
Dua minggu berlalu, Nathan masih belum mengatakan tentang kepergiannya ke luar negri untuk kuliah pada Marsha. Dirinya masih bimbang dan tak tega pada istrinya itu. Namun, tuntutan dari sang kakek membuat Nathan tak bisa melalukan apapun.
Marsha turut merasakan keanehan dari sang suami, dimana Nathan lebih meluangkan waktu untuk nya dan juga ketiga bayi kembar mereka. Bukan hanya itu saja, bahkan seminggu sudah Nathan tak berangkat ke kantor. Dan lagi, Kenan tak memarahi putranya. Membuat Marsha keheranan dengan tingkah suaminya dan tanggapan mertuanya.
"Nathan! Kamu kalau izin gak berangkat kerja tuh kira-kira dong! Masa seminggu gak masuk! aku gak enak sama papi! takut di kiranya aku suruh kamu di rumah bantu ngurus anak!" Omel Marsha, sembari matanya menatap kesal ke arah suaminya yang tengah bercanda dengan ketiga bayinya di atas karpet.
Nathan menatap sekilas istrinya, dan kembali bermain dengan ketiga putrinya yang terbaring di kasur tipis. "Aku ingin puas-puasin main sama mereka, dan banyakin waktu untuk kamu." Jawab Nathan dengan santai.
"Iya, aku ngerti. Tapi, kamu punya tanggung jawab lain kan? Kamu kerja, walaupun itu kantor punya papi. Tapi, kamu gak noleh sembarangan begini!"
Nathan hanya diam, membuat Marsha jengkel di buatnya. Dia mendudukkan dirinya di sebelah Nathan dan menepuk bahu suaminya dengan keras.
"Kamu ngerti gak sih kalau di bilangin!!!" Kesal Marsha.
Bukannya mengaduh kesakitan, Nathan justru tersenyum. Dia mengambil tangan istrinya dan meng3cupnya.
"Sakit kan pukul otot aku? sampe merah begini," ujar Nathan sembari mengelus telapak tangan Marsha yang memerah.
Marsha tertegun, ini seperti bukan Nathan. Nathan biasanya sangat manja dan mengaduh kesakitan walau dia hanya memukul pelan.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Marsha sambil menarik kembali tangannya. Netranya menatap takut pada Nathan yang menatapnya dengan raut wajah yang berbeda.
"Gak papa." Jawab Nathan dan kembali menatap ketiga anaknya.
"Nathan! Apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Marsha, tangannya meraih pelan bahu Nathan agar suaminya menatapnya.
Nathan terdiam, tubuhnya menegang kaku. Dia tak berani menatap Marsha, dia tak tega harus mengatakan tentang kepergiannya.
"Nathan! ish! Jangan buat aku takut dong!!" Sru Marsha dengan suara bergetar.
Nathan menghela nafas pelan, dia menggerakkan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Marsha. Kedua lutut mereka bertemu, tatapan mereka saling menatap dalam.
"Aku ... aku akan jujur sesuatu sama kamu, tapi aku minta ... kamu jangan emosi, jangan menangis, jangan ...,"
"KAMU SELINGKUH YA?!" Pekik Marsha.
Nathan memejamkan matanya, baru saja dia ingin melarang Marsha untuk berteriak. Tapi, wanita itu sudah berteriak duluan padanya.
"Sha, dengerin dulu."
Mata Marsha berkaca-kaca, pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Apalagi, mereka sempat bertengkar karena chat-an dari Gita.
"Kamu ada main sama Gita? atau sudah sampai tahap jauh, kamu ...."
CTAK!
Nathan dengan gemas m3nyentil bibir Marsha, dirinya kesal di tuduh seperti itu.
"Ngarang kamu! memangnya aku ini cowok gimana hah? Jangan kebanyakan liat novel, kebawa kan akhirnya." Kesal Nathan.
Marsha merengut sebal sembari mengusap bibirnya yang terasa kebas akibat sentilan Nathan tadi.
"Terus apa? Makanya jelasin tuh jangan setengah-setengah!" Kesal Marsha.
Nathan menghela nafas pelan, raut wajahnya sudah kembali serius. Kedua tangannya mencengkram halus paha istrinya.
"Kakek, dia memintaku untuk kembali kuliah." Lirih Nathan.
"Bagus dong! kamu bisa lanjutkan pendidikan kamu, terus ... kenapa kamu sedih?" Seru Marsha.
Nathan membuang wajahnya, dia tak berani menatap mata cantik sang istri.
"Dia memintaku kuliah di Harvard." Jawab Nathan sembari memejamkan katanya.
Satu detik ...
dua detik ...
Marsha masih belum membuka suaranya, Nathan yang tak kunjung mendapat respon istrinya pun memutuskan untuk kembali menatap istrinya.
"Sweetty aa-aku ... kalau kamu tidak mengizinkannya, aku akan meminta kakek untuk membatalkan keinginannya. Aku rela harus keluar dari anggota keluarga Alvarendra. Asalkan, kamu masih mau bersama ku." Panik Nathan.
Marsha menatap suaminya dengan raut wajah yang tak terbaca, tangannya meraih wajah suaminya dan mengelus pipinya dengan jempolnya.
Nathan terdiam, mengapa istrinya bisa sesantai ini? dan lagi, perbuatan Marsha membuat Nathan semakin tak bisa jauh dari istrinya.
"Kakek memintamu untuk melanjutkan pendidikanmu, itu bagus dong? Dia ingin kamu memiliki pendidikan yang terbaik. Kamu bisa meraih impianmu, mengejar cita-citamu. Umur kamu juga masih di bawah dua puluh tahun. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu seperti anak seusiamu saat ini. Impianmu ada di depan matamu, Nathan. Maka, raihlah. Aku sebagai istri, akan setia mendukung apapun keputusan mu."
Nathan terharu, dia bahkan menundukkan kepalanya. Jawaban istrinya, membuat Nathan tak sanggup menatapnya. Dia yang telah egois meminta istrinya tetap ada di sisinya. Namun, dia juga yang nantinya akan meninggalkan istrinya mengurus sendirian anak mereka.
"Hei, kenapa? Kaku sedih karena harus berpisah denganku dan anak-anak? Kami bisa mengunjungimu, kakekmu kan punya jet pribadi. Jadi gak perlu boros tiket kan?" Tanya Marsha dnegan senyuman lembutnya.
Nathan mengangguk pelan, dia mengusap pipinya yang mana membuat Marsha tertegun. "Ih! kamu nangis?! Nathan! Cengeng banget sih! lagian kakek kan suruh kamu kuliah, bukan nikah lagi. Kenapa malah ngerasa bersalah banget hm?" Jari lentik Marsha turut mengusap pipi Nathan yang basah.
"Sudah yah, aku akan buatkan kamu es coklat dulu biar kamu sedikit tenang. Nanti kita bahas lagi gimana lanjutannya," ujar Marsha. Sebelum beranjak, Marsha mengelus bahu lebar suaminya.
Marsha berbalik untuk melangkah keluar kamar. Namun, saat dirinya berbalik. Di saat itu pula air mata Marsha jatuh, tapi dia buru-buru langsung menghapusnya. Bohong jika Marsha tidak sedih, hatinya terasa sakit saat mengetahui jika nantinya Nathan akan jauh darinya dan juga anak kembar mereka.
"Aku tidak ingin menjadi penghalang impianmu, dan aku sadar. Jika aku telah menikahi seorang penerus tunggal. Maka dari itu, aku harus siap dengan segala keputusan yang keluargamu tetapkan."
.
.
.
Aaron tengah menggendong dua anak kembarnya, sebab kedua bayinya itu tak ingin di taruh sama sekali. Jadilah Aaron menggendong keduanya di kedua sisi lengannya.
Javier memasuki kamar orang tuanya dengan dot botol susu yang tersumpal di mulutnya. Saat melihat sang daddy menggendong kedua adiknya, Javier menjatuhkan botol susunya begitu saja ke lantai.
"DADDY! DADDY! MAU GENDONG JUGA! MAU JUGA!!" Rengek Javier sembari menarik celana pendek selutut yang Aaron kenakan.
"E-eh gak bisa Vier, daddy lagi gendong adik kamu ini loh!" Seru Aaron dengan Panik, takut celananya melorot akibat tarikan putranya. Apalagi, kedua tangannya menggendong kedua bayinya. Sehingga, dia tidak bisa menahan nya.
"EKHEEE!! MAU GENDONG! MAU GENDONG!!" Rengek Javier.
Zeva yang mendengar suara keributan dari kamarnya, bergegas menghampiri asal suara. Saat melihat Javier yamg menarik celana Aaron, dia pun bergegas menjauh kan putranya dari Aaron.
"Vier mau apa nak?" Tanya Zeva.
"Viel mau di gendong daddy." Lirih Javier.
"Daddy kan lagi gendong adek, gendong sama bunda aja yah sini." Bujuk Zeva. Saat Zeva akan meraih tubuh putranya, Javier justru menolak.
"Nda mau, mau di gendong daddy." Kekeuh Javier.
"Tapi daddy gak bisa gendong Vier, kan adeknya lagi di gendong daddy. Gantian yah." Bujuk Zeva.
Javier merengut, dia memilin bajunya dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Kenapa cuman puna catu daddy." Gerutu Javier.
"Eh?!" Pekik Zeva dan Aaron setelah mendengar tanggapan putranya itu.
"Cuma satu daddy? memangnya kamu mau berapa lagi hah?!" Seru Aaron tak terima.
"Bunda, belikan daddy untuk dedek kembal catu catu. Untuk Viel catu duga."
"KAU!!" Seru Aaron tak terima.
Zeva tertawa mendengar celotehan putranya, mana bisa dia memberikan banyak daddy untuk anaknya itu.
"Satu daddy itu cukup untukmu!" Seru Aaron.
"NDAA!! MANA CUKUP! LIAT! DADDY GENDONG NA CUMAN BICA DUA! VIEL BUTUH LAGI CATU BIAL BICA GENDONG VIEL!!"
Javier beranjak pergi, meninggakkan kedua orang tuanya yang heran dengan sikapnya yang meminta mereka untuk memberikan daddy lain pada anak itu.
"Catu daddy tuh nda cukup buat anak banak. Tambah anak telus lagian, tapi daddy na cuman catu nda nambah-nambah. Gendong catu, catuna di taloh. Emang benelna Viel cali daddy balu." Gerutu Javier.
____
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA🥳🥳🥳