
Marsha duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya, kini nyalinya menciut sebab tatapan Zeva dan Aaron menghunus ke arahnya.
"Jawab daddy, bagaimana bisa kamu ada bersama kita hah?" Tanya Aaron dengan tatapan tajam.
Marsha masih menunduk, lalu dia balik menatap Zeva meminta perlindungan. Namun, sama halnya dengan Aaron. Zeva menatap datar putrinya itu.
"Bunda." Cicit Marsha.
"Bunda gak akan bela Marsha." Jawabnya dengan ketus.
MArsha kembali tertunduk. Lalu, pandangannya menatap ke arah depan dimana Haikal, Jacob, dan Raihan menatapnya dengan pandangan datar.
Marsha memejamkan matanya, wajahnya memerah menahan kekesalan.
"INI NAPA PADA PELELOK MALCHA GINI LOOOHH!!" Teriak Marsha dengan kesal.
Mereka semuanya yang tadinya berwajah datar, kini senyuman mereka terbit. Menatap bocah yang sedang menggebu-gebu menahan amarah. Bahkan, pundaknya sampai naik-turun.
"Enggak ada yang melototin kamu, kita cuman nanya doang." Ujar Aaron dengan santai.
Marsha menatap daddy dengan menyipitkan matanya. "Kalau tanya itu yang baik, gini ... Malcha cayang, tadi kamu kenapa ikut daddy? bukan malah ngomong na gini ... " MALCHA TENAPA KAMU BICA IKUT KITA HAH!!"
Bahkan, ekspresi Marsha membuat mereka menahan tawa. Wajah anak itu memerah, matanya kini berkaca-kaca.
"Mas, jangan di ledek lagi. Sini sayang." Marsha di bawa ke pangkuannya, dia memeluk erat putrinya sembari menciumi keningnya.
Tangisan Marsha pun pecah di dada ibunya, membuat Aaron dan yang lainnya kelabakan.
"Syutt, kok sayangnya bunda nangis? tadi udah jadi pahlawan kecil buat bunda. Kaku hebat sayang," ujar Zeva memberi pujian.
"Tapi, lain kali. Jangan di ulangi yah. Sangat berbahaya buat kamu, bunda gak nau kamu kenapa-napa." Ujar Zeva memberi pengertian.
Aaron meraih Marsha dalam pangkuan istrinya, dia balik memeluk putrinya dengan kelembutan.
"Marsha coba cerita, kenapa bisa ada sama kita hm?" Tanya Aaron dengan lembut.
Marsha menghentikan tangisnya, dia mulai menghapus air matanya dengan tangan gemuknya. Akhirnya, barulah disitu dia cerita tentang kedatangannya.
"Jadi Malcha itu. ..." Di ceritakannya panjang lebar, sampai dimana dia menolong Zeva.
Raihan melongo, dia berdiri dan berkacak pinggang sembari menyusul Marsha.
"Oohh, jadi lo biang keroknya! DASAR SEMPRUL!!" Sentak Raihan.
Marsha langsung memeluk Aaron dengan erat, dia takut Raihan akan marah padanya.
"Rai, sudah." Tegur Haikal.
"Dad, lihat dia! pantesan aja tasnya berat! kayak gendong kambing," ujar Raihan.
Mendengar dirinya di katakan kambing, netra Marsha membulat.
"Kambing ... kambing, CITU CAPIII!! CAPIII DACAALL!!"
***
Pesawat telah mendarat, semuanya bersiap untuk turun. Gaun putih Zeva sudah berganti menjadi pakaian biasa yang memang sebelumnya dia pakai di dalam gaun.
"Tolong dong, jaket kamu Rai. Kakak pinjam buat nutupin wajah Marsha." Pinta Aaron.
Raiha mengerutkan keningnya. Lalu, netranya menatap jendela pesawat. Matanya terbelalak kebar, setelah melihat begitu banyaknya wartawan di kuar sana.
"Eh, banyak banget. Ngapain mereka? minta ampau? kan belum harinya." Gumam Raihan.
"Ck lama! buruan napa!" Kesal Aaron.
"Ishh iya! iya!"
Raihan membuka jaketnya, dan Aaron pun mengambilnya. Dia menutup kepala putrinya dengan jaket itu, bersyukur Marsha sedang tidur saat itu. Sehingga Aaron bisa lebih leluasa mengatur putrinya.
"Yasudah, ayo turun." Ajak Haikal membuka pintu pesawat.
Haikal, Jacob dan Raihan turun lebih dulu. Sementara Aaron, dia menggendong putrinya sembari menggandeng sang istri.
Zeva memakai masker hitam, agar wajahnya tak di kenali oleh kamera. Semilir angin, menerpa rambut hitam panjangnya.
CKREK! CKREK!!
Para bodyguard Smithh turun untuk membelah para wartawan, sehingga Haikal dan yang lainnya bisa jalan.
"Tuan, tolong katakan. Siapakah wanita di samping anda? apakah dia istri anda? dan yang sedang anda gendong itu, putri anda? dan kapan anda menikah?" Desak salah seorang wartawan yang bahkan berusaha menggapai Aaron sehingga memepet ke arah Zeva.
"Maaf, bisakah anda sedikit menjauh? istri saya sedang hamil," ujar Aaron.
Para wartawan pun kembali mendapatkan kabar yang bagus menurut mereka, kamera kembali di hadapkan pada keluarga Aaron.
"Tuan, tolong jelaskan. Bagaimana istri anda bisa di culik oleh pemilik perusahaan Evandra? dengar-dengar, tuan Evandra adalah sahabat anda dulu? Tuan, katakan sesuatu!" Seru seorang wartawan tepat di sebelah Aaron.
Kerusuhan wartawan yang bertanya itu membuat jaket yang menutupi kepala Marsha melorot. Sehingga, mereka bisa melihat mata dan rambut Marsha.
CKREK
CKREK!
CKREK!
Mendengar suara kamera yang berbunyi cepat, Raihan bergegas menoleh. Dirinya melihat para wartawan tengah mengambil gambar keponakannya.
"Eh eh eh!" Pekik Raihan bergegas menutup kembali kepala keponakannya.
"Yaaahh." Kecewa para wartawan yang tidak dapat foto Marsha.
"Gak boleh! ngerti! wajah keponakan gue MA-HA-L." Sinis Raihan.
Sesampainya Aaron di parkiran mobil, wartawan tak henti-hentinya mengejar mereka. Aaron meminta istrinya untuk masuk terlebih dahulu, baru dirinya.
"Hah ... panas banget mas. Parah banget sih mereka, aku sampai gak bisa napas." Keluh Zeva.
"Mereka begitu karena pekerjaannya, kita juga gak bisa mengusir mereka. Gak ada berita, mereka gak bisa makan." Ujar Aaron dengan santai.
Aaron menarik jaket yang menutupi kepala putranya, tangannya mengusap keringat di kening Marsha.
"Iya juga." Sahut Zeva.
Zeva meletakkan kepalanya di bahu sang suami, dan tak lama dia tertidur. Rasa kantuk dan juga lelah, membuatnya mudah terlelap.
Aaron yang tahu istrinya tertidur meminta supir untuk menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit berlalu, tibalah mereka di kediaman Smith. Bukan hanya di bandara, bahkan di kediaman Smit juga wartawan telah menunggu mereka.
Para bodyguard sigap membuka jalan, Haikal, Jacob, dan Raihan turun terlebih dahulu.
Setelah istrinya berhasil di bangunkan, Aaron dan Zeva bersigap keluar. Haikal dan Jacob turut membantu Zeva dan Aaron.
Marsha merasa tidurnya terusik, dia membuka matanya. Gelap, karena kepalanya masih berada di dalam jaket.
"Ih, Libut-libut apaan cih!! ngantuk loh Malcha ini!!" Pekik Marsha menarik jaket itu.
Jacob merangkap wajah Marsha dengan tangannya, Marsha pun terus berusaha membuka tangan Jacob dari wajahnya.
BRAK!
Mereka berhasil masuk, nafas mereka terdengar memburu. Pintu berhasil di tutup, dan para wartawan pun mulai menggedor pintu.
"Hah, akhirnya kalian sampai juga!" Lega Laras.
Laras menatap menantunya, dia segera merentangkan tangannya. Zeva pun membalas peukan mertuanya dengan erat.
"Kamu baik-baik saja kan? janinnya?"
"Aku baik mah." Jawab Zeva dengan senyuman tipis.
Setelah pelukan mereka terlepas, Laras beralih menatap Marsha. Di cubitnya pelan lengan Marsha olehnya.
"Dasar bandel! Nenek kira kamu ikutan hilang!" Kesal LAras.
Narsha mengusap tangannya yang bekas di cubit oleh neneknya, tak sakit. Hanya cubitan pelan saja.
"Hilang kan tindal di cali, apa cucah na ci?" Cicit Marsha pelan.
"MALCHAAA!!! KELELENG CAMA BOLA ACAP PUNYAKU MANA?!" Seru Ariel yang berada di bawah kaki Aaron.
Marsha mematung, dia menatap Ariel. Lalu, tertawa hambar. "Hehe, Malcha pinjam cebental tadi. Telus ...,"
"Malcha lempal ke olang, hehe ...,"
"MARSHA!!" Pekik Ariel dan Azka secara bersamaan.
____
Maaf keterlambatannya🥲