
Zeva mengerjapkan matanya pelan, dengan perahan dia mendudukkan dirinya sembari memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
Setelah pandangan Zeva jelas, dia baru ingat sesuatu.
"Astaga! tadi aku mau nyusul mas Aaron, kenapa aku malah disini." Ringis Zeva.
Zeva menoleh ke sekitar, ternyata dirinya berada di sebuah kamar yang mewah. Zeva menurunkan kakinya, dan mendekati jendela besar di kamar itu yang langsung melihat ke arah pantai yang indah.
"Siapa yang membawaku kesini." Lirih Zeva.
Jantungnya berdebar keras, dia mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya.
Saat Zeva akan menyusul Aaron, dirinya sempat menunggu taksi di depan rumah. Namun, dirinya malah di bekap dan akhirnya pingsan.
"Astaga, kalau aku di culik bagaimana dengan mas Aaron dan Marsha." Lirih Zeva.
Zeva tak mendapati tas nya, dirinya segera kembali ke ranjang untuk mencari tasnya.
Namun, tak ada tas apapun. Kegelisahan Zeva semakin menjadi, dia kembali ke arah jendela dan membukanya.
"TOLONG!! TOLOONG!! TOLONG AKUU!!" Teriak Zeva, berharap ada orang yang mendengar suaranya.
Cklek!
Zeva langsung berbalik setelah dirinya mendengar suara pintu, betapa terkejut nya dia melihat Rio yang datang dengan membawa nampan sarapan.
"Ri-Rio." Lirih Zeva dengan suara bergetar.
"Sudah bangun sweet heart?"
"Kamu yang menculikku?!" Pekik Zeva.
Rio tersenyum, dia kembali mengunci pintu dan berjalan menuju nakas untuk menempatkan sarapan Zeva.
"Hanya menempatkanmu di tempat yang seharusnya." Jawab Rio dengan santai.
Zeva segera berlari menuju pintu, dia berusaha untuk membuka pintu itu dengan sekuat tenaga.
CKLEK! CKLEK!!
Rio tersenyum melihat tingkah Zeva, dia mengangkat jarinya yang terdapat kunci kamar itu.
"Kuncinya ada padaku sayang," ujar RIo.
Zeva mengepalkan tangannya, dia bergegas menuju Rio dan meraih kunci itu. Namun, Rio malah menyembunyikan kunci itu dalam saku celananya.
"Ambillah, kalau kau mau." Tantang Rio.
Tak mungkin Zeva memasukkan tangannya ke dalam saku celana Rio, da takur Rio malah menyangka dirinya sengaja melakukannya.
"Duduk dan makanlah, dua belas jam kita perjalanan kesini. Pasti kau lapar," ujar RIo dan mengangkat sepiring nasi.
Zeva menjatuhkan dirinya di kasur, tatapannya pun kosong. Dua belas jam perjalanan, sekarang dia ada dimana?
"Buka mulutmu, dan makanlah." Ujar Rio menyendokkan bubur pada Zeva.
Zeva tak menggubrisnya, dia sibuk melamun dengan memikirkan masib kedepannya.
"Cepatlah makan, kesabaran sangat tipis. Jangan membuatku marah!" Rio mulai meninggikan suaranya.
Zeva tetap menutup mulutnya, tetapi kini dia kembali membuka suara.
"Kita ada dimana?" Tanya Zeva tanpa menatap Rio.
"Aku akan menjawabnya, tapi setelah suapan ini masuk ke dalam mulutmu."
Zeva menatap Rio dengan tatapan tajam, walau begitu dia terpaksa membuka mulutnya.
Rio tersenyum manis, akhirnya dia berhasil membuat makanan itu masuk ke dalam perut Zeva.
"Makanlah yang banyak, setelah ini kita harus bersiap." Pinta Rio.
"Bersiap? untuk apa?" Tanya Zeva kembali dengan raut wajah yang bingung.
"Aku akan menjawabnya, setelah kamu menghabiskan makanan ini." Pintanya.
"Aku bisa makan sendiri!" Ketus Zeva.
Rio tetap tersenyum, tak peduli jika Zeva berkata ketus padanya. Melihat pujaan hatinya ada di depan mata, sudah membuat Rio senang.
"Kamu gak berubah juga, makannya masih belepotan." Tubuh Zeva mendadak kaku, ketika tangan Rio mengambil nasi dari sudut bibirnya. Bahkan, pria itu memakan nasi yang dirinya ambil dari sudut bibir Zeva dengan jempolnya.
"Kenapa diam? Selesaikan sarapanmu, aku keluar dulu."
Rio pun pergi dari ruangan itu, tak lupa dia juga menguncinya. Kini, Zeva hanya menghabisi makanannya dengan hati yang sedih.
"Mas Aaron cari aku gak yah? Marsha usah makan belum? dia paling susah di ajak sarapan."
Zeva mengunyah makannya sembari menitikkan air matanya. Makanan seenak apapun, rasanya akan hambar ketika di makan saat menangis.
Selang beberapa menit, Zeva sudah selesai dari makannya. Dia tengah menunggu Rio dan memohon pada pria itu agar dirinya di pulangkan.
Cklek!
"Sudah selesai?" Tanya Rio yang datang kembali menghampiri Zeva.
"Sudah, jadi ... cepat katakan!" Sentak Zeva secara tak sabar.
Rio melihat ke arah piring itu, dia pun tersenyum puas. Dia memberi kode pada seseorang yang sudah menunggu di luar untuk masuk ke dalam.
Zeva langsung berdiri ketika melihat beberapa perempuan masuk dengan membawa barang. Terlebih, dirinya sangat syok saat melihat seorang perempuan datang dengan membawa gaun putih.
"Gaun putih? gaun pernikahan? Siapa yang akan memakainya hah?" Sentak Zeva tak terima.
Rio tersenyum, dia melangkah mendekati Zeva yang menatapnya dengan marah.
"Tentu saja kamu Sweet heart, kita akan menikah hari ini. Dan merajut ulang kisah kita, hm. Jadi, menurutlah kalau kamu tidak ingin aku marah." Ujar Rio sambil mengusap pipi Zeva dengan jari telunjuknya.
Zeva menepis kasar tangan RIo, netranya menyorot tajam dengan mata memerah.
"Kamu gak war4s! kamu udah gil4 Rio!! KAMU GAK WARAS!!" Sentak Zeva dengan penuh emosi.
Rio menunjuk dirinya sendiri, "Aku, gila? hahaha, ya mungkin. Itu karena aku terlalu cinta pada mu sayang."
Air mata Zeva luruh, wajahnya menunjukkan jika dirinya benar-benar marah.
"AKU MASIH ISTRI ORANG RIO!!" Teriak Zeva dengan air mata mengalir.
Rio malah mengangkat satu sudut bibirnya, dia mengikis jarak di antara mereka.
"Aku tahu, bukankah dulu kamu tidak mempermasalahkan nya? Dulunya, kita sepasang kekasih. sementara kamu masih menjadi istri Aaron?"
Zeva memegang kepalanya, dia mengerang kuat.
"Argh!! Rio!! Dulu dan sekarang beda!! Dulunya kita adalah kekasih tanpa ikatan, dan bodohnya aku menyetujui keinginan bodohmu itu!" Sentak Zeva menunjuk tepat pada wajah Rio.
Rio tersenyum, "Lalu, apa bedanya dengan sekarang? Hanya bedanya ... aku ingin memperjelas status kita." Ujar Rio dengan mudah.
Zeva mendorong d4da Rio dengan kuat ketika pria itu malah semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Kamu gak bisa menikahiku!" Sentak Zeva.
"Why?" Tanya Rio dengan santai, sembari tangannya meraih wajah Zeva..
"Karena aku, sedang hamil! AKU SEDANG HAMIL! ADA BENIH MAS AARON YANG TUMBUH DI RAHIMKU! KAMU GAK BISA MENIKAHIKU RIO!!"
Wajah Rio menegang, lalu tatapannya tertuju pada perut Zeva yang memang masih terlihat datar. Kehamilannya baru menginjak bulan kedua, tentunya bekum terlaku terlihat.
"Hamil?" Tanya Rio dengan ekspresi terkejut.
"Kamu dan Aaron ...,"
Zeva menghapus kasar air matanya, dia menatap Rio yang menatapnya dengan tatapan tajam dan dengan air kata yang tertahan.
"Aku dan mas Aaron sudah kembali, kami sudah rujuk dan melakukan hubungan selayaknya suami istri. Kita tidak bisa kembali seperti dulu Rio, tolong lepaskan aku." Tegas Zeva.
***
JANGAN TINGGAL KAN LIKE😍