
Malam harinya, Nathan mengajak Marsha turun makan malam. Ketiga putrinya sudah berkumpul di meja, menantikan kedua orang tuanya yang datang.
"Pelan-pelan sayang jalannya." Tegur Nathan ketika Marsha menuruni tangga di undakan terakhir.
"Iya ... iya, cerewet banget loh kamu." Kesal Marsha.
Nathan tak menghiraukannya, dia merangkul pinggang istrinya sembari berjalan masuk ke ruang makan. Di lihatnya, ketiga putrinya memasang wajah bete karena menunggu lama.
"Naaaahhh ini yang di tungguin dali tadi, pacalan telooosss papa Ini!!" Pekik Aizha.
"Biarin, dari pada kamu. Jones, jomblo ngenes." Sahut Nathan membuat mata Aizha terbelalak lebar.
Brak!
"Oke, papa lihat becok! Izha bakalan punya pacal lima! Pacti pada ngantli, Izha buat pengumuman di cekolah." Seru Aizha dengan semangat.
Nathan menghiraukannya, dia menarik kursi untuk istrinya duduki. Segitu bucinnya Nathan pada Marsha, pria yang di sangka dingin itu. Bisa begitu lembut pada sang istri.
Nadira dan Nayara mengambil makanan yang mereka ingin makan, Marsha juga membantu putrinya itu untuk mengambil lauk yang tak dapat di jangkau oleh keduanya. Sedangkan Aizha, dia memegang sendok dan garpu sembari menatap semua hidangan yang ada di meja dengan mata bulatnya.
"Pelkedel nda ada mama?" Tanya Aizha dengan kening mengerut.
"Enggak ada, makan aja yang ada!" Tegur Nayara.
Aizha melirik sinis pada kembarannya itu, "Itu tongkol na ada, kok pelkedel nda ada!" Lekik Aizha.
MArsha menghela nafas pelan, "Kentangnya gak ada, perkedelnya libur dulu. Kamu kalau makan perkedel pasti lupa makan nasi." Kesal Marsha.
Aizha merengut kesal, nafsu makannya hilang seketika. Nathan yang melihat kegalauan putrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau lauk apa?" Tanya Marsha pada suaminya.
"Daging aja, sama tumis brokoli." Pinta Nathan.
Marsha mengangguk, dia mengambil apa yang suaminya inginkan. Setelah itu, Marsha memberikannya pada Nathan. Membuat, senyum pria itu terbit.
"Makasih Sweety," ujar Nathan.
Marsha mengangguk, dia menatap hidangan di meja. Dia tak mengambil makanan apaoun, fokusnya tertuju pada buah-buahan yang tersedia di meja.
Aizha menatap apa yang sang mama lakukan, matanya menangkap Marsha yang sedang mengambil buah itu dengan tatapan bingung.
"Mama nda makan?" Tanya Aizha. Pipinya menggembung, dia belum selesai menelan makanannya.
Mendengar apa yang putrinya tanyakan, sontak Nathan beralih menatap istrinya. Dia bisa melihat buah apa yang Marsha pegang.
"Mama masih kenyang, nanti mama makan." Terangnya. MArsha memakan buah apel yang dirinya ambil, perlahan dia mengunyah buah itu.
Nathan kembali mengingat dengan apa yang Zeva ceritakan padanya. Mungkin, sikap Marsha sekarang akibat perkataan orang tua murid di sekolah putrinya. Maka dari itu, Marsha berniat mengurangi makannya.
"Sweety mau makan yang lain hm? mau makan apa? Apa mau keluar? Kita cari menu yang kamu mau?" Tanya Nathan sembari mengelus rambut Marsha.
"Enggak kok, beneran kenyang." Sahut Marsha.
"Sayang, anak kita lapar kalau kamu gak makan. Kata bunda, siang juga kamu makannya dikit. Bagaimana bisa kamu kenyang? Bahkan, di saat waktunya jam ngemil. Kamu gak ngemil, toples semuanya masih penuh."
Marsha fokus menghabiskan apelnya, dia tak lagi membalas apa yang suaminya katakan. Karena percuma, keduanya akan berujung berdebat.
Nathan memilih mengalah dulu, dia menyelesaikan makannya agar bisa fokus dengan istrinya itu. Setelah semuanya selesai makan, si kembar langsung pergi ke kamar mereka untuk belajar. Nathan menerapkan pada ketiga putrinya, sehabis makan malam ketiganya harus belajar minimal sejam sebelum tidur.
"Nathan, habis ini kamu selanjutnya kerjaan kantor?" Tanya Marsha sembari menatap Nathan yang akan beranjak.
"Maaf yah, aku ngantuk. Aku tidur duluan yah, jadi gak bisa nemenin kamu malam ini." Sesal Marsha.
Natha. menggendong, dia membantu istrinya itu beranjak dari duduknya. "Enggak, malam ini aku mau nemenin kamu istirahat. Ayo." Ajak Nathan.
Marsha tersenyum, dia memeluk pinggang Nathan. Lalu, menyandarkan kepalanya di d4da pria itu.
"Kalau aku gak nikah sama kamu, kamu nikahnya sama siapa yah?" Tanya Marsha.
"Sama tanah, kan kamu jodoh aku. Kalau gak jodoh sama kamu, berarti aku jodoh nya sama kem4tian." Jawab Nathan membuat Marsha mendelik sebal.
"Jangan ngomong gitu! Aku gak suka!" Kesalnya.
.
.
.
Tengah malam, Marsha terbangun dari tidurnya. Sedari tadi, bayinya bergerak sangat aktif hingga membuatnya kesakitan. Bukan itu saja, perutnya pun keroncongan minta di isi.
Bukannya berhenti, bayinya semakin menendang perutnya dengan keras. Hingga, membuat Marsha memekik kencang.
"AWWW!!"
NAthan tersentak kaget, dia bangun dari tidurnya. Dengan wajah yang panik, Nathan Langsung memegang perut istrinya.
"Kenapa? Keram perutnya?" Tanya Nathan, sembari memberikan elusan lembut di perut sang istri.
"Gak tau, bayinya dari tadi nendang terus. Perut aku sakit hiks ... " Isak MArsha.
"Suutt, jangan menangis. Aku bantu buat dia tenang yah." Bujuk Nathan.
Nathan menarik Marsha untuk bersandar di dad4nya, sementara tangannya mengelus perut buncit itu.
"Adek kenapa hm? Kok isengin mamanya tidur yah?"
DUGH!
DUGH!!
Merasakan tendangan yang sangat keras, membuat Nathan mengerutkan keningnya. Tak biasanya bayi mereka seaktif itu, membuat dirinya terheran-heran.
"Nathan, perut aku sakit. Sesak juga rasanya." Lirih Marsha.
Bagaimana pria itu tidak panik, dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu. Karena khawatir terjadi sesuatu dengan Marsha, Nathan pun menghubungi Sofia.
"Halo, kenapa malam-malam telpon? Gak liat jam hah, nelpon jam segini. Ngantuk mami." Kesal Sofia.
"Mami, ini MArsha."
"MARSHA?! kenapa mantu mami hah?! kamu apain dia?!" Teriak Sofia membuat Nathan reflek menjauhkan ponselnya.
"Enggak mi, bayinya nendang kencang banget. MArsha sampe sesak begini, bagaimana ini mi?" Tanya Nathan dengan panik.
Tak terdengar lagi suara Sofia, hanya ada suara angin yang membuat Nathan kesal.
"MII!" Sentak Nathan.
"Eh iya, itu laper itu bayimu. Minta makan dia," ujar Sofia membuat raut wajah Nathan berubah bingung.
"Lapar?" Tanya Nathan, melirik ke arah Marsha yang masih meringis.
"Iya, dulu pas mama ngandung kamu juga gitu. Ngre0g dalam perut kalau lapar, kamu udah miskin apa? Kok istrinya di biarkan lapar?!"
Nathan mematikan sambungan telponnya. Tanpa berlama-lama lagi, dia menarik dirinya dari Marsha dan bergegas keluar kamar. Melihat suaminya seperti itu, Marsha malah jengkel.
"Bukannya di tenangin malah di tinggal. Diam dek, mama ngantuk." Lirih Marsha.
Tak berselang lama, Nathan kembali dengan nampan di tangannya. Melihat itu, Marsha tertegun sejenak.
"Kok dia bisa tahu kalau aku kapar?" Bingung Marsha. Sebab, dia tak terlalu mendengar kan apa yang mertuanya katakan barusan.
Nathan duduk di tepi kasur, nampan yang ia bawa berada di pangkuannya. Marsha bisa melihat, Nathan membawakan sepiring nasi, buah serta susu hamil miliknya.
"Besok, akan ku jadwalkan makan dan juga ngemil kamu. Biar gak kejadian begini lagi." Tegur Nathan dengan raut wajah dinginnya.
Marsha meneguk kasar ludahnya saat melihat pancaran kemarahan dari wajah suaminya itu. Nathan menyendokkan nasi dari piring, dan mengarahkannya pada mulut Marsha.
Karena tak kunjung membuka mulutnya, Nathan merasa kesal. "Pake sendok atau mulutku?" Ancam Nathan membuat Marsha langsung membuka lebar mulutnya.
Beberapa sendok nasi sudah Marsha telan, gerakan bayinya sudah tidak seaktif tadi. Dia memang sangat lapar, jadi mudah baginya untuk menghabiskan makanan yang Nathan bawakan padanya.
"Minum." Pinta Marsha.
Nathan memberikan segelas air putih pada MArsha, dan matanya menatap istrinya yang sedang meminum air putih dengan serius. Lalu, Nathan membersihkan bibir istrinya dengan jempolnya. Matanya menatap lekat mata cantik istrinya itu.
"Aku tahu kamu sedih karena ucapan seseorang. Tapi, bukan berarti kamu menyiksa bayi kita. Ada saatnya kamu langsing kembali, tolong. .. jangan paksa dirimu seperti ini. Jika ada apa-apa sama kamu dan bayi kita, orang-orang itu tak akan pernah membantumu."
Deghh!!
"Maaf Nathan." Lirih Marsha.
Nathan tersenyum, dia menyingkirkan nampan itu dari pahanya. Lalu, dia mengelus pipi Martha dengan sayang.
"Jangan insecure lagi, secantik apapun wanita di luar sana. Kamu, tetap pemenangnya."
___
Masih otw satu lagi yah hari ini🥳🥳🥳