.
BRAK!!
Aaron emosi, dia menggebrak meja dengan sanga keras. Matanya menatap tajam tim IT yang sudah dia bawa.
"Kalian bisa kerja gak sih? KENAPA KERJAAN KALIAN GAK ADA YANG B3CUS HAH?!"
"Aaron, sabar. Jangan emosi dulu!" Jacob menghalangi Aaron yang akan menyerang dua orang IT itu.
"Bagaimana aku bisa sabar? istri ku di culik, dia sedang hamil bang! gimana kalau semisal kakak ipar yang ada di posisi istriku? apa abang bisa sabar?!" Sentak Aaron.
Jacob paham jika Aaron tengah emosi, dia menatap kedua orang suruhannya itu.
"Apa ada cara lain?" Tanya Jacob.
"Apakah nyonya membawa ponsel? kita bisa melacaknya."
Tatakan Jacob beralih pada Aaron yang berwajah tegang.
"Aku belum memberikannya ponsel lagi, dia pasti pergi tanpa ponsel." Lirih Aaron.
Aaron memukul-mukul kepalanya, betapa cerobohnya. Ponsel sangat penting bagi istrinya, bisa-bisanya dia menghancurkan ponsel istrinya dengan mudah.
"Hentikan Aaron! kamu akan semakin b0doh jika terus begitu!"
Haikal datang menyusul mereka, dia berjalan mendekati Aaron yang tampak frustasi.
"Coba kamu ingat-ingat, apakah keluarga Evandra mempunyai rumah lain selain di kota ini?" Tanya Haikal menatap Aaron yang terdiam.
"Aku hanya tahu rumahnya yang disini dan di bogor, aku sudah memanggil orang untuk mencarinya. Tapi rumah itu kosong, bahkan perusahaan Evandra sekarang sudah di amankan oleh kepolisian. Semua karyawan tidak ada yang tahu kemana dia." Lirih Aaron.
"Apalagi, orang tua Rio sudah tidak ada karena kecelakaan. Jadi, selama ini dia hanya hidup seorang diri. Kita tidak bisa mencari tahunya dari orang terdekat."
Jacob menepuk bahu adiknya itu. "Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Rio lebih memilih menculik Zeva dan memilih untuk menghancurkan karirnya.
.
.
.
Di kediaman Rafassyah, semua keluarga tengah menonton berita di acara televisi. Mereka semua syok mendengar kabar jika istri dari pengusaha muda sukses telah di culik.
"Kabarnya, istri dari Tuan Aaron pengusaha muda dan sukses itu di culik oleh Rio Evandra. Yang merupakan sahabat lama tuan Aaron, bagaimana kelanjutan beritanya? ikuti terus berita kami."
Andre terdiam, dia cukup syok dengan kabar ini. Netranya beralih menatap Sofia yang sama terkejutnya.
"Kamu dengar sendirikan? Rio bukan pria yang baik, untung saja kamu tidak masuk ke dalam daftar korbannya!" Sindir Andre.
Sofia tertunduk, benar juga. Untung saja ayahnya menyelamatkannya saat itu.
"kasihan Zeva yah, apalagi Marsha. Pasti dia sedang mencari ibunya sekarang," ujar Rena.
"Kamu benar mi, kasihan bocah itu."
Andre mengambil ponselnya ke dalam saku celananya, tampaknya dia menghubungi seseorang.
"Halo Kev, saya butuh bantuanmu. Tolong kirimkan bantuan ke kediaman Smith. Kabarkan pada yang lain,"
"Terima kasih."
Selepas Andre mengirim perintah, anak dan istrinya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Papi bantu mereka?" Tanya Sofia.
Andre mengangguk, "Zeva sudah menolong papi, sekarang giliran kita yang menolongnya. Semoga dengan bertambahnya yang mencari. Zeva dapat segera di temukan," ujar Andre.
.
.
.
Zeva terlibat perdebatan dengan Rio, hingga akhirnya pria itu mengancamnya.
"Turuti perintahku, atau ... aku leny4pkan janin itu?"
Zeva langsung memeluk perutnya, dia menggelengkan kepalanya. Rio benar-benar di luar kendali. Zeva tak bisa berbuat banyak.
Lalu, Rio pun pergi dengan wajahnya yang penuh amarah. Zeva langsung jatuh terduduk di kasur, dia masih memeluk perutnya.
"Hiks ... mas Aaron. Tolong, selamatkan aku, aku tidak mau menikah dengannya hiks ...,"
"Bu, ayo kita bersiap." Ajak perias tersebut.
Zeva menghapus air matanya, dia menuruti perkataan Rio untuk sementara. Sembari otaknya mencari ide untuk keluar dari ruangan ini.
"Mbak, boleh saya tahu kita dimana?" Tanya Zeva di sela dirinya di Make up.
"Maaf nyonya, kami tidak memiliki hak untuk menjawab pertanyaan anda. Sesuai titah dari pak Rio." Jawab perias itu.
Zeva meremas kuat tangannya, air matanya kembali mengalir.
"Mbak, apa kau memiliki suami dan anak?" Tanya Zeva dengan suara bergetar.
Perias itu menghentikan kegiatan menyapu bedak pada wajah Zeva, tatapannya kini menatap Zeva dengan sendu.
"Suami saya sudah tiada, anak kami pun turut mengikuti ayahnya." Jawab perias itu.
"Apakah rasanya sangat menyakitkan?" Tanya Zeva menatap perias itu dari pantulan cermin.
"Benar, sangat menyakitkan." Jawab perias itu.
"Begitu pun denganku, sangat menyakitkan ketika saya di jauhkan dari suami dan anak saya."
Zeva meraih tangan perias itu, tatapannya menyorot sendu pada perias itu. Dia menangkupkan kedua tangannya pada perias itu.
"Saya mohon, katakan dimana ini? tolong bantu saya untuk keluar dari sini,"
Tampak perias itu bingung, dia menatap ke sekitar kamar. Terdapat CCTV di pojok ruangan. Mereka tak bisa memberikan jawaban pada Zeva.
Melihat tatapan perias itu, Zeva menjadi mengerti. Zeva kembali meluruskan duduknya dan meminta perias untuk kembali me make up nya.
"Katakan dengan pelan saja, kamera itu berjarak sangat jauh dari sini. Kamera itu tidak akan bisa mendengar pembicaraan kita. Arah kan tubuhnya membelakanginya." Ujar Zeva dengan suara lirih.
Perias itu menurut, dia berpura-pura untuk membenahi rambut Zeva. Dia berbisik di telinga Zeva.
"Nyonya, saya membantu anda sebagai rasa kemanusiaan. Tolong, jangan libatkan saya." Bisiknya.
Semua pekerja, melakukan tugasnya tanpa terlihat curiga sedikit pun.
"Baiklah." Sahut Zeva.
"Kami tidak bisa menolong anda nyonya, sebab kami kesini menggunakan sebuah pesawat jet. Di depan, kami juga melihat helikopter, sepertinya anda kesini menggunakan helikopter."
"Apa harus memakai keduanya? memangnya seberapa jauh rumah ini?" Bingung Zeva.
"Tentu jauh nyonya, rumah yang kita tempati ini berada di tengah pulau. Pulau pribadi tuan Rio."
Degh!!
"Pulau pribadi, bagaimana bisa aku keluar dari sini? tidak mungkin aku berenang sampai ke Pulau asal. Menyusahkan sekali." Gerutu Zeva.
"Tapi, anda bisa mengirim lokasi anda pada suami anda menggunakan ponsel ini."
Zeva tertegun, saat perias itu memberikan ponselnya dan di selipkan pada gaun putih Zeva.
Zeva menatap perias itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Terima kasih, kau baik sekali." Ujar Zeva, dan tentunya dengan suara lirih.
Perias itu menanggapinya dengan senyum, dia mengambil kain tipis dan menutupi kepala Zeva. Berharap agar pantulan Zeva di cermin tak terlihat oleh CCTV yang ada di belakang mereka.
Di posisi Aaron, pria itu akan memasuki mobilnya. Namun, dia mengurungkan niatnya karena ponselnya bergetar.
"Apa ini?" Gumam Aaron.
Aaron membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
"Mas, aku tidak bisa menelponmu. Tolong, lacak saja nomor ini." Begitulah pesan yang nomor asing kirimkan. Namun, Aaron tahu jika itu adalah istrinya.
Seketika semangat Aaron kembali membara, dia berbalik kembali memasuki rumah dan segera berteriak.
"SIAPKAN LAPTOP!! SEGERA LACAK NOMOR INI!! ISTRIKU AKAN SEGERA DI TEMUKAN!!"
.
.
.
JANGAN SKIP LIKE NYA🥳