
Aaron memasuki kamar putrinya, terlihat Marsha sedang menepuk paha Javier karena bocah gembul itu baru saja terbangun.
"Bagaimana? Nathan sudah menceraikan mu kan?" Aaron duduk di tepi ranjang, tepat di samping sang putri.
Marsha menghentikan tepukannya, dia menatap Aaron. Tatapan sang daddy sama seperti dulu, selalu menatapnya dengan kelembutan
Marsha mengerti, mengapa Aaron begitu marah pada Nathan. Bukan karena dendam, tapi Aaron khawatir akan ada luka lain yang putranya rasakan setelah ini.
Dia terluka sedikit saja, daddy nya langsung panik. Bahkan, setiap pria yang mendekatinya, selalu Aaron jauhkan darinya karena takut putrinya mengalami patah hati.
"Marsha, kenapa hm? apa kamu sedih bercerai dengannya? tenang lah, daddy akan mengenalkan mu dengan pria yang lebih baik darinya. Lebih dewasa dan darinya, yang pastinya pemikirannya pun juga matang." Seru Aaron sembari menyelipkan anakan rambut putrinya ke belakang telinga.
"Daddy, terima kasih."
"Untuk?" Bingung Aaron.
Marsha tersenyum tipis, dia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang daddy. Lalu, dia memeluk lengan dadanya dengan menumpu kepalanya pada bahu kekar milik sang Aaron.
"Daddy selalu menjagaku, memberi cinta dan kasih yang semua anak perempuan impikan. Selalu menuruti semua keinginanku, kau daddy impian para anak perempuan."
Aaron tentu saja tersenyum mendengar pujian putrinya. Namun, senyumannya surut ketika dia baru menyadari maksud tujuan pujian sang putri.
"Kamu memuji daddy karena ingin meminta sesuatu kan?"
Marsha menduselkan wajahnya pada lengan sang daddy, seketika Aaron menjauhkan putrinya dan memegang kedua bahunya dengan tajam.
"Katakan!" Sentak Aaron.
"Hais, daddy, jangan lah marah. Marsha cuman ingin ... daddy cabut tuntutannya pada kakaknya Nathan yah."
"APA?! ENGGAK AKAN! ENGGAK AKAN PERNAH!!" Pekik Aaron.
Suara Aaron membuat Javier terkejut, dia bahkan terduduk dengan mata nya yang nerah. Dia kelihatan linglung, hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Daddy! suaraku membangunkan Javier!" Pekik Marsha dan kembali menidurkan adiknya.
Karena masih mengantuk, Javier kembali tertidur dengan tepukan di pahanya.
"Marsha, dengar ini. Daddy tidak akan mencabut tuntutan itu sampai ...,"
"Kakaknya Nathan keguguran dad." Sela Marsha.
Aaron sepertinya tak terkejut, dia jutsru menghela nafas pelan. "Lalu?"
Marsha menatap tepat di mata sang daddy. Melihat tatapan putri kecilnya, yang sama persis dengan tatapan sang istri. Membuat Aaron mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin luluh dengan tatapan itu.
"Aku ingin, daddy mencabut tuntutan ..."
"Tidak akan!"
Marsha menatap tak percaya pada Aaron, sebelumnya Aaron tidak pernah menolak permintaan nya. Tapi kini, mengapa sang daddy menolak keinginannya.
"Dad ...."
Aaron menatap putrinya, matanya sudah memerah menahan tangis.
"Apa kamu tau bagaimana saat daddy mendengar kamu masuk rumah sakit karena pendarahan? Apa kamu tahu, bagaimana khawatirnya daddy saat kamu masuk ruang UGD. Apa kamu tahu, bagaimana kecewa nya daddy saat itu?"
"Kamu tidak tahu Marsha. Kamu itu nyawa daddy, daddy gak bisa melihat kamu sakit. Daddy gak bisa melihat orang yang telah menyakiti kamu masih ada di sekitarmu. Jadi, daddy mohon. Jangan bujuk daddy untuk mencabut laporan itu." Lirih Aaron.
Marsha tak sanggup menahan tangisnya, tangisnya kembali pecah. Aaron pun bergegas memeluknya, Marsha turut balik memeluk erat sang daddy.
"Di banding Javier dan Varo, daddy lebih menyayangimu. Kamu berlian Alexander dan Smith, daddy harus menjaga ekstra dirimu."
"Daddy, dengarkan Marsha."
Marsha menarik dirinya, dia menggenggam kedua tangan besar Aaron.
"Dad, orang jahat juga memiliki hati. Kakak Nathan tak sengaja mendorongku, karena aku berusaha merebut foto USG itu. Aku tahu bagaimana hancurnya dia saat ini."
"Tidak ada hukuman yang lebih berat saat ini untuknya, selain. kehilangan anaknya. Jika mentalnya terganggu karena hal ini, apakah orang tuanya harus membalasku juga? dengan menghancurkan mentalku, sama seperti hancurnya mental putri mereka olehmu?"
Aaron terdiam, dia baru mengetahui maksud dari perkataan putrinya.
"Apakah jika daddy mencabut tuntutan itu, kamu akan bahagia?" Tanya Aaron dengan menatap lekat putrinya.
Marsha tersenyum dan mengangguk, dia yakin dengan pilihannya. Dia tidak mau ada dendam kedepannya, dia tidak suka.
"Haahh baiklah, daddy akan mencabut tuntutan itu untukmu." Pasrah Aaron.
Marsha tersenyum kebar, dia ingin memeluk Aaron. Namun, sebelum memeluk. Aaron kembali berkata yang membuat Marsha sontak mematung di tempat.
"Nathan sudah menceraikanmu kan?"
Degh!!
"Belum sempat dad, Nathan keburu pergi."
"APA?!"
.
.
.
Sudah tiga hari Nathan tidak datang menemui Marsha sejak hari itu, entah apa yang pemuda itu lakukan. Marsha tidak tau, yang jelas sat ini. Dirinya tengah menyibukkan dirinya dengan melukis, atau pun bersantai. Dia tak ingin memikirkan masalah apapun itu, termasuk Nathan.
"Vier, kau mau kemana?" Marsha memergoki adiknya tengah mengendap-ngendap ke arah pintu utama.
Tubuh Javier menegang, dia langsung berbalik dan menatap kaget ke arah Marsha.
"Itu, tadi di culuh daddy buat bilang ke catpam. Culuh buka pagal katana," ujar Javier mencari alasan.
"Buka pagar, ngapain?" Bingung Marsha.
"Ya nda tau! kok tanya Viel cih."
"Dah lah, Viel mau kelual." Pamit JAvier.
Marsha menaikkan bahunya acuh, lalu dia masuk ke dapur untuk mengambil cemilannya. Dia berniat akan menonton drama di kamarnya.
Sementara Javier, dia berjalan menuju gerbang. Kebetulan, gerbang sedikit terbuka.
"Aden, mau kemana atuh?" Tanya satpam yang berjaga di pos.
"Mau kelual." Jawab Javier.
"Eh ngapain, nanti tuan ma ...,"
TING! TING! TING!
Netra Javier berbinar, dia bergegas berlari dan menghiraukan satpam yang panik mengejarnya keluar gerbang.
"ABAAAANGG!! KETOPLAAAAK!!" Teriak JAvier dengan suara cemprengnya.
Seketika gerobak ketoprak itu terhenti, dan berjalan menuju Javier.
"Mau catu yah, nda pake tahu. Lontong na yang banak, kelupukna duga. Janan pedec." Javier seperti nya sudah pro dalam membeli hingga membuat tukang penjual melongo seketika.
"Napa bengong? buluan buatna! Viel dah lapel tau!" Pekik Javier.
"Eh i-iya." Penjual ketoprak itu, bergegas membuat pesenan Javier.
Selama tukang itu bikin ketoprak, Javier memperhatikan cara buatnya. Lalu, tatapannya beralih menatap satpam yang berdiri di belakangnya.
"Mau Viel pecenin?" Tanya Javier.
Satpam itu pikir, Aaron yang akan membayarnya. Tidak ada yang menolak makanan. gratis kan?
"Mau den!" Pekik satpam itu.
"Sekalian sama bodyguard yah."
"Iya boleh, abang pecen buat paman ini cama paman penjaga."
Ketoprak Javier sudah jadi, dia menerima pesanannya dan berjalan masuk begitu saja.
Tentu saja, bodyguard mau ketika satpam menawarkan. Banyak Yang makan di tempat, bahkan ada yang meminta di bungkuskan.
Satpam menghampiri Javier yang duduk di tras rumahnya sembari menghabiskan satu porsi ketoprak, dia ingin menanyakan tentang pembayaran ketoprak itu.
"Aden, semuanya sudah dapat, tinggal di bayar."
"Telus?" Bingung Javier.
"Lah, aden ini gimana toh? kan aden yang traktir semuanya." Pekik satpam.
"Lah? emangna Viel nomong mau bayal? kan Viel cuman nawalin, mau di pecenin nda. Bukan mau di bayalin nda. Iya kan? telus, calahna Viel dimana?"
Perkataan Javier membuat satpam menggaruk belakang lehernya dan memasang raut wajah yang bingunh.
"Lah, kok gitu si?"
____
Javier sudah muncul nih, mana dong like dan komennya😍😍
Sudah lelah saya menunggu nih lulus🥲 maaf yah kalau telat up nya. lulusnya lama banget😪 entah apa yang salah