
Mobil Nathan terhenti di depan gerbang sekolah ketiga putrinya, pria itu melepas sabuk pengamannya dan menoleh sejenak pada sang istri yang duduk di sebelahnya.
"Sweety, aku antar mereka ke kelas dulu yah." Pamit Nathan.
"Aku gak ikut gak papa?" Tanya Marsha.
Nathan tersenyum, dia mengusap rambut istrinya dengan sayang. "Gak papa, nanti kamu capek naik turun tangganya. Aku gak lama kok," ujar Nathan.
Sedangkan ketiga putrinya, sudah bersiap akan keluar. "Mama! Kita macuk dulu!" Seru Nayara dan meng3cup pipi sang mama.
Tak hanya Nayara, Nadira pun melalukan hal yang sama dengan kembarannya. Berbeda dengan Aizha, bocah cerdik itu malah menangkup pipi sang mama dan meng3cup kedua pipi bahkan keningnya. Marsha sudah tak heran lagi dengan sikap putrinya itu.
"Heh! Jangan kebanyakan c1umnya!" Pekik Nathan. Beruntung, Aizha perempuan. Jika bocah itu laki-laki, sudah habis di cemburui oleh Nathan.
"Dikit doang, pelit kali. Dah mama!" Seru Aizha dan bergegas keluar.
Nathan pun akhirnya keluar, karena sinar matahari lumayan mengganggu matanya. Dia pun memutuskan untuk memakai kaca mata hitam. Nayara dan Nadira berhasil ia tuntun. Namun, tidak Aizha. Dia lebih riang berjalan sendiri sembari bersenandung.
Marsha hanya menggeleng kecil melihat tingkah ketiga putrinya. Aizha lebih membawa dirinya sendiri, entah mengapa putrinya yang satu itu jauh berbeda dari kembarannya.
"Mungkin gen ku lebih banyak menurun ke dia." Kekeh Marsha dalam hatinya.
Marsha membenarkan jok nya, tetapi sudut matanya menangkap sesuatu. Sebuah tas jinjing kecil, milik putrinya Nadira.
"Astaga! Bekal Nadira! Aish ... tumben anak itu ceroboh. Lebih baik, aku antarkan saja. Kasihan, nanti istirahat malah gak makan." Gumam Marsha. Dia bergegas membuka sabuk pengamannya dan mengambil bekal itu.
Marsha berjalan sedikit cepat, khawatir putrinya sudah sampai ke kelas. Langkah Marsha terhenti ketika dia sampai di pintu utama sekolah, kelas putrinya dekat dari pintu utama.
"Sudah masuk belum yah?" Gumam Marsha.
Marsha kembali melanjutkan langkahnya, sembari melihat kelas demi kelas yang ia lewati.
"Kelasnya ada di si ... ni." Langkah Marsha terhenti di depan sebuah kelas. Namun, keningnya mengerut kala melihat beberapa wanita berada di ambang pintu. Mereka tengah heboh dengan apa yang terjadi di dalam kelas.
"Itu tuan Nathan bukan si?! Ceo muda itu!" Seru seorang wanita berambut panjang dan bertubuh langsing.
"Iya, ganteng yah. Gak nyangka kalau anak kita bisa satu sekolah sama anak kembarnya." Seru wanita berambut pendek.
"Iya, anaknya cantik-cantik. Karena bapaknya ganteng, beruntung tuh yang jadi istrinya." Celetuk yang lain.
"Emang istrinya gak cantik?" Tanya wanita berambut pendek.
"Enggak, suamiku pernah di undang ke acara pembukaan cabang perusahaan. Tuan Nathan juga bawa istrinya, kalian tahu istrinya bagaimana?" Tanya wanita berambut panjang itu pada kedua temannya.
"Enggak, pasti cantik kan? pria tampan selalu pilih wanita cantik."
"Ish bukan! Istrinya malah, beda sama ekspetasi kalian. Dia gak cantik, masih cantikan juga aku. Tubuhnya itu loh, gendut. Gak bisa jaga badan, dia gak takut apa suaminya selingkuh sama sekretarisnya? Kan lagi banyak tuh ceo selingkuh sama sekretarisnya sendiri. Nih, aku aja jaga badan. Supaya suamiku gak kepincut sama wanita lain."
Deghh!!
Mata Marsha berkaca-kaca, dia memperhatikan tubuhnya. Dia memang terlihat jauh berbeda dari sebelum menikah. Wajahnya juga sedikit mengalami perubahan akibat hormon kehamilannya. Marsha yang tadinya tidak ingin memikirkan tubuhnya kagi, tiba-tiba menjadi down di buatnya. Bahkan, dia selalu memakai dress yang terlihat besar agar tubuh gemuknya tak terlalu kelihatan.
Marsha menghapus air matanya yang sempat luruh, dia lalu menahan seseorang yang lewat di sampingnya.
"Maaf, bisakah anda memberikan ini pada Nadira?" Pinta Marsha pada seorang wanita yang memakai seragam guru.
"Anda putri tuan Aaron kan? Donatur tetap sekolah ini?" Tanya guru itu membuat Marsha tersenyum.
"Kalau gitu, saya permisi ya bu." Pamit Marsha dan buru-buru pergi.
Setelah Nathan memastikan ketiga putrinya berada di dalam kelas, dia segera menyusul istrinya. Khawatir, jika kelamaan menunggu istrinya akan merajuk.
Sesampainya di mobil, Nathan memasuki mobilnya. Dia langsung memasang sabuk pengaman tanpa melihat keadaan sang istri.
"Haaahh panas banget, untung tadi kamu gak ikut." Celetuk Nathan sembari memegang stir mobilnya.
Karena tak ada balasan dari Marsha, Nathan pun akhirnya menoleh. Di lihatnya sang istri tengah menatap luar jendela sembari mengelus perutnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Nathan sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Marsha.
"Enggak papa." Seru Marsha. Kemudian, dia menoleh menatap Nathan. Bibir wanita itu berusaha untuk tersenyum, agar sang suami tak berpikir dirinya tengah bersedih.
"Oh, aku pikir kenapa. Berarti habis ini kita ke ...,"
"AKu mau pulang aja." Sela Marsha.
Nathan terdiam dengan kening mengerut, tadi istrinya begitu senang dia ajak pergi. Lalu, kenapa sekarang malah membatalkannya? Nathan merasa ada yang tidak beres, apalagi Marsha terlihat enggan menatap matanya.
"Kenapa? Aku ada salah?" Tanya Nathan sembari melepas kaca matanya.
"Enggak, aku cuman pengen istirahat aja." Jawab Marsha dengan menatap sekilas suaminya.
Nathan menaruh kaca matanya di atas dashboard. Lalu, dia meraih kedua bahu Marsha agar menatapnya. Sesaat, Nathan menatap mata Marsha. Mata cantik itu kini berkaca-kaca, walau bibirnya tersenyum. Nathan tau istrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa? Ayo pulang, jadi kamu bisa ke kantor." Pinta Marsha.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Nathan dengan tatapan lekat.
"Enggak, aku sembunyiin apa? Aku cuman mau istirahat aja," ujar MArsha.
Nathan menghela nafas nya pelan, dia tidak akan bisa mendapat jawaban kecuali jika dia mencari tahunya sendiri. Istrinya pandai menyembunyikan perasaan, membuat Nathan kesulitan memahaminya.
"Yasudah." Pasrah Nathan.
Nathan pun memutuskan untuk melajukan mobilnya. Dia tak ingin menekan istrinya itu, khawatir akan berdampak pada kandungan Marsha. Sesekali, dia melirik istrinya. Tak biasanya MArsha tak membuka siara selama perjalanan. Di mobil, benar-benar terasa hening. Tak ada di antara mereka membuka pembicaraan sedikitpun selama perjalanan.
Singkat waktu, mobil Nathan memasuki gerbang. Kening Marsha mengerut ketika dirinya menyadari mobil yang suaminya kendarai bukan menuju ke arah rumah mereka.
"Nathan, kita ke rumah orang tuaku?" Pekik Marsha sembari menatap wajah tegas suaminya.
Nathan tersenyum tipis, tangan kirinya terangkat mengelus singkat rambut istrinya.
"Aku pikir, mungkin kamu kangen dengan daddy dan bunda. Nanti sore, aku jemput yah sama si kembar." Senyum Marsha merekah, sudah sebulan dia tak main ke rumah orang tuanya. Dia sungguh merindukan rumah ini.
Nathan menghentikan mobilnya di depan teras pintu utama. Dia melepas sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman sang istri. Sejenak, Nathan mengelus perut bulat istrinya itu. Tapi, tiba-tiba saja Kening Nathan mengerut. Bahkan, gerakan tangannya itu terhenti.
"Sweety, tumben dia gak respon elusan aku?"
"Eh?"