
PLAK!!
"PUAS KAMU!! PUAS KAMU MEMBUAT PERUSAHAAN PAPAH PUTUS KERJA SAMA DENGAN PERUSAHAAN AR GROUP HAH!!"
Sesampainya di rumah, tuan Liam meledakkan amarahnya. Putranya kini berdiri menghadapnya sembari memegang pipinya yang baru saja di tampar.
"Pah! papah gak bisa maksa aku! aku tetap ingin menikahi Reva!" Teguh Calvin.
"CALVIINN!!" Sentak Nyonya Hana, menarik lengan putranya sehingga kini Cavin menghadap ke arah sang ibu.
"Calvin! mamah menjodohkan kamu dengan wanita berkelas! anak orang kaya! dengan begitu, keluarga kita semakin terpandang! Gara-gara kamu, mamah gagal mendapatkan memantu seperti Marsha!" Bentak Nyonya Hana.
Calvin menatap wajah ibunya dengan memelas, dia ingin memegang tangan sang ibu. Namun, Nyonya Hana menepis tangan putranya.
"Mah, Reva sangat baik. Sama seperti Marsha, dia juga anggun. Mamah pasti menyukainya," ujar Calvin.
"Mamah gak sudi punya menantu seperti Reva! Mamah ingin Marsha yang menjadi menantu mamah! sekarang, terserah kamu mau ngapain! hancur sudah mimpi mamah!"
Calvin hanya diam tertunduk, dia bingung. Tapi dia tetap ingin menikah dengan Reva bukan Marsha.
"Maaf, aku akan tetap menikah Reva. Karena dia telah mengandung cucu kalian," ujar Calvin.
"Heh? cucu? mamah mau cucu mamah berasal dari wanita berkelas! bukan wanita miskin seperti dia!"
Nyonya Hana beranjak pergi, di susul oleh Tuan Liam. Meninggalkan Calvin yang tengah di landa kebingungan.
.
.
.
Mobil berwarna silver dengan lambat S terparkir di halaman rumah Aaron. Terlihat, kedua pemuda keluar dengan jas kantoran mereka.
Keduanya memakai kaca mata dan kini berjalan masuk. Kedua bodyguard yang berjaga di depan menganggukkan kepalanya ketika kedua pemuda itu lewat.
Javier berniat akan ke dapur untuk meminta jajan, akan tetapi. Dirinya mendapati seseorang yang di kenalinya.
"Abang!!!" Serunya dan segera berlari, sembari giginya mengigit dot botol sedangkan tangannya di rentangkan.
"Hei krucil!" Salah seorang pemuda itu berjongkok, dan memasukkan bocah gembul itu dalam pelukannya.
Pemuda itu bangkit dengan Javier yang berada di gendongannya.
"Kau bertambah berat, berapa botol susu yang kau habiskan hari ini hm?"
"Belapa yah, pagi lima ciang lima. Malam na belum,"
"Hei! kau bisa gendut seperti gajah!" Seru pemuda itu membuat Javier mengerucutkan bibirnya sebal.
Mendengar ada suara yang lain, membuat Varo keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Bang Azka, bang Ariel. Kalian kesini?" Tanya Varo, mendatangi dua pemuda tadi.
Azka dan Ariel kini tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Keduanya memang kembar, tetapi wajah mereka berbeda. Walau begitu, mereka tetap sama-sama tampan.
"Mana Marsha?" Tanya Azka.
"Eh, abang tahu?" Heran Varo, pasalnya mereka belum ada memberitahu soal pembatalan perjodohan itu.
"Tentu saja, dunia maya sedang gempar karena AR Group memutus kerja sama mereka. Tentu saja, kabar tentang batalnya rencana perjodohan anak keluarga Alexander dan Brighton menjadi berita trending saat ini." Sahut Ariel yang tengah menggendong Javier.
Varo mengangguk-anggukan kepalanya, dia mengerti mengapa bisa keduanya ada di rumahnya malam-malam begini.
"Apakah Marsha sudah tidur?" Tanya Azka karena tak melihat batang hidung perempuan itu.
"Belum, dia ada di taman samping. Temani dia bang, sedari tadi dia ada di sana. Bunda dan daddy tidak mau mengganggunya, dia pasti butuh waktu," ujar Varo.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Azka bergegas menghampiri MArsha yang berada di taman samping.
"Bang, titip dia yah. Gue mau keluar sebentar." Pamit Varo.
"Eh mau kemana?!" Seru Ariel.
"Beli batagor buat kak Marsha!" Seru Varo yang sudah di luar.
"BUAT GUE JUGA!!"
"YAAA!!"
Sedangkan di taman samping, Azka melihat bagaimana terpuruknya Marsha. Terlihat, adiknya itu tengah duduk di bangku taman sembari memeluk lututnya.
"Ekhem!"
Marsha tersentak kaget, dia menoleh dan terkejut saat melihat Azka ada di rumahnya.
"Azka!" Pekik Marsha.
Azka tersenyum, dia memilih duduk di samling Marsha. Seketika, Marsha menurunkan kakinya, dia menatap Azka dengan bibirnya yang memaksakan terbit sebuah senyum.
"Kenapa kesini? kan udah malam, kangen yah?" Ledek Marsha.
Azka menatap lekat adiknya itu, bisa-bisanya Marsha ceria di saat hatinya hancur. Mulutnya bisa berbohong, tapi mata tidak bisa. Mata adiknya terlihat berkaca-kaca.
"Kau habis menangis?" Tanya Azka beralih menatap langit.
Azka kemudian kembali menatap mata Marsha dari samping. Mata itu terlihat sayu.
"Menangislah, jika itu membuatmu lega." Ujar Azka dengan lembut.
Marsha terdiam, dia menatap Marsha dengan senyum nya yang masih menetap di bibir manisnya.
"Apaan sih bang, ngapain nangis."
"Abang tahu, hatimu sedang baik-baik saja. Apa kau tidak lelah memendamnya?"
Barulah pertahan Marsha runtuh, dia menangis sejadi-jadinya. Azka meraih Marsha dan memeluknya erat.
"Abang hiks ... dia jahat, dia jahat hiks ... aku sudah memfokuskan diriku untuk hidup bersamanya. Aku tolak semua pria yang coba mendekatiku hiks ... tapi dia enteng banget ngehamilin cewek hiks. .. emang lelaki br3ngsek kali dia! hiks ...,"
Entah Azka ingin tertawa atau turut menangis, celotehan Marsha lah yang membuat hatinya lega. Dia justru khawatir kalau Marsha berpura-pura baik-baik saja.
"Menangislah, jika itu membuatmu puas," ujar Azka.
"Abang jangan kayak dia, nanti kalau mau nikah. enggak boleh ngehamilin yang lain hiks ... kasihan cewek abang. Sedih hatinya nanti," ujar Marsha.
Azka terkekeh, di saat sedih baru anak itu akan memanggilnya abang. Tapi ketika bahagia, hanya sebuah panggilan nama saja. Tak masalah bagi Azka, adiknya dalam mode manja seperti ini membuatnya senang.
"Iya ... iya, abang mau menikah setelah kau menikah,"
Marsha menarik didi dari pelukan Azka. "Kenapa begitu?" Pekik Marsha tak terima.
Azka tersenyum, dia mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air mata sang adik.
"Kamu itu satu-satunya adik perempuan abang, abang mau puas-puasin manjain kamu." Seru Azka sembari menoel hidung Marsha.
"Isshh!! Kalau sampe tua aku belum nikah, gimana?" Tanya Marsha.
"Abang nikahkan dengan kakek-kakek." Jawab Azka dengan santai.
"Ishh!! AZKAAA!!! GAK SUKA! GAK SUKA!!!"
Azka tertawa kencang, akhirnya Marsha kembali seperti sedia kala.
.
.
.
"Bang, bisa lebih cepet gak?" Tanya Varo pada tukang batagor itu.
"Iya sebentar dek, masih belum mateng batagornya," ujar tukang batagor itu.
Vari melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
BRUM!!
BRUM!!
Vari mengalihkan pandangannya, dia menatap para segerombolan geng motor yang melewati gerobak batagor itu.
"Aduh, tawuran lagi tuh." Pekik tukang batagor.
"Hah?" Varo bingung.
"Dek kita minggir dulu. Kalau mereka sampai berantem kayak kemarin, bisa hancur gerobak saya!"
Varo membantu gerobak batagor itu pindah sedikit menjauh, dan benar saja. Kedua geng motor itu saling berkelahi.
"Jangan jadi kayak mereka dek, masa depannya suram." Celetuk tukang batagor.
"Masa depan abang, cerah yah bang?" Tanya Varo dengan kening mengerut.
"Ya engga juga sih, rejekinya jadi tukang batagor. Mau gimana?"
Setelah pesanan Varo siap, remaja itu memberikan selembar uang dan menunggu kembali. Bagi Varo, uang seberapa pun sangat berarti bagi seorang pelajar sepertinya.
Varo pulang dengan berjalan kaki, karena jarak antara rumahnya sangatlah dekat.
Langkah Varo terhenti, saat melihat salah satu anak geng motor memukuli geng motor lain. Di lihat, dari jaket mereka yang berbeda warna.
BUGH!!
BUGH!!
"WOY!! POLISI!!" Pekik teman si pemukul.
Yang memukul pun bergegas pergi, sedangkan si korban. Masih diam di tempat karena dirinya tengah membuka helmnya.
Geng motor dengan lambang naga di belakang jaketnya, dan tertuliskan Leader itu tampak memeriksa keadaan rahangnya yang sehabis di pukul tadi.
Varo bisa melihat ketua geng motor itu dengan jelas, karena dia tak mengenalnya. Varo pun hanya cuek dan berlalu pulang.
_____
JANGAN SKIP LIKE🥳🥳🥳