
Cklek!
Natah memasuki kamarnya, dan saat melihat Marsha yang sudah terbangun dia pun mengembangkan senyumannya.
"Sudah bangun Sweety?" Tanya Nathan sembari melangkah ke arah istrinya yang duduk di tepi ranjang.
Marsha tak menjawabnya, dia hanya menatap kosong ke arah ponsel milik suaminya. Dia bahkan menghiraukan usapan tangan Nathan di kepalanya.
"Sweety, ada apa?" Bingung Nathan.
"Siapa Gita?" Tanya Marsha, sembari menatap tajam sang suami.
Nathan terdiam, dia beralih menatap ponselnya yang berada di tangan istrinya. Dia tidak marah ketika tahu istrinya lancang membuka ponselnya.
"Kamu buka ponsel aku?" Tanya Nathan dengan lembut.
"Ck! kenapa? gak terima? karena rahsia kamu kebongkar, iya?"
"Rahasia apa sih? aku gak pernah rahasiain sesuatu dari kamu." Bingung Nathan.
"Terus, Gita siapa?! Ngapain kamu kirim uang ke dia? Istri baru kamu heh?"
Nathan menghela nafas pelan, "Memangnya Gita chat gimana si?" Tanya Nathan mencoba sabar.
"Kan! berarti kamu bener kirim uang ke Gita!" Seru Marsha sembari menaruh kasar ponsel itu pada dada suaminya.
Nathan menerima ponselnya, dia melihat ponselnya dan membuka chat nya bersama Gita.
"Sweety, Gita hanya teman sekolah ku dulu. Dia butuh uang buat ayahnya berobat, maaf ... aku belum sempet bilang sama kamu." Sesal Nathan.
"Kamu tau gak! Laki-laki itu kalau sudah di hadapkan sama wanita, mereka pake insting! ketika Insting laki-laki kamu dalam mode on, bisa aja kamu ngajak dia nikah biar bisa bantu dia!"
Nathan melongo tak percaya, padahal dia tak ada niatan sampai segitunya. Dia hanya membantu Gita dan sudah, urusan keduanya selesai. Kenapa harus di tuduh seperti ini?
"Aku bangun malam, nyusuin anak kamu setiap dua jam sekali. Nahan lapar nahan ngantuk, kamu enak-enakan kasih perhatian lebih ke wanita lain dengan alasan membantu. Hebat kamu yah."
"Marsha, kamu kenapa si?" Bingung Nathan.
MArsha kembali terduduk, dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian, dia menangis tersedu-sedu dan membuat Nathan panik bukan main.
"Sayang! kamu kenapa? hey, coba lihat aku sini." Nathan menangkup pipi Marsha, netranya menatap lekat ke arah mata Marsha yang berair.
"Jujur aja, aku cuman cinta sama kamu. Gak akan ada setelahnya wanita lain yanga ku cintai, apalagi menikahinya. Tolong, percaya padaku. Aku akan memblokir nomornya,"
Nathan menunjukkan ponselnya, nomor Gita sudah ia blokir. Melihat itu, Marsha menangis. Lalu, menepis ponsel Nathan hingga membuat ponsel itu hampir terjatuh.
"Bisa aja setelah ini kamu buka blokirannya hiks ...,"
"Swe ... astaga ... aku harus bagaimana biar kamu percaya? Kamu mau belah d4da aku? biar kamu lihat, siapa yang ada di dalam hatiku?" Frustasi Nathan.
"Ya kamu mati dong! kamu berharap aku jadi janda yah!"
Nathan memiringkan kepalanya dengan mulut membulat sempurna.
"Kayaknya kamu kecapean deh, udah yuk aku bantu mandi. Habis itu kita istirahat." Ajak Nathan. Saat Nathan akan membantunya berdiri, Marsha malah menepisnya.
"Gak usah! aku bisa sendiri!" Ketusnya.
Nathan menatap kepergian istrinya memasuki kamar mandi dengan raut wajah melongo.
"Marsha kenapa yah? Kok sehabis lahiran jadi over thinking gitu." Gumam Nathan.
.
.
.
Javier berjalan menuju kamar orang tuanya, dia ingin menagih susu jatah malamnya. Sudah jam sepuluh malam, tapi sang bunda belum memberikannya susu.
Sesampainya di depan pintu kamar orang taunya, Javier haris berjinjit agar sampai menggapai handle pintu.
Kreett!!
"Ndaaa!! susu!!!" Seru Javier.
"Syuttt!! jangan berisik." Aaron bergegas menghampiri putranya. Kedua bayi kembar nya baru saja tertidur setelah Zeva menyusuinya. Sementara Zeva, wanita itu turut terlelap bersama anaknya.
"Mau susu kok ya!!" Pekik Javier.
"Daddy yang buatkan!" Aaron menggendong Javier keluar, dan tak lupa menutup pintu kamarnya dengan rapat.
"Adek balu telus yang di ulucin. Anakna ini di telantalin. Dah tua, malah kacih Viel Adek. Buang aja adekna, mukana ngajak belantem telus. Kayak daddy,"
Aaron menghiraukan celotehan Javier, dia menurunkan anaknya di meja dapur dan berlanjut membuat susu untuknya.
"Javier harus sayang adik, gak boleh begitu." Tegur Aaron."
"Kenapa nda boleh? kenapa halus cayang adek? Nanti becal, mau Viel jual adekna." Seru Javier membuat Aaron melotot seketika.
"Bukan adek yang di jual, kamu yang daddy jual. Minum susu banyak botol, ketoprak terus, jajan terus. Lama-lama bisa bangkrut daddy." Balas Aaron membuat wajah JAvier merengut sebal.
"Yaudah! Viel mau cali daddy balu!" Pekik Javier.
"Eh eh eh ... kamu kira ada yang mau nampung kamu huh? gak ada, rugi mereka nampung kamu. Kerjaannya tidur makan main, perut bulet di bawa-bawa. Setiap jam makan terus, minum susu terus. Malah susu kamu lebih mahal dari kopi daddy. Yang ada, bangkrut mereka orang. Masih mending daddy mau ngurus kamu,"
Perkataan Aaron membuat Javier melengkungkan bibirnya, dan tak lama dari itu dia menangis dengan keras membuat Aaron yang tadinya niat bercanda seketika panik. Dia takut ketahuan oleh sang istri karena telah menjaili anak mereka.
"E-eh ... jangan nangis jangan nangis." Panik Aaron.
"HUAAAAA!!! JAHAT KALI MULUTNA! MAU TA COLOK MULUTNA, TAPI DADDY CENDILI HIKS ... KENAPA HALUS PELUTNA VIEL YANG DI BAWA HIKS ... BODI CAMING KALI DADDY INI HUAAA!!"
Teriakan Javier ternyata sampai di kamar, Zeva yang mendengar tangisan putranya terbangun dan bergegas menghampiri asal suara.
"Mas, Javier kenapa nangis?" Tanya Zeva dnegan wajah lelahnya.
"Bunda hiks ... tadi daddy hiks ... daddy tadi nga ...,"
Plup!
Aaron menyumpal mulut Javier dengan botol susunya yang sudah terisi. Lalu, dia menatap sang istri dengan tersenyum manis.
"Ini tadi, minta dua botol susu. Jadi aku tegur, biasa kan. Anak kita yang ini banyak drama, haha."
"Ooh ...."
Sedangkan JAvier, dia sudah melotot ke arah daddy nya itu. Merasa terfitnah, dia berusaha melepas dot botolnya dari dalam mulut. Namun, Aaron menahan dot itu untuk keluar.
"Yasudah, aku balik ke kamar yah. Nanti tolong temani Javier di kamarnya, sampai dia tidur." Pinta Zeva.
"Siap sayang!" Seru Aaron.
"Javier, bunda tidur yah. Selamat malam."
Javier panik melihat bundanya yang pergi, seketika dot nya terlepas dari mulutnya.
"DACAAALL!! BUAYA DALAT! BENEL KATA UNCLE LAI! DADDY ITU BUAYA DALAT!"
"Dih, berarti kamu buaya darat juga. Kan kamu anak daddy." Ketus Aaron tak terima.
"Ciapa yang anak daddy? Solly yah, Viel mau culuh bunda buat cali cuami balu. Awas cana, Viel mau bobo." Javier turun dari meja dapur dengan caranya, dia pergi sembari mengedot susunya.
Sedangkan Aaron, dia melongo menatap kepergian anaknya. Ajaib memang putranya itu.
"Perasaan waktu bikin sudah sesuai prosedur deh, gak ada gerakan kayangnya. Kok, anak gue malah lebih mirip anak set ... dih. Gue bapaknya set4n dong kalau gitu?" Gumam Aaron.
___
Ketemu Javier lagi🥳🥳
Terima kasih bagi yang masih membaca, love sekebon untuk kalian🥰🥰🥰