
1 Bulan kemudian.
Nathan memutuskan untuk mengadakan acara penyambutan atas kelahiran ketiga anaknya di sebuah gedung mewah. Aaron pun melalukan acara yang sama, sehingga mereka memutuskan untuk menggabungkan dia acara tersebut.
Para bayi, di letakkan di stroller mereka. Kelimanya sudah tampak rapih dengan pakaian yang bagus.
Nathan menyusul istrinya yang masih berada di ruangan pribadi, dia mendekati Marsha yang tengah memompa asinya.
"Nathan, aku capek." Lirih Marsha.
Melihat itu, Nathan membantu istrinya untuk menaruh Asi yang di hasilkan ke dalam sebuah botol.
"Dari pagi gak ada habisnya nyusuin terus. Malem juga mereka kebangun terus karena lapar." Lirih Marsha dengan suara bergetar.
Nathan menghela nafas pelan, dia mencoba mengerti kondisi istrinya. Ketiga bayinya menyusu dengan kuat, bahkan selalu merasa lapar. Marsha sampai tidak bisa menyetok susu karena anaknya yang terus meminumnya. Tempat penampungan asinya sampai perih akibat pompa yang ia gunakan. Padahal Nathan sudah mengganti dari berbagai macam pompa, tetapi istrinya tetap merasakan sakit.
"Aku sewa baby sitter aja, gimana? Biar fokus kamu untuk menghasilkan Asi aja. Biar tidur kami teratur, Asinya juga berkualitas. Hm?" Nathan menangkup pipi istrinya, wajah istrinya sudah di make up. Sayang sekali jika harus terkena air mata
"Aku gak percaya sama orang asing, aku takut mereka melukai anakku. Aku bisa mengurus mereka sendiri."
Jawaban MArsha membuat Nathan dilema, dia akhirnya menurut apa keinginan istrinya. Namun, sebisa mungkin juga dia membantu istrinya mengurus anak mereka.
"Yasudah, kalau sekarang lelah. Acaranya sebentar aja, habis itu kita pulang. Gimana?"
Marsha akhirnya mengangguk, dia kembali membereskan gaunnya yang sedikit tersingkap.
"Ayo." Nathan merangkul linggang istrinya itu, untuk keluar dari ruangan tersebut menuju panggung.
Sedangkan para kakek dan nenek, sedang menatap para bayi yang tertidur dengan pulasnya.
"Haaahh ... akhirnya punya cicit perempuan juga." Bangga Andre.
"Iya pa, mereka lucu sekali." Gemas Rena.
Kenan dam Sofia sama gemasnya dengan ketiga cucunya. Sedangkan Haikal dan Laras, keduanya asik menatap kedua bayi Aaron masih tertidur lelap.
"Kembar dad, seumuran lagi sama keponakannya." Lirih Laras.
"Lucu yah," ujar Haikal dengan gemas.
Sedangkan Nyonya dan tuan Alvarendra, mereka juga turut menatap cicit mereka.
"Akhirnya, punya turunan cewek juga. Tiga lagi. Nanti habis ini suruh nathan buat yang laki-laki, biar lengkap." Celetuk Tuan Alvarendra.
"Ck, kamu tuh! emangnya gak capek apa! kasih jeda dulu napa!" Kesal istrinya.
Acara pun di mulai, semua tamu termasuk para keluarga duduk di kuris mereka. Sedangkan kedua bocil, Javier dan Akash. Sedang menatap kelima bayi mungil yang kini mulai merengek meminta susu.
"Nanis telus, tiap hali nanis aja keljaanna. Olang tuh, Cali duit. Buat beli ketoplak, janan cucu mulu keljaanna. Mana kenang cucu doang, kayak Viel dong. Makan na ketoplak." Celoteh Javier.
Javier berbalik, dia akan menuruni panggung. Hanya saja, dia tidak bisa menjaga keseimbangan dan berakhir terjatuh dengan tidak elitnya.
GUBRAK!!
"ASTAGA!! JAVIER!" Pekik Zeva.
Zeva membangunkan Javier dan mengelus keningnya yang menyeruduk lantai.
"Sakit sayang?" Tanya Zeva dengan lembut.
"Nda papa, nda papa kok. Viel kuat, iya Viel kuat ... Viel na nda hiks ... HUAAAA!!! TAKIT KALIII PALANAAA!! KAYAK GECEL OTAKNA INI HIKS ...,"
Zeva tertawa, begitu pun dengan yang lain. Dia meminta suaminya untuk membawa Javier ke belakang agar di obati.
Marsha dan Zeva memberikan susu pada bayi-bayi mereka, di bantu oleh Aaron dan Nathan.
"Kak Clau sudah datang?" Tanya Zeva pada Nathan yang sibuk menenangkan anak pertama mereka yang tak kunjung mau menyedot susu.
"Aku belum liat. Sayang, coba liat ini. Dia gak mau nyusu." Unjuk Nathan.
Marsha pun melihat bayinya, dia membantu bayinya agar mau meminum susu.
"Tuh mau! kamunya aja gak bisa nyusuin." Kesal Marsha.
Salah lagi, Salah lagi. Sepertinya Nathan harus mempertebal kesabarannya. Bayi Nayara kembali anteng menyusu pada dotnya.
"PERHATIAN SEMUANYA!!"
"Kami persilahkan untuk Tuan Aaron, untuk membuka acara ini."
PROK!
PROK!
PROK!
"Terima kasih atas kehadiran di hari bahagia kami. Acara ini untuk menyambut kelahiran Kedua anak kembar saya dan juga cucu kembar saya. Hal yang lucu sebenarnya, mereka lahir di hari yang sama."
"Bayi kembar laki-laki saya, Zidan Roni Alexander sebagai kakak. Dan Ezkiel Ryan Alexander sebagai adik. Semoga mereka di senantiasa di berikan kesehatan selalu, menjadi anak yang cerdas, dan berguna bagi negara dan masyarakat."
Semua orang bertepuk tangan, menyambut kelahiran penerus Alexander. Selanjutnya, Aaron menyerahkan Mic pada Nathan.
Nathan menjelaskan hal yang sama mengenai bayi-bayinya. Nayara, Nadia dan Aizha, akan menjadi wanita yang hebat di masa depan.
Selepas pengenalan, mereka mempersilahkan apra tamu menikmati perjamuan yang hadir.
"Aizha sini sama papa sayang." NAthan mengangkat tubuh mungil Aizha. LAlu, dia menghampiri Marsha yang sedang mengobrol dengan kedua sahabatnya.
"Sweety, aku hampiri teman-temanku dulu yah." Pamit Nathan.
Marsha mengangguk seraya tersenyum, dia melihat bagaimana Nathan pergi menemui kawan-kawannya.
"Dih Gil4! Itu Nathan? so sweet banget!! mau deh punya suami kayak dia!!" Seru Aurel dengan gemas.
"He! itu suami gue yah!" Pekik Marsha dengan kesal.
Senyum Aurel pun surut. "Iya! iya! tau kok!" Kesalnya.
Sedangkan Nathan, dia sudah di sambut heboh dengan para temannya.
"WIDIH!! PAHMUD! PAPAH MUDA! BOS KITA UDAH JADI PAPAH ANAK TIGA DIA!!"
Teriakan Aeron membuat Nathan mendelik sebal, "Anak gue kaget banci!" Kesal Nathan.
Natah menimang putrinya, beruntung Aizha tak rewel. Dia hanya mengerjapkan matanya pelan, menatap para teman sang papa yang terlihat tampan.
"Ihhh gemasnya! mau satu, boleh? kan lu punya tiga," ujar Aeron.
"Tangan lo ada dua, kalau gue putusin satu. Boleh apa enggak? kan lo punya dua."
Perkataan Nathan membuat Aeron merengut sebal, "Ah elah, lo mah gak bisa di ajak bercanda." Kesalnya.
.
.
.
Acara pun usai di sore hari, Marsha pun ketiduran tanpa melepas gaunnya. Sepertinya dia sangat lelah, membuat Nathan tak tega membangunkannya.
"Nanti saja lah banguninnya, aku lihat ke kamar triple dulu." Gumam Nathan.
Nathan pergi ke kamar triple, di sana sudah ada Sofia yang memangku Nadia sembari membantu meminum susu.
"Marsha sudah pompa asinya?" Tanya Sofia.
"Marsha tidur mi, kecapean banget dia," ujar Nathan yang berjalan menuju box kedua bayinya yang lain.
"Pastilah! kamu cari baby sitter coba, biar tidur kalian tuh cukup. Mami kasihan sama Marsha," ujar Sofia.
"Marshanya gak mau, dia takut anaknya di tangan orang asing." Jawab Nathan.
"Ya berarti kamu yang harus ngertiin dia," ujar Sofia.
Nathan mengangguk, dia juga selalu mengurus bayi kembarnya.
Marsha terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Namun, dia ingin mandi.
"Nathan kemana yah." Gumam Marsha sembari mendudukkan dirinya.
Tring!
Marsha mengalihkan pandangannya, netranya melihat ponsel sang suami yang memunculkan notifikasi pesan masuk.
Marsha mengambil ponsel suaminya, tanpa membukanya ia bisa melihat isi pesan tersebut dari notifikasi layar.
"Nathan, makasih yah untuk uangnya."
"Gita?" Gumam Marsha.
"Perempuan? Nathan kenapa kirim uang sama dia?" Batinnya.
____
Oh ya, karya baru author sudah ada yah. Judulnya, Kembar Jenius Milik Ceo Galak🥳🥳