Find Me Daddy

Find Me Daddy
Gara-gara salah kamar(S2)



Di desa itu, mereka berfoto-foto di air terjun. Bahkan mereka banyak ambil foto pemandangan karena pemandangan di sana sangatlah indah.


"Berenang juga gak?" Tanya Aurel.


"Ini udah sore Rel." ujar Siska sembari menatap langit.


"Emang kenapa? malem pun gue pernah mandi sini kok!" Kekeuh Aurel.


Aurel memutuskan untuk berenang, Marsha pun turut ikut. Air sungai itu sangatlah jernih, membuat Marsha senang bermain air di sana.


"Eh udah mau gelap, pulang yuk." Ajak Siska, sedari tadi dia tak turut berenang karena takut arus sungai itu yang akan menjadi deras.


"Bentar lagi, lagi seru nih!" Seru Marsha, setidaknya dia merasa terhibur berenang di sana.


Setengah jam kemudian, mereka pun kembali dengan baju yang basah. Sesampainya di penginapan, keadaan sudah gelap. Suasana sangat sepi, hanya bunyi jangkrik yang saling terdengar bersahutan.


"Kamar lo nomor enam yah Sha, ingat. Pintunya jangan di kunci, tengah malem takutnya gue butuh ambil barang." Peringat Aurel.


Sebab barang bawaan mereka lumayan banyak, sebagian barang milik Aurel di tempatkan di kamar Marsha. Karena kamar Aurel dan Siska sudah sempit dengan dua ranjang.


Marsha berjalan menuju kamarnya, dia membuka kunci pintu kamarnya. Pintu kamar Marsha terdapat papan nomor enam dengan paku atas bawah.


Cklek!


Saat Marsha masuk ke dalam kamarnya, pintu paku yang ada di atas nomor itu tiba-tiba saja terlepas. Sehingga papan nomor itu berputar dan mengganti angka enam menjadi sembilan.


Setelah pintu tertutup rapat, Marsha melihat sekeliling kamarnya. Ranjangnya cukup buat dua orang. Bahkan, tiga orang. Di kamar Aurel, ranjangnya terpisah dan hanya cukup satu orang. Marsha tak mengerti mengapa desainnya seperti itu.


"Padahal muat buat kita bertiga." Gumam Marsha.


"Tau ah, gue mau mandi dulu." Putus Marsha


Marsha memutuskan untuk mandi di kamar itu, dan kebetulan setiap kamar terdapat satu kamar mandi.


Selang beberapa waktu, Marsha akhirnya selesai mandi. Dia memakai crop top tanpa lengan dan celana pendek atas paha, karena kamar ini tanpa AC. Membuat Marsha merasakan kepanasan. Apalagi, hanya sedikit ventilasi.


Marsha bergegas tidur, dia masuk ke dalam selimut tipis untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut baju pendek.


.


.


.


Pukul 2 malam, seorang pemuda tengah mencari kamarnya. Dia berhenti di pintu kamar nomor 6, yang sayangnya papan itu malah menunjukkan nomor 9.


"Sembilan, nah! ini dia." Batinnya.


Pemuda itu memasukkan kunci tersebut, tetapi tidak bisa.


"Kok gak bisa sih." Gumam pemuda itu.


Cklek!


"Eh, udah kebuka ternyata." Gumamnya.


Dirinya tak jadi memasukkan kunci di lubang itu, dan saat masuk ternyata ada kunci yang menyantel. Setelah pintu tertutup, dia melihat Keadaan lampu gelap. Kemudian, dia melangkah menuju saklar lampu.


Tak! Tak!


"Mati lampu? penginapan apaan ini, listrik aja gak ada." Gerutu pemuda itu.


Karena badan sudah lelah, akhirnya dia memutuskan untuk membuka jaketnya. Kebiasaan nya saat itu, dia tidak pernah memakai baju.


Berlanjut, dia merebahkan tubuhnya di kasur kapuk. Di sebelahnya terdapat gundukan selimut.


Pemuda itu menatap langit kamar yang gelap, air matanya kini turun.


"Mungkin, malam ini. Adalah malam terindah bagi lo kak. Happy wedding, sorry. .. gue gak bisa nyaksiin pernikahan lo. Terlalu sakit bagi gue." Batin pria itu. Lalu, sesaat kemudian, dia memejamkan matanya.


.


.


.


Pagi Hari, suasana burung berkicau. Siska dan Aurel membuka pintu kamar mereka.


"Haaahh seger banget udaranya, bikin pikiran enjoy. Ya gak Rel," ujar Siska menyikut lengan Aurel.


Aurel mengerutkan keningnya, dia berjalan menuju parkiran dan melihat jejeran motor yang kemarin hampir menyerempetnya.


"Waahh, pucuk di cinta Ulam pun tiba. Gak gue cari, nongol sendiri si biang rusuh. Awas ya mereka." Aurel menarik lengan bajunya, dia bersiap akan menggedor kamar di depannya.


"Eh eh Rel! kalau salah kamar gimana?!" Pekik Siska.


DOR!! DOR!! DOR!!


"KELUAR LO!"


"WOYY!! KELUAR LO!!"


Cklek!


"Apaan sih, berisik banget!" Kesal pemuda itu.


Aurel melemaskan ototnya, dia berusaha untuk mengontrol dirinya agar tak terpesona dengan pria yang ada di hadapannya.


"Panggil ketua lo! gue mau ngomong!" Sentak Aurel.


"Ha? ngapain?" Bingung Pemuda itu.


"Kalian itu sudah menyalahkan aturan dengan kebut-kebutan di jalan! kemarin, hampir aja kalian nyerempet mobil gue! cepet, panggil ketua lo!!" Sentak Aurel.


Karena keributan itu, kamar di samping kana kiri nya pun turut keluar. Bahkan, mang cecep pun turut menghampiri mereka.


"Ada apa ini neng aurel?" Tanya mang cecep.


"Ini mang, kemarin saya hampir di serempet sama mereka. Geng motor gak tau adab! panggil ketua lo! gue mau bicara!"


Siska sudah ketar ketir, karena anggota geng motor itu melebihi tinggi mereka yang hanya sebatas d4da.


"Rel, udah Rel. Lo jangan cari masalah," ujar Siska dengan panik.


"Lo kalau takut mending diem, biar gue panggil Marsha. Kan biasanya mulutnya dia yang lebih mercon dari mulut gue!" Seru Aurel dan langsung bergegas ke kamar Marsha.


Cklek!


"SHA! BANTUIN GUE BUAT LAB ... Marsha."


Aurel benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Siska yang ada di belakang Aurel pun langsung menutup mulutnya tak percaya.


Mereka melihat, di ranjang Marsha sedang berada di pelukan serang pria tanpa memakai baju. Bahkan, Marsha hanya memakai pakaian yang minim. Keadaan mereka, terlihat sangat tak baik.


Melihat kedua wanita itu terdiam di ambang pintu, membuat para pemuda itu penasaran.


"Astaga! BOS! LO NGAPAIN DISINI!!" Seru salah satu dari mereka dan bergegas menghampiri pria yang memeluk Marsha.


Aurel tersadar dari keterkejutannya, dia bergegas menghampiri Marsha dan menepuk pipinya.


"Sha! Sha! bangun Sha!!" Pekik Aurel.


"Astaga!! APA YANG KALIAN LAKUKAN!!"


Semuanya kaget mendengar suara mang ujang, terlihat pria setengah baya itu menatap mereka dengan kilatan marah.


Marsha akhirnya terbangun, dia mengerjapkan matanya.


"Marsha!!" Pekik Aurel.


Marsha barulah sadar ketika melihat banyaknya orang ada di kamarnya. Dia bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya berpakaian minim.


"A-aurel." Suara Marsha terdengar gemetar, dia menatap ke sampingnya dan melihat seorang pemuda ada di sana.


"LO SIAPA HAH!!"


Teriakan Marsha membuat pemuda itu bangun, dia bergegas duduk dan menatap kaget pada sekitar.


"Nathan! bangun, cepet lo!" Sentak pria bersurai merah, bergegas menarik pemuda yang tidur seranjang dengan Marsha.


Secara kebetulan, Nathan berlibur di desa yang sama. Hingga membuat keduanya bertemu, dan di grebek seperti ini.


"Kalian sudah melanggar peraturan desa kami! tunggu disini, saya akan panggilkan pak kepala desa!" Sentak mang cecep dengan tatapan tajam.


"Mang! mang! INI CUMAN SALAH PAHAM!!" Teriakan Aurel di gubris oleh mang cecep, membuat dirinya khawatir.


Marsha masih bingung dengan apa yang terjadi, dia hanya bisa mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya.


"Jelasin, kenapa lo bisa tidur di kama temen gue hah!! br3ngsek banget loo!!" Sentak Aurel, hampir saja Aurel melayangkan pukulan pada wajah Nathan jika pria bersurai merah itu tidak menepisnya.


"Kita belum tahu ceritanya, jangan main hakim sendiri. Siapa tahu, teman kami juga korban!" Sentaknya dengan tatapan nyalang ke arah Aurel.


Tak lama, datanglah kepala desa dengan beberapa warga. Marsha sudah mengenakan pakaian yang lebih tertutup, di bantu oleh Siska. Begitu pun dengan Nathan, dia sudah mengenakan kaosnya kembali.


"Liat mereka pak, mereka sudah berbuat yang tak senonoh di desa kita! Desa kita akan terkena bencana karena ulah mereka!" Pekik mang cecep.


"Pak! saya tidak melakukan apapun dengan dia! ini hanya salah paham!" Sentak Marsha dengan mata memerah.


Pak kepala desa maju mendekat, netranya menatap tajam Marsha dan juga Nathan.


"Apapun itu, kalian sudah melewati batas. Pria dan wanita, di larang sekamar berdua tanpa adanya ikatan. Dan kalian telah melanggarnya,"


"Kami gak tau ada peraturan itu pak!" Seru Aurel tak terima.


"Setidaknya, kalian mengerti adab di desa orang! kalian hanya tamu disini!" Sentak pak kepala desa membuat semuanya diam.


"Tidak ada yang boleh kembali, sebelum mereka berdua di nikahkan."


"APA?!"


_____


JANGAN SKIP LIKE.


KOMEN YUK🥳🥳