
Nathan sedang sibuk di kantornya, dia tengah mengerjakan pembukuan keuangan perusahaannya. Namun, dia merasa ada yang janggal. Keuangan perusahaannya selisih banyak dengan pembukuan yang ada.
"Ck, kenapa selisihnya banyak sekali." Gumam Nathan. Nathan mengambil telpon genggam yang tersedia di meja, dia menghubungi bagian keuangan untuk segera datang.
Tak lama, seorang wanita muda datang menghampirinya. Dengan tersenyum lebar, dia menghadap kepada Nathan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya pegawainya itu.
Nathan melempar dokumen itu tepat di depan pegawainya. Tatapan matanya mengkilat penuh amarah, emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Pemasukan perusahaan kita senilai 35 triliun bulan ini, kenapa disitu hanya 30 saja? Kemana sisanya?" Tanya Nathan dengan nada dingin.
Wanita itu mengambil dokumen tersebut, dan membacanya dengan gelisah. Sesekali, dia melirik ke arah Nathan yang masih fokus menatapnya.
"Tuan." Wanita itu menaruh dokumen tersebut. Lalu, dia membuka dua kancing kemeja hingga menampilkan lekuk tubuhnya.
Melihat hal itu, spontan Nathan menatap ke arah yang berbeda.
"KELUAR DARI RUANGANKU!!" Bentak Nathan.
Namun, wanita itu tak menggubrisnya, dia malah mendekat pada Nathan dan memegang bahu bosnya itu sembari menggodanya. Nathan hanya bisa menahan nafas, bingung ingin melalukan apa.
"Tuan, saya akan memberikan tubuh saya secara gratis kalau tuan mau. Kapan saja tuan membutuhkan saya, saya akan. ..."
DUGH!!
Nathan mendorong wanita itu hingga jatuh ke lantai, membuat pegawai nya itu meringis. Menahan kesakitan akibat dorongan Nathan yang lumayan kencang.
Sedangkan Nathan, dia mengambil hand sanitizer dan mengusapkannya ke tangannya.
"Tuan, kau tega sekali." Lirih wanita itu.
Nathan bergidik ngeri, dia menjauhi wanita itu sembari mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
"Halo, satpam! Tolong ke ruangan saya, ya ... ada wanita gil4 disini." Titah Nathan.
"Tuan! Saya bukan wanita gil4!!" Pekik wanita itu tak terima.
Nathan tak peduli, dia berniat ingin keluar saja. Dari pada, harus berduaan dengan wanita itu.
Namun, belum sempat Nathan sampai ke pintu. Pintunya sudah terbuka dengan sangat keras.
BRAK!!
"PAPA! KENAPA NDA JEMPUT KI ... ta."
Ketiga putrinya datang menyusulnya ke kantor, tatapan mereka mengarah pada pegawai Nathan yang sudah berdiri dan tengah berjalan mendekatinya.
"Heeee ... nenek lombeng ngapain dicini? Kulang keljaaan kaliii yahhh lacanaaa." Seru Aizha, menatap wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Papa, ciapa tante gilang ini?" Tanya Nayara dengan mendelik sinis padanya.
Sedangkan Nadira, dia sedang memutari wanita itu sembari bersedekap d4da. Matanya mengamati setiap lekuk tubuh wanita itu.
"Pant4tna palcu ini, dad4 na juga. Kata na om Alil, banak wanita nda acli cekalang. Dia ... WALIA!" PEkik Nadira membuat wanita itu sontak melototkan matanya.
"HEH!! ANAK KUR4NG AJAR!!"
"BERANI SEKALI KAMU MEMBENTAK PUTRIKU!!" Murka Nathan.
Ketiga putrinya mendekat ke arah sang papa, berakting seakan wanita itu telah menyakitinya.
"Papa, cakit kali pelacaan Izha. Mama nda pelnah bentak Izha, dia bentak-bentak hiks ...." Aizha yang jarang sekali menangis, kini menggunakan air matanya sebagai senjata agar sang papa membelanya.
"Tuan, anakmu sudah keterlaluan. Mereka sudah menghina saya." Sentak wanita itu menahan tangis.
"Papa, kacih tante ini uang. Kacian kali, kancingna lepas. Lokna cobek, bajuna kekecilan. Kacian kali," ujar Aizha dengan nada sedih. Membuat wanita itu seketika membulatkan matanya.
"KAU!! KECIL-KECIL SUDAH BERANI MENGHINA ORANG TUA YAH!!" Pekik wanita itu dengan keras.
Seketika, tawa ketiga putri Nathan meledak. Membuat sang papa terheran-heran dengan tingkah putrinya.
"Dila, dengal tidak? dia bilang dilina tua hahahaha!!"
"Cadal dili itu penting kan Ijah." Sahut Nadira.
"Benal! Kan citu dah tua, hati-hati. Katana om Alil, nanti dalah tinggina kumat. Cepet di kubul na nanti." Seru Aizha.
"KALIAN ...."
Tok! tok!
"Permisi tuan, dimana wanita itu?"
"NAAAHHH! INI DIA PAK, TANGKAP CANGKULIANG INI ... BAWA KE LUMAH CAKIT. GATEL KALI DIA, BUTUH OBAT GATAL KAYANA." Seru Aizha menunjuk ke arah pegawai Nathan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan pegawai.
"Ti-tidak, tuan! Maafkan saya. Saya menyesal, tolong ... Jangan usir saya." Seru wanita itu sembari mendekati Nathan.
Melihat wanita itu mendekati ke arah sang papa, Aizha langsung mencegahnya.
"Eh eh eh ... balu di bilang juga. Nda boleh gatal! Gatal kali loh tante ini! Pelgi cana, Pak catpam! bawa aja, kalau mau bawa pulang kelumah cilahkan. Beban alam cemesta halus di cingkilkan." Seru Aizha sembari berkacak pinggang.
Kedua sarapan itu bergegas menarik keluar wanita tersebut, Nathan hanya menulikan pendengarannya di saat wanita itu berteriak memanggil namanya. Dia akan mengurus pemecatan karyawannya itu nanti pada bagian HRD.
Setelah di rasa tenang, Nathan menatap ketiga putrinya dengan senyum mengembang. Namun, senyumnya surut kala melihat apa yang Aizha pegang. Rupanya, sedari tadi putrinya itu memegang ponselnya dan langsung melakukan video call pada sang mama.
"MAMA, LIAT CUAMINA ... HABIS DI PEGANG WALIA."
"Heh!!"
.
.
.
Zeva tengah sibuk dengan kedua putranya, dia menatap keduanya dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak? Seharusnya, hari ini keduanya sudah masuk sekolah. Namun, keduanya malah mengikuti Varo ke pertandingan futsalnya pagi tadi.
"Bunda kan sudah bilang, waktunya sekolah ya sekolah. Kalau abang kan sudah tidak sekolah lagi, dia bebas mau futsal kapan saja. Tapi, kalian masih sekolah. Bunda marah yah!" Tegur Zeva.
Kedua putranya tertunduk, merasa bersalah. Tangan mungil mereka saling menggenggam, sembari memainkan jari-jarinya. Sesekali Ezkiel melirik ke arah mata tajam sang bunda.
Sedangkan di sofa, terlihat seorang pria muda tengah menyaksikan adiknya yang tengah di tegur dengan segelas es kopi di tangannya.
"Marahin aja bun, potong uang jajan nya. Udah di larang, malah maksa ikut." Sery pria itu, yang tak lain adalah Varo.
Varo kini bekerja di kantor Aaron, dia juga memiliki bisnis kafe yang sudah bercabang di beberapa daerah. Namun, pria itu masih menyempatkan waktu membantu Aaron mengurus perusahaan nya.
Sampai saat ini, Varo belum menemukan wanita sebagai pendamping hidupnya. Dia masih bahagia dengan dunianya sendiri.
"BOOONG ABANG BUNDA! ABANG TADI YANG PANACIN KITA, YA KAN LONI?!" Seru Ezkiel tak terima.
"Kamu aja itu, kan yang pakca aku kamu. Calah kamu lah! Catu lagi, aku bukan Loniii!!" Kesal Zidan.
"Polotes cama daddy cana! Kan katana daddy yang kacih kamu nama Loni. Dacal, nda belcukul!" Seru Ezkiel.
Zeva menghela nafas pelan, bukannya merenungi kesalahan. Putranya malah sibuk berdebat.
"Sana up ke tembok, renungi kesalahan kalian. Bunda gak mau, kesalahan ini terulang lagi. Mengerti?!"
"Ngelti bunda." Lesu keduanya.
Dengan lemas, keduanya menghadap ke tembok. merenungi kesalahan yang sudah keduanya perbuat.
Setelah itu, Zeva kembali ke dapur. Siang ini, dia berencana ingin mengirimkan putrinya masakannya. Sudah lama dia tidak mengirimkan Marsha masakannya. Putrinya itu pasti merindukan masakan rumahnya.
Tak berselang lama, Aaron kembali pulang. Dia kembali untuk mengambil dokumen. Namun, baru masuk ke ruang tengah. Dia sudah melihat putranya yang menghadap ke tembok, dia pun menghampiri keduanya karena penasaran.
"Kenapa kalian?" Tanya Aaron dengan bingung.
"Di hukum bunda kalna liat abang tanding." Cicit Ezkiel.
Kening Aaron mengerut, bergegas dia mencari sang istri ke dapur.
"YAAANGG!! KOK ANAK-ANAK DI HU ...."
PRANG!!
Suara bunyi panci memekakkan telinga Ezkiel dan Zidan, keduanya sontak saling menatap dengan raut wajah yang terkejut.
"KAMU JUGA!! AKU TELPON DARI TADI GAK DI ANGKAT! IKUT KAMU SAMA MEREKA!"
Tak lama, Aaron kembali. Dia menyusul kedua putranya yang sudah lebih dulu menerima hukuman.
"Cabal daddy, katana ictli cemakin cinta cemakin galak." Ujar Ezkiel.
"NGOMONG APA KALIAN?!"
Ketiganya menutup rapat mulutnya, takut spatula yang Zeva pegang melayang ke arah ketiganya.
___
Maaf, kalau buat kalian ngakak malem-malem😭😭