Find Me Daddy

Find Me Daddy
Mirip siapa?



Nathan tengah meringis, saat melihat jalan lahir marsha di jahit. Dia yang melihat marsha kesakitan pun tak tega, sedari tadi dirinya sudah bawel pada dokter yang menangani istrinya.


"Dok, pelan-pelan. Istri saya kesakitan," ujar Nathan dengan lirih.


"Ini sudah pelan-pelan tuan. Sabar ya nyonya, biar cantik lagi jalan lahirnya," ujar DOkter itu dengan bercanda sedikit.


"Ooo di buat cantik lagi." Nathan menganggukkan kepala kepalanya.


Keningnya mengerut saat dokter itu masih menjait, padahal menurutnya jaitannya sudah banyak.


"Dok, jangan di jait semua." Pekik Nathan.


Kedua suster yang berada tak kauh dari mereka pun tertawa kecil. Apalagi dokter yang sedang bertugas itu.


"Iya tuan, ini udah di sisain." Kekeh dokter itu.


Nathan membulatkan mulutnya, sembari menganggukkan kepalanya. Sementara Marsha, dia ingin sekali memukul suaminya itu yang sudah membuatnya malu.


Dertt!!


Dertt!!


Ponsel Nathan berdering, dia bergegas keluar dari ruang rawat Marsha untuk menerima telpon. Melihat siapa yang menelponnya, seketika Nathan menepuk kencang keningnya.


"Astaga! Lupa ngabarin daddy!" Pekik Nathan.


Nathan mengangkatnya, terdengar omelan Aaron yang membuat telinga Nathan sakit.


"HEH! DARI MANA AJA HAH?! DI TELPONIN GAK DI ANGKAT, DI CHAT GAK DI BALAS! MAU DI PECAT JADI MENANTU KAMU!!"


Nathan menjauhkan ponselnya, telinganya terasa sakit karena teriakan Aaron. Setelah tenang, dia kembali menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Daddy, maafkan aku. Aku harus mengurus putraku." Ujar Nathan dengan meringis pelan.


"Kenapa harus di urus? mereka kan bisa ... tunggu! Putra? Kau punya tiga anak, tapi semuanya putri. Putra siapa yang kamu maksud? OOOHH!!!"


Senyum Nathan mengembang, dia pikir Aaron mengerti kodenya.


"KAMU PUNYA ANAK DARI WANITA LAIN MAN HAAAAHH?! PUTRIKU BELUM MELAHIRKAN! ANAK MANA YANG KAMU URUS?! DASAR BUAYA KAMU YAH!!"


Nathan menarik nafasnya, sembari memejamkan matanya. "CUCU DADDY! CUCU DADDY UDAH LAHIR!!" Seru Nathan dengan satu kali tarikan nafas.


Tak terdengar lagi suara Aaron, hanya terdengar suara angin dan suara berisik orang lain.


"Daddy, kau masih di sana? Tanya Nathan dengan ragu.


"Rumah sakit mana? Kita semua mau kesana sekarang!"


"APA?!"


.


.


.


Marsha dan Nathan menatap ke arah pengantin yang masih memakai pakaian pengantin mereka. Keduanya berada di sebelah kanan Marsha, berdiri sembari menatap ke arahnya.


Tak hanya mereka, seluruh keluarga ada di ruang rawat MArsha. Beruntung, ruangan itu sangat luas hingga menampung banyak orang.


"Pesta kalian belum selesai, kenapa kalian kesini." Ringis MArsha.


Azka menatap Marsha dengan tersenyum tipis, "Acarnya sudah selesai kok, kita kesini karena khawatir sama keadaan kamu." Ujar Azka.


Azura, gadis remaja itu kini sudah menjadi wanita dewasa. Wajahnya bertambah sangat cantik, tak banyak yang berubah dari gadis cantik itu.


"Azura, maaf." Ujar MArsha dengan meringis.


"Gak papa, aku malah yang langsung ajak Kak Azka kesini. Kita semua antusias nyambut kelahiran baby boy." Seru Azura sembari tersenyum tipis.


"Terima kasih." Ujar Marsha sembari mengelus tangan Azura.


Sementara baby boy, tengah berada di gendongan Kenan. Tampak sekali, jika bayi itu tengah nyaman di pelukan sang opa. Dia menggerakkan tubuhnya di dalam bedong bayi yang ia kenakan.


"Aizha, Nayara dan Nadia sudah jadi kakak sekarang. Jangan nakal-nakal lagi yah, kan udah punya adek," ujar Kenan pada ketika cucunya yang berada di hadapannya.


"Nda nakal kok, cuman cedikit heboh aja. Iya kan Yala?" Sahut Aizha, meminta pendapat kembarannya itu.


Aizha mendelik sinis, lalu tatapannya kembali beralih pada adiknya itu. "Ini olangna yang buat pelut mama becal! Enak kali, kelual langcung di cayang. Dia yang buat pelut mama becal, cehalusna di malahi. Kok di cayang!" Pelik Aizha.


"Eh?!" Andre serta yang lainnya mendengar ucapan Aizha. Sontak, mereka terbengong dengan penuturan gadis kecil itu.


"Betul kan? Nda baek dia, bica lapol polici," ujar Aizha. Sudah seperti para ibu-ibu bergosip.


Nayara dan Nadira sontak menatap tajam Aizha. "Memangna kau lahil dali mana? Dali capi? Cana kau! Jadi anak capi!" Pekik Nadira.


Mata Aizha melotot, dia menatap kembarannya itu dengan tatapan kesal. "Aku anak capi kau anak capi juga lah! Muka cama, kelakuan na cebelas dua belas. Napa jadi ngelaca kolban kau!" Seru Aizha dengan kesal.


Karena khawatir mereka berdebat, Aaron meraih Aizha untuk ia gendong. Walau Aizha awalnya menolak, Aaron bisa membuatnya menurut.


"Oh ya, Ariel belum sampai yah?" Tanya Jacob yang baru menyadari ketidakhadiran salah satu putranya di sana.


"Biasa itu bang, anakmu kalau enggak jajan yah gombalin cewek. Aku yakin, sebentar lagi dia dateng sama seorang wanita." Celetuk Aaron.


Cklek!


Tatapan mereka beralih pada pintu, terlihat seorang pria tengah berjalan dengan seorang wanita di sebelahnya.


"Bawa siapa kamu?!" Seru Jacob, tatapan oria itu sudah datar. Putranya ini tidak ada kapok-kapoknya. Di suruh menikah, malah terus berganti calon.


"Dia." Tunjuk Ariel pada wanita di sebelahnya. "Perawat katanya, mau ingetin jadwal beri asi untuk baby boy," ujar Ariel.


Mereka pikir, Ariel membawa yang baru lagi, ternyata mereka salah.


"Mana ponakan gue?" Seru Ariel dengan heboh.


Saat melihat seorang bayi yang di bedong, buru-buru pria itu mendekatinya. Dia mengamati wajah bayi yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Kok gak mirip lo ya than? Malah lebih mirip mantannya si Marsha." Perkataan Ariel, sontak membuat semua orang melotot ke arahnya.


"Kenapa? Kan harus jadi orang jujur," ujar Ariel dengan tampang polosnya.


Nathan mendekat ke arah putranya, dia mengamati wajah putranya itu. Memang, putranya tak mirip dirinya. Malah lebih mirip dengan sepupunya. Dimana sang sepupu memiliki rambut hitam tebal, dengan alis yang lumayan tebal. Sedangkan Nathan, pria itu memiliki rambut tidak terlalu hitam. Alis matanya tak tebal.


"Kan masih satu kakek!" Pekik Andre.


"Eh iya! Satu kakek!" Seru Nathan dengan terkekeh kecil.


"Marsha kayaknya pas lagi hamil benci banget yah sama Calvin?" Tanya Sofia pada menantunya itu.


Marsha mengerutkan keningnya, dia bahkan jarang sekali bertemu Calvin. Hanya saat ada acara keluarga saja keduanya bertemu.


"Engga mi, Marsha biasa aja. Malahan pas hamil, seneng banget ngeliat alis Calvin. Tebel gitu," ujar Marsha. Seketika, Nathan melototkan matanya.


"Sweety!!" Pekik Nathan dengan raut wajah pias, dia seperti merasa terkhianati.


"Maaf Than, tapi beneran. Gak tau kenapa, pas hamil seneng banget ngeliat orang yang alisnya tebel. Malah aku kesal ngeliat alis sama rambut kamu." Ringis Marsha.


Ariel membekap mulutnya, dia ingin tertawa lebar saat melihat wajah Nathan yang begitu lucu.


"Perasaan gue yang buat, gue yang kerja ampe relain begadang. Kok mantannya yang dapet hiks ...." Batin Nathan dengan drama.


Andre menyerahkan cucinya pada suster yang akan memberikan bayi itu Marsha untuk di berikan asi.


"Sudah mengerti caranya kan nyonya?" Tanya SUster itu ketika menyerahkan bayi Marsha.


"Ngerti sus." Sahut Marsha, dia pernah pengalaman memiliki bayi. Jelas, dia mengerti.


Marsha melihat bayinya, dia mengelus pipi bulat bayinya itu. Bibir bayi itu seakan tengah mencari sesuatu.


"Tapi garis wajahnya mirip Nathan deh Sof, coba liat." Celetuk Zeva, yang berada di dekat putrinya.


"Eh iya, mirip Nathan bayi! Persis banget! AKu masih punya fotonya loh!" Seru SOfia degan heboh.


Mendengar hal itu, membuat Nathan serasa terbang. Bibirnya tersenyum lebar, seakan puas dengan perkataan kedua ibu itu.


"Anak gue tuh." Bisik Nathan pada Ariel yang mendengus karena gagal mengerjainya.


___


Pulang kerja gercep langsung kerjain🥳🥳