
PERHATIAN!!! KEJADIAN DI CERITA HANYALAH KHAYALAN SEMATA, TIDAK UNTUK DI PERCAYA MAUPUN DI TIRU!!
_____
"ENGGAK YA! SAYA GAK MAU!" Sentak Marsha membuat tatapan warga menatapnya tajam.
"Kalian harus mau, kalau tidak. .. tidak ada yang boleh pergi dari sini!" Sentak kepala desa.
Nafas Marsha sudah tersenggal-senggal karena tersulut emosi, dia tak.melalukan apapun kenapa di paksa untuk menikah?
"Kalian gak ada hak menghakimi kami! karena kami tak melakukan apapun! Kalian bisa di pidanakan atas tuduhan pencemaran namana baik!" Sentak Marsha kembali.
"Panggil penghulu, kita nikahkan mereka berdua."
"SAYA MASIH MEMILIKI SEORANG AYAH! KALIAN TAK BERHAK MENIKAHKAN KAMI!" Teriak Marsha yang kesabarannya sudah habis.
Kepala desa yang akan pergi, pun mengurungkan niatnya. Dia berbalik menatap tajam pada Marsha.
"Baiklah, hubungi ayahmu. Dan suruh dia kesini." Titah pak kepala desa.
Marsha bergegas mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi sang daddy.
Aaron yang saat itu sedang rapat, terpaksa menerima telpon putrinya. Karena sang putri mencoba berkali-kali menelponnya, tapi tak kunjung dirinya angkat.
"Maaf, saya permisi dulu." Pamit Aaron dan keluar dari ruang rapat itu.
"Halo sayang,"
"Daddy! hiks ... tolongin Marsha hiks ...,"
Raut wajah Aaron berubah tegang, mendengar jeritan tangis putrinya.
"Kamu kenapa? apa yang terjadi? apa terjadi sesuatu?" Tanya Aaron dengan panik.
"Daddy tolong datang ke Desa X, tolong daddy hiks .. Marsha mau pulang hiks ... sekarang marsha ada di penginapan hiks ... jemput Marsha daddy,"
"Syutt tenang okay ... daddy akan ke sana, tenangkan dirimu hm."
Dengan perasaan panik, Aaron membatalkan rapatnya. Dia bergegas pergi ke desa yang putrinya maksud, karena dia tahu letak desa tersebut.
Sementara Marsha, dia hanya bisa menangis. Siska dan Aurel sibuk menangkan wanita itu.
"Ini semua gara-gara bos kalian yah! sembarangan aja masuk kamar orang!" Sentak Aurel pada mereka bertujuh.
"Lo bisa gak, gak buat suasana makin panas hah?!" Sentak pemuda berambut merah.
"He! cabe kering! yang buat masalah bos lo! tapi dari tadi dia diem tanpa pembelaan!" Pekik Aurel.
Saat pemuda berambut merah tadi ingin membalas perkataan Aurel, Nathan memegang tangan temannya iyu.
"Nath! mulutnya harus di sumpel!" Seru pemuda itu dengan kesal.
"Raffa, lebih baik lo diam dari pada membuat suasana semakin panas." Pinta Nathan.
"Ck." Raffa berdecak sebal.
Tatapan nathan jatuh pada sosok Marsha, dia akui. Bahwa Marsha sangatlah cantik, kulitnya putih. Hidungnya mancung, dan bibirnya terlihat ...
"Ck, apa yang gue pikirin sih." Batin Nathan mengusir pikiran jahatnya.
Tunggu menunggu, tak lama suara mobil terdengar. Marsha tau suara mobil siapa, dia bergegas berdiri.
"Marsha!"
"Daddy!"
Marsha beranjak dan berlari menuju sang daddy yang sudah berdiri di ambang pintu, dia memeluk erat daddy nya itu. Aaron menc1umi kepala anak gadisnya berulang kali, dia merasa lega saat melihat putrinya baik-baik saja.
"Kenapa hm? ada apa? kenapa putri daddy menangis?"
Terlihat, kepala desa mendekat pada Aaron. Sehingga Marsha melepas pelukan mereka.
"Anda orang tua anak ini?" Tanya kepala desa.
Aaron mengangguk, "Iya pak, saya ayahnya. Ada apa yah? kenapa banyak warga disini?" Bingung Aaron.
"Putri anda sudah melalukan tindakan yang tidak senonoh dengan pria itu di desa kami. Sehingga, kami akan menikahkan mereka sekarang juga agar tak menjadi bencana bagi desa kami."
"Apa?!" Aaron benar-benar terkejut mendengarnya.
"Daddy hiks ... Marsha gak mau! Marsha gak mau!!" Rengek MArsha.
Aaron beralih menatap pemuda yang di tunjuk oleh kepala desa, dia tak tau bagaimana ceritanya hingga putrinya di tuduh seperti itu.
"Pak, putri saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Saya yang mendidiknya, saya yang melihat tumbuh kembangnya. Bahkan, setiap pergerakannya, selalu saya awasi. Dia bahkan tak berani untuk sekedar berpegangan tangan dengan pria mana pun selain saudaranya," ujar Aaron, membela putrinya.
"Tapi kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, jika putri anda dan pemuda itu tidur seranjang tanpa pakaian."
"Marsha, apa kau mengenal pria itu?" Tanya Aaron dengan mata memerah. Melihat banyaknya saksi mata, kepercayaan Aaron pada putrinya semakin terkikis.
Marsha menggeleng, air matanya turun deras. Jika daddynya tak percaya padanya, bagaimana nasibnya kedepannya.
Aaron mengusap wajahnya, dia menatap kepala desa dengan tatapan memohon.
"Pak, maafkan putri saya. Saya akan membawanya pulang, dan masalah ini. Saya akan mengganti rugi berapa pun yang kalian minta," ujar Aaron.
"Tidak bisa! desa kami sudah di kotori oleh mereka, dan satu-satunya cara agar desa kami tak terkena mala petaka akibat ulah mereka adalah menikahkan mereka!" Sentak kepala desa.
Aaron menagkupkan tangannya, "Saya mohon pak, masa depan putri saya masih panjang. Bagaimana mungkin saya menikahkannya dengan pria yang kami tidak kenal asal-usulnya," ujar Aaron.
"Tidak bisa! kalau anda tidak mau, kami akan menikahkan mereka dengan paksa." Kekeuh kepala desa.
Aaron menghela nafas pendek, dia menatap pemuda yang sedari tadi diam berdiri menatapnya tanpa takut.
"Apa kau telah memanggil orang tuamu?" Tanya Aaron.
Nathan menggeleng, "Ini masalahku, biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri," ujar Nathan dengan tegas.
"Heh? dengan apa kau menyelesaikannya? sedari tadi kau diam tanpa bicara," ujar Aaron dengan kesal.
"Jika kepala desa dan warga ingin kami menikah, maka ... baiklah! aku akan menikahinya!"
"APA?!"
.
.
.
"Saya terima nikah dan kawinnya Marsha Aruna Leandra Alexander dengan mas kawin uang sebesar lima puluh ribu rupiah di bayar tunai!"
Nathan berjabat tangan dengan Aaron, tatapan Aaron menatap tajam pemuda yang menjabat tangannya.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAH!!"
Aaron bergegas melepaskan tangannya, dia beranjak berdiri dan segera menarik putrinya.
"Ayo pulang!" Ajak Aaron.
"Tunggu dulu!"
Langkah Aaron dan Marsha terhenti, keduanya berbalik dan menatap pak kepala desa yang lagi-lagi menghalanginya.
"Apalagi? kalian ingin saya menikahkan putri saya, sudah saya kabulkan. Apalagi yang kalian minta hah?!" Sentak Aaron.
"Putri anda dan suaminya, tidak boleh keluar dari desa ini selama tiga hari tiga malam."
"Kalian waras? APA-APAAN INI!" Aaron sudah benar-benar marah.
"Mereka harus tinggal dalam satu kamar selama waktu yang sudah di tentukan."
Aaron mengusap kasar wajahnya, salah dia tak membawa polisi. Hingga mereka di sulitkan oleh orang-orang inu.
"Daddy, aku mau pulang." Cicit Marsha.
"Hanya tiga hari saja kan? setelah ini, apa putriku boleh pulang?" Tanya Aaron yang sudah lelah berdebat.
"Ya, setelah ini. Kalian boleh membawa mereka berdua pulang."
Aaron menatap putrinya, dia menarik tangan putrinya untuk menjauh dari kerumunan warga.
"Daddy, Marsha gak mau." Isak Marsha.
"Dengarkan daddy, besok daddy akan datang membawa polisi kesini. Dengan begitu, kita bisa membawamu pulang hm." Ujar Aaron sembari kedua tangan nya memegang kedua sisi kepala sang putri.
MArsha masih menangis, membuat Aaron tak tega. Dia langsung memeluk putrinya dengan erat.
"Tunggu daddy, daddy akan membawamu kembali pulang." Bisik Aaron.
___
Udah lunas nih😆
Author nya mau up lagi, gimana yah🤨
Yang mau, yuk komen🤩
Cuplikan bab selanjutnya:
"Lo pikir, bakalan lepas dari gue setelah apa yang terjadi semalam hm? Jangan harap."